Saat Proses Kreatifku Berhenti Sampai di Situ

Ada perasaan bingung ketika menghadapi teman-teman yang hobynya bertanya seperti ini, “Mana karya barunya?” Atau “Ditunggu cerpen barunya!” Atau “Kenapa tak pernah kelihatan lagi karyanya mejeng di majalah?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya bingung, karena tak tahu harus menjawab apa. Jangankan mereka, saya pun tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri, kapan ya saya bisa mengawinkan lagi alat tulis dan imajinasiku seperti dulu?
Sebenarnya bila mau jujur, banyak sekali faktor yang menjadi penghambat kreatifitasku itu. Di antaranya adalah konsentrasiku yang terlalu fokus pada kegiatan “main-mainku” di cyber di samping pekerjaan-pekerjaan yang lumayan menyita waktu. Tapi faktor penghambat yang lebih prinsip adalah pemikiranku yang sudah sampai pada level tidak puas dengan karya yang ada. Ini berkaitan erat dengan hobyku membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer serta karya-karya sastrawan Sunda yang bernama besar. “Menggauli” karya-karya mereka ternyata ada dampaknya juga, saya jadi merasa ciut dan rendah diri. Apalah artinya karya yang telah saya tulis dibandingkan dengan karya-karya masterpiece mereka. Setelah itu timbullah dalam diriku sifat tak percaya diri. Setiap draft tulisan yang kugoreskan akhir-akhir ini selalu kelihatan buruk di mataku, tak berbobot, dan serasa melihat makanan yang bernama kerupuk, ringan tanpa beban, sekali kunyah bisa pudar oleh air liur dan langsung tertelan. Sedangkan obsesiku adalah: tanganku sendiri harus menghasilkan tulisan-tulisan bertema besar dan berat, atau paling tidak bisa memberi pencerahan kepada setiap orang yang membacanya.

Kecewa dengan hasil karya sendiri itulah yang membuat pikiran dan imajinasiku buntu. Makin lama semakin terpikirkan, bahwa pada saat ini sudah bukan waktunya lagi saya menulis hal-hal sepele yang terkesan main-main. Sudah bukan waktunya lagi menggarap tema-tema yang dangkal tak bermakna. Sudah tiba waktunya mematangkan karya dengan banyak bereksplorasi serta bereksperimen. Dan semua itu tidak mudah saya lakukan, terlalu sulit. Untuk memulainya saja saya masih mengambil ancang-ancang, entah untuk berapa lama…

Padahal menjadi pengarang adalah keinginanku sejak dulu. Jangan sampai profesi itu lepas dari diriku. Sering saya lebih suka disebut-sebut sebagai pengarang dari pada sebagai pegawai negeri, meskipun karyaku belum banyak dan tak seberapa bobotnya. Meskipun sudah menjadi rahasia umum, profesi pengarang yang karyanya biasa-biasa saja di negeri ini, tak menjajikan masa depan.
Di Indonesia untuk menjadi penulis hebat perlu menunggu sebuah keajaiban disamping ihtiar. Seorang penulis akan menjadi milioner, bila bakat dan kerja kerasnya itu didukung oleh berbagai pihak, mulai dari “tim sukses” dari pihak penerbit, sponsor, dan pihak-pihak pendukung lainnya. Walau pun mekanisme dan birokrasinya seperti itu, saya tetap ingin setia pada profesi itu, sebab yang saya cari untuk saat ini bukanlah kepopuleran yang memang kenyataannya begitu sulit di capai itu, tapi kepuasan batin dan sedikit penghargaan berupa finansial untuk modal berekspresi lagi barangkali.
Menurutku, profesi kepengarangan pada awalnya adalah sebuah kegiatan yang berpusat pada panggilan jiwa atau dalam rangka mengikuti kata hati. Selebihnya adalah keuntungan-keuntungan yang biasanya di luar dugaan si penuis itu sendiri.
Kesimpulannya, saya ingin tetap menjadi pengarang sampai diri ini harus berhenti berekspresi karena tutup usia.
***

Bu Popon engkau adalah pengarang yang sudah mulai bangun…saya percaya di kemudian hari akan menyamai Pram idolamu….Tapi dalam saat ini janganlah melihat keatas dulu…janganlah ingin menyamai mereka2 yang memang sudah ULUNG..Karena saya melihat mungkin sekarang ibu terlalu menerjunkan diri ke hobbymu yang mungkin menganggu inspirasimu untuk menulis.. ingatlah waktu menulis novel MCBR dan PRASASTI karena pikiran dan kontrasi ibu betul2 untuk menulis. hanya memerlukan beberapa minggu selesailah novel2 itu dengan hasil yang sangat memuaskan. ..karena memang konsentrasi ibu waktu itu betul2 ingin menulis. dan hasilnya alhamdulillah baik sekali banyak pembaca yang menyukai tulisan ibu. kedua novel itu menurut pikiran dan perasaan saya betul2 dapat menerjunkan para pembaca kedalam cerita yang ibu tulis.serasa real……semangatlah untuk menulis lagi ….sekali lagi pasti .ibu akan menjadi seorang Pram di kemudian hari…kalau memang ibu berusaha untuk menuju ke keinginan ibu sebagai pengarang yang mapan,,,for sure u can do it…LANJUTKAN……
Comment by si uwa — July 5, 2009 @ 10:40 am
Hatur nuhun Fz kana support-na.
Comment by pop — July 13, 2009 @ 3:52 am
Lagi searcing di google, tak sengaja masuk ke “rumah” ini. Adem sangat
.Ngiring baca2, teh Popon. Sukses selalu.
Comment by Badru Tamam Mifka — September 16, 2009 @ 1:42 am
Lagi main di google, tak sengaja masuk ke “rumah” ini. Adem sangat
.Ngiring baca2, teh Popon. Sukses selalu.
Comment by Badru Tamam Mifka — September 16, 2009 @ 1:44 am
Badru, haturan….mugi kersa deui rurumpaheun ka ieu blog enjing sareng pageto!!
Comment by pop — September 28, 2009 @ 3:31 am
semangat yang luar biasa!!
Comment by catatanrodes — November 4, 2009 @ 4:38 am
Terima kasih atas komentarnya.
Comment by pop — November 9, 2009 @ 4:56 am