FENOMENA…

March 9, 2009

Pada Hari Itu …

Filed under: Curhat

Selasa, 3 Maret 2009. Bisa dipastikan keadaan hati dan pikiranku sangat mirip dengan keadaan hati dan pikiran suamiku. Gejolak rasa gelisah sangat mengganggu jiwa kami pada saat ini. Sebab nanti, beberapa jam lagi suami akan menjalani operasi, operasi batu di dalam empedu.
Dalam suasana ketidak tenangan kalbu itu kulirik dia yang berada di sebelahku. Wajahnya terlihat tegang. Mulutnya sudah sejak tadi pagi mengunyah do’a. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak atau menengok ke arah pintu keluar, menunggu dengan harap-harap cemas seorang perawat menjemputnya. Ternyata kegelisahan cukup lama juga menyiksa batin kami berdua. Dengan begitu aku dan suami mencoba keluar dari kamar untuk sekedar menghirup udara segar, mengurangi kecepatan tidak normal irama jantung kami yang selalu berdebar-debar.
Tibalah waktu yang dijanjikan oleh para ahli medis itu. Tepat pukul 11 seorang perawat pria dengan mendorong kursi roda yang masih kosong menghampiri kami yang sudah berada kembali di dalam kamar. Perawat itu menyerahkan kostum khusus berupa baju yang sepertinya terbuat dari katun berwarna hijau daun dan tutup kepala dari bahan yang sama berwarna putih. Dengan pasrah suami mengenakan kostum khas itu.
Setelah siap semuanya, dengan didorong oleh perawat suami melaju di atas kursi roda melewati selasar rumah sakit yang cukup panjang menuju ruang operasi. Dalam keadaan sedih, khawatir, waswas, dan cemas bercampur aduk jadi satu, saya dan anak sulungku mengikutinya dari belakang. Do’aku, “Ya Allah tolonglah kami yang lemah ini, tolonglah kekasihku, selamatkanlah dia dari ganasnya penyakit…”

Pada saat pintu kamar operasi dibuka, saya sempat berpesan pada ayahnya anak-anak, bahwa hatinya harus tenang dan pasrah, agar pelaksanaan operasi berjalan lancar. Dijawab olehnya dengan satu anggukan. Padahal saya berpesan seperti itu terutama ditujukan kepada diri sendiri, yang barangkali suasana hati ini lebih risau dari pada suasana hatinya.
Pintu ruang operasi kemudian ditutup. Putuslah komunikasi saya dengannya untuk sementara. Rasa sedih yang tak terhingga, yang sudah ditahan-tahan sejak semula akhirnya meluap juga berbentuk derai air mata.
Tiba-tiba saya sadar, bahwa saya hidup di dunia ini tidak sendirian. Di sekelilingku ada orangtua, saudara, dan handai tolan. Saya pun bersegera meminta pertolongan kepada mereka berupa do’a-do’a untuk kelancaran proses operasi suami. Kepada para sahabat yang berada di tempat yang jauh saya memohon bantuan do’a melalui SMS. Saya mohon do’a keselamatan suami di antaranya kepada: Fz (sahabat di Australia), Bapak Iskandarwassid (guru saya), Bu Nia Anita dan Bu Kristin (sahabat seprofesi), Nani Marlen (teman seperjuangan saat kuliah dulu), Bu Berlin (tetanggaku yang paling sering dimintai tolong), Kang Budi dan Ayi Usep (sahabat dekatku), Aang Zaini (sahabat di Surabaya), serta Teeunk (Untung Wijayanto, yang sedang berada di Lampung). Alhamdulillah semuanya bersimpati serta memberikan do’a secara bertubi-tubi melalui SMS. Hal inilah yang membuat hatiku tenang. “Ya Allah semoga Engkau mengabulkan do’a kami. Amin ya Allah!”
Dalam keadaan termangu bersama anakku dan ayahku menunggu proses operasi selesai, hadirnya teman sejawat, Bu Tini dan Bu Kustinah menambah esensi kekuatan hati. Kepada semuanya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian, dukungan moral, dan bantuan do’anya.

Proses pembedahan itu berlangsung selama 3,5 jam. Saya baru bisa menemui suami setelah dia berada di ruang pemulihan. Ketika saya menghampirinya, dia masih berbalut kain hijau sekujur tubuh dan belum terjaga. tiba-tiba bau amis yang asing mengepungku. Saya mencoba memanggil-manggil suami dengan suara lirih di telinganya, tapi dia diam saja.
Setelah dirasa cukup tergolek di ruang pemulihan tapi masih dalam keadaan pingsan, suami dipindahkan ke ruang observasi, bersebelahan dengan kantor perawat.
Beberapa saat kemudian dia siuman, rupanya suami baru menyadari bahwa dirinya telah ditolong Allah dengan keberhasilan proses operasinya. Bahwa dirinya masih diberi kesempatan menghirup udara dunia yang sangat berlimpah ini. Bahwa dirinya masih diijinkan serta diberi kesempatan berkumpul kembali dengan keluarga sampai waktu yang ditentukan.
Berbagai selang kecil dipasang pada tubuh lemahnya. Yang paling membuat saya terasa ngilu membayangkannya adalah saat melihat selang-selang itu masuk ke dalam rongga dadanya melalui lubang hidung. Selang itu katanya berfungsi membuang cairan kotor dari dalam lambungnya. Sedangkan selang kateter berfungsi untuk menyalurkan dan menampung air seninya.
Di ruang observasi inilah kondisi suami lemah total. Lebih-lebih ketika obat bius dan obat yang bersifat analgesik sudah berkurang pengaruhnya, kelemahan suami dalam menanggung rasa sakit bertambah nyata. Mulai saat ini saya tak bisa meninggalkannya barang sekejap pun, kecuali pada saat tiba waktu solat.
Menunggu dan menemani orang yang sakitnya seperti ini, yang baru menjalani operasi besar, bukan hanya sekedar menunggu dan menemani saja, tapi harus disertai dengan perhatian dan ketelatenan yang lebih dari si penunggu. Si penunggu harus selalu mengontrol apakah cairan infusnya masih banyak atau sudah mulai habis. Bila lalai, akan terjadi penyedotan darah dari atas ke bawah selang infuse melalui tangan yang diinfus akibat kehabisan cairan infus itu. Juga harus selalu dikontrol kantong kateternya, jangan sampai kelebihan kapasitas. Oleh karena itu si penunggu tidak boleh ketiduran, lalai, atau lupa. Alasan inilah yang membuatku merasa tidak percaya bila suamiku ditunggui secara bergiliran oleh yang lain bila saya merasa kelelahan. Biarlah saya kelelahan. Lelahku ini adalah bagian dari bakti kecilku padanya. Alasan lainnya, suami pernah bilang, bahwa dia hanya akan merasa tenang dan tentram hatinya bila yang menungguinya, menemaninya, serta mengurusnya adalah istrinya sendiri.

Masa kritis itu akhirnya alhamdulillah dapat kami lewati. Hari demi hari kondisi suami berangsur sembuh dan pulih. Semua ini berkat taburan do’a dari keluarga besarku beserta para kerabat semua. Untuk itu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semuanya. Semoga amal kebaikan saudaraku semua mendapat pahala yang berlipat ganda dari Yang Maha Kuasa. Amin.

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2009/03/09/p153/trackback/

  1. Alhamdulillah wasyukurillah. Allah telah melancarkan segala2nya, yang tadinya hawatir tak terhingga, sekarang telah usai. Insyaallah Pak Syam akan sehat seperti sedia kala. Dan insyaAllah dengan kejadian ini ada hikmah yang tertanam dalam kehidupan ibu dan suami untuk selanjutnya. Saya ikut bahagia beban yang ibu derita ketika suami masuk ruang operasi sudah usai. Tapi untungnya disini banyak sudara yang selalu menjaga. Waktu saya dulu disana menjalankan operasi. setelah siuman dan sudah di bawa lagi ke kamar pasien, saya tidak melihat siapa2. hanya suster2 yang setiap 5 atau 10 menit memeriksa saya. memang cara perawatan nya sangat telaten bagi orang2 yg baru keluar dari ruang operasi. Keluarga atau teman berkunjung hanya waktu2 yg sudah ditentukan untuk berkunjung. Begitulah enak dan untungnya nya tinggal di kampung halaman sendiri itu. Tidak sendirian…….Berbahagialah…………

    Comment by urang Ozi — March 10, 2009 @ 12:49 am

  2. Alhamdulillah, semuanya sudah kembali seperti semula walau belum seratus persen. Selamat ya… bu atas segala perjuangannya

    Comment by nia — March 14, 2009 @ 12:23 am

  3. Alhamdulillah. Ya Rabb, Engkau perintahkan kami untuk berdoa pada-Mu dan Engkau jaminkan pada kami ijabah-Mu. Wahai Yang Nama-Nya adalah obat, Yang zikir-Nya adalah penyembuhan, Engkau telah memberikan kesembuhan kepada saudaraku, membuang rasa sakit dan penyakit dari tubuh saudaraku. Sungguh, semua ini tidak akan tercapai, kecuali dengan karunia-Mu. Limpahkan pada kami kemurahan-Mu, Sayangi kami dengan kebaikan-Mu, dan Jaga diri kami dengan rahmat-Mu. Ya Allah. Ampunilah kami yang tidak memiliki apa pun kecuali doa. Amin

    Comment by gajah_kurus — March 14, 2009 @ 8:41 am

  4. Kepada 3 sahabat di atas, terima kasih atas spirit yang diberikan kepada keluarga saya, yang sangat besar pengaruhnya untuk kepulihan suamiku.

    Comment by pop — March 18, 2009 @ 12:55 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer