Anakku
Negara sedang mengalami awal krisis moneter, ketika saya harus mengandung janinnya. Kemudian dia lahir bersamaan dengan reformasi, tahun 1998.
Ketika usia kandunganku menginjak bulan ke sepuluh, tepat saat berkumandang adzan subuh, dia hadir ke pangkuanku dengan berat bersih 4 kg. Cukup sulit untuk mengeluarkannya dari rahimku, sebab si janin sudah berubah menjadi bayi yang lumayan besar. Bila proses persalinan ini berlangsung di rumah sakit, ada kemungkinan saya harus menjalani operasi cessar. Tapi karena saya memilih tempat bersalin di bidan, upaya yang dilakukan oleh kami diusahakan sealamiah mungkin. Dan saya berharap ini adalah persalinan yang terakhir. Saya rasa cukuplah dua kali saja saya merasakan begitu susah payahnya melahirkan itu.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, hingga tahun demi tahun, saya lalui dengan bahagia karena kehadirannya. Tak terasa sekarang Si Bungsu sudah kelas 5 SD. Entah karena dia anak yang lahir paling akhir, entah karena orang tuanya secara sadar dan tidak sadar memperlakukannya sedemikian rupa, hingga dia banyak bergantung pada ibu dan ayahnya. Dia tak biasa ditinggal pergi lama-lama, serta kurang mandiri. Dan entah kenapa menghadapi si kecil ini hati saya dan suami sering luluh, tak bisa tegas-tegasan dalam mendidiknya.
Saya sadar, karakternya dominan mirip ibunya, di antaranya yaitu perasa, sehingga senang diperlakukan dengan lemah lembut, oleh karena itu tak tahan bila dibentak. Tapi bila dia menginginkan sesuatu harus terlaksana pada saat itu juga, sangat susah dicegah atau tak bisa dihalang-halangi.
Sekarang ini saya sedang berusaha meminimalisir sifat-sifat negatifnya, dan berusaha untuk memupuk serta menonjolkan tabiat positifnya. Meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dengan kerja keras, ketekunan, dan juga kesabaran, saya yakin usaha saya ini akan ada hasilnya.
Langkah pertama adalah menerapkan disiplin solat lima waktu, serta mengaji pada malam hari. Langkah kedua memupuk gemar membaca dengan berlangganan majalah anak-anak pavoritnya serta membeli buku-buku serta komik yang sesuai dengan usianya. Ketiga memberinya kesempatan untuk bersosialisasi sepuas mungkin dengan teman-teman sebayanya. Saya tidak pernah melarang dia untuk pergi agak jauh atau melakukan kegiatan menantang seperti bermain sepedah, bermain sepak bola, dan berenang, untuk menumbuhkan keberaniannya.
Keempat, memberi kesempatan padanya untuk memilih kegiatan yang dia sukai pada hari libur. Dengan harapan esok harinya dia memiliki semangat baru ketika melakukan tugas-tugas rutin yang harus sesegera mungkin dia kerjakan.
Ada satu sifatnya yang lumayan susah diminimalisir, yaitu gampang nangis (cengeng), serta selalu mengalah bila ditindas teman. Saya sempat khawatir dengan jiwanya yang lembek itu, hingga pada suatu hari saya sempat berkata padanya, “Bila ada yang berani menjajah kamu, harusnya kamu melawan bukan mengalah. Jika suatu saat ibu dipanggil gurumu ke sekolah gara-gara kamu berkelahi, ibu akan merasa senang dan bangga, ternyata anak ibu ini sekarang sudah menjadi seorang yang pemberani!”
Tapi momen itu tak kunjung datang. Tak pernah saya terima selembar surat pun yang mengundang saya ke sekolahnya untuk mengurus masalah perkelahian anakku itu dengan temannya. Ah, dia tetap saja anak yang selalu mengalah pada keegoisan teman sebayanya.
Di sisi lain, saya cukup senang dengan kepatuhannya dalam menggunakan bahasa Sunda, baik di rumah maupun di mana saja. Hati saya selalu terhibur setiap berbincang-bicang dengannya, sebab upayaku selama ini agar dia fasih berbahasa Sunda yang baik dan benar ada hasilnya. Sampai berkomentar pada tayangan televisi pun dia menggunakan bahasa Sunda dengan gaya berkomentar orang dewasa. Seperti ketika di sebuah acara ada seorang laki-laki berotot yang sangat takut pada istrinya, dia sempat melempar komentar, “Kalahka wè otot leungeun badag, ari ku pamajikan sieun!” Atau ketika dalam satu tayangan ada seorang perempuan yang didandani (di-makeover) agar terlihat cantik, dia berani menilai, “Euleuh geuning didangdanan tèh kalahka beuki ancur!”
***

Didik anak gampang-gampang susah. Orang tua juga bagian dari cermin bagi sang anak. Sepengetahuan saya, beberapa Nabi Allah di uji dengan prilaku anak-anaknya. Tidak sedikit Nabi Allah gagal juga didik anak-anaknya. Itu Nabi, apalagi umatnya. Tapi bukan berarti umatnya menjadi pasrah “bongkokan” begitu saja. Menurut saya, kita semua (saya juga) harus belajar dari sejarah bagaimana mendidik anak sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki. Intervensi Ortu sebatas membimbing plus mengarahkan. Saya kira itu wacana normatifnya, selanjutnya terserah kita…saya,…anda dan mungkin semuanya…salam kenal.
Comment by yoes — January 26, 2009 @ 9:02 am
Terima kasih atas masukannya Yoes. Ilmu saya jadi bertambah mengenai seluk beluk mendidik anak. Jangan bosan berkunjung dan mengomentari gagasan-gagasan saya, biar semangat menulis saya tak sampai padam. Salam kenal juga.
Comment by pop — January 30, 2009 @ 4:50 am