FENOMENA…

April 14, 2008

Had Lunch

Filed under: Kreasi Puisi

juice rindu

Siang itu
kita berdampingan
mengunyah sepiring perasaan
mencicipi semangkuk makna kehadiran
mereguk segelas juice buah rindu
di hari sabtu

Hidangan yang tersaji
di hadapanku di hadapanmu
suplemen yang menimbulkan tenaga baru
pada tangan batinku
untuk selalu merangkai kisah harian
pada lembaran catatan persahabatan kita
dengan pena indah penuh warna

menu yang kita pesan
menyiratkan sebuah kiasan
bahwa kita sepadan
begitu senang mengecap sambal pertemanan
disertai lalab kesan-kesan
dengan rasa sedikit pedas
tak mengindahkan opini maupun kehadiran orang lain

Siang itu
berdua kita mewujudkan mimpi tadi malam
di meja panjang
dengan santapan penuh inspirasi
hingga aku berharap suatu hari nanti
peristiwa ini akan terulang
kembali

Sabtu, 12 April 2008

March 14, 2008

Deklarasi

Filed under: Kreasi Puisi

aku

Aku adalah tulang rusuk yang bengkok
Bila tanganmu bersikeras meluruskanku, patahlah aku

Aku kuda liar tak pernah kenal kendali
Bila hatimu ingin menguasaiku, larilah aku

Aku batu karang yang garang
pada orang-orang yang menantang
akulah air bah yang menerjangmu wahai pecundang
pantang mundur bertempur di medan perang
hanya ada dua pilihan, melawan atau mati berdarah-darah

Tapi aku air sejuk yang jernih,
mau ditempatkan pada bebagai bentuk bejana
oleh sepasang tangan yang memberi kenyamanan.

Aku angin sepoi-sepoi untukmu wahai jiwa yang santun,
Tak henti-hentinya berhempus lirih membisikan kedamaian

Dan aku awan cerah yang berarak riang di angkasa
rela menjadi tabir
melindungimu wahai jiwa yang sabar
dari sengatan sang surya atau sambaran petir saat hujan tiba

December 17, 2007

The Death of Kabayan

Filed under: Kreasi Puisi

death

Karya Soni Farid Maulana

“bagaimana dokter, masih ada harapan?”
tanya nyi iteung malam itu. Cahaya bulan
sempurna ditelan kabut malam.
Detik demi detik jam bagai tetes air hujan
diserap bumi. Dan dokter menggelengkan
kepala. Dan kabayan terbaring lemah
di atas ranjang. Siit incuing ngear di batin.

“iteung, perpisahan tak bisa ditangguhkan,
akang ingin sebelum ajal tiba: melihat iteung
secantik dewi asri, dengan pakaian paling baru
yang disemprot wangi parfum pemberian wak haji
yang dibawanya dari arab saudi. Untuk itu
mandilah segera!” pinta si kabayan.

dengan langkah gontai nyi iteung melaksanakan
permintaan terakhir. “Kang” batin nyi iteung
di kamar yang lain. Salak anjing mengguncang
batu nisan. Mengguncang bulan. Sesaat kemudian.

“kang!” sapa nyi iteung yang kini tampak
menor, dengan pakaian paling baru, sewangi
melati. “Apa sebab akang minta iteung melakukan
semua ini?” tanya nyi iteung. Siit uncuing terdengar lagi.

“Kieu, iteung! Akang sudah melihat
malakal maut di depan mata. Siapa tahu, kalau
iteung sudah cantik, wangi, dan berdoa, yang dibawa
oleh malakal maut téh bukan akang tapi iteung!”

2006

(Dari Pikiran Rakyat, edisi Sabtu, 15 Desember 2007)

July 26, 2007

Aku Punya Hati

Filed under: Kreasi Puisi

ceurik getih

Simpanlah kembali belatimu
di tempat yang tak terjangkau tangan
aku tak mau kita saling menikam
sekali saja sebagai peringatan
bahwa aku punya hati

May 16, 2007

Kisah yang Tak Hendak Berakhir

Filed under: Kreasi Puisi

special for you
Gambar: www.stuartscreations.com

Telah kusimpan rapi
arsip kisah kita
yang ditulis tinta merah jambu
di laci meja usangku
berdebu

Ada yang ingin kurubah
semua goresan yang bertebaran
dalam lembaran kenangan
jadi prasasti yang pasti
akan menjadi saksi
bahwa kita pernah saling memahat hati

Tak ada niat membuatnya menjadi sampah
sebab melupakan masa lalu dan sejarah
adalah pekerjaan terberat
selama memori dan hati saling mengikat (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer