FENOMENA…

April 20, 2009

Kartini Masa Kini

Filed under: Sisi Lain

Oleh Popon Saadah


Menata Olahan

Seandainya kita menganggap R.A Kartini adalah sosok yang tetap hidup dalam benak wanita Indonesia, dan seolah-olah selalu hadir terutama pada setiap peringatan hari kelahirannya, beliau boleh berbangga, di era globalisasi ini banyak sudah generasi penerusnya yang meraih sukses di segala bidang. Semua profesi yang menjanjikan sudah bisa diduduki kaum perempuan. Di negeri ini, seorang wanita pernah menjabat sebagai presiden, sebagai mentri, menjadi anggota legislatif, insinyur, dokter, wanita pengusaha, serta profesi yang membanggakan lainnya.
Tapi R.A Kartini juga dipastikan merasa prihatin, sebab harapannya mengangkat derajat kaum perempuan dari keterpurukan hidup akibat kebodohan, tidak sepenuhnya berhasil. Tengok saja para wanita yang sampai saat ini masih belum dapat mengenyam pendidikan yang layak karena terbentur masalah biaya. Masalah lain, begitu banyak kaum perempuan yang belum merdeka secara pribadi. Masih sering terdengar oleh kita perihnya nasib perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, diceraikan secara sepihak oleh suaminya, dilecehkan, diintimidasi, dan sebagainya.


Sudah sangat akrab dengan asap.

Di dunia kerja, tak jarang wanita hanya dijadikan objek dan subordinat ketimbang sebagai subjek dan ordinat. Baik disadari maupun tidak oleh dirinya, kecantikan dan kemolekan tubuh wanita banyak dimanfaatkan, dibeli, dieksploitasi oleh kaum pria bersaku tebal yang pada hakikatnya adalah kepanjangan tangan kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan materi dan birahi semata. Pada umumnya kaum laki-laki memandang wanita hanya terfokus pada jasmaniahnya, bukan pada potensi diri dan kecerdasannya.
R.A Kartini pun dipastikan akan merasa iba, mendengar kaumnya yang diekspor ke mancanegara lebih banyak sebagai kuli dan wanita penghibur, dari pada sebagai tenaga ahli. Di negerinya sendiri, ribuan bahkan mungkin jutaan buruh perempuan Indonesia berupah rendah, di bawah UMR, bekerja di tempat yang tidak nyaman dan penuh resiko, serta banting tulang mencari nafkah di malam hari.


Meneliti, apakah olahannya sudah matang?

Ternyata potret wanita Indonesia sampai hari ini masih buram. Banyak kaum perempuan yang memanfaatkan waktu malam hari justru untuk mengais rejeki. Padahal idealnya, kaum wanita yang notabene posisinya sebagai ibu, ratu rumah tangga, yang bertanggung jawab penuh membesarkan dan mendidik anak-anaknya, sudah harus berada di rumah ketika mereka sangat dibutuhkan anak-anaknya. Dan tugas pokok kaum ibu adalah memberikan kasih sayang dan pelajaran tentang kehidupan maupun tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup yang berat ini kepada anak-anaknya. Pada umumnya, waktu yang tepat untuk berkumpulnya semua anggota keluarga serta untuk berbagi rasa sampai kepada saling mencurahkan perhatian dan kasih sayang adalah pada malam hari.


Mengipasi api lagi

Satu contoh potret buram itu adalah potret wanita penjual sate ayam yang setiap malam lewat ke depan rumah saya. Ketika hari menjadi gelap, dia yang mengaku berasal dari Jawa Timur, mulai melangkahkan kaki menyusuri perumahan demi perumahan dengan menenteng alat pembakaran sate berikut keranjang tempat peraralatan berjualan yang disimpan di kepalanya (disuhun). Suaranya ketika menawarkan dagangannya lirih bernada pasrah, tapi juga mengandung harapan, bahwa suaranya itu bisa menerobos pintu-pintu rumah yang sudah tertutup dan didengar oleh calon pembeli, sehingga mereka tertarik untuk mencicipi hasil olahannya.


Aku dan Kipas setiaku.

Para wanita penjual sate ayam ini berjualan sampai larut malam, dengan keuntungan yang bisa ditaksir tidak seberapa, apalagi kita semua tahu, situasi jaman saat ini sangat kejam, lebih-lebih untuk para pedagang kecil seperti mereka. Tapi hidup harus terus berjalan. Dan mereka pun tahu itu. Dengan begitu semangat mereka untuk terus melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan di saat lampu-lampu rumah dan lampu jalanan mulai dinyalakan, juga tak boleh surut. Berbekal daya juang yang gigih khas orang-orang perantauan, serta berbekal harapan seperti yang didengungkan Ibu Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, mereka terus berjalan menembus kelamnya malam.***


Olahan siap disantap.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2009/04/20/kartini-masa-kini/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer