FENOMENA…

July 16, 2008

Multatuli

Filed under: Profil Tokoh

Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker (1820-1887), tak pernah sirna dari kenangan kolektif orang Indonesia. Pada tahun 1838 ia datang ke Hindia Belanda (Indonesia kini) sebagai pegawai pemerintah kolonial, dan berpindah-pindah dari kantor yang satu ke kantor lainnya. Tapi pada tahun 1856, sebagai Asisten Residen Lebak, Jawa Barat, ia mengundurkan diri dengan hati yang gundah dan pikiran yang gelisah. Ia tak tega menyaksikan rakyat bumiputera diperas dan dianiaya oleh penguasa lokal, dan ia tak setuju dengan sikap pemerintah kolonial Belanda yang mendiamkan kezaliman di tanah jajahan.
Ia lalu menghunus pena, mengerahkan kata, mencoba menggugah kesadaran orang banyak. Ditulisnya sebuah roman berjudul Max Havelaar yang pertama kali terbit pada tahun 1860. Untuk sebagian, roman ini bersifat autobigorafis. Melalui karya sastera yang luar biasa ini ia membongkar praktek eksploitasi penguasa kolonial atas rakyat bumiputera, menguliti mentalitas kelas menengah Belanda, dan menyerukan keadilan. Inilah roman yang jauh melampaui tabiat medioker dan puas diri sastera Belanda pada masanya, dan segera terkenal di lingkungan Internasional. Di Indonesia sendiri, roman itu kemudian diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia dan dibaca oleh begitu banyak orang.

Dari Multatuli, Karya Moechtar

July 14, 2008

Tan Malaka

Filed under: Profil Tokoh

Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatra Barat pada tahun 1897. Setelah tamat sekolah, ia melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada tahun 1913. Enam tahun kemudian ia kembali ke Indonesia untuk menjadi guru bagi anak-anak kaum buruh perkebunan di Sumatra.
Pada rahun 1921, ia mulai dekat dengan kehidupan politik. Kedekatannya dengan Sarekat Islam dan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) membuatnya percaya pentingnya persatuan Islam dan komunis untuk menghalau politik devide et impera dari kolonial Belanda. Sejak saat itu ia terlibat aktif dalam aksi-aksi mogok atau pun perlawanan buruh di beberapa tempat. Akibatnya ia sempat dibuang ke Kupang di tahun 1922. Selain itu, ia sempat meloloskan diri ke Filipina dan Singapura.
Perjuangan Tan Malaka tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik. Semasa hidupnya ia telah menghasilkan banyak karya tulis yang berisi tentang pemikiran-pemikirannya. Kebanyakan dari karyanya itu merupakan manifestasi cita-citanya mewujudkan kelahiran Republik Indonesia melalui revolusi. Hal ini pulalah yang membuatnya menolak segala bentuk kompromi dengan penjajah, termasuk menolak perjanjian Linggarjati tahun 1947 dan Renville tahun 1948. Kabarnya ia ditembak mati pada tanggal 19 Februari 1949 saat sedang memimpin aksi melawan agresi Belanda. Jenazahnya tak pernah ditemukan karena dihanyutkan di sungai Brantas, Jawa Timur.

Dari Aksi Massa, Karya Tan Malaka

April 1, 2008

Pramoedya Ananta Toer

Filed under: Profil Tokoh

pram

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara — sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, pulau Nusa-kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969-12 November 1979, Magelang/Banyumanik November-Desember 1979) tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di antaranya Tetralogi Buru (Bumi manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekwen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional, di antaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapat penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar.
Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Lentera Dipantara dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer