FENOMENA…

August 16, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian IX

Malam ini adalah malam yang membuatnya begitu resah. Sebentar-sebentar dia terbangun dari tidurnya, terganggu oleh kegelisahannya sendiri. Dia jadi takut menghadapi hari-hari yang terbentang di hadapannya. Andai dia punya kuasa menghindari hari esok dan melompat ke masa depan, barangkali malam ini juga dia akan segera melakukannya.
Dia tak bisa memprediksi, apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan dilakukan Dzulfikar dan Fauzi dalam menyelesaikan persoalan mereka bertiga ini? Apakah keduanya akan bersikukuh pada prinsipnya masing-masing, mempertahankan apa yang menurut mereka berdua adalah haknya? Atau setelah terjadi perdebatan sengit akan ada salah seorang yang rela mengalah memberikan apa yang menjadi haknya pada rivalnya?
Bila dipikir-pikir, dia tak berbeda dengan sebuah benda, benda yang tak berdaya, layaknya sebuah mainan yang menjadi rebutan dan permainan pria yang ingin memainkannya. Ia benci pada dirinya sendiri, yang begitu bodohnya membiarkan dirinya menjadi pemicu perseteruan dua orang laki-laki. Dalam skenario kehidupan ini, kenapa harus dia yang menjalani peran sebagai sumber gara-gara bersitegangnya dua pria itu?
Pagi ini dia mencoba mengawali kegiatannya dengan berpikir positif, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Dia ingin pertemuannya dengan kedua orang yang telah berkenan memberi warna pada kehidupannya adalah pertemuan yang memberinya banyak hikmah. Dan dia ingin merayakan pertemuan ini dengan menghidangkan jamuan lezat pagi hari. Makanan apa ya yang menjadi menu favorit Zul dan Uzi? Dia ingin membuat jamuan yang simple, tapi bisa memuaskan kedua tamunya. Kemudian dia masih ingat, di sela-sela chatting-nya dulu, Fauzi suka bercerita tentang makanan kesukaannya. Dan makanan khas Sunda yang disukai dan dirindukan Uzi selama berada di Aussi adalah kupat tahu. Sedangkan Zul lebih suka lontong kari. Pagi ini dia akan menghidangkan keduanya. dia membeli ketupat yang sudah jadi dari penjual yang sudah terkenal akan kelezatan rasa ketupatnya, sedangkan sayur dan yang lain-lainnya dia masak sendiri.
Detik-detik yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Dia sudah siap dengan semuanya, dengan jamuan simple-nya, dan dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Dia mengenakan gaun yang terbaik untuk menghormati kedua tamunya. Harapannya, sambutan yang dipersiapkannya sedemikian rupa ini bisa meredakan keegoisan kedua laki-laki itu. (more…)

August 10, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian VIII

Dia segera menyadari kekeliruannya, kenapa bertanya seperti itu? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang pada Fauzi tentang masalah rumit yang sedang dihadapinya itu. Biarlah Fauzi menikmati dulu kebersamaan ini sepuasnya. Biarlah tamu yang datang dari tempat yang sangat jauh ini berkesempatan menumpahkan segenap rindu dendam, yang pasti dalam hatinya sudah begitu lama terpendam.
“Aku bertanya seperti itu, karena ya…ingin saja. Sekedar bertanya, boleh kan?” Katanya sambil melirik dan mengajak tersenyum pria di sampingnya.
“Jangan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menimbulkan kepenasaranku!” Pinta pria itu.
“Hehe..kita sekarang berada di dunia realita, Uzi. Kita bukan sedang chatting di cyber. Nyantai aja lagi. Apa lagi sih yang membuat Uzi masih merasa penasaran terhadapku?” Tanya dia.
“Kamu banyak berubah!” Jawab Fauzi.
“Masa? Apanya yang berubah?”
“Banyaklah. Di dunia realita ternyata kamu tidak sehangat female_39, tidak semanja female_39, dan sepertinya di darat female_39 ini sengaja menjaga jarak. Sejak aku tiba di sekolahmu sampai detik ini, telingaku belum pernah sekalipun mendengar kamu memanggilku dengan kata “sayang”, seperti dulu waktu kita sering berkencan di YM.” Protes Fauzi.
“Apa yang telah terjadi, Nice?” Tanyanya lagi. Sesungguhnya pertanyaan ini menambah kacau balau pikirannya. (more…)

August 3, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Diposting ulang

Oleh Popon Saadah

Bagian VII

Terpikir olehnya, sampai kapan hatinya akan terus menerus tenggelam dalam kebimbangan? Bila tak ada keberanian memutuskan satu persoalan, sampai kapan pun tak akan pernah bertemu kebahagiaan. Bila ingin ada perubahan ke arah depan, dia memang harus berani melangkah. Tapi bila ternyata kegagalan masih berpihak padanya, harus rela juga menerimanya. Setiap pilihan yang diambil ada resikonya, dan sesungguhnya, hidup adalah resiko itu sendiri.
Secepat gerakan jarum jam penunjuk detik, Dzulfikar sudah kembali berada di hadapannya, menunggu jawaban yang suatu saat harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di menit-menit terakhir, dia masih menimbang-nimbang. Bila dia bersedia menerima Zul sebagai suami, sederet kewajiban harus segera dilaksanakan. Bila dia rela menerima kedua anak Zul sebagai anaknya juga, segudang tugas sebagai seorang ibu, harus segera ditunaikan. Tapi tentu saja semua itu ada imbalannya. Sudah menjadi sunnatullah, amal kebaikan sebesar dzarrah pun akan ada pahalanya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk sebesar dzarrah pun akan mendapat balasan. Pahala atas ketaatan seorang istri pada suami sudah menantinya. Pahala atas kerelaannya mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga tengah menunggunya. Bismillaahirrahmaanirrohiim, ya Allah semoga pilihanku kali ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupku. Dan aku memilihnya semata-mata untuk mencari ridho-Mu ya Allah. Semua kata hatinya itu mendorongnya untuk memberikan jawaban dengan mantap. (more…)

July 27, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian VI

Kemudian dia mengajak Dzulfikar pulang. Terasa ada yang tidak beres dengan badannya. Kepalanya terasa berat. Padahal biasanya bila sudah minum kopi, kepenatannya hilang seketika.
“Bang, kenapa ya badanku tiba-tiba sakit semua?” Katanya setelah mereka tiba di rumah.
“Mungkin masuk angin. Muka kamu kelihatan pucat, Nis.” Laki-laki itu menempelkan punggung tangan kanannya di jidat Anis.
“Suhu badanmu tidak normal, anget. Pasti sekarang pusing ya?”
“Duh, pusing banget! Perutku mual lagi.”
“Yu, kita pergi ke dokter sekarang juga!” Ajak pria itu.
Nggak ah, besok saja. Aku masih cape.”
“Kan biar cepat sembuh. Di mana baju anget-nya? Abang ambilkan.”
“Di lemari kecil, di samping tempat tidur.”
Setelah semuanya siap mereka keluar rumah lagi, menemui dokter umum yang biasa berpraktek pada sore hari. Menurut diagnosis dokter, dia kelelahan, perlu istirahat beberapa hari dan meminum obat sesuai resep yang diberikan.
Selama seminggu dia istirahat total di rumah. Berusaha melupakan semua tugas-tugasnya di sekolah. Tapi, berhari-hari kondisi badanya tidak juga pulih. Dia sering menderita pusing yang hebat. Badannya semakin hari semakin lemas, tak nafsu makan. Setiap malam tiba suhu tubuhnya meninggi, tapi dia menggigil kedinginan, meriang. Perutnya sakit, melilit-lilit. Tubuh bagian belakang juga. Terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di sekitar pinggul dan bokongnya.
Karena merasa tidak kuat menahan semuanya, dia menyuruh pembantunya untuk interlokal ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa dia memberitahukan keadaannya pada ibunya, padahal sebenarnya dia tak ingin merepotkan ibunya atau siapa pun. (more…)

July 23, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu V

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Akhirnya malam ini dia bertemu juga dengan Fauzi. Laki-laki ini datang menemuinya dengan seikat symbol cinta di tangannya. Dia menerima mawar-mawar merah itu dengan bahagia, lalu dirangkainya dalam jembangan berbentuk hati. Dalam pandangannya, wajah dan penampilan Fauzi biasa saja. Raut mukanya menggambarkan kebersahajaan pribadinya. Tak ada yang dipersoalkan, dia sudah terlanjur suka dengan semua yang ada pada pria itu.
Tanpa sungkan Fauzi memeluknya dengan penghayatan yang dalam. Dia pun tak berdaya menolak dekapan kekasih yang sudah begitu lama dinantikan kehadirannya.
“Wujud asli Nice itu ternyata seperti ini, toh…” Pria itu bebisik di telinganya. Wajah si wanita merona dikarenakan rasa malu dan rindu yang menggebu.
“Ternyata mukaku ancur ya, Uzi?” Dia membalas berbisik di telinga pria itu. Masih di dalam hangatnya pelukan pria pujaan, dia menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang semakin mendekati wajahnya.
“Ancur apanya? Ancur lipstick-nya kali.” Saat ini wajah dan tubuh mereka berpadu tak berjarak. Seperti jiwa mereka yang sudah sejak lama lekat. Suasana jadi hening…sepi… sebab mereka tengah menikmati gelora rasa dengan bertautnya dua bibir, begitu lama…dan…lama… Bibirnya benar-benar tak kuasa menghindari lumatan bibir nakal kekasihnya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya. Terasa ada yang mendesak di bawah perutnya, ingin segera dikeluarkan. Dengan segera dia bangkit lalu tergesa-gesa masuk ke kamar kecil. Ah, ternyata adegan hangat yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi. (more…)

July 20, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu IV

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian IV

Terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak kedatangan ibunya tempo hari. Perlahan dia bersedia memulai melangkahkan kaki menapaki jalan hidup yang selama ini dihindarinya, kehidupan baru dengan kehadiran seseorang. Seseorang yang tak cuma bisa hadir di alam imajinasinya, tidak cuma berwujud siluet yang tampil dalam avatar atau display image di folder PM (Privacy Message-nya), bukan pula seseorang yang sosoknya hanya diwakili oleh ikon dan aksara, tapi orang itu benar-benar nyata, senyata dirinya dan ibunya.
Dia bukan tak berdaya menolak semua obsesi ibunya itu. Dia rela menjalani semuanya semata-mata karena rasa kasih yang besar terhadap ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kepada siapa lagi dia harus tunduk dan patuh, selain kepada bunda yang sudah begitu tegar menjadi single parent, hingga dia bisa menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang ini. Dia pantang menjadi seorang anak yang membangkang.
Pada hari ini dia harus mau menunggu kedatangan seseorang itu, seseorang yang mungkin selanjutnya akan membuat harinya-harinya tak sepi lagi. Dan hal tersebut menjadi bagian dari tuntutan skenario kehidupan dia selanjutnya.
Hari ini juga dia terpaksa menghapus semua image buruk tentang pria dalam pikirannya. Mulai saat ini dia harus mengakui dan harus percaya, bahwa dari sekian banyak pria yang tak setia di dunia nyata, terdapat juga pria-pria setia. Oleh karena itu dia mulai berani membuka diri, dengan harapan, setiap pengorbanan yang ia lakukan, membuahkan kebahagiaan untuk bundanya seorang.
Ketika lelaki yang dinantikannya itu sudah berada di hadapannya, dia baru tersadar, bahwa momen ini tak setegang yang dibayangkan. Semuanya berjalan dengan santai, tanpa debaran jantung di dadanya, tiada luapan perasaan gembira layaknya bila dia bertemu Fauzi di alam maya. Sungguh sebuah awal pertemuan yang terlalu biasa. (more…)

July 14, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu III

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian III

Di hadapan Mama tersayang dia selalu ingin tersenyum, apa pun suasana hatinya pada saat ini. Dia membuang jauh-jauh semua rasa yang bisa merusak kemesraan dia dan ibunya malam ini. Dia berusaha tenang dan bijak menyikapi semuanya. Padahal di lubuk hatinya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar kecewa dengan gagasan ibunya yang terkesan memaksakan kehendak itu.
“Ya nantilah, Anis pikir-pikir dulu.” Dia kembali tidur terlentang, masih memeluk guling kesayangan.
“Sampai kapan pikir-pikirnya? Sekarang sudah saatnya bertindak, sudah lewat waktu untuk pikir-pikir!” Desak ibunya.
“Ya harus dipikir dulu Mama, ini masalah hidup, bukan perkara gampang!” Akhirnya terungkap juga kekesalan hatinya.
“Mikirnya kamu itu suka kelamaan!” Bentak ibunya.
Akhirnya di hadapan ibunya dia cemberut juga.
“Sekarang begini, usahakan kamu bisa bertemu dulu dengan calonmu. Mama yakin, setelah kalian ketemu, ke sananya akan lancar-lancar saja.”
Dia terdiam, tak berniat sama sekali meneruskan acara bincang-bincangnya itu. Malam ini dia benar-benar merasa kehilangan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Ibarat seekor burung dara yang sedang terbang lepas, tiba-tiba dipanggil tuannya untuk masuk kembali ke dalam sangkar.
Tapi dia sudah bisa menebak apa akibatnya jika menolak keinginan ibunya. Sesungguhnya, dia tak mau membuat orang yang paling istimewa dalam hatinya ini kecewa, sedih, dan marah padanya.
“Masalah ini kita tunda dulu, Anis sudah ngantuk banget nih Ma, besok kita lanjutkan lagi rapat pentingnya ya!” Suasana sedikit tegang, dia ingin mencairkannya dengan mencoba bercanda. (more…)

July 7, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu II

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Bagian II

Oleh Popon Saadah

Dia masih enggan membuka folder YM-nya. Saat ini dia hanya ingin membaca tulisan-tulisan karya blogger lain di weblog, sebagai bahan perbandingan untuk blog kepunyaannya. Bila sambil chatting, pikirannya sukar untuk berkonsentrasi penuh. Apalagi jika teman chat-nya itu Fauzi! Oh ya, hari ini dia juga berniat membuka blog Fauzi yang address-nya tercantum di link blog miliknya. Dengan dua kali klik, blog Fauzi sudah tampil di hadapannya.
Setiap membaca blog pria misterius itu, dia seolah-olah sedang membaca buku harian seorang pria kesepian. Tulisan-tulisan yang di-posting pada blog itu rata-rata bernada sendu. Hei, ada puisi baru juga, tentang apa? Lalu dia baca puisi itu larik demi larik.

Kemarau

Padang ilalangku kering kerontang
masih seperti itu
dulu, kemarin, dan hari ini
rumput-rumput pirang
tanah retak kekeringan
dengan harap-harap cemas
menunggu dan menunggu datangnya peri itu
dari negeri antah berantah
yang berkenan merubah
tanahku tak kering lagi
ilalang tak pirang lagi

Buat siapa ya puisi ini? Siapa peri yang ditunggu-tunggu dengan cemasnya dalam puisi tadi? Dan di mana negeri antah berantah itu? Puisi adalah puisi, tidak bisa ditafsirkan begitu saja, sebab karya sastra itu multitafsir. Semuanya bisa berupa ungkapan perasaan penulisnya, bisa juga menggambarkan suasana hati orang lain yang ditulis melalui tangan penyair itu.
Diam-diam hatinya tergelitik ingin tertawa. Jika dipikir-pikir, kelakuan mereka berdua tak ubahnya sepasang remaja yang baru mengenal apa yang dinamakan “asmara.” Blog dia dan blog lelaki itu berisi tulisan-tulisan yang temanya dominan tentang cinta. Seperti itukah setiap blogger yang sedang jatuh cinta? Rasanya manusiawi pula bila memang mereka seperti itu, karena asmara dan rasa cinta itu bersifat universal, milik siapa saja, dari etnis apa pun, dan tanpa batasan usia. Mereka berdua pun masih berhak merasakannya, di usia yang tak muda lagi, dengan umur mulai menapaki hitungan kepala empat. Malah di usia tersebut lah dia merasakan kematangan dalam me-manage semua perasaannya itu.
Tiba-tiba di dadanya timbul lagi rasa itu, rasa yang selalu muncul bila dia sedang menyendiri, rasa yang lebih tepatnya bernama “rindu”. Dia klik ikon YM, bulatan kuning menyala menggambarkan wajah manusia yang lucu itu meloncat-loncat dengan mata terbuka dan mulut tersenyum lebar, seperti sedang menertawakan dirinya yang tengah gundah gulana, kangen pada seseorang yang bermukim di sebuah kota yang bernama Sydney. (more…)

June 28, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu I

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Bagian I

Oleh Popon Saadah

Bahwa wanita harus mandiri, dia setuju. Tapi apabila wanita wajib melahirkan anak dari rahimnya sendiri, dia pikir-pikir dulu untuk mengatakan setuju. Jika perempuan seperti dirinya tak kunjung dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan manusia walaupun hanya seorang, apa mau dikata? Satu-satunya yang bisa dia lakukan, berusaha menerima kenyataan. Biarlah tak sempat melahirkan, asal hidupku yang sebenarnya singkat ini bisa lebih bermakna tanpa keturunan, banyak yang harus kulakukan selain melulu memikirkan masalah yang satu ini, pikirnya menghibur diri.
Semula hatinya merasa yakin, dialah satu-satunya wanita yang paling beruntung, bisa bersanding dengan pria pujaan gadis-gadis pada masanya, serta pendamping hidupnya ini sangat sayang dan penuh perhatiaan terhadapnya. Rasanya lengkaplah sudah kebahagiaannya pada waktu itu. Tapi kemudian, setelah keduanya meniti tangga kehidupan asmara dan berhasil mencapai pelaminan, muncul tuntutan sang pujaan. Dia harus memberinya momongan. Setelah perkawinanya lewat beberapa tahun, dalam penantian yang menggelisahkan, dia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda kehamilan. Sebenar-benarnya dia tak berniat membuat kecewa suami kesayangan, karena masalah itu di luar kekuasaannya, tapi kenyataannya suaminya memang merasa dikecewakan.
Dia pernah berjuang keras mewujudkan impian suami untuk bisa mempersembahkan buah cinta, darah dagingnya. Dia banyak membaca berbagai referensi tentang kehamilan, melaksanakan tips-tips untuk bisa hamil, baik yang tradisional maupun yang boleh dibilang modern, terapi pijat pun pernah ia lakukan. Tapi impian suami sekaligus impiannya itu betul-betul hanya sebuah impian. Sejak itu bahtera rumah tangganya oleng. Perahu pun karam ke dasar lautan kehidupan bersama cinta yang telah lama dibina bersama. Suami berani memilih lagi, memilih perempuan yang bisa diharapkan mampu menghadirkan keturunan.
Hanya dengan alasan itu suaminya berpaling? Begitulah, hanya dengan alasan seperti itu. Sadarlah sekarang, dia bukanlah perempuan terpilih seperti anggapannya selama ini. Dia memang kalah, dikalahkan dalam hidup oleh rivalnya yang tentu saja sesama perempuan. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer