<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>FENOMENA...</title>
	<link>http://poponsaadah.blogsome.com</link>
	<description>popon saadah</description>
	<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 05:06:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Saat Proses Kreatifku Berhenti Sampai di Situ</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/07/04/menyusuri-sebuah-jalan-di-pusat-kota/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/07/04/menyusuri-sebuah-jalan-di-pusat-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 03:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Curhat</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/07/04/menyusuri-sebuah-jalan-di-pusat-kota/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Ada perasaan bingung ketika menghadapi teman-teman yang hobynya bertanya seperti ini, “Mana karya barunya?” Atau “Ditunggu cerpen barunya!” Atau “Kenapa tak pernah kelihatan lagi karyanya mejeng di majalah?”  Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya bingung, karena tak tahu harus menjawab apa. Jangankan mereka, saya pun tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri, kapan ya saya bisa mengawinkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/merdeka3edit.jpg' alt='' /></p>
	<p>Ada perasaan bingung ketika menghadapi teman-teman yang hobynya bertanya seperti ini, “Mana karya barunya?” Atau “Ditunggu cerpen barunya!” Atau “Kenapa tak pernah kelihatan lagi karyanya mejeng di majalah?”  Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya bingung, karena tak tahu harus menjawab apa. Jangankan mereka, saya pun tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri, kapan ya saya bisa mengawinkan lagi alat tulis dan imajinasiku seperti dulu?<br />
Sebenarnya bila mau jujur, banyak sekali faktor yang menjadi penghambat kreatifitasku itu. Di antaranya adalah konsentrasiku yang terlalu fokus pada kegiatan “main-mainku” di cyber di samping pekerjaan-pekerjaan yang lumayan menyita waktu. Tapi faktor penghambat yang lebih prinsip adalah pemikiranku yang sudah sampai pada level tidak puas dengan karya yang ada. Ini berkaitan erat dengan hobyku membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer serta karya-karya sastrawan Sunda yang bernama besar. “Menggauli” karya-karya mereka ternyata ada dampaknya juga, saya jadi merasa ciut dan rendah diri. Apalah artinya karya yang telah saya tulis dibandingkan dengan karya-karya <em>masterpiece</em> mereka. Setelah itu timbullah dalam diriku sifat tak percaya diri. Setiap <em>draft</em> tulisan yang kugoreskan akhir-akhir ini selalu kelihatan buruk di mataku, tak berbobot, dan serasa melihat makanan yang bernama kerupuk, ringan tanpa beban, sekali kunyah bisa pudar oleh air liur dan langsung tertelan. Sedangkan obsesiku adalah: tanganku sendiri harus menghasilkan tulisan-tulisan bertema besar dan berat, atau paling tidak bisa memberi pencerahan kepada setiap orang yang membacanya.<a id="more-157"></a></p>
	<p><img src='/images/wendysedit1.jpg' alt='' /></p>
	<p>Kecewa dengan hasil karya sendiri itulah yang membuat pikiran dan imajinasiku buntu. Makin lama semakin terpikirkan, bahwa pada saat ini sudah bukan waktunya lagi saya menulis hal-hal sepele yang terkesan main-main. Sudah bukan waktunya lagi menggarap tema-tema yang dangkal tak bermakna. Sudah tiba waktunya mematangkan karya dengan banyak bereksplorasi serta bereksperimen.   Dan semua itu tidak mudah saya lakukan, terlalu sulit. Untuk memulainya saja saya masih mengambil ancang-ancang, entah untuk berapa lama…</p>
	<p><img src='/images/merdeka2edit.jpg' alt='' /></p>
	<p>Padahal menjadi pengarang adalah keinginanku sejak dulu. Jangan sampai profesi itu lepas dari diriku. Sering saya lebih suka disebut-sebut sebagai pengarang dari pada sebagai pegawai negeri, meskipun karyaku belum banyak dan tak seberapa bobotnya. Meskipun sudah menjadi rahasia umum, profesi pengarang yang karyanya biasa-biasa saja di negeri ini, tak menjajikan masa depan.<br />
Di Indonesia untuk menjadi penulis hebat perlu menunggu sebuah keajaiban disamping ihtiar. Seorang penulis akan menjadi milioner, bila bakat dan kerja kerasnya itu didukung oleh berbagai pihak, mulai dari “tim sukses” dari pihak penerbit, sponsor, dan pihak-pihak pendukung lainnya. Walau pun mekanisme dan birokrasinya seperti itu, saya tetap ingin setia pada profesi itu, sebab yang saya cari untuk saat ini bukanlah kepopuleran yang memang kenyataannya begitu sulit di capai itu, tapi kepuasan batin dan sedikit penghargaan berupa finansial untuk modal berekspresi lagi barangkali.<br />
Menurutku, profesi kepengarangan pada awalnya adalah sebuah kegiatan yang berpusat pada panggilan jiwa atau dalam rangka mengikuti kata hati. Selebihnya adalah keuntungan-keuntungan yang biasanya di luar dugaan si penuis itu sendiri.<br />
Kesimpulannya, saya ingin tetap menjadi pengarang sampai diri ini harus berhenti berekspresi karena tutup usia.</p>
	<p><img src='/images/merdekaedit_01.jpg' alt='' />
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/07/04/menyusuri-sebuah-jalan-di-pusat-kota/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Delman Domba</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/27/delman-domba/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/27/delman-domba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 05:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Sisi Lain</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/27/delman-domba/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Oleh Popon Saadah

	Ketika mengunjungi pasar kaget Pemkot Cimahi pada hari Minggu, saya tertarik dengan satu kendaraan unik yaitu delman domba. Sungguh di luar kebiasaan. “Profesi” yang biasanya dijalani oleh binatang yang bernama kuda, kali ini dilakukan oleh seekor domba. Tapi bukan berarti para kuda pensiun dari tugasnya, sebab delman yang ditarik kuda pun di pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/deldom1.JPG' alt='' /></p>
	<p><strong>Oleh Popon Saadah<br />
</strong></p>
	<p>Ketika mengunjungi pasar kaget Pemkot Cimahi pada hari Minggu, saya tertarik dengan satu kendaraan unik yaitu delman domba. Sungguh di luar kebiasaan. “Profesi” yang biasanya dijalani oleh binatang yang bernama kuda, kali ini dilakukan oleh seekor domba. Tapi bukan berarti para kuda pensiun dari tugasnya, sebab delman yang ditarik kuda pun di pasar ini masih cukup banyak. Ternyata delman domba di pasar kaget ini hanya ada satu, yaitu delman domba milik Pak Junaedi (60), penduduk Jalan Ciawi Tali, Citeureup, Cimahi Utara. Lalu saya mengajaknya berbincang-bincang di saat dia sedang beristirahat sambil menunggu muatan. </p>
	<p><img src='/images/deldom2.JPG' alt='' /></p>
	<p><a id="more-156"></a><br />
Dari percakapan inilah saya tahu bahwa pekerjaan yang sudah 6 bulan digelutinya itu bermula dari ide anaknya yang sudah lama menganggur dan ingin mencari penghasilan seperti yang dia lihat di televisi. Dalam tayangan sebuah satasiun TV, anaknya melihat delman domba yang sudah biasa disewakan oleh pemiliknya kepada warga di daerah Ciamis. Kemudian bapak dan anak itu berunding untuk membuat delman domba seperti yang dilihatnya di daerah Ciamis untuk disewakan pula.<br />
Hanya tentu saja binatang ternak jenis domba tidak setangguh kuda. Binatang ini tidak mungkin kuat menahan beban muatan orang dewasa. Oleh karena itu delman domba hanya diperuntukkan bagi penumpang yang termasuk kategori anak-anak, dengan jumlah penumpang maksimal 6 orang sekali jalan. Yang menjadi kusirnya pun salah seorang dari anak-anak yang menjadi penumpangnya. Pak Junaedi yang kadang-kadang digantikan oleh anaknya hanyalah sebagai pendamping delman, dengan menuntun dombanya selama di perjalanan. Lama waktu beroperasinya juga sangat terbatas. Dombanya hanya bisa dipekerjakan selama 1,5 jam perhari dalam jarak tempuh sekitar 50 meter per satu kali jalan. Untuk lebih menarik peminat (anak-anak), Pak Junaedi melengkapi delman dombanya dengan musik dan lagu-lagu khusus untuk anak-anak, yang disetel dari <em>tape recorder</em>. </p>
	<p><img src='/images/deldom1_01.jpg' alt='' /></p>
	<p>Di pasar kaget yang hanya berlangsung hari Minggu saja, Pak Junaedi bisa mendapat uang dari hasil menyewakan delmannya antara Rp. 40.000-50.000,-. Menurutnya jumlah uang yang didapatnya tersebut dirasa cukup, sebab biaya mengurus ternak piaraannya itu pun tidak sulit. Dombanya itu setiap hari hanya diberi makan singkong yang sudah dirajang.<br />
Pekerjaannya sebagai penyewa delman domba ini hanya dijalani pada waktu-waktu senggang. Sedangkan pekerjaan pokoknya sehari-hari adalah sebagai buruh bangunan.<br />
Saya sempat bertanya padanya, “Apakah Bapak tidak merasa kasihan melihat domba Bapak yang terlihat berat dan cape pada saat menarik muatan, apalagi harus membawa muatan dengan cara bolak-balik?”<br />
Atas pertanyaan itu dia menjawab, bahwa lebih baik dombanya digunakan untuk menarik delman yang bermuatan anak-anak, dan itu sama artinya dengan mengasuh mereka dari pada dijadikan domba adu. Sebab bila seekor domba jantan seperti kepunyaannya ini dijadikan domba adu, sudah pasti si domba bukan hanya akan mengalami kelelahan, tapi dipastikan juga akan mengalami babak belur sekujur tubuhnya  serta luka-luka di kepala dan tanduknya setiap selesai bertarung dengan domba-domba jantan lain yang menjadi lawannya di medan laga.***</p>
	<p><img src='/images/deldom3_03.jpg' alt='' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/27/delman-domba/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kartini Masa Kini</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/20/kartini-masa-kini/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/20/kartini-masa-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 04:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Sisi Lain</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/20/kartini-masa-kini/</guid>
		<description><![CDATA[	Oleh Popon Saadah 
	 
Menata Olahan
	Seandainya kita menganggap R.A  Kartini adalah sosok yang tetap hidup dalam benak wanita Indonesia, dan seolah-olah selalu hadir terutama pada setiap peringatan hari kelahirannya, beliau boleh berbangga, di era globalisasi ini banyak sudah generasi penerusnya yang meraih sukses di segala bidang. Semua profesi yang menjanjikan sudah bisa diduduki kaum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Oleh Popon Saadah</strong> </p>
	<p> <img src='/images/4.JPG' alt='' /><br />
<strong>Menata Olahan</strong></p>
	<p>Seandainya kita menganggap R.A  Kartini adalah sosok yang tetap hidup dalam benak wanita Indonesia, dan seolah-olah selalu hadir terutama pada setiap peringatan hari kelahirannya, beliau boleh berbangga, di era globalisasi ini banyak sudah generasi penerusnya yang meraih sukses di segala bidang. Semua profesi yang menjanjikan sudah bisa diduduki kaum perempuan. Di negeri ini, seorang wanita pernah menjabat sebagai presiden, sebagai mentri, menjadi anggota legislatif, insinyur, dokter, wanita pengusaha, serta profesi yang membanggakan lainnya.<br />
Tapi R.A Kartini juga dipastikan merasa prihatin, sebab harapannya mengangkat derajat kaum perempuan dari keterpurukan hidup akibat kebodohan, tidak sepenuhnya berhasil. Tengok saja para wanita yang sampai saat ini masih belum dapat mengenyam pendidikan yang layak karena terbentur masalah biaya. Masalah lain, begitu banyak kaum perempuan yang belum merdeka secara pribadi. Masih sering terdengar oleh kita perihnya nasib perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, diceraikan secara sepihak oleh suaminya, dilecehkan, diintimidasi, dan sebagainya.<a id="more-155"></a></p>
	<p><img src='/images/sate2.JPG' alt='' /><br />
 <strong>Sudah sangat akrab dengan asap.</strong></p>
	<p>Di dunia kerja, tak jarang wanita hanya dijadikan objek dan subordinat ketimbang sebagai subjek dan ordinat. Baik disadari maupun tidak oleh dirinya, kecantikan dan kemolekan tubuh wanita banyak dimanfaatkan, dibeli, dieksploitasi oleh kaum pria bersaku tebal yang pada hakikatnya adalah kepanjangan tangan kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan materi dan birahi semata. Pada umumnya kaum laki-laki memandang wanita hanya terfokus pada jasmaniahnya, bukan pada potensi diri dan kecerdasannya.<br />
R.A Kartini pun dipastikan akan merasa iba, mendengar kaumnya yang diekspor ke mancanegara lebih banyak sebagai kuli dan wanita penghibur, dari pada sebagai tenaga ahli. Di negerinya sendiri, ribuan bahkan mungkin jutaan buruh perempuan Indonesia berupah rendah, di bawah UMR, bekerja di tempat yang tidak nyaman dan penuh resiko, serta banting tulang mencari nafkah di malam hari. </p>
	<p><img src='/images/6.JPG' alt='' /><br />
<strong>Meneliti, apakah olahannya sudah matang?</strong></p>
	<p>Ternyata potret wanita Indonesia sampai hari ini masih buram. Banyak kaum perempuan yang memanfaatkan waktu malam hari justru untuk mengais rejeki. Padahal idealnya, kaum wanita yang notabene posisinya sebagai ibu, ratu rumah tangga, yang bertanggung jawab penuh membesarkan dan mendidik anak-anaknya, sudah harus berada di rumah ketika mereka sangat dibutuhkan anak-anaknya. Dan tugas pokok kaum ibu adalah memberikan kasih sayang dan pelajaran tentang kehidupan maupun tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup yang berat ini kepada anak-anaknya. Pada umumnya, waktu yang tepat untuk berkumpulnya semua anggota keluarga serta untuk berbagi rasa sampai kepada saling mencurahkan perhatian dan kasih sayang adalah pada malam hari. </p>
	<p><img src='/images/sate1.JPG' alt='' /><br />
<strong>Mengipasi api lagi</strong></p>
	<p>  Satu contoh potret buram itu adalah potret wanita penjual sate ayam yang setiap malam lewat ke depan rumah saya. Ketika hari menjadi gelap, dia yang mengaku berasal dari Jawa Timur, mulai melangkahkan kaki menyusuri perumahan demi perumahan dengan menenteng alat pembakaran sate berikut keranjang tempat peraralatan berjualan yang disimpan di kepalanya (disuhun). Suaranya ketika menawarkan dagangannya lirih bernada pasrah, tapi juga mengandung harapan, bahwa suaranya itu bisa menerobos pintu-pintu rumah yang sudah tertutup dan didengar oleh calon pembeli, sehingga mereka tertarik untuk mencicipi hasil olahannya. </p>
	<p>  <img src='/images/5.JPG' alt='' /><br />
<strong>Aku dan Kipas setiaku. </strong></p>
	<p>Para wanita penjual sate ayam ini berjualan sampai larut malam, dengan keuntungan yang bisa ditaksir tidak seberapa, apalagi kita semua tahu, situasi jaman saat ini sangat kejam, lebih-lebih untuk para pedagang kecil seperti mereka. Tapi hidup harus terus berjalan. Dan mereka pun tahu itu.  Dengan begitu semangat mereka untuk terus melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan di saat lampu-lampu rumah dan lampu jalanan mulai dinyalakan, juga tak boleh surut. Berbekal daya juang yang gigih khas orang-orang perantauan, serta berbekal harapan seperti yang didengungkan Ibu Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, mereka terus berjalan menembus kelamnya malam.***</p>
	<p><img src='/images/7.JPG' alt='' /><br />
<strong>Olahan siap disantap.</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/20/kartini-masa-kini/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menggarap Tanah Kesayangan</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/13/menggarap-tanah-kesayangan/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/13/menggarap-tanah-kesayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 03:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>focus</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/13/menggarap-tanah-kesayangan/</guid>
		<description><![CDATA[	
Nengok dulu akh&#8230;
	
Kerja lagi akh!!
	
Pegel juga jongkok terus!
	
Hari semakin siang.
	

Kejar setoran!!
	
Boleh jongkok sambil nengok?
	
Benih padi yang terkumpul.

	
Lahan untuk tandur (menanam benih padi)
	
Air dan sawah layaknya jiwa dan raga.
	Lokasi: Ciawitali Citeureup, Cimahi Utara.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/babut1.jpg' alt='' /><br />
<strong>Nengok dulu akh&#8230;</strong></p>
	<p><img src='/images/babut2.jpg' alt='' /><br />
<strong>Kerja lagi akh!!</strong></p>
	<p><img src='/images/babut3.jpg' alt='' /><br />
<strong>Pegel juga jongkok terus!</strong></p>
	<p><img src='/images/babut4.jpg' alt='' /><br />
<strong>Hari semakin siang.</strong></p>
	<p><a id="more-154"></a><br />
<img src='/images/babut6.jpg' alt='' /><br />
<strong>Kejar setoran!!</strong></p>
	<p><img src='/images/babut5.jpg' alt='' /><br />
<strong>Boleh jongkok sambil nengok?</strong></p>
	<p><img src='/images/babut7.jpg' alt='' /><br />
<strong>Benih padi yang terkumpul.<br />
</strong></p>
	<p><img src='/images/babut8.jpg' alt='' /><br />
<strong>Lahan untuk tandur (menanam benih padi)</strong></p>
	<p><img src='/images/babut9.jpg' alt='' /><br />
<strong>Air dan sawah layaknya jiwa dan raga.</strong></p>
	<p><strong>Lokasi: Ciawitali Citeureup, Cimahi Utara.</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/13/menggarap-tanah-kesayangan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pada Hari Itu …</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/03/09/p153/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/03/09/p153/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 10:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Curhat</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/03/09/p153/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Selasa, 3 Maret 2009. Bisa dipastikan keadaan hati dan pikiranku sangat mirip dengan keadaan hati dan pikiran suamiku. Gejolak rasa gelisah sangat mengganggu jiwa kami pada saat ini. Sebab nanti, beberapa jam lagi suami akan menjalani operasi, operasi batu di dalam empedu.
Dalam suasana ketidak tenangan kalbu itu kulirik dia yang berada di sebelahku. Wajahnya terlihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/opr1.jpg' alt='' /></p>
	<p>Selasa, 3 Maret 2009. Bisa dipastikan keadaan hati dan pikiranku sangat mirip dengan keadaan hati dan pikiran suamiku. Gejolak rasa gelisah sangat mengganggu jiwa kami pada saat ini. Sebab nanti, beberapa jam lagi suami akan menjalani operasi, operasi batu di dalam empedu.<br />
Dalam suasana ketidak tenangan kalbu itu kulirik dia yang berada di sebelahku. Wajahnya terlihat tegang. Mulutnya sudah sejak tadi pagi mengunyah do’a. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak atau menengok ke arah pintu keluar, menunggu dengan harap-harap cemas seorang perawat menjemputnya. Ternyata kegelisahan cukup lama juga menyiksa batin kami berdua. Dengan begitu aku dan suami mencoba keluar dari kamar untuk sekedar menghirup udara segar, mengurangi kecepatan tidak normal irama jantung kami yang selalu berdebar-debar.<a id="more-153"></a><br />
Tibalah waktu yang dijanjikan oleh para ahli medis itu. Tepat pukul 11 seorang perawat pria dengan mendorong kursi roda yang masih kosong menghampiri kami yang sudah berada kembali di dalam kamar. Perawat itu menyerahkan kostum khusus berupa baju yang sepertinya terbuat dari katun berwarna hijau daun dan tutup kepala dari bahan yang sama berwarna putih. Dengan pasrah suami mengenakan kostum khas itu.<br />
Setelah siap semuanya, dengan didorong oleh perawat suami melaju di atas kursi roda melewati selasar rumah sakit yang cukup panjang menuju ruang operasi. Dalam keadaan sedih, khawatir, waswas, dan cemas bercampur aduk jadi satu, saya dan anak sulungku mengikutinya dari belakang. Do’aku, “Ya Allah tolonglah kami yang lemah ini, tolonglah kekasihku, selamatkanlah dia dari ganasnya penyakit…”</p>
	<p><img src='/images/opr3.jpg' alt='' /></p>
	<p>Pada saat pintu  kamar operasi dibuka, saya sempat berpesan pada ayahnya anak-anak, bahwa hatinya harus tenang dan pasrah, agar pelaksanaan operasi berjalan lancar. Dijawab olehnya dengan satu anggukan. Padahal saya berpesan seperti itu terutama ditujukan kepada diri sendiri, yang barangkali suasana hati ini lebih risau dari pada suasana hatinya.<br />
Pintu ruang operasi kemudian ditutup. Putuslah komunikasi saya dengannya untuk sementara. Rasa sedih yang tak terhingga, yang sudah ditahan-tahan sejak semula akhirnya meluap juga berbentuk derai air mata.<br />
Tiba-tiba saya sadar, bahwa saya hidup di dunia ini tidak sendirian. Di sekelilingku ada orangtua, saudara, dan handai tolan. Saya pun bersegera meminta pertolongan kepada mereka berupa do’a-do’a untuk kelancaran proses operasi suami. Kepada para sahabat yang berada di tempat yang jauh saya memohon bantuan do’a melalui SMS. Saya mohon do’a keselamatan suami di antaranya kepada: Fz (sahabat di Australia), Bapak Iskandarwassid (guru saya), Bu Nia Anita dan Bu Kristin (sahabat seprofesi), Nani Marlen (teman seperjuangan saat kuliah dulu), Bu Berlin (tetanggaku yang paling sering dimintai tolong), Kang Budi dan Ayi Usep (sahabat dekatku), Aang Zaini (sahabat di Surabaya), serta Teeunk (Untung Wijayanto, yang sedang berada di Lampung). Alhamdulillah semuanya bersimpati serta memberikan do’a secara bertubi-tubi melalui SMS. Hal inilah yang membuat hatiku tenang. “Ya Allah semoga Engkau mengabulkan do’a kami. Amin ya Allah!”<br />
Dalam keadaan termangu bersama anakku dan ayahku menunggu  proses operasi selesai, hadirnya teman sejawat, Bu Tini dan Bu Kustinah menambah esensi kekuatan hati. Kepada semuanya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian, dukungan moral, dan bantuan do’anya.</p>
	<p><img src='/images/opr2.jpg' alt='' /></p>
	<p>Proses pembedahan itu berlangsung selama 3,5 jam. Saya baru bisa menemui suami setelah dia berada di ruang pemulihan. Ketika saya menghampirinya, dia masih berbalut kain hijau sekujur tubuh dan belum terjaga. tiba-tiba bau amis yang asing mengepungku. Saya mencoba memanggil-manggil suami dengan suara lirih di telinganya, tapi dia diam saja.<br />
Setelah dirasa cukup tergolek di ruang pemulihan tapi masih dalam keadaan pingsan, suami dipindahkan ke ruang observasi, bersebelahan dengan kantor perawat.<br />
Beberapa saat kemudian dia siuman, rupanya suami baru menyadari bahwa dirinya telah ditolong Allah dengan keberhasilan proses operasinya. Bahwa dirinya masih diberi kesempatan menghirup udara dunia yang sangat berlimpah ini. Bahwa dirinya masih diijinkan serta diberi kesempatan berkumpul kembali dengan keluarga sampai waktu yang ditentukan.<br />
Berbagai selang kecil dipasang pada tubuh lemahnya. Yang paling membuat saya terasa ngilu membayangkannya adalah saat melihat selang-selang itu masuk ke dalam rongga dadanya melalui lubang hidung. Selang itu katanya berfungsi membuang cairan kotor dari dalam lambungnya. Sedangkan selang kateter berfungsi untuk menyalurkan dan menampung air seninya.<br />
Di ruang observasi inilah kondisi suami lemah total. Lebih-lebih ketika obat bius dan obat yang bersifat analgesik sudah berkurang pengaruhnya, kelemahan suami dalam menanggung rasa sakit bertambah nyata. Mulai saat ini saya tak bisa meninggalkannya barang sekejap pun, kecuali pada saat tiba waktu solat.<br />
Menunggu dan menemani orang yang sakitnya seperti ini, yang baru menjalani operasi besar, bukan hanya sekedar menunggu dan menemani saja, tapi harus disertai dengan perhatian dan ketelatenan yang lebih dari si penunggu. Si penunggu harus selalu mengontrol apakah cairan infusnya masih banyak atau sudah mulai habis. Bila lalai, akan terjadi penyedotan darah dari atas ke bawah selang infuse melalui tangan yang diinfus akibat kehabisan cairan infus itu. Juga harus selalu dikontrol kantong kateternya, jangan sampai kelebihan kapasitas. Oleh karena itu si penunggu tidak boleh ketiduran, lalai, atau lupa. Alasan inilah yang membuatku merasa tidak percaya bila suamiku ditunggui secara bergiliran oleh yang lain bila saya merasa kelelahan. Biarlah saya kelelahan. Lelahku ini adalah bagian dari bakti kecilku padanya. Alasan lainnya, suami pernah bilang, bahwa dia hanya akan merasa tenang dan tentram hatinya bila yang menungguinya, menemaninya, serta mengurusnya adalah istrinya sendiri. </p>
	<p><img src='/images/opr4.jpg' alt='' /></p>
	<p>Masa kritis itu akhirnya alhamdulillah dapat kami lewati. Hari demi hari kondisi suami berangsur sembuh dan pulih. Semua ini berkat taburan do’a dari keluarga besarku beserta para kerabat semua. Untuk itu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semuanya. Semoga amal kebaikan saudaraku semua mendapat pahala yang berlipat ganda dari Yang Maha Kuasa. Amin.</p>
	<p><img src='/images/opr6.jpg' alt='' />
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/03/09/p153/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bulan Kesedihan</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/28/bulan-kesedihan/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/28/bulan-kesedihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 07:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Curhat</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/28/bulan-kesedihan/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Bulan Februari tahun ini adalah bulan kesedihan untuk keluargaku. Bagaimana tidak, di bulan ini suamiku harus berlama-lama menginap di sebuah rumah sakit. Dia menderita sakit yang sangat hebat di bagian perut sebelah kiri.
Ketika suatu malam dengan tiba-tiba penyakit suami kambuh, dia mengerang kesakitan seperti tak tertahankan. Saya panik. Kemudian pada dini hari, Selasa 17 Februari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/RS2.jpg' alt='' /></p>
	<p>Bulan Februari tahun ini adalah bulan kesedihan untuk keluargaku. Bagaimana tidak, di bulan ini suamiku harus berlama-lama menginap di sebuah rumah sakit. Dia menderita sakit yang sangat hebat di bagian perut sebelah kiri.<br />
Ketika suatu malam dengan tiba-tiba penyakit suami kambuh, dia mengerang kesakitan seperti tak tertahankan. Saya panik. Kemudian pada dini hari, Selasa 17 Februari, ditemani anakku yang nomer dua, saya mengantarnya ke bagian gawat darurat rumah sakit Dustira Cimahi. Akhirnya dengan pemberian obat yang terus menerus berupa infus dan obat-obatan yang ditelan, penderitaannya bisa dikurangi sedikit demi sedikit. Permintaanku pada dokter yang memeriksanya waktu itu, lebih baik suamiku menjalani rawat inap saja. </p>
	<p><img src='/images/dustira1.jpg' alt='' /></p>
	<p>Dia ditempatkan di paviliun Mawar. Cukup nyaman untuk seseorang yang tengah menjalani perawatan intensif. Jendela di kamar ini bisa dibuka lebar-lebar dan menghadap ke jalan raya yang jaraknya terhalang oleh taman dan tempat parkir. Udara segar dan sinar mentari selalu menyapa kami dengan sangat ramah, apalagi di pagi hari.<a id="more-152"></a><br />
Dan hari-hari di pertengahan Februari ini adalah hari-hari yang membuat aku begitu dekat dengannya. Di sini, di tempat ini, dari pagi hingga sore, kami selalu bersama. Hal yang sebelumnya jarang benar dilakukan di rumah. Sebelum peristiwa ini, saya selalu saja sibuk dengan pekerjaan rutin serta kegemaranku menulis dan <em>blogging</em>. Demikian pula dengan suami, dia sering keasyikan kerja lembur hingga tak jarang pulang dari tempat kerjanya setelah pukul 21.00.  </p>
	<p><img src='/images/RS3.jpg' alt='' /></p>
	<p>Sekarang semuanya harus berubah. Selama seminggu saya cuti dari pekerjaanku di sekolah. Waktu satu pekan itu kuhabiskan untuk mendampinginya. Kali ini, di rumah sakit ini, kami jadi banyak tahu, bahwa ternyata kami berdua adalah pasangan yang saling membutuhkan, saling menyayangi, saling mencintai, dan saling merindukan. Bila kebetulan suasana ruangan sedang sepi, tak ada yang mengganggu keintiman kami, saya dan dia layaknya sepasang insan yang tengah berpacaran. Sebagai pasangan yang pernah muda, kami bernostalgia, bercengkrama, karena di bangsal yang berfungsi sebagai kamar perawatan untuk orang sakit ini hanya aku dan dia saja yang hadir.<br />
Kali ini saya ingin membuat jiwanya sedikit tenang dengan selalu berada di sisinya. Apalagi setelah diketahui melalui pemeriksan USG bahwa dalam empedu suamiku terdapat batu sebesar biji kacang panjang dan harus diangkat, bertambah-tambahlah rasa ibaku. Sosok yang biasanya tegap tegar dan terkesan selalu ingin melindungiku, kini nampak lemah, murung dan kuyu. Badannya dengan cepat menyusut karena porsi makan pun dikurangi. Bila rasa sedih tiba-tiba meliputi hati kami, kami berduapun  tak kuasa menahan air mata. Bertangisan.</p>
	<p><img src='/images/RS.jpg' alt='' /></p>
	<p>Setiap hari aku jadi senang berlama-lama menghabiskan waktu siangku di rumah sakit. Menemaninya, membesarkan hatinya, mendo’akannya, melayaninya, dan sebagainya. Diapun tak henti-hentinya membesarkan hatiku dengan berkata bahwa semua ujian ini akan bisa kami lewati dengan baik.<br />
Hati kami berdua menjadi tenang dan terhibur setiap mendapat kunjungan saudara dan para kerabat. Rasa simpati mereka adalah obat mujarab bagi suamiku. Di tengah obrolan para penjenguk itu, air muka suami jadi terlihat ceria.<br />
Sayang sekali, suami tak mengijinkan saya menemaninya sepanjang malam hingga esok harinya, karena dia merasa khawatir akan keadaan anak-anak kami di rumah. Dengan begitu, malam harinya di rumah sakit ini dia tidur seorang diri. Dia merasa ditemani, bila kebetulan ranjang di sebelahnya ditempati pasien baru. Tapi pasien-pasien penghuni ranjang sebelah itu selalu datang dan pergi, berganti-ganti. Kadang-kadang beberapa hari ranjang itu tak terisi sama sekali, itu artinya sepanjang malam suamiku bersepi-sepi seorang sendiri, di ruangan yang sunyi.<br />
Padahal bagiku, baik seharian ataupun sepanjang malam bersamanya tidak akan pernah cukup untuk menumpahkan rasa rindu dendamku padanya. Bila waktu sore tiba, berat hatiku untuk meninggalkannya. Ketika sepeda motorku melaju menuju rumah, seolah-olah sebelah jiwaku tertinggal di sana, di rumah sakit itu. Tapi di rumah pun anak-anak sudah menunggu kepulangan ibunya. Mengenai hal ini, saya selalu dilanda kebimbangan, setiap hari.<br />
Yang dirasa sangat berat olehku adalah ketika harus bisa menggantikan posisi suami pada waktu sehat dulu. Dia adalah nakhoda bahtera rumah tangga kami. Sekarang dengan terpaksa jabatan itu dibebankan ke atas pundakku. Mau tidak mau akupun harus menjadi nakhoda handal rumah tanggaku sehandal suamiku. Dimulai dari fajar menyingsing di pagi hari hingga mata lelahku terpejam di malam hari, saya harus siap mengerjakan segalanya. Ada juga bantuan tenaga anak-anak, tapi alakadarnya, hanya yang ringan-ringan saja. Selebihnya adalah tugas yang harus saya kerjakan dengan baik. Dari mulai urusan keuangan, sampai tektek bengek urusan dapur, seperti memasang tabung gas pada kompor gas, saya harus terampil melakukannya sekarang. Ternyata keterpaksaan menjadikan sesuatu yang tak biasa menjadi biasa. Dan pembiasaan merubah sesuatu yang sukar menjadi mudah. </p>
	<p><img src='/images/dustira.jpg' alt='' /></p>
	<p>Pekan berikutnya, saya kembali menunaikan tugas rutin di sekolah, karena kondisi suami mulai berkembang ke arah yang lebih baik. Dengan begitu pertemuanku dengannya hanya sebentar saja. Pada hari liburlah saya baru bisa menemani suami sepuasnya.<br />
Hampir dua minggu suamiku dirawat di rumah sakit ini. Sudah banyak pemeriksaan menyeluruh dilakukan, seperti: pengambilan darah, pemeriksaan tensi, jantung, air seni, dan sebagainya. Dokter yang merawat suami ada tiga orang, yakni dokter internis, dokter jantung, dan dokter bedah. Menurut diagnosis mereka, dalam hal jantung dan lain-lain alhamdulillah suamiku normal-normal saja. Yang menjadi pusat perhatian mereka bertiga adalah sebuah batu yang bersarang di empedunya itu. Jadwal operasi pun telah ditentukan. Insya Allah, akan dilakukan pembedahan pada hari Selasa tanggal 3 Maret, 2009. Menghadapi hal ini, suami ada gentarnya juga. Katanya dia agak takut menghadapi hari H pembedahan, lalu berbagai prasangka buruk berkecamuk dalam benaknya.<br />
Saya bilang padanya, bahwa proses operasi adalah proses yang sudah biasa dilakukan oleh para dokter dalam rangka menyembuhkan pasien-pasiennya. Kenapa mesti gentar? Bukankah teknologi kedokteran sekarang sudah sedemikian majunya? Dan yang perlu direnungkan, bahwa pada hakikatnya yang bisa mengobati diri kita hanyalah diri kita sendiri. Kita harus optimis, berbaik sangka, dan berserah diri pada Yang Memberi Nyawa. Bila ketiga hal tersebut bersatu padu dalam diri kita, akan menimbulkan kekuatan, kekuatan untuk menghadapi hidup bagaimanapun keadaannya. Sedangkan kekuatan di luar diri kita yang juga tak kalah pentingnya dan besar pengaruhnya pada si sakit adalah dukungan moral beserta do’a dari saudara dan kerabat.<br />
Oleh karena itu, khusus untuk suamiku tercinta, saya memohon bantuan para sahabat berupa do’a untuk kesembuhannya. Semoga suamiku bisa melewati proses penyembuhan ini dengan tabah, dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga di rumah, serta bisa beraktifitas seperti sediakala. Amin ya Robbal aalamin…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/28/bulan-kesedihan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Candi Prambanan</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/11/candi-prambanan/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/11/candi-prambanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 00:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Pariwisata</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/11/candi-prambanan/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Candi Loro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah  timur dari Kota Yogyakarta, atau kurang lebih 53 km sebelah barat Solo.
Komplek percandian Prambanan ini masuk ke dalam 2 wilayah, yakni komplek bagian barat masuk wilayah Daerah Istimewa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/ilustrasiprambanan1.JPG' alt='' /></p>
	<p>Candi Loro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah  timur dari Kota Yogyakarta, atau kurang lebih 53 km sebelah barat Solo.<br />
Komplek percandian Prambanan ini masuk ke dalam 2 wilayah, yakni komplek bagian barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian Timur masuk wilayah Jawa Tengah. Percandian Prambanan berdiri di sebelah timur sungai Opak, kurang lebih 200 m sebelah utara jl. Raya Yogya-Solo.<br />
Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung, berdasarkan prasasti berangka tahun 856 M.</p>
	<p><img src='/images/ilustrasiprambanan.JPG' alt='' /></p>
	<p>Komplek percandian Prambanan terdiri atas latar tengah dan latar atas (latar pusat) yang makin ke arah dalam makin tinggi letaknya. Berturut-turut letaknya: 390 meter persegi, 222 meter persegi, dan 110 meter persegi. Latar bawah tak berisi apa pun. Di dalam latar tengah terdapat reruntuhan candi-candi Perwara.<br />
Apabila seluruhnya telah selesai dipugar, maka akan ada 224 buah candi yang ukurannya semua sama, yaitu luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter. Latar pusat adalah latar terpenting, di atasnya berdiri 16 buah candi besar dan kecil. Candi-candi utama terdiri atas 2 deret yang saling berhadapan. Deret pertama yaitu Candi Siwa, Candi Wisnu, dan Candi Brahma. Deret kedua, Candi Nandi, Candi Angsa, dan Candi Garuda. Pada ujung-ujung lorong yang memisahkan kedua deretan candi tersebut terdapat Candi Apit. Delapan candi lainnya lebih kecil. Empat di antaranya Candi Kelir, dan empat lainnya disebut Candi Sudut. Secara keseluruhan percandian ini terdiri atas 240 buah candi.</p>
	<p><strong>Disarikan dari berbagai sumber.</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/11/candi-prambanan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Gua Jatijajar</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/03/gua-jatijajar/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/03/gua-jatijajar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 04:18:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Pariwisata</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/03/gua-jatijajar/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Gua Jatijajar adalah gua alam kapur yang sangat tua, terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Dati II Kebumen.
Gua ini terbentuk dari batu kapur dan ditemukan oleh Djajamenawi, seorang petani yang memiliki tanah di atas gua tersebut pada 1802. Ia terjatuh ke suatu lubang, ternyata lubang itu adalah lubang ventilasi dari langit-langit gua tersebut. Lubang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/gerbangjatijajar.JPG' alt='' /></p>
	<p>Gua Jatijajar adalah gua alam kapur yang sangat tua, terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Dati II Kebumen.<br />
Gua ini terbentuk dari batu kapur dan ditemukan oleh Djajamenawi, seorang petani yang memiliki tanah di atas gua tersebut pada 1802. Ia terjatuh ke suatu lubang, ternyata lubang itu adalah lubang ventilasi dari langit-langit gua tersebut. Lubang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi lubang 24 meter.</p>
	<p><img src='/images/lawangguha1.JPG' alt='' /></p>
	<p>Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat <em>stalagmit</em> dan juga pilar atau tiang kapur, yaitu pertemuan antara  <em>stalaktit</em> dengan <em>stalagmit</em>. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Sistem perguaan berkembang pada lapisan batu gamping yang berumur miosen tengah. Di dalam gua dapat dijumpai fosil-fosil seperti <em>Lepidocyclina sumatrensis Brady</em>, <em>L. elegans Tan</em> dan <em>Cycloclypeus annulatus</em> <em>Martin</em>. Fosil-fosil tersebut menunjukkan umur batuan, juga sekaligus mencirikan lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai kedalaman 60 meter.<a id="more-150"></a></p>
	<p><img src='/images/memasukigua.JPG' alt='' /></p>
	<p>Karena sifat bumi yang dinamis, laut dangkal tersebut terangkat sampai ketinggian sekarang. Gejala <em>endokarst</em> Gua Jatijajar dapat dilihat dengan adanya pembentukan kanopi yang menunjukkan adanya sungai bawah tanah yang pernah aktif. Proses pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering. Karena air mencari permukaan yang lebih rendah, maka sungai bawah tanah yang aktif dapat dijumpai hingga kini, seperti Sendang, Puserbumi, Jombor, Mawar, dan Kantil. Mengingat batu-batuan di Gua Jatijajar sudah sangat tua, maka di muka gua dibangun patung binatang purba dinosaurus sebagai symbol kepurbukalaan. Dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Mawar yang sepanjang tahun tidak pernah kering. </p>
	<p><img src='/images/dino.JPG' alt='' /></p>
	<p><img src='/images/dino1.JPG' alt='' /></p>
	<p>Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter, dan tinggi rata-rata 12 meter, sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketinggian dari permukaan laut 50 meter.<br />
Pada 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi obyek wisata. Kini di dalam gua, selain diorama juga sudah terpasang lampu listrik sebagai penerangan, dan undak-undakan beton untuk memudahkan para wisatawan masuk ke dalam Gua.<br />
Hingga kini Gua Jatijajar masih menjadi primadona. Obyek wisata itu terletak 21 km sebelah barat daya Kecamatan Gombong Kebumen. Kawasan obyek wisata Gua Jatijajar meliputi Gua Dempok, Gua Titikan, Gua Intan, dan Gua Jatijajar seluas 5,5 ha.<br />
Obyek wisata ini dilengkapi dengan fasilitas MCK, taman parkir, kios souvenir, dan warung makan serta musola.</p>
	<p><img src='/images/panoramaalamdiluargua.JPG' alt='' /></p>
	<p><strong>Disarikan dari tulisan Teguh Laksana, <em>Pikiran Rakyat</em>, edisi 18 Oktober 2008.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/03/gua-jatijajar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bernarsis Ria</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/01/bernarsis-ria/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/01/bernarsis-ria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 09:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>focus</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/01/bernarsis-ria/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Jatijajar, 27 Januari 2009

	****
	
Hotel Bhineka, 27 Januari 2009
	****
	
Jatijajar, 27 Januari 2009
	****
	
Grafika, Gombong, 27 Januari 2009
	****
	
Jatijajar, 27 Januari 2009
	****
	
Hotel Bhineka, 27 Januari 2009
	****
	
Keraton Yogyakarta, 27 Januari 2009
	****
	
Taman Pintar, 27 Januari 2009
	****
	
Hotel Bhineka, 27 Januari 2009
	****
	
Jatijajar, 27 Januari 2009
	****
	
Yogyakarta, 27 Januari 2009
	***
	
Jatijajar, 27 Januari 2009
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/narsis2.JPG' alt='' /></p>
	<p><strong>Jatijajar, 27 Januari 2009</strong><br />
<a id="more-149"></a></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/youmom.JPG' alt='' /><br />
<strong>Hotel Bhineka, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/narsis4.JPG' alt='' /><br />
<strong>Jatijajar, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/dikidini.JPG' alt='' /><br />
<strong>Grafika, Gombong, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/colorize.JPG' alt='' /><br />
<strong>Jatijajar, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/kakaadik.JPG' alt='' /><br />
<strong>Hotel Bhineka, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/jafar.JPG' alt='' /><br />
<strong>Keraton Yogyakarta, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/narsisedit.JPG' alt='' /><br />
<strong>Taman Pintar, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/narsis6.JPG' alt='' /><br />
<strong>Hotel Bhineka, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/popacep.JPG' alt='' /><br />
<strong>Jatijajar, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>****</p>
	<p><img src='/images/je.JPG' alt='' /><br />
<strong>Yogyakarta, 27 Januari 2009</strong></p>
	<p>***</p>
	<p><img src='/images/narsis3_01.jpg' alt='' /><br />
<strong>Jatijajar, 27 Januari 2009</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/01/bernarsis-ria/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Anakku</title>
		<link>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/01/22/anakku/</link>
		<comments>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/01/22/anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 23:42:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poponsaadah</dc:creator>
		
	<category>Profil Sahabat</category>
		<guid>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/01/22/anakku/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Negara sedang mengalami awal krisis moneter, ketika saya harus mengandung janinnya. Kemudian dia lahir bersamaan dengan reformasi, tahun 1998.
Ketika usia kandunganku menginjak bulan ke sepuluh, tepat saat berkumandang adzan subuh, dia hadir ke pangkuanku dengan berat bersih 4 kg. Cukup sulit untuk mengeluarkannya dari rahimku, sebab si janin sudah berubah menjadi bayi yang lumayan besar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/acep2.JPG' alt='' /></p>
	<p>Negara sedang mengalami awal krisis moneter, ketika saya harus mengandung janinnya. Kemudian dia lahir bersamaan dengan reformasi, tahun 1998.<br />
Ketika usia kandunganku menginjak bulan ke sepuluh, tepat saat berkumandang adzan subuh, dia hadir ke pangkuanku dengan berat bersih 4 kg. Cukup sulit untuk mengeluarkannya dari rahimku, sebab si janin sudah berubah menjadi bayi yang lumayan besar. Bila  proses persalinan ini berlangsung di rumah sakit, ada kemungkinan saya harus menjalani operasi <em>cessar</em>. Tapi karena saya memilih tempat bersalin di bidan, upaya yang dilakukan oleh kami diusahakan sealamiah mungkin. Dan saya berharap ini adalah persalinan yang terakhir. Saya rasa cukuplah dua kali saja saya merasakan begitu susah payahnya melahirkan itu.<br />
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, hingga tahun demi tahun, saya lalui dengan bahagia karena kehadirannya. Tak terasa sekarang Si Bungsu sudah kelas 5 SD. Entah karena dia anak yang lahir paling akhir, entah karena orang tuanya secara sadar dan tidak sadar memperlakukannya sedemikian rupa, hingga dia banyak bergantung pada ibu dan ayahnya. Dia tak biasa ditinggal pergi lama-lama, serta kurang mandiri. Dan entah kenapa menghadapi si kecil ini hati saya dan suami sering luluh, tak bisa tegas-tegasan dalam mendidiknya. </p>
	<p><img src='/images/acep5.JPG' alt='' /><br />
<img src='/images/acep4.JPG' alt='' /><br />
<a id="more-148"></a><br />
Saya sadar, karakternya dominan mirip ibunya, di antaranya yaitu perasa, sehingga senang diperlakukan dengan lemah lembut, oleh karena itu tak tahan bila dibentak. Tapi bila dia  menginginkan sesuatu harus terlaksana pada saat itu juga, sangat susah dicegah atau tak bisa dihalang-halangi.<br />
Sekarang ini saya sedang berusaha meminimalisir sifat-sifat negatifnya, dan berusaha untuk memupuk serta menonjolkan tabiat positifnya. Meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dengan kerja keras, ketekunan, dan juga kesabaran, saya yakin usaha saya ini akan ada hasilnya.</p>
	<p><img src='/images/acep6.JPG' alt='' /></p>
	<p>Langkah pertama adalah menerapkan disiplin solat lima waktu, serta mengaji pada malam hari. Langkah kedua memupuk gemar membaca dengan berlangganan majalah anak-anak pavoritnya serta membeli buku-buku serta komik yang sesuai dengan usianya.  Ketiga memberinya kesempatan untuk bersosialisasi sepuas mungkin dengan teman-teman sebayanya. Saya tidak pernah melarang dia untuk pergi agak jauh atau melakukan kegiatan menantang seperti bermain sepedah, bermain sepak bola, dan berenang, untuk menumbuhkan keberaniannya.<br />
Keempat, memberi kesempatan padanya untuk memilih kegiatan yang dia sukai pada hari libur. Dengan harapan esok harinya dia memiliki semangat baru ketika melakukan  tugas-tugas rutin yang harus sesegera mungkin dia kerjakan.<br />
Ada satu sifatnya yang lumayan susah diminimalisir, yaitu gampang nangis (cengeng), serta selalu mengalah bila ditindas teman. Saya sempat khawatir dengan jiwanya yang lembek itu, hingga pada suatu hari saya sempat berkata padanya, “Bila ada yang berani menjajah kamu, harusnya kamu melawan bukan mengalah. Jika suatu saat ibu dipanggil gurumu ke sekolah gara-gara kamu berkelahi, ibu akan merasa senang dan bangga, ternyata anak ibu ini sekarang sudah menjadi seorang yang pemberani!”<br />
 Tapi momen itu tak kunjung datang. Tak pernah saya terima selembar surat pun yang mengundang saya ke sekolahnya untuk mengurus masalah perkelahian anakku itu dengan temannya. Ah, dia tetap saja anak yang selalu mengalah pada keegoisan teman sebayanya. </p>
	<p><img src='/images/acep3.JPG' alt='' /></p>
	<p>Di sisi lain, saya cukup senang dengan kepatuhannya dalam menggunakan bahasa Sunda, baik di rumah maupun di mana saja. Hati saya selalu terhibur setiap berbincang-bicang dengannya, sebab upayaku selama ini agar dia fasih berbahasa Sunda yang baik dan benar ada hasilnya. Sampai berkomentar pada tayangan televisi pun dia menggunakan bahasa Sunda dengan gaya berkomentar orang dewasa. Seperti ketika di sebuah acara ada seorang laki-laki berotot yang sangat takut pada istrinya, dia sempat  melempar komentar, “Kalahka wè otot leungeun badag, ari ku pamajikan sieun!” Atau ketika dalam satu tayangan ada seorang perempuan yang didandani (di-<em>makeover</em>) agar terlihat cantik, dia berani menilai, “Euleuh geuning didangdanan tèh kalahka beuki ancur!” </p>
	<p><img src='/images/acep1.JPG' alt='' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poponsaadah.blogsome.com/2009/01/22/anakku/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
