
Oleh Popon Saadah
Saya bermudik ria ke Limbangan bersama keluarga pada hari kedua lebaran (tanggal 2 Syawal). Dengan sangat berharap tidak terjebak macet di jalan, kami berangkat pagi-pagi benar, pukul 5.30 WIB. Alhamdulillah, dengan menghindari Nagreg, macet tak sempat menjebak kami. Kami memilih jalan alternatif, dari arah Bandung masuk ke Cijapati, lalu Kadungora dan Leles, yang akhirnya sampai juga di Limbangan, tepatnya di desa Cibitung kecamatan Limbangan kabupaten Garut. Dengan begitu perjalanan jadi bertambah jauh, memakan waktu sekitar empat jam, tapi terbebas dari kemacetan, dan sampai dengan selamat di tujuan.
Setelah berada di tengah-tengah sanak saudara, saya semakin menyadari, bahwa kampung halaman yang saya banggakan dan selalu saya rindukan ini sekarang sudah banyak berubah. Limbangan kini bukan Limbangan dulu lagi. Limbangan sekarang, sebuah desa yang sudah banyak kehilangan ciri khas ke-desa-annya. Udaranya yang dulu ketika saya masih SD terasa begitu sejuk, menjadi panas menyengat di siang hari. Hal ini mungkin disebabkan global warming yang menyeluruh ke berbagai pelosok dunia, atau bisa juga disebabkan begitu merajalelanya penebangan pohon-pohon di gunung-gunung sekitarnya.
Perubahan juga terjadi pada bentuk rumah para penduduknya. Dulu, kurang lebih lima belas tahun yang lalu, di desa ini masih banyak terdapat rumah panggung berdinding bilik berlantaikan papan dan palupuh, dilengkapi dengan saung lisung di belakang atau di pinggir (pipir) rumah masing-masing. Kini, saya hampir tidak menemukan rumah tradisional Sunda lagi. Kalaupun ada, rumah tersebut sudah tak berpenghuni. Rumah-rumah yang sekarang mereka tempati tak berbeda dengan perumahan di kota, malah barangkali ada yang tak mau kalah dengan rumah mewah di kota besar. Tak ada lagi saung lisung berikut peralatan dan kegiatan yang berkaitan dengan bangunan tersebut. Tak ada lagi rumah panggung berpagar bambu atau berpagar tanaman hidup seperti tanaman baluntas. Tak ada lagi orang yang duduk-duduk di golodog rumahnya sambil mencari kutu di kepala anak-anaknya atau tetangganya (sisiaran).
Berubah pula rumah nenekku, nenek dari pihak ayah yang tinggal satu-satunya ini. Angin Cibitung yang biasa berbertiup kencang, yang selalu masuk (moncor) melalui sela-sela bilik, kini tak lagi bisa memasuki rumahnya dengan leluasa karena terhalang tembok. Dan saya kehilangan kesejukan alami, angin ngagelebug. (more…)