Kenapa Mesti Alergi dengan Kritik?

Oleh Popon Saadah
Sudah menjadi konsekwensi, bila lahir sebuah karya, baik itu karya sastra, karya seni, maupun karya-karya lainnya, pasti akan muncul pula kritik-kritik pada karya tersebut. Bila sebuah karya cipta manusia sepi dari kritik atau tak pernah ada yang mengkritiknya sama sekali, bisa berarti karya tersebut tidak pernah dikenal orang, atau bisa pula memang sudah sempurna, tak ada yang perlu dikritik. Tapi sesempurna-sempurnanya karya manusia tentu saja akan selalu ada kekurangannya. Oleh karena itu berbahagialah bila karya kita ada yang menanggapinya, sekalipun tanggapannya pada karya kita itu cukup pedas. Itu artinya masih ada orang yang mau peduli pada karya berikut diri kita.
Di sini saya ingin membahas sedikit tentang kritik sastra pada karya penulis pemula. Tapi sebelumnya saya kutip terlebih dahulu pendapat Gayley dan Scot (Drs. Liaw Yock Fang, 1970 pada Drs Atar Semi), kritik sastra adalah kegiatan:
1. Mencari kesalahan (fault-finding),
2. Memuji (to praise),
3. Menilai (to judge),
4. Membandingkan (to compare), dan
5. menikmati (to appreciate) sebuah karya sastra.
Pendapat seorang ahli tersebut di atas bila diuraikan satu persatu tentu saja akan sangat panjang. Untuk itu saya hanya akan membahasnya secara sekilas serta akan saya uraikan menurut interpretasi saya sendiri. Kritik jenis memuji, menilai, membandingkan, juga menikmati biasanya tidak terlalu merisaukan para penulis yang karyanya dikritik. Oleh karena itu bahasan selanjutnya difokuskan pada jenis kritik mencari kesalahan (fault-finding).
Para penulis yang bijaksana akan sangat berharap karya-karyanya ditengok orang dan dikritik (dicari kesalahan dan kekurangannya), sepedas apa pun kritik itu pada karyanya. Sebab kritik pedas bisa diibaratkan obat bagi orang yang sedang sakit. Bila obat tersebut ditelan, insya Allah akan menyembuhkan si sakit. Bila kritik itu diterima dengan lapang dada, insya Allah akan memperbaiki karya-karya seseorang selanjutnya. Tapi bagi pengarang yang berpikir picik, kritikan yang jujur dan to the point (termasuk kritik jenis fault-finding) akan dianggapnya sebagai cacian, makian dan upaya seseorang untuk mencoreng nama baiknya. Biasanya hal ini terjadi pada para penulis pemula yang tak mau maju dalam berkarya. (more…)





***