FENOMENA…

November 11, 2008

Menyesal

Filed under: Melirik Tembang

By: Resa Herlambang

Semula ku tak yakin
kau lakukan ini padaku
meski di hati merasa
kau berubah saat kau mengenal dia

Bila cinta tak lagi untukku
bila hati tak lagi padaku
mengapa harus dia yang merebut dirimu

Bila aku tak baik untukmu
bila dia bahagia dirimu
aku kan pergi
meski hati tak akan rela

Terkadang ku menyesal
mengapa ku kenalkan dia padamu

November 3, 2008

Saya yang Berubah

Filed under: Curhat

Rutinitas keseharianku jadi berbeda, ketika pada suatu hari, Senin 13 Oktober 2008 saya memutuskan menjadi biker untuk jarak tempuh 12 km sekali jalan, antara rumah yang terletak di Cimahi Utara dan sekolah di Cimahi Selatan. Mulai saat itu saya tidak lagi menjadi penumpang setia mobil suami. Dan memang saya harus mandiri bila hendak bepergian, tidak bergantung padanya lagi, hingga tidak saling menunggu yang berarti saling menghambat untuk segera pergi ke tempat kerja.
Tapi dengan keputusan itu pola dan gaya hidupku sehari-hari banyak yang berubah. Perubahan yang signifikan terjadi pada acara rutinku di siang hari, pada saat saya selesai mengajar. Dulu, sebelum jadi biker, ketika selesai mengerjakan tugas pokok, banyak kegiatan tambahan (bukan tugas utama) yang saya kerjakan di luar rumah, terutama yang berhubungan dengan internet. Selesai solat duhur, sebagai seorang cybermania saya blogging dulu sambil browsing dan chatting. Bila jaringan internet di sekolah ada gangguan atau komputer-komputer di ruang guru sedang asyik digunakan teman-teman, saya pergi ke warnet. Di tempat ini biasanya saya menghabiskan waktu kurang lebih 2-3 jam. Pulang dari warnet singgah dulu ke warung nasi, biar tidak usah repot-repot masak bila telah sampai di rumah, sebab di hari menjelang sore itu sangat terasa badan ini sudah begitu lelah. (more…)

October 27, 2008

Jepretan Si Pemula

Filed under: focus

Bermodal kamera saku mungil, saya memberanikan diri merekam indahnya puspa, untuk dipandang dan dikagumi, meskipun urusan jepret menjepret tidak saya kuasai dengan baik. Sebelumnya saya sempat belajar terlebih dahulu secara bertahap pada sahabat saya Gajahkurus.
Dan poto-poto di bawah ini dibuat dalam rangka latihan jadi tukang potret.


Dahlia Cantik

(more…)

October 8, 2008

Limbangan, Dulu dan Sekarang

Filed under: Kakaren Lebaran

Oleh Popon Saadah

Saya bermudik ria ke Limbangan bersama keluarga pada hari kedua lebaran (tanggal 2 Syawal). Dengan sangat berharap tidak terjebak macet di jalan, kami berangkat pagi-pagi benar, pukul 5.30 WIB. Alhamdulillah, dengan menghindari Nagreg, macet tak sempat menjebak kami. Kami memilih jalan alternatif, dari arah Bandung masuk ke Cijapati, lalu Kadungora dan Leles, yang akhirnya sampai juga di Limbangan, tepatnya di desa Cibitung kecamatan Limbangan kabupaten Garut. Dengan begitu perjalanan jadi bertambah jauh, memakan waktu sekitar empat jam, tapi terbebas dari kemacetan, dan sampai dengan selamat di tujuan.
Setelah berada di tengah-tengah sanak saudara, saya semakin menyadari, bahwa kampung halaman yang saya banggakan dan selalu saya rindukan ini sekarang sudah banyak berubah. Limbangan kini bukan Limbangan dulu lagi. Limbangan sekarang, sebuah desa yang sudah banyak kehilangan ciri khas ke-desa-annya. Udaranya yang dulu ketika saya masih SD terasa begitu sejuk, menjadi panas menyengat di siang hari. Hal ini mungkin disebabkan global warming yang menyeluruh ke berbagai pelosok dunia, atau bisa juga disebabkan begitu merajalelanya penebangan pohon-pohon di gunung-gunung sekitarnya.
Perubahan juga terjadi pada bentuk rumah para penduduknya. Dulu, kurang lebih lima belas tahun yang lalu, di desa ini masih banyak terdapat rumah panggung berdinding bilik berlantaikan papan dan palupuh, dilengkapi dengan saung lisung di belakang atau di pinggir (pipir) rumah masing-masing. Kini, saya hampir tidak menemukan rumah tradisional Sunda lagi. Kalaupun ada, rumah tersebut sudah tak berpenghuni. Rumah-rumah yang sekarang mereka tempati tak berbeda dengan perumahan di kota, malah barangkali ada yang tak mau kalah dengan rumah mewah di kota besar. Tak ada lagi saung lisung berikut peralatan dan kegiatan yang berkaitan dengan bangunan tersebut. Tak ada lagi rumah panggung berpagar bambu atau berpagar tanaman hidup seperti tanaman baluntas. Tak ada lagi orang yang duduk-duduk di golodog rumahnya sambil mencari kutu di kepala anak-anaknya atau tetangganya (sisiaran).
Berubah pula rumah nenekku, nenek dari pihak ayah yang tinggal satu-satunya ini. Angin Cibitung yang biasa berbertiup kencang, yang selalu masuk (moncor) melalui sela-sela bilik, kini tak lagi bisa memasuki rumahnya dengan leluasa karena terhalang tembok. Dan saya kehilangan kesejukan alami, angin ngagelebug. (more…)

September 4, 2008

Fenomena Unik

Filed under: focus

Kabar dari Sahabat

SPEND TWO MINUTES LOOKING AT THESE AMAZING PHOTOS OF GOD’S ART. THESE PHOTOS HAVE NOT BEEN EDITED EXCEPT THE ONE WITH THE CIRCLE. THE CIRCLE WAS DRAWN AROUND THE SUBJECT SO YOU CAN SEE IT BETTER.

Crocodile

His Sleeping Cat

Ekspressing his love for us

(more…)

August 21, 2008

Kenapa Mesti Alergi dengan Kritik?

Filed under: Opini Pribadi

Oleh Popon Saadah

Sudah menjadi konsekwensi, bila lahir sebuah karya, baik itu karya sastra, karya seni, maupun karya-karya lainnya, pasti akan muncul pula kritik-kritik pada karya tersebut. Bila sebuah karya cipta manusia sepi dari kritik atau tak pernah ada yang mengkritiknya sama sekali, bisa berarti karya tersebut tidak pernah dikenal orang, atau bisa pula memang sudah sempurna, tak ada yang perlu dikritik. Tapi sesempurna-sempurnanya karya manusia tentu saja akan selalu ada kekurangannya. Oleh karena itu berbahagialah bila karya kita ada yang menanggapinya, sekalipun tanggapannya pada karya kita itu cukup pedas. Itu artinya masih ada orang yang mau peduli pada karya berikut diri kita.
Di sini saya ingin membahas sedikit tentang kritik sastra pada karya penulis pemula. Tapi sebelumnya saya kutip terlebih dahulu pendapat Gayley dan Scot (Drs. Liaw Yock Fang, 1970 pada Drs Atar Semi), kritik sastra adalah kegiatan:
1. Mencari kesalahan (fault-finding),
2. Memuji (to praise),
3. Menilai (to judge),
4. Membandingkan (to compare), dan
5. menikmati (to appreciate) sebuah karya sastra.
Pendapat seorang ahli tersebut di atas bila diuraikan satu persatu tentu saja akan sangat panjang. Untuk itu saya hanya akan membahasnya secara sekilas serta akan saya uraikan menurut interpretasi saya sendiri. Kritik jenis memuji, menilai, membandingkan, juga menikmati biasanya tidak terlalu merisaukan para penulis yang karyanya dikritik. Oleh karena itu bahasan selanjutnya difokuskan pada jenis kritik mencari kesalahan (fault-finding).
Para penulis yang bijaksana akan sangat berharap karya-karyanya ditengok orang dan dikritik (dicari kesalahan dan kekurangannya), sepedas apa pun kritik itu pada karyanya. Sebab kritik pedas bisa diibaratkan obat bagi orang yang sedang sakit. Bila obat tersebut ditelan, insya Allah akan menyembuhkan si sakit. Bila kritik itu diterima dengan lapang dada, insya Allah akan memperbaiki karya-karya seseorang selanjutnya. Tapi bagi pengarang yang berpikir picik, kritikan yang jujur dan to the point (termasuk kritik jenis fault-finding) akan dianggapnya sebagai cacian, makian dan upaya seseorang untuk mencoreng nama baiknya. Biasanya hal ini terjadi pada para penulis pemula yang tak mau maju dalam berkarya. (more…)

August 19, 2008

Kekasih yang tak Dianggap

Filed under: Melirik Tembang

By: Pingkan Mambo

Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu
Aku sang bulan tak menerangi malammu
Akulah bintang yang hilang ditelan kegelapan

Selalu itu yang kau ucapkan padaku

reff:
Sebagai kekasih yang tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba mengalah
Menahan setiap amarah

Aku sang bulan tak menerangi malammu
Aku lah bintang yang hilang ditelan kegelapan

Back to Reff:

Sebagai kekasih yang tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba bersabar
Ku yakin kau kan berubah

Back to Reff:

August 16, 2008

Tentang Seorang Muridku

Filed under: Profil Sahabat

T\'nie

Waktu memang begitu cepat berlalu, seperti anak panah yang sengaja oleh seseorang dilepas dari busurnya. Bahkan mungkin kecepatan waktu yang kita lalui setiap hari bisa melebihi kecepatan gerak anak panah yang terlempar dari busurnya itu. Terasa baru kemarin sore saya menjalani hari-hari pertama duduk di bangku SMA, SMA Cimindi yang sekarang berubah nama menjadi SMA 13 Bandung. Terasa baru kemarin sore saya menjalani masa orientasi untuk diplonco terlebih dahulu oleh kakak-kakak kelas di sekolah tersebut. Yang masih saya ingat, pada waktu itu semua siswa baru diwajibkan tunduk pada semua perintah kakak-kakak kelas yang sok berwibawa itu. Saya masih ingat, waktu itu semua siswa yang masih tebal rasa takutnya pada yang lebih tua diwajibkan membawa gula merah dengan ketinggiannya harus pas berukuran 5 cm setiap hari selama MOS. Bila ukuran tingginya kurang atau lebih dari yang ditentukan, pasti para siswa baru itu kena hukuman, berdiri di depan teman-temannya untuk bernyanyi atau melakukan instruksi lain dari para seniornya. Untuk siswa perempuan diwajibkan pula menggunakan pita yang terbuat dari sumbu kompor di rambutnya –pada waktu itu busana jilbab (kerudung) belum memasyarakat di kotaku, mungkin juga di seluruh pelosok indonesia.
Sekarang, peristiwa itu dialami pula oleh anakku di tempat yang berbeda, di SMAN 1 Cimahi. Berbeda pula tata cara pelaksanaannya, tapi intinya sama, yaitu dalam rangka perpeloncoan! Barangkali tujuan yang sebenarnya dari kegiatan itu adalah melatih mental para siswa baru agar menjadi siswa-siswa yang tangguh dan bersemangat tinggi dalam menimba ilmu di sekolah tempatnya belajar. (more…)

August 8, 2008

Sepatah Kata Dariku

Filed under: Ungkapan Perasaan


KomenKu.com - Komen dari Aku untuk Kamu
Visit Komenku.com - Komen dari Aku untuk Kamu - Indonesia Comment Graphic Blog untuk teman-teman kamu!

August 6, 2008

Indahnya Kaligrafi

Filed under: Sejenak Merenung

www.geocities.com






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer