Catatan dari Penulis MCBR
MCBR, sebuah cerita bersambung pada blog ini yang rencananya akan dijadikan novel. Cerita ini adalah cerita terpanjang saya yang pertama kali saya tulis dalam bahasa Indonesia. Tujuan saya menulis cerber ini awalnya sederhana saja, yaitu hanya untuk memenuhi pesanan seseorang yang sudah begitu lama ingin menjadi tokoh salah satu cerita yang saya buat.
Pada bagian pertama dan kedua cerber ini saya sebagai pengarangnya masih berada di luar garis cerita, artinya saya menyadari betul bahwa semua yang saya tulis itu hanyalah fiksi atau rekaan belaka. Tapi ketika saya melanjutkan menulisnya sampai pada bagian ke-8, terasa hati dan pikiran saya ikut hanyut di dalamnya. Semua itu terjadi barangkali dikarenakan saya terlalu konsentrasi pada suasana, atmosfir, serta karakter para pelakunya. Seperti misalnya ketika tokoh utama mengalami kesedihan yang dalam, saya pun mengalami perasaan yang sama ketika sedang menuliskannya. Mungkin bagi pembaca, hal itu bisa jadi sangat berlebihan, tapi seperti itulah sesungguhnya yang saya rasakan.
Pada saat ini pun saya sedang bingung, tokoh utama yang bernama Anis atau Nice itu harus memilih siapa untuk dijadikan pendamping hidupnya? Padahal Anis atau Nice itu bukanlah saya. Bagaimana tidak bingung, bila Nice memilih Fauzi, pasti Dzulfikar sakit hati. Dan bila Anis memilih Dzulfikar, jelas-jelas Fauzilah yang akan prustasi. Kok bisa? Bukankah tokoh-tokoh itu hanyalah tokoh-tokoh imajiner? Tidak. Mereka (Uzi dan Zul) bukan tokoh imajiner, tapi keduanya benar-benar ada dalam kehidupan nyata, bungkeuleukan kata orang Sunda. Jika Uzi dan Zul bungkeuleukan, apa Nice atau Anis juga nyata? Meskipun saya pengarangnya, saya tak bisa menjelaskannya. Masalah nyata tidaknya seorang Nice, baik tanyakan saja pada sosok bungkeuleukan Uzi atau Zul
.

***