FENOMENA…

February 28, 2009

Bulan Kesedihan

Filed under: Curhat

Bulan Februari tahun ini adalah bulan kesedihan untuk keluargaku. Bagaimana tidak, di bulan ini suamiku harus berlama-lama menginap di sebuah rumah sakit. Dia menderita sakit yang sangat hebat di bagian perut sebelah kiri.
Ketika suatu malam dengan tiba-tiba penyakit suami kambuh, dia mengerang kesakitan seperti tak tertahankan. Saya panik. Kemudian pada dini hari, Selasa 17 Februari, ditemani anakku yang nomer dua, saya mengantarnya ke bagian gawat darurat rumah sakit Dustira Cimahi. Akhirnya dengan pemberian obat yang terus menerus berupa infus dan obat-obatan yang ditelan, penderitaannya bisa dikurangi sedikit demi sedikit. Permintaanku pada dokter yang memeriksanya waktu itu, lebih baik suamiku menjalani rawat inap saja.

Dia ditempatkan di paviliun Mawar. Cukup nyaman untuk seseorang yang tengah menjalani perawatan intensif. Jendela di kamar ini bisa dibuka lebar-lebar dan menghadap ke jalan raya yang jaraknya terhalang oleh taman dan tempat parkir. Udara segar dan sinar mentari selalu menyapa kami dengan sangat ramah, apalagi di pagi hari.
Dan hari-hari di pertengahan Februari ini adalah hari-hari yang membuat aku begitu dekat dengannya. Di sini, di tempat ini, dari pagi hingga sore, kami selalu bersama. Hal yang sebelumnya jarang benar dilakukan di rumah. Sebelum peristiwa ini, saya selalu saja sibuk dengan pekerjaan rutin serta kegemaranku menulis dan blogging. Demikian pula dengan suami, dia sering keasyikan kerja lembur hingga tak jarang pulang dari tempat kerjanya setelah pukul 21.00.

Sekarang semuanya harus berubah. Selama seminggu saya cuti dari pekerjaanku di sekolah. Waktu satu pekan itu kuhabiskan untuk mendampinginya. Kali ini, di rumah sakit ini, kami jadi banyak tahu, bahwa ternyata kami berdua adalah pasangan yang saling membutuhkan, saling menyayangi, saling mencintai, dan saling merindukan. Bila kebetulan suasana ruangan sedang sepi, tak ada yang mengganggu keintiman kami, saya dan dia layaknya sepasang insan yang tengah berpacaran. Sebagai pasangan yang pernah muda, kami bernostalgia, bercengkrama, karena di bangsal yang berfungsi sebagai kamar perawatan untuk orang sakit ini hanya aku dan dia saja yang hadir.
Kali ini saya ingin membuat jiwanya sedikit tenang dengan selalu berada di sisinya. Apalagi setelah diketahui melalui pemeriksan USG bahwa dalam empedu suamiku terdapat batu sebesar biji kacang panjang dan harus diangkat, bertambah-tambahlah rasa ibaku. Sosok yang biasanya tegap tegar dan terkesan selalu ingin melindungiku, kini nampak lemah, murung dan kuyu. Badannya dengan cepat menyusut karena porsi makan pun dikurangi. Bila rasa sedih tiba-tiba meliputi hati kami, kami berduapun tak kuasa menahan air mata. Bertangisan.

Setiap hari aku jadi senang berlama-lama menghabiskan waktu siangku di rumah sakit. Menemaninya, membesarkan hatinya, mendo’akannya, melayaninya, dan sebagainya. Diapun tak henti-hentinya membesarkan hatiku dengan berkata bahwa semua ujian ini akan bisa kami lewati dengan baik.
Hati kami berdua menjadi tenang dan terhibur setiap mendapat kunjungan saudara dan para kerabat. Rasa simpati mereka adalah obat mujarab bagi suamiku. Di tengah obrolan para penjenguk itu, air muka suami jadi terlihat ceria.
Sayang sekali, suami tak mengijinkan saya menemaninya sepanjang malam hingga esok harinya, karena dia merasa khawatir akan keadaan anak-anak kami di rumah. Dengan begitu, malam harinya di rumah sakit ini dia tidur seorang diri. Dia merasa ditemani, bila kebetulan ranjang di sebelahnya ditempati pasien baru. Tapi pasien-pasien penghuni ranjang sebelah itu selalu datang dan pergi, berganti-ganti. Kadang-kadang beberapa hari ranjang itu tak terisi sama sekali, itu artinya sepanjang malam suamiku bersepi-sepi seorang sendiri, di ruangan yang sunyi.
Padahal bagiku, baik seharian ataupun sepanjang malam bersamanya tidak akan pernah cukup untuk menumpahkan rasa rindu dendamku padanya. Bila waktu sore tiba, berat hatiku untuk meninggalkannya. Ketika sepeda motorku melaju menuju rumah, seolah-olah sebelah jiwaku tertinggal di sana, di rumah sakit itu. Tapi di rumah pun anak-anak sudah menunggu kepulangan ibunya. Mengenai hal ini, saya selalu dilanda kebimbangan, setiap hari.
Yang dirasa sangat berat olehku adalah ketika harus bisa menggantikan posisi suami pada waktu sehat dulu. Dia adalah nakhoda bahtera rumah tangga kami. Sekarang dengan terpaksa jabatan itu dibebankan ke atas pundakku. Mau tidak mau akupun harus menjadi nakhoda handal rumah tanggaku sehandal suamiku. Dimulai dari fajar menyingsing di pagi hari hingga mata lelahku terpejam di malam hari, saya harus siap mengerjakan segalanya. Ada juga bantuan tenaga anak-anak, tapi alakadarnya, hanya yang ringan-ringan saja. Selebihnya adalah tugas yang harus saya kerjakan dengan baik. Dari mulai urusan keuangan, sampai tektek bengek urusan dapur, seperti memasang tabung gas pada kompor gas, saya harus terampil melakukannya sekarang. Ternyata keterpaksaan menjadikan sesuatu yang tak biasa menjadi biasa. Dan pembiasaan merubah sesuatu yang sukar menjadi mudah.

Pekan berikutnya, saya kembali menunaikan tugas rutin di sekolah, karena kondisi suami mulai berkembang ke arah yang lebih baik. Dengan begitu pertemuanku dengannya hanya sebentar saja. Pada hari liburlah saya baru bisa menemani suami sepuasnya.
Hampir dua minggu suamiku dirawat di rumah sakit ini. Sudah banyak pemeriksaan menyeluruh dilakukan, seperti: pengambilan darah, pemeriksaan tensi, jantung, air seni, dan sebagainya. Dokter yang merawat suami ada tiga orang, yakni dokter internis, dokter jantung, dan dokter bedah. Menurut diagnosis mereka, dalam hal jantung dan lain-lain alhamdulillah suamiku normal-normal saja. Yang menjadi pusat perhatian mereka bertiga adalah sebuah batu yang bersarang di empedunya itu. Jadwal operasi pun telah ditentukan. Insya Allah, akan dilakukan pembedahan pada hari Selasa tanggal 3 Maret, 2009. Menghadapi hal ini, suami ada gentarnya juga. Katanya dia agak takut menghadapi hari H pembedahan, lalu berbagai prasangka buruk berkecamuk dalam benaknya.
Saya bilang padanya, bahwa proses operasi adalah proses yang sudah biasa dilakukan oleh para dokter dalam rangka menyembuhkan pasien-pasiennya. Kenapa mesti gentar? Bukankah teknologi kedokteran sekarang sudah sedemikian majunya? Dan yang perlu direnungkan, bahwa pada hakikatnya yang bisa mengobati diri kita hanyalah diri kita sendiri. Kita harus optimis, berbaik sangka, dan berserah diri pada Yang Memberi Nyawa. Bila ketiga hal tersebut bersatu padu dalam diri kita, akan menimbulkan kekuatan, kekuatan untuk menghadapi hidup bagaimanapun keadaannya. Sedangkan kekuatan di luar diri kita yang juga tak kalah pentingnya dan besar pengaruhnya pada si sakit adalah dukungan moral beserta do’a dari saudara dan kerabat.
Oleh karena itu, khusus untuk suamiku tercinta, saya memohon bantuan para sahabat berupa do’a untuk kesembuhannya. Semoga suamiku bisa melewati proses penyembuhan ini dengan tabah, dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga di rumah, serta bisa beraktifitas seperti sediakala. Amin ya Robbal aalamin…

6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2009/02/28/bulan-kesedihan/trackback/

  1. Ikut prihatin, atas kejadian yang ibu alami. tapi dilihat dari cerita ibu diatas, ada juga hikmahnya. Ambillah hikmahnya untuk kebaikan. Jangan hawatir segala sesuatu ada yang mengatur. pengalaman saya ttg operasi. saya mengalami operasi besar yaitu dengan mengganti tulang tempurung di dengkul saya dengan metal dan plastik, Karena tulang tempurung saya sdh begitu rapuh, sobekan daging dan kulit kira2 waktu operasi sepanjang 20 cm.setelah operasi saya tidak boleh menggerakkan kaki saya selama 5 minggu karena dengkul saya di pakein Brace. Alhamdulillah saya tidak apa2 dengan pertolongan yang Maha Kuasa. Memang dalam saat ini keadaan dengkul saya tidak se normal sebelum operasi, yah kita tahu ciptaan manusia tidak sama dengan ciptaan Allah. Tapi Allah befirman Allah menurunkan penyakit dan obatnya. sedangkan yang mengerti ttg obat adalah dokter dengan ilmu pengetahuannya. Dan juga sakit dan sembuh itu sudah diatur oleh Yang Maha Pencipta.Saya menceritakan ini hanya ingin membesarkan hati suami ibu dan ibu sendiri. Semoga dalam menjalankan operasi nanti ibu bersabar, tabah dan dapat mendampingi suami ibu dengan tekun. InsyaAllah Allah akan memudahkan segala2 nya bagi suami ibu dan ibu sendiri. Saya hanya dapat ikut berdoa dari kejauhan. Semoga suami ibu kembali sehat seperti sedia kala. amiinn….

    Comment by urang Ozi — February 28, 2009 @ 8:09 am

  2. Assalamu’alaikum,

    Turut prihatin atas musibah yang dialami keluarga Ibu, orang yang dikasihi dan dicintai oleh semua anggota keluarga, orang yang selama ini selalu tegar melindungi keluarga. Saat ini sumber ketegaran dan kekuatan keluarga itu sedang mendapatkan ujian dari Dia yang Maha Kuat. Insya Allah beliau akan tegar dan kuat menghadapinya.
    Semoga atas izin Allah SWT, operasi yang akan dilaksanakan Selasa tanggal 3 Maret, 2009, lancar tiada rintangan. Beliau lekas sembuh, sehat dan kembali seperti sedia kala tanpa kurang satu apapun. Semoga Ibu bersama keluarga tabah dan tawakal menghadapi segala cobaan dari yang Maha Kuasa.

    Dengan namaMu Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya yang suci.

    Ya Allah, hilangkan penyakit dan rasa sakit yang sedang mendera saudaraku, kembalikan beliau kepada kesehatan dan kesembuhan seperti semula. Bantulah beliau dengan sebaik-baik perlindungan, kembalikan beliau kepada sebaik-baik kesembuhan. Jadikanlah apa saja yang dirasakan beliau pada waktu sakitnya sebagai pahala untuk kehidupannya dan penghapus atas segala kesalahan-nya. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Amin

    Comment by gajahkurus — February 28, 2009 @ 9:12 am

  3. Kepada Fz dan gajahkurus:
    Atas nama keluarga, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhhatian, dukungan, dan bantuan do’anya. Semua yang sahabat berikan kepada saya itu sangat tak ternilai harganya, biarlah Allah SWT saja yang membalas kebaikan sahabat dengan berlipat ganda. Semoga Allah mengabulkan segala do’a kita semua.

    Comment by poponsaadah — March 1, 2009 @ 1:05 am

  4. Saya hanya bisa mendoakan semoga cepat sembuh, dan ibu juga harus berusaha menjaga kesehatan, karena untuk mendampingi orang sakit harus memiliki kondisi yang prima. Semua itu ujian biasanya setelah ujian, kita akan naik tingkat. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Amien ….

    Comment by nia — March 1, 2009 @ 8:16 am

  5. Punten ah nembe ngalanto ka babakan maya ieu ….. janten kirang paos nu ngageugeuhna nuju kenging cocobi ti nu Maha Agung.
    Mugi-mugi kulawargi nu nuju dipasihan ujian lungsur langsar dina mayunan ujian eta kalawan kasadrahan ka pangeran.
    Kanggo pa Syam oge mugia enggal damang … sehat deui sapertos awalna dipasihan kanikmatan dina kasehatan.

    Comment by Tibelat — March 3, 2009 @ 6:25 am

  6. Ka Bu Nia sareng Kang Budi, hatur nuhun pisan kana pangrojongna. Mugia amal-amalan saderek dilipat gandakeun ku
    Allah SWT. Amin.

    Comment by pop — March 7, 2009 @ 7:42 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer