FENOMENA…

August 6, 2008

Indahnya Kaligrafi

Filed under: Sejenak Merenung

www.geocities.com

June 14, 2008

Rumitnya Seorang Isteri, dan Simple-nya Seorang Suami…

Filed under: Sejenak Merenung

Cerita Kiriman Teman

Buku Harian Istri

Minggu Malam - Dia bertingkah aneh. Sebelumnya kami berjanji bertemu di Cafe. Aku shopping seharian dengan teman-teman, sehingga mungkin dia kesal karena aku agak telat sampai di Cafe, tapi dia tak berkomentar.

Ngobrolnya nggak nyambung, jadi aku usul kita pergi ke tempat yang agak sepi supaya ngobrolnya lebih enak, dia setuju tapi tetap diam dan berjarak. Aku tanyakan apa yang salah - dia jawab, ‘Tak ada’. Aku tanyakan apakah kesalahan ku yang membuatnya kesal. Dia bilang hal ini tak ada kaitannya denganku dan minta aku nggak usah khawatir.

Dalam perjalanan pulang, ku bilang aku mencintainya, dia cuma tersenyum tipis dan tetap menyetir. Aku tak bisa menjelaskan perangainya sore itu. Aku tak habis pikir kenapa dia tak menjawab, ‘aku cinta kamu juga’. Sesampainya dirumah, aku merasa kehilangan dia, dan seolah-olah dia tak menghendaki ku lagi. Dia hanya duduk dan nonton depan TV; dia terlihat jauh dan menghilang….
Akhirnya aku putuskan untuk tidur. Sekitar 10 menit kemudian, dia menyusul ke kamar. Aku nggak tahan lagi, kuputuskan untuk menghadapinya dan menanyakan soal sebenarnya, tapi dia langsung tertidur. Aku mulai menangis sampai tertidur. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Hidupku serasa kiamat…

Buku Harian Suami

Hari ini MANCHESTER UNITED kalah. SIALAAANN!!!

May 7, 2008

Curahan Hati Seorang Nenek

Filed under: Sejenak Merenung

praying

Tulisan Kiriman Seorang Teman

Panggil saya Ipah (69). Saya tinggal di pinggiran Solo. Jujur saja, di usia setua ini, tak ada lagi hal duniawi yang saya harapkan. Semua hal yang indah sudah saya nikmati. Anak-anak sudah besar, cucu pun banyak, dan semua mencintai saya. Tapi, setelah kematian suami hampir 5 tahun lalu, kekosongan mulai terasa. Memang cucu dapat membuat saya lupa pada kesendirian. Tapi ketika cucu-cucu sudah pada tidur, dan saya di kamar sendirian, kadang hidup terasa begitu lamban. Sering saya tidak dapat tidur, dan terbangun tengah malam, dan tak dapat lagi tidur sampai pagi. Sepi sekali, tak ada siapa-siapa. Kadang saya ingin ada teman bicara, yang mengerti kehidupan orang-orang tua ini, tapi siapa? Kadang saya ingin bicara dengan tetangga yang seumuran, tapi dilarang menantu. Mereka takut saya tidak tahu jalan pulang. Saya memang kadang pelupa.
Oh ya, saya tinggal bersama menantu. Setelah suami meninggal, saya ikut anak tertua, Dirah. Tapi, tak lama, tiga tahun lalu dia pun menyusul ayahnya. Jadi, kini saya hanya tinggal bersama dua cucu dan menantu. (more…)

March 27, 2008

Anak Adalah Ujian

Filed under: Sejenak Merenung

janin janin baby

Oleh Popon Saadah

Suatu hari seorang teman berhalangan hadir pada kegiatan pertunjukan SUDONG (Sulap dan Dongeng) di Gedung Arhannud Sriwijaya Cimahi. Kabarnya dia terjatuh, tangan kirinya cedera ketika sedang berlatih mengendarai motor. Lalu kami (guru-guru Bahasa Sunda) menengoknya di rumah ibunya di Cijerah. Alhamdulillah, keadaan dia baik-baik saja, hanya cedera sedikit. Tangan kanannya masih diikat selendang (diais) karena terkilir.
Yang membuat kami terhenyak kemudian merasa sangat sedih yaitu pada saat menatap anaknya yang sedang diasuh oleh kakek si anak. Ternyata teman saya itu tengah diuji kesabarannya oleh Allah swt. Anak laki-laki semata wayangnya tidak tumbuh normal. Sebelumnya, ibunya (teman saya itu) pernah juga bercerita kepada kami tentang hal ini. Tapi kami tak mengira kelainan pada anaknya itu sebegitu parahnya. Kami kira hanya cacar-cacat sedikit saja.
Anak yang tampan, berkulit putih dan berambut tebal itu sudah berumur 4 tahun, tapi terlihat seperti berumur satu tahun. Gerakan motoriknya tak terarah dan tak pernah diam. Harus selalu dijaga dan dilindungi. Bila dibiarkan begitu saja tanpa ada yang memegangnya dikhawatirkan ada organ tubuh yang terlipat atau terkilir ketika bergerak. Bila diletakkan di atas kursi tanpa ada yang mengawasi, bisa jatuh terguling. (more…)

February 20, 2008

Tukang Kue

Filed under: Sejenak Merenung

anak

Tulisan Kiriman Seorang Teman

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya. “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.
“Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Tidak sampai 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.
“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu..” Halus budi bahasanya, pikir saya. Sambil memperhatikan., terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya. Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup
pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela dan membalas senyumannya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.
“Ambil ini Dik! Abang sedekah… tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu.

“Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya. “Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya. “Bang, saya tak bisa ambil duit itu.. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak Emak pasti marah. Kata Emak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya. Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.. …..

October 23, 2007

Al-Mulk

Filed under: Sejenak Merenung


October 16, 2006

Tentang Lisan Manusia

Filed under: Sejenak Merenung

pintu lisan

Muhammad Rahibi berkata: ”Barang siapa memasukkan makanan lebih dari yang dibutuhkan, maka lisannya mengeluarkan bicara yang tidak dibutuhlan pula.”
Imam Syafi’i (ra) berkata: “kata-kata itu ibarat panah, bilamana keluar dari kamu maka ia menguasai kamu.”
Jabir bin Abdullah (ra) bertanya kepada Nabi SAW: “”Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan padaku?” Beliau menjawab: “Ini,” sambil menunjuk pada lisannya.
Ibrahim an Nakhi berkata: “Barang siapa merenung ia menemukan orang yang paling mulia dalam majelis dan paling berwibawa, yaitu orang yang paling banyak diam karena diam adalah hiasan orang alim dan kelambu bagi orang yang bodoh.”
Hasan Basri berkata: “Sungguh mengherankan anak Adam yang diberi lisan, justru berbicara hal-hal yang tidak penting baginya!”
Hasan bin Sinan pernah secara tidak sengaja berbicara hal-hal yang tidak bermakna, lalu ia menghukum dirinya dengan berpuasa selama satu tahun.
Malik bin Dinar berkata: “Perkataan tidak bermakna mengeraskan hati, melemahkan badan, dan menyulitkan rizki.”
Bila melihat seorang yang banyak bicara, Imam Malik berkata: “Tahanlah sebagian kata-katamu!”
Yunus bin Ubaid berkata: “Meninggalkan perkataan yang tidak penting lebih berat dari pada puasa seharian. Sebab seseorang mungkin tahan berpuasa di hari panas kering, tetapi tidak tahan meninggalkan kata-kata yang tidak berguna.

(Disarikan dari “Cahaya Sufi” edisi April 2006)

September 28, 2006

Dialog Nabi Muhammad saw. dengan Iblis

Filed under: Sejenak Merenung

syetan

Diriwayatkan dari Mu’adz r.a. yang berkisah: Kami bersama Rasulullah saw. di rumah salah seorang sahabat Anshar, di mana saat itu kami berada di tengah-tengah jemaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku?”
Rasulullah bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?”
Mereka menjawab: “Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Lalu Rasulullah saw. menjelaskan, “Itu adalah iblis yang terkutuk, semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
Kemudian Umar r.a meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?”
Beliau menjawab, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari kiamat)? Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.”
Ibnu Abas berkata:
“Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk di tengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak ke samping). Sedangkan kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau. Ia datang sambil memberi salam. ‘Assalamu’alaika ya Muhammad. (more…)

September 13, 2006

Al Ashr

Filed under: Sejenak Merenung

ayat suci

An Naas

Filed under: Sejenak Merenung

ayat suci






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer