Merahnya Cinta Birunya Rindu

Oleh Popon Saadah
Bagian IX
Malam ini adalah malam yang membuatnya begitu resah. Sebentar-sebentar dia terbangun dari tidurnya, terganggu oleh kegelisahannya sendiri. Dia jadi takut menghadapi hari-hari yang terbentang di hadapannya. Andai dia punya kuasa menghindari hari esok dan melompat ke masa depan, barangkali malam ini juga dia akan segera melakukannya.
Dia tak bisa memprediksi, apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan dilakukan Dzulfikar dan Fauzi dalam menyelesaikan persoalan mereka bertiga ini? Apakah keduanya akan bersikukuh pada prinsipnya masing-masing, mempertahankan apa yang menurut mereka berdua adalah haknya? Atau setelah terjadi perdebatan sengit akan ada salah seorang yang rela mengalah memberikan apa yang menjadi haknya pada rivalnya?
Bila dipikir-pikir, dia tak berbeda dengan sebuah benda, benda yang tak berdaya, layaknya sebuah mainan yang menjadi rebutan dan permainan pria yang ingin memainkannya. Ia benci pada dirinya sendiri, yang begitu bodohnya membiarkan dirinya menjadi pemicu perseteruan dua orang laki-laki. Dalam skenario kehidupan ini, kenapa harus dia yang menjalani peran sebagai sumber gara-gara bersitegangnya dua pria itu?
Pagi ini dia mencoba mengawali kegiatannya dengan berpikir positif, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Dia ingin pertemuannya dengan kedua orang yang telah berkenan memberi warna pada kehidupannya adalah pertemuan yang memberinya banyak hikmah. Dan dia ingin merayakan pertemuan ini dengan menghidangkan jamuan lezat pagi hari. Makanan apa ya yang menjadi menu favorit Zul dan Uzi? Dia ingin membuat jamuan yang simple, tapi bisa memuaskan kedua tamunya. Kemudian dia masih ingat, di sela-sela chatting-nya dulu, Fauzi suka bercerita tentang makanan kesukaannya. Dan makanan khas Sunda yang disukai dan dirindukan Uzi selama berada di Aussi adalah kupat tahu. Sedangkan Zul lebih suka lontong kari. Pagi ini dia akan menghidangkan keduanya. dia membeli ketupat yang sudah jadi dari penjual yang sudah terkenal akan kelezatan rasa ketupatnya, sedangkan sayur dan yang lain-lainnya dia masak sendiri.
Detik-detik yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Dia sudah siap dengan semuanya, dengan jamuan simple-nya, dan dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Dia mengenakan gaun yang terbaik untuk menghormati kedua tamunya. Harapannya, sambutan yang dipersiapkannya sedemikian rupa ini bisa meredakan keegoisan kedua laki-laki itu. (more…)
***