FENOMENA…

January 22, 2009

Anakku

Filed under: Profil Sahabat

Negara sedang mengalami awal krisis moneter, ketika saya harus mengandung janinnya. Kemudian dia lahir bersamaan dengan reformasi, tahun 1998.
Ketika usia kandunganku menginjak bulan ke sepuluh, tepat saat berkumandang adzan subuh, dia hadir ke pangkuanku dengan berat bersih 4 kg. Cukup sulit untuk mengeluarkannya dari rahimku, sebab si janin sudah berubah menjadi bayi yang lumayan besar. Bila proses persalinan ini berlangsung di rumah sakit, ada kemungkinan saya harus menjalani operasi cessar. Tapi karena saya memilih tempat bersalin di bidan, upaya yang dilakukan oleh kami diusahakan sealamiah mungkin. Dan saya berharap ini adalah persalinan yang terakhir. Saya rasa cukuplah dua kali saja saya merasakan begitu susah payahnya melahirkan itu.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, hingga tahun demi tahun, saya lalui dengan bahagia karena kehadirannya. Tak terasa sekarang Si Bungsu sudah kelas 5 SD. Entah karena dia anak yang lahir paling akhir, entah karena orang tuanya secara sadar dan tidak sadar memperlakukannya sedemikian rupa, hingga dia banyak bergantung pada ibu dan ayahnya. Dia tak biasa ditinggal pergi lama-lama, serta kurang mandiri. Dan entah kenapa menghadapi si kecil ini hati saya dan suami sering luluh, tak bisa tegas-tegasan dalam mendidiknya.



(more…)

August 16, 2008

Tentang Seorang Muridku

Filed under: Profil Sahabat

T\'nie

Waktu memang begitu cepat berlalu, seperti anak panah yang sengaja oleh seseorang dilepas dari busurnya. Bahkan mungkin kecepatan waktu yang kita lalui setiap hari bisa melebihi kecepatan gerak anak panah yang terlempar dari busurnya itu. Terasa baru kemarin sore saya menjalani hari-hari pertama duduk di bangku SMA, SMA Cimindi yang sekarang berubah nama menjadi SMA 13 Bandung. Terasa baru kemarin sore saya menjalani masa orientasi untuk diplonco terlebih dahulu oleh kakak-kakak kelas di sekolah tersebut. Yang masih saya ingat, pada waktu itu semua siswa baru diwajibkan tunduk pada semua perintah kakak-kakak kelas yang sok berwibawa itu. Saya masih ingat, waktu itu semua siswa yang masih tebal rasa takutnya pada yang lebih tua diwajibkan membawa gula merah dengan ketinggiannya harus pas berukuran 5 cm setiap hari selama MOS. Bila ukuran tingginya kurang atau lebih dari yang ditentukan, pasti para siswa baru itu kena hukuman, berdiri di depan teman-temannya untuk bernyanyi atau melakukan instruksi lain dari para seniornya. Untuk siswa perempuan diwajibkan pula menggunakan pita yang terbuat dari sumbu kompor di rambutnya –pada waktu itu busana jilbab (kerudung) belum memasyarakat di kotaku, mungkin juga di seluruh pelosok indonesia.
Sekarang, peristiwa itu dialami pula oleh anakku di tempat yang berbeda, di SMAN 1 Cimahi. Berbeda pula tata cara pelaksanaannya, tapi intinya sama, yaitu dalam rangka perpeloncoan! Barangkali tujuan yang sebenarnya dari kegiatan itu adalah melatih mental para siswa baru agar menjadi siswa-siswa yang tangguh dan bersemangat tinggi dalam menimba ilmu di sekolah tempatnya belajar. (more…)

August 5, 2008

Mioku Belum Jinak Juga

Filed under: Profil Sahabat

tijuralit (korosak gubrag)

Hari Senin, 4 Agustus 2008 saya meliburkan diri, tidak mengikuti upacara bendera di sekolah seperti biasa serta tidak hadir di kelas 9F dan 9G. Saya terpaksa mengambil cuti karena cedera kaki. Malam tadi saya terguling dari Mio yang begitu susah dijinakkan itu. Body-nya yang berat menimpa dan menindih kakiku hingga kaki kananku bengkak kesakitan. Padahal ketika saya akrabi dia di lapangan sepak bola, dia sudah mulai tunduk padaku, mau diajak berkeliling memutari lapangan beratus kali. Hingga instrukturku berani memindahkan tempat latihanku ke sekitar komplek di mana rumahku berada.
Rupanya saya masih harus belajar tentang karakter mahluk bermesin itu. Dia paling suka diperlakukan sedemikian rupa, si penunggangnya harus bersikap tenang tidak panik, serta selalu siaga dengan rem dan kaki yang kukuh. Ternyata pada diriku belum ada kesiagaan dan kekukuhan itu, selalu merasa kaku setiap menghadapi tikungan.
Saya masih harus bersabar mengakrabinya sampai dia menjadi jinak, seperti jinaknya Si Bawuk kuda kepunyaan Annelies pada novel ”Bumi Manusia” buah tangan Pramoedya. Saya harap ”kudaku” itu segera menyukaiku dan patuh padaku, seperti suka dan patuhnya Si Bawuk pada Annelies. Kata temanku, butuh waktu untuk menjinakkan kuda bermesinku. ”Suatu saat dia akan segera berada di bawah kendalimu, itu pasti!” Katanya memberi semangat, menghilangkan keragu-raguan dan keputusasaanku.
Untuk memulihkan kakiku yang terasa sangat sakit itu, terlebih-lebih bila digerakkan, saya memanggil tukang pijit, seorang ibu yang memang berprofesi sebagai tukang urut. Pada hari itu saya pasrah menyerahkan kaki dan segenap tubuhku padanya untuk di-massage, agar urat-urat yang tegang dan bengkak karena terkilir tadi malam kembali ke tempatnya semula. Bau minyak walikukun menyelimuti seluruh tubuhku, terasa hangat tapi baunya agak menyengat.
Ada yang saya suka dari pribadi si ibu tukang urut ini. Dia yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dariku, ketika tangannya sedang asyik bekerja pada tubuhku selalu mengajakku berbicara tentang kebaikan. Dia menasihatiku tentang berbagai hal yang berkaitan dengan seluk beluk kehidupan kita sebagai insan. Satu lagi yang saya suka darinya, ketika sedang melaksanakan tugasnya ini, dia tak henti-hentinya berkomat-kamit memanjatkan do’a pada Yang Maha Kuasa. Saya yang sangat percaya pada kekuatan do’a yang menurutku ikut menopang kehidupan manusia, merasa tentram ketika dia mendo’akanku dengan kalimat-kalimat Qur’an beserta terjemahan versi dia sendiri.
Alhamdulillah bagian kaki yang bengkak terasa berkurang rasa sakitnya setelah disentuh oleh tangannya. Badanku terasa ringan setelah diluruskan urat-uratnya. Untuk kemudian saya harus kembali berakrab-akrab dengan tungganganku yang masih liar itu nanti malam. Tidak boleh kapok, kata instruktur. Untuk mencapai sesuatu itu butuh perjuangan. Itu artinya, untuk bisa mengendarai ”kudaku” itu, saya harus mau jatuh bangun dan babak belur terlebih dahulu, serta harus berani menghadapi berbagai rintangan. Memang semangatku tak boleh redup, sebab harus seperti itulah barangkali hakikatnya kita menjalani hidup.

July 7, 2008

Instruktur Privatku

Filed under: Profil Sahabat

kabogoh

Oleh Popon Saadah

Sejak saya berencana dan memberanikan diri mengendarai sepeda motor bila pergi ke mana-mana, dia resmi menjadi instrukturku, ya instruktur dalam hal mengendarai sepeda motor itu.
Dari awal dia sudah memprediksi, saya akan lambat dalam menguasai seluk beluk berkendaraan roda dua ini, karena selama hayat dikandung badan saya pun belum pernah bersepeda. Tapi dia tetap memberi semangat bahwa saya pasti bisa dan lancar mengendarainya bila rajin berlatih.
Saya baru sadar, ternyata dia itu seorang instruktur yang baik, disiplin, tegas, dan tak kenal lelah. Dia adalah motivator saya nomor satu untuk selalu maju. Dia paham betul, dalam beberapa hal saya harus diberi spirit, diingatkan, diajak, atau bila perlu harus dipaksa. Begitu pun dalam berlatih mengendarai sepeda motor ini. Dia selalu mengingatkan dan mengajak saya, tak peduli saya sedang tidur nyenyak. Pada saat itu juga saya harus bangun dan bergegas duduk di atas sepeda motor. Katanya, berlatih apa pun itu harus dilaksanakan dengan kontinyu. Berhenti sehari saja, motorik kita akan terasa kembali kaku.
Latihannya dilakukan pada malam hari selepas Magrib atau selepas Isa, di jalan yang sepi dan jauh dari rumah biar tak ada yang mengenali kami berdua, karena bagaimana pun rasa malu saya itu ada, hari gini masih belajar sepeda motor!
Saya yang seumur hidup belum pernah tahu bagaimana caranya mengendalikan stang sepeda dan sepeda motor ini dipaksanya untuk berani. Ya, memang kata orang-orang modal dasarnya harus berani. Langkah awal dia menyuruh saya untuk memboncengnya. Stang sepeda motor dipegang berdua. Dia membimbing saya dengan penuh perlindungan. (more…)

April 18, 2008

Pertemuan Kita di Dunia Nyata

Filed under: Profil Sahabat

pop & nety pop & nety pop & nety

Kamis, 17 April 2008.

Berawal dari janji kita untuk bertemu di Paris van Java, Jalan Sukajadi, tepat di depan KFC . Yang terbayang dalam benakku sebelum bertemu, postur tubuhmu sama dengan posturku, dan berambut ikal sebagaimana yang tergambar pada pic-pic di MP (Multyply)-mu itu . Ternyata dugaanku meleset. Si Adik yang senang tertawa renyah ini sekarang berambut pendek serta lurus, dan…ber-body sempurna. Tinggi semampai.
Setelah jarak kita begitu dekat, engkau mendekapku penuh rasa rindu, seperti seorang sahabat yang sudah sekian lama tidak bersua. Padahal pertemanan kita boleh dibilang baru, kita bertemu lalu akrab di cyber, dan sebelumnya tak pernah berjumpa. Sebuah persahabatan yang instant. Anehnya, dua kepribadian dan karakter yang berbeda, malah hampir bertolak belakang ini dalam satu hari itu bisa langsung menyatu, seperti gula dan unsur manisnya. Mungkin inilah yang disebut oposisi binner yang harmonis itu.
Di depan restoran yang berjejer dan siap memberikan pelayanan memuaskan, engkau memberi kesempatan padaku untuk memilih hidangan makan siang, “Tétéh, mau pilih hidangan apa? Ala Sunda, Korea, atau Jepang?”
Aku berpikir sejenak. Sebagai seorang yang tak pernah melakukan eksperimen dengan berbagai hidangan mancanegara, aku sempat bingung juga. Ada yang aku takutkan dengan hidangan ala Jepang dan Korea, takut tanganku tak bisa memegang dan menggunakan sumpit. Akhirnya aku pilih nasi goreng saja, biar cocok di lidah dan bisa disantap menggunakan sendok beserta garpunya. (more…)

March 1, 2008

Pendapat Saya Tentang Dia

Filed under: Profil Sahabat

nani

Oleh Nani Marlaeni

Tiba-tiba saya merasa perlu menuliskan semua ini, untuk kemudian diberikan kepada teman karib saya, Téh Popon. Tulisan saya ini berupa penilaian mengenai dirinya ditinjau dari kacamata saya sebagai sahabat dekatnya, sejak kami sama-sama kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah IKIP, Bandung. Harapan saya, setelah dia selesai membaca tulisan ini, dia jadi lebih paham akan semua peristiwa yang terjadi selama ini, peristiwa yang sangat pribadi yang pernah dan sedang dia alami. Harapan saya pula, semoga dia bisa menghadapinya dengan kepala dingin, dan hati yang tenang.
Saya juga termasuk pembaca setia setiap goresan tangannya, setiap gagasan yang ia wujudkan dalam tulisan. Ternyata antara gayanya dalam menulis dan gayanya di kehidupan sehari-hari ada kontradiksi. Menurut saya, tulisan-tulisannya cukup heboh. Bila ingin menceritakan rasa terkesannya pada seseorang, dia tuliskan rasa itu begitu menukik ke dasar perasaan. Bila dia kagum pada seseorang, dia ekspresikan semua rasa itu menjadi kalimat-kalimat bersayap yang beterbangan jauh ke angkasa. Bila dia ingin mengkritik seseorang atau sesuatu, dia tulis kritikan-kritikan tajam yang cukup membikin orang yang dikritiknya kebat-kebit dan kegerahan.
Tapi kalau saya boleh jujur, perilakunya tidak seheboh tulisannya. Malah gerak-geriknya terkesan lembut, terlalu lembut untuk seorang pengarang cerita-cerita cinta. Bila dia duduk di mana pun, sepertinya betah berjam-jam berada dalam posisi dan sikap tubuh yang sama. Motoriknya lamban, pelan, tenang, setenang air yang tak mengalir.
Orang-orang yang hanya kenal dia lewat tulisan, akan terkejut ketika bertemu dia di kehidupan nyata (bukan di fiksi-fiksinya). Sebab kontradiksi itu jelas nyata. Hebohnya dia hanya dalam alam pikirannya. Karena sesungguhnya setiap gerak dan sikapnya tak ada yang istimewa.
Oleh karena itu saya tidak merasa aneh, ketika pada suatu hari dia mengeluh kepada saya tentang pertikaiannya dengan seseorang yang bertemu muka dengannya pun belum pernah, tapi perseteruan itu begitu parah. Saya katakan pada dia, “Itulah kamu di dunia fiksimu. Dengan penamu atau ketikanmu kamu bisa mempengaruhi dan merubah perasaan orang lain menjadi merah atau menjadi biru. Kamu harus menerima konsekwensi itu. Dan hal itu bisa dikatakan sebuah kekuranganmu, bisa juga dikatakan sebuah kelebihanmu, tergantung dari sisi mana orang lain menilainya.”
Saya katakan pula padanya, “Tak usah risau dengan segala yang ada dalam dirimu, ubahlah semuanya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Sebenarnya kita semua sekarang sedang berproses, berproses menuju ke kehidupan yang lebih baik dan menuju kehidupan terakhir nanti di alam sana. Dan pengalaman yang dia alami itu juga merupakan sebuah proses, yang tidak boleh tidak harus dilaluinya untuk menuju ke pengalaman-pengalaman yang lebih seru lagi, dalam rangka memperkaya batin.
Semoga tulisan saya ini bisa sedikit meredakan kegelisahannya saat ini.***

February 28, 2008

Ratma Budi Priatna

Filed under: Profil Sahabat

Arjuna

Ratma Budi Priatna lahir di Bandung 31 Desember 1965. Bapak dua anak ini tidak banyak bicara untuk hal-hal yang dianggapnya tidak terlalu penting atau sekedar ngobrol ngaler ngidul tanpa ujung. Mungkin karena pengaruh dari kegiatan yang pernah disukainya semasa belum bergabung pada sebuah perguruan tinggi, yaitu kegiatan mountaineering, kegiatan yang menuntut kesabaran dengan perhitungan dan persiapan yang harus dilakukan dengan cermat, serta keselamatan diri dan kelompok harus terjamin saat melakukan aktivitas tersebut.
Cucu dari seorang ahli fisika yang namanya sekarang diabadikan sebagai nama lab. Fisika di ITB ini memiliki kenangan masa kecil yang tidak akan pernah terlupakan, yaitu masa ketika sebelum berangkat ke sekolah harus berjualan pisang goreng dan sejenisnya, agar dapat memiliki uang jajan atau sekedar menabung untuk dibelikan buku atau majalah bekas yang dijual di pinggir jalan.
Dalam rangka menyelesaikan kulias S1-nya di IKIP Bandung program Pendidikan Akutansi, dia juga harus bekerja menjadi penjaga malam di sebuah gudang perusahaan obat yang terletak di Jalan Kepatihan, kemudian pada siang harinya mengajar di beberapa SMU/SMK.
Saat teman-teman seangkatannya sibuk menulis skripsi, penikmat lagu-lagu Bimbo ini malah sibuk dengan kegiatan di Kelompok Pencinta Lingkungan Hidup Avisamba dan Diklatsar Menwa di kampusnya. Tapi kegiatan yang sekarang dinikmatinya paling-paling cross country, hiking, atau pun tracking. Kegiatan lain yang pernah juga diikuti adalah Pramuka dan volunteer pada KSR PMI Cabang Bandung.
Setelah menyelesaikan S1, sambil mengajar di beberapa lembaga pendidikan swasta, Si Bapak yang gemar memakai topi ini juga bekerja pada perusahaan transportasi bagian akunting. Sejak bergabung dengan sebuah lembaga pendidikan tinggi di Bandung tahun 1996, penyuka warna biru langit ini mengajar mata kuliah yang menyangkut masalah perhitungan dan pencatatan uang; yaitu akutansi keuangan, Lab, Akutansi Keuangan, Hitung Keuangan, dan perpajakan.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer