FENOMENA…

August 21, 2008

Kenapa Mesti Alergi dengan Kritik?

Filed under: Opini Pribadi

Oleh Popon Saadah

Sudah menjadi konsekwensi, bila lahir sebuah karya, baik itu karya sastra, karya seni, maupun karya-karya lainnya, pasti akan muncul pula kritik-kritik pada karya tersebut. Bila sebuah karya cipta manusia sepi dari kritik atau tak pernah ada yang mengkritiknya sama sekali, bisa berarti karya tersebut tidak pernah dikenal orang, atau bisa pula memang sudah sempurna, tak ada yang perlu dikritik. Tapi sesempurna-sempurnanya karya manusia tentu saja akan selalu ada kekurangannya. Oleh karena itu berbahagialah bila karya kita ada yang menanggapinya, sekalipun tanggapannya pada karya kita itu cukup pedas. Itu artinya masih ada orang yang mau peduli pada karya berikut diri kita.
Di sini saya ingin membahas sedikit tentang kritik sastra pada karya penulis pemula. Tapi sebelumnya saya kutip terlebih dahulu pendapat Gayley dan Scot (Drs. Liaw Yock Fang, 1970 pada Drs Atar Semi), kritik sastra adalah kegiatan:
1. Mencari kesalahan (fault-finding),
2. Memuji (to praise),
3. Menilai (to judge),
4. Membandingkan (to compare), dan
5. menikmati (to appreciate) sebuah karya sastra.
Pendapat seorang ahli tersebut di atas bila diuraikan satu persatu tentu saja akan sangat panjang. Untuk itu saya hanya akan membahasnya secara sekilas serta akan saya uraikan menurut interpretasi saya sendiri. Kritik jenis memuji, menilai, membandingkan, juga menikmati biasanya tidak terlalu merisaukan para penulis yang karyanya dikritik. Oleh karena itu bahasan selanjutnya difokuskan pada jenis kritik mencari kesalahan (fault-finding).
Para penulis yang bijaksana akan sangat berharap karya-karyanya ditengok orang dan dikritik (dicari kesalahan dan kekurangannya), sepedas apa pun kritik itu pada karyanya. Sebab kritik pedas bisa diibaratkan obat bagi orang yang sedang sakit. Bila obat tersebut ditelan, insya Allah akan menyembuhkan si sakit. Bila kritik itu diterima dengan lapang dada, insya Allah akan memperbaiki karya-karya seseorang selanjutnya. Tapi bagi pengarang yang berpikir picik, kritikan yang jujur dan to the point (termasuk kritik jenis fault-finding) akan dianggapnya sebagai cacian, makian dan upaya seseorang untuk mencoreng nama baiknya. Biasanya hal ini terjadi pada para penulis pemula yang tak mau maju dalam berkarya. (more…)

July 27, 2008

Mengenal Lebih Dekat Seorang Penjilat

Filed under: Opini Pribadi

Oleh Popon Saadah

Jilat, menjilat artinya menjulurkan lidah untuk merasai. Menjilat dalam arti kiasan, berbuat sesuatu supaya mendapat pujian (KBBI: 1995). Sedangkan kata penjilat berdasarkan makna di atas bisa kita definisikan: orang yang senang menjilat, mencuri perhatian atasannya supaya mendapat pangkat, jabatan, atau apapun yang bisa membuatnya senang.
Mahluk yang bernama penjilat itu tentu saja manusia biasa. Bahkan bisa saja mereka dekat sekali dengan kita. Mereka hidup berkeliaran di antara kita sebagai temannya dengan atasan kita sebagai sasaran yang akan dia jilati dengan lidahnya.
Bisa dipastikan mahluk-mahluk jenis ini selalu hadir di setiap komunitas dan di sebuah organisasi, terutama organisasi yang di dalamnya banyak menjanjikan kenikmatan uang dan jabatan. Uniknya, mahluk tersebut bisa berwujud wanita bisa juga pria. Mereka mudah dikenali, karena biasanya seorang penjilat bukanlah orang yang berkepribadian luwes (lantip), tapi individu yang bertingkah laku vulgar sampai kepada demonstratif memproklamirkan diri sebagai orang terdekat atasannya, tak peduli pada image negatif dia di mata orang lain. (more…)

April 16, 2008

Sekedar promosi, bolehlah!

Filed under: Opini Pribadi

Oleh Popon Saadah

Sebuah cerita apakah itu cerita pendek, cerita bersambung, atau novel yang dipublikasikan akan mengundang tanggapan baik atau buruk dari para pembacanya. Dan hal itu dianggap biasa oleh para pengarang. Komentar dari para pembaca, baik berupa kritikan maupun sanjungan yang proporsional tentunya sama pentingnya bagi para pengarang. Sebab pada hakikatnya, sebuah cerita tak akan pernah disebut cerita tanpa pembaca. Sebuah cerpen atau novel akan menjadi benda yang tak berarti dan mati bila tak seorang pun sempat membacanya. Sebuah cerita disebut bermakna bila dibaca dan memunculkan respon dari pembacanya, meskipun respon tersebut hanya dari seorang pembaca saja, tidak lebih, misalnya. Dan cerita yang mendapat respon adalah satu kebahagian untuk penulisnya.
Begitu pun dengan saya. Saya merasa bahagia ketika tahu cerita bersambung saya dalam bahasa Sunda di blog yang lain ada yang mengomentari. Terlepas dari bermutu tidaknya cerber saya, yang pasti cerita yang saya buat dengan susah payah itu ada yang membacanya. Judul cerita itu adalah “Prasasti nu Ngancik na Ati”, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Prasasti yang Bersemayam di Dalam Hati”. Kata prasasti dalam judul tersebut bukan nama orang, tapi prasasti dalam arti yang sebenarnya, benda purbakala yang mengandung tulisan-tulisan kuno dan bermakna. Arti kiasannya adalah cinta. Cinta dalam cerita itu saya samakan maknanya dengan prasasti (benda kuno dan abadi serta bernilai tinggi yang tersimpan di dalam hati).
Pelaku utama cerita itu bernama Rinega dan Prasasti. Kedua insan ini sudah bersahabat sejak kecil hingga dewasa. Ketika menginjak dewasa itulah pada keduanya bersemai benih-benih cinta. Semakin lama semakin bergelora. Tapi keberadaan cinta masing-masing tidak muncul ke permukaan, karena keduanya sama-sama hidup dalam keragu-raguan. Ragu-ragu dalam menyatakan segenap perasaannya karena dihantui oleh rasa takut. Mereka berdua takut mencintai sahabat dekatnya itu secara sepihak atau bertepuk sebelah tangan.
Bagaimana seutuhnya kisah itu? Bagi orang yang paham betul bahasa Sunda, silahkan baca cerbernya dalam blog http://pop.blogsome.com. (more…)

March 6, 2008

Pertemanan Penuh Kesan

Filed under: Opini Pribadi

you and me

Oleh Popon Saadah

Seorang teman adalah rejeki yang sangat berharga bagi kita. Dia sama berharganya dengan benda yang banyak kegunaannya. Keberadaannya membuat kita bisa berbagi rasa, berbagi cerita, dan berbagi materi pula bila kebetulan ada. Apalagi bila si teman tersebut bukan sembarang teman, tapi seseorang yang betul-betul mau mengerti keadaan kita, mau menampung keluh kesah kita, mau memberi saran maupun dukungan moral kepada kita, serta sekali-kali mau melibatkan kita ke dalam salah satu urusannya.
Dan teman seperti itu, sangat sulit dicari. Teman yang betu-betul sesuai dengan karakter maupun keinginan kita merupakan sesuatu yang langka. Yang banyak bertebaran di sekeliling kita teman-teman yang biasanya hanya mau memanfaatkan kita, yang mengajak bersaing, yang usil, yang hanya mau mencemooh kekurangan kita, yang egois, yang munafik (sepertinya baik di depan kita, tapi di belakang dia kasak-kusuk membicarakan keburukan kita), yang pengecut (menikam dari belakang punggung kita), yang memvonis, dsb.
Apakah teman yang kita cari itu laki-laki atau perempuan? Saya kira tentang gender itu tak perlu dipermasalahkan, sebab karakter seseorang yang cocok dengan kepribadian kita tidak ditentukan oleh gender. Tak jarang justru teman yang berbeda genderlah yang lebih memberikan kenyaman dalam menjalani persahabatan. Tapi jangan salah, teman yang berbeda gender pun ada yang menyebalkan. Hal itu biasanya disebabkan oleh perilakunya yang posesif, menganggap diri kita belahan jiwanya, yang harus selalu menuruti apa kata hatinya, yang selalu ingin tahu urusan pribadi kita, yang selalu memata-matai gerak-gerik kita dengan penuh curiga. Bila kita mengalami pertemanan yang demikian, saran saya lebih baik segera akhiri saja persahabatan tersebut, demi menghindari timbulnya sindrom pening tujuh keliling, serta menghindari segala sesuatu yang akhirnya tak menghasilkan apa-apa alias sia-sia.
Idealnya, persahabatan itu mendatangkan hal-hal yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Saling memberi kenyamanan, saling menghargai satu sama lain, saling mengerti akan kepentingan dan keinginan masing-masing. Persahabatan yang kita jalin hendaknya dilandasi oleh keiklasan dan keterbukaan, serta memegang prinsip berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Dan semua itu sejatinya dilandasi pula oleh prinsip tanpa pamrih.
Teman yang penuh dengan sikap dan sifat artifisial akan mendekati dan menawarkan diri menjadi sahabat kita di saat kita sedang diliputi kegembiraan, kesenangan, berlimpah harta, serta bahagia. Teman yang berselimut serba palsu akan lari terbirit-birit ketika kita mendapat masalah, ditimpa musibah, hidup dalam kesusahan dan kekurangan, butuh bantuan dan uluran tangan orang lain. Tapi sahabat sejati, tak terpengaruh oleh peristiwa atau hal-hal yang paradoks seperti itu. Dia teguh dan ajeg dalam posisinya sebagai orang yang kita butuhkan sepanjang zaman.
Sahabat sejati adalah rejeki dari Allah yang tak ternilai harganya. Uang dan harta benda mudah dicari, dan nilainya bervariasi. Uang dan harta benda bisa habis dikonsumsi, bisa rusak ditelan jaman, bisa hilang tak tentu rimbanya. Tapi seorang sahabat, sahabat yang benar-benar memahami kita sampai ke bagian dasar jiwa kita, adalah sebuah kemegahan dan keabadian.
Bila kita sudah menemukan teman yang seiring dan sejalan, alangkah indahnya hidup ini, alangkah luasnya dunia ini, dan alangkah bermaknanya nafas yang kita hirup setiap hari.

Untuk seorang sahabat di suatu tempat: terima kasih foto-fotonya, terima kasih bukunya, terima kasih atas undangannya, dan terima kasih secangkir kopinya :)

February 25, 2008

Cybercrime

Filed under: Opini Pribadi

seorang paranoid

Oleh Popon Saadah

Pemberitaan tentang kejahatan di cyber dewasa ini sudah bukan berita hangat lagi. Bila diibaratkan makanan, sudah basi dan kehilangan kelezatannya. Bila diibaratkan barang, sudah kehilangan daya tariknya atau sudah kadaluarsa. Apa sebab? Sebab masyarakat cyber sudah lebih cerdas menyikapinya dibanding para pelaku kejahatan itu sendiri. Apalagi untuk seseorang atau sebuah komunitas yang sehari-harinya bergelut dengan dunia teknologi ini, motif cybercrime adalah motif yang sudah tak laku dijual. Seperti perekayasaan poto seorang wanita yang berpose sopan menjadi bugil, misalnya. Semua orang sudah tahu bahwa dengan kemajuan teknologi animasi di era digital seperti sekarang ini, hal itu mudah saja dilakukan oleh manusia yang tak bermoral. Dan pemberitaan cybercrime yang overload hanyalah sebagai penegas, bahwa di jaman di mana generasi platinum dilahirkan, masih ada orang yang paranoid terhadap dunia cyber.
Modus operandi kejahatan di dunia online itu tidak banyak berbeda dengan kasus-kasus yang terjadi di dunia offline, seperti penipuan, pemerasan, dan pemerkosaan. Perbedaannya hanyalah terletak pada media yang digunakan. Dengan begitu masyarakat internet sepertinya mafhum, bahwa hidup di belahan dunia manapun, kita selalu akan menjumpai unsur oposisi binner, yaitu hal-hal yang serba berlawanan: baik-buruk, kebaikan-kejahatan, kaya-miskin, cinta-benci, laki-laki-perempuan, dan sebagainya. Kita tidak menafikan adanya manfaat dari pemberitaan itu. Semua pengguna aktif internet akan lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai hal mengenai seluk beluk dunia maya tersebut. Tapi jangan dikira tak akan pernah memunculkan sisi negatifnya. Pemberitaan yang gencar dan berlebihan tentang cybercrime juga akan menimbulkan keresahan pada pengguna internet yang tergolong pemula. Mereka akan serba takut untuk mencoba. Dan hal ini tentu saja menghambat perkembangannya dalam penguasaan teknologi komunikasi dan informasi. Untuk orang yang belum pernah merambah dunia cyber, akan timbul dalam dirinya pemikiran yang apriori, akan muncul dugaan-dugaan yang tak berdasar tentang pergaulan masyarakat di alam maya, yang tentu saja berdampak negatif pula terhadap pergaulannya sebagai anggota masyarakat dunia. Ketertinggalan dia sebagai anggota masyarakat global tak akan bisa dihindarkan.
Yang terpenting adalah, bukan membodohi mereka dengan cerita-cerita kriminal yang terkadang dilebih-lebihkan, tapi sajikanlah oleh kita berita-berita yang akurat, autentik, dan positif, serta yang kental unsur mendidiknya. Sebab untuk sebagian orang, pemberitaan cybercrime yang berlebihan apalagi berulang-ulang diceritakan, merupakan sebuah pemberitaan yang menggelikan sekaligus membosankan. Bosan, karena terlalu sering didaur ulang. Sedangkan orang lain sudah jauh menapaki jalan-jalan yang terbentang luas di cyber, sementara kita masih haben nagen, kukulibekan dan tak henti-hentinya membicarakan masalah cybercrime.
Akhirnya hati kita jadi menduga-duga, jangan-jangan si penyebar berita itu frustrasi karena pernah sakit hati dan kecewa berat oleh tindakan salah seorang mahluk cyber, atau mungkin juga dia trauma atas kejadian yang pernah dialaminya ketika kena tipu salah seorang mahluk cyber, sehingga penyakit paranoia differensia-nya kambuh lagi. Makanya, … hati-hati Men!

February 17, 2008

Antara Dunia Nyata dan Dunia Maya

Filed under: Opini Pribadi

dunia

Sebuah tulisan untuk seorang yang possessif

Oleh Popon Saadah

Buatku, dunia maya adalah dunia lain dari dunia nyata. Tapi dunia maya bukan dunia mimpi yang dihuni oleh mahluk yang hanya berfungsi sebagai penghias citra manusia. Dunia maya adalah sebuah tempat di mana orang-orang yang bergerak di dalamnya berwujud manusia biasa yang berunsur jiwa dan raga, serta dilengkapi pancaindra seutuhnya. Oleh karena itu sesuatu yang disebut baik di dunia nyata, baik pula di dunia maya. Hal yang disebut jelek di dunia nyata, jelek pula di dunia maya.
Bila ada yang beranggapan, segala perbuatan yang dilakukan di dunia maya itu serba sah dan tak ada konsekwensinya, menurut saya anggapan tersebut salah besar, sebab yang melakukan perbuatan itu adalah manusia juga, bukan sebuah gambar kartun. Bila seseorang mempunyai hobby mengajak kencan dan merayu-rayu seorang perempuan yang bukan muhrimnya di dunia maya, saya kira dia tak akan lepas dari resiko dan konsekwensinya sebagai manusia. Apa yang dilarang di dunia nyata, saya kira di dunia maya pun demikian. Apa yang disebut salah di dunia maya, salah pula di dunia nyata. Dan dunia maya bukan tempat melarikan diri dari perhitungan dosa dan kesalahan. Jika salah, ya tetap saja salah!
Yang sering menjadi salah kaprah adalah adanya anggapan bahwa melakukan perbuatan salah di dunia maya itu tak masalah. Merayu dan mengajak pacaran istri-istri orang itu tak apa-apa, toh hanya di dunia maya, asal jangan dilanjutkan di dunia nyata. Lho, tak apa-apa bagaimana? Bukankah yang sedang merayu dengan mengetik kalimat-kalimat berbisa di keyboard dan memainkan mouse plus cursornya itu mahluk berjiwa, bernafas, dan berakal pikiran?
Salah ya salah saja, jangan sok moralis, sok nasihat pada orang lain, sedangkan dirinya sendiri belum tentu baik, bahkan bisa jadi dia lebih parah dan lebih dalam tenggelam dalam lautan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya di dunia cyber. Bisa saja dia bilang pada kita jangan begini jangan begitu, sementara dia sendiri sering mengajak, dan memaksa istri-istri orang untuk suka dan cinta padanya!
Saya lebih menghargai penghuni tetap alam maya yang tidak munafik, jujur, dan tidak merasa benar sendiri alias sok suci. Dan lebih-lebih, saya sangat menghargai penghuni tetap alam maya yang bersikap lurus-lurus saja dalam bergaul, tidak agresif maupun possessif.
Dan tulisan ini bukan hendak berbicara bahwa kita harus selalu benar, bukan! Yang saya ingin sampaikan adalah jangan dulu menuduh orang lain berbuat sesuatu yang lebih buruk dari dirinya, sementara dia sendiri setiap hari, dari pagi sampai sore menjalankan hal-hal yang dilarang oleh norma dan agama, seperti memacari/ mengencani istri-istri orang itu tadi di cyber, misalnya!
Untuk lebih pastinya, siapa-siapa saja yang lebih banyak kebaikan dan kesalahannya, biarlah malaikat Roqib dan Atid yang menilainya, ok?

November 8, 2007

Tentang Chatter dan Chatting di Cyber

Filed under: Opini Pribadi

mask

Oleh Popon Saadah

Bila kita berbicara mengenai chatting di dunia cyber, ada yang menarik untuk dibahas. Berhubung di dunia tersebut semua orang bisa ngobrol sepuasnya dengan lawan chatting tanpa bertatap muka, maka seorang chatter bisa bermetamorfosis, berpindah jati diri menjadi orang lain ketika chatting. Perempuan bisa berspekulasi menjadi laki-laki. Begitu pun laki-laki bisa menyamar jadi perempuan. Atau perempuan masih menjadi perempuan juga, tapi atas nama orang lain, dan sebaliknya. Semua fenomena itu menurut pendapat saya wajar saja, karena situasi dan kondisi alam maya sangat mendukung para chatter untuk berbuat seperti itu. Hak setiap orang untuk berbuat sesuka hatinya, karena sesungguhnya yang demikian itu pada hakekatnya bukanlah mengelabui orang lain, tapi dia sedang mengelabui dirinya sendiri.
Orang yang berniat “menipu” lawan chatting-nya yang sebenarnya sudah sangat akrab dengannya bisa menggunakan id turunan dari id induknya, bisa juga menggunakan id baru yang dia buat terpisah dari induknya. Dan sudah pasti orang yang berniat mengecoh teman chatting-nya menghindari perangkat chatting seperti webcam, voice, dan pic. Tapi mengenai pic bisa juga dipalsukan dengan meminjam pic orang lain.
Keuntungan menggunakan id turunan, seandainya kita sebagai pelaku pengecoh, kita bisa menggunakan dua atau tiga id dalam waktu yang bersamaan serta dalam satu komputer, sehingga kita bisa melakukan chatting dengan seseorang menggunakan dua atau tiga id sekaligus. Sedangkan kerugiannya, bila kita ceroboh atau lalai ketika mengecoh orang lain, bisa-bisa malah kita yang kena giliran dikecoh oleh orang lain. Tidak menutup kemungkinan id turunan itu error pada saat digunakan, yang berakibat memunculkan id induknya. Kemudian bila teman chatting kita meng-add kedua id kita itu, akan terdeteksi kepalsuannya ketika kita sign in dan sign out, sebab kedua id itu akan sign in dan sign out secara bersamaan setiap saat.
Sedangkan kerugian menggunakan id terpisah, kita tidak bisa menggunakan lebih dari satu id dalam waktu yang bersamaan, apalagi hanya dalam satu komputer. Tapi keuntungannya, bila komputer kita sedang error tidak akan memunculkan masalah seperti sudah dijelaskan di atas, dan tidak akan terjadi salah klik dan tertukar dengan id induknya. Secara psikologis pun bila menggunakan id terpisah, kita akan terbebas dari bayang-bayang kepribadian id induk kita. (more…)

October 22, 2007

Anak-anakku Tak Menyukai Warnet

Filed under: Opini Pribadi

bosan

Ada dua tempat yang merupakan area favorit saya bila saya sedang mempunyai waktu luang. Tempat tersebut adalah toko buku dan warnet. Toko bukunya yang lengkap tentunya. Apalagi bila toko buku itu menyediakan bangku untuk sekedar duduk-duduk sambil membaca, sebab tak selamanya saya datang ke tempat itu untuk membeli buku. Kadang-kadang bila dompet saya sudah kering tapi hasrat membaca begitu menggebu, saya terpaksa hanya numpang baca atau cuma survey, buku baru apa yang nanti harus saya beli jika tiba tanggal muda.
Kedua tempat ini rasanya mempunyai daya tarik tersendiri buat saya, seperti magnet yang begitu kuatnya menarik benda-benda yang mengandung unsur besi. Daya tarik kedua tempat ini mengalahkan café, bioskop, kolam renang, tempat rekreasi, bahkan mal.
Daya tarik warnet buat saya sangatlah banyak, terlalu panjang untuk bisa diuraikan di sini. Dan untuk orang yang kebetulan mempunyai kegemaran yang sama dengan saya barangkali hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Banyak yang bisa kita lakukan bila sedang berselancar di internet, dunia yang kata orang tanpa batas itu, dunia yang mempunyai fungsi perpustakaan raksasa itu. Bila saya sudah berada di dalamnya, suka lupa waktu, lupa berdiri, dan lupa pulang. Tapi alhamdulillah sampai hari ini belum pernah kejadian saya disusul oleh orang-orang serumah akibat mereka kehilangan saya semalaman. Itu berarti kecanduan saya pada cyber masih dalam taraf normal, meskipun sudah mencapai level cybermaniak :) . (more…)

August 24, 2007

Catatan Kecil untuk MCBR

Filed under: Opini Pribadi

Reni Kusniati

Kisah cinta memang tak pernah bosan untuk dibaca, kisah ini akan abadi sepanjang masa. Demikian pula cerita cinta yang kita baca dalam novel yang berjudul “Merahnya Cinta Birunya Rindu” karya Popon Saadah.
Nama Popon Saadah sepertinya sudah tak asing lagi bagi para pecinta sastra Sunda, khususnya pembaca majalah Mangle, karena karyanya banyak dimuat di majalah itu. Kini penulis berbakat ini sepertinya ingin menapaki lembaran baru di blantika sastra Indonesia dengan melahirkan sebuah novel munggaran-nya.
Namun sepertinya sudah menjadi sebuah aksioma, kalau karya sastra bisa dikatakan baik bila memenuhi kriteria paling mendasar yaitu aktual, orsinil, logis, banyak hikmah yang bisa dipetik dan mampu menimbulkan kesan mendalam bagi para pembacanya.
Naah.. dapatkah MCBR dikategorikan sebagai sebuah karya yang memenuhi kriteria di atas? Mari kita kupas.
Tema yang diangkat dalam MCBR cukup aktual untuk saat ini. Di sini cinta dikemas dengan melibatkan teknologi informasi. Penulis memadukan alam maya dan alam nyata dalam suatu peristiwa yang menimpa tokoh utama. Ini jarang ada dan masih belum banyak disentuh oleh para penulis lain. Ya tentu saja keorsinilan karya ini bisa dipertanggung jawabkan.
Logiskah cerita ini? Di sinilah letak permasalahannya. Sefiktif apa pun sebuah karya dalam sastra, tetap saja unsur kelogisan harus diperhatikan. Ketidak logisan cerita ini terletak pada ending cerita yang terkesan dipaksakan. (more…)

August 22, 2007

Komentar Nia Anita tentang MCBR

Filed under: Opini Pribadi

my friend

Untuk pertama kalinya aku membaca cerber karya Popon Saadah dalam Bahasa Indonesia. Ceritanya bagus (karena tidak semua orang memiliki kemampuan menulis baik fiksi atau non fiksi, termasuk aku). Terus terang saja tulisan ini beda dengan cerita-cerita dalam bahasa Sunda. Dalam Bahasa Sunda seorang Popon Saadah begitu pandainya mendeskripsikan suasana dan tokoh. Tapi kali ini deskripsinya terasa mengambang terutama di awal-awal tulisan. Aku membacanya seperti sedang mendaki mendaki Gunung Jawa Wijaya (he..he..he.. lewat Sorong tentunya).
Dan lagi tulisan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang pernah singgah dan berkelana di dunia cyber terutama yang pernah berkecimpung di YM (Mang Yahoo).
Ada tulisan yang mengganjal buat saya:
“Karedok yang enak kan mesti pake oncom dan kencur,” halaman 43. Setahu saya karedok gak pake oncom (yang pake oncom ulukutek).
Comment cukup sekian aja yah…Teruslah berkarya…Bukankah menulis itu suatu keterampilan!






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer