FENOMENA…

October 8, 2008

Limbangan, Dulu dan Sekarang

Filed under: Kakaren Lebaran

Oleh Popon Saadah

Saya bermudik ria ke Limbangan bersama keluarga pada hari kedua lebaran (tanggal 2 Syawal). Dengan sangat berharap tidak terjebak macet di jalan, kami berangkat pagi-pagi benar, pukul 5.30 WIB. Alhamdulillah, dengan menghindari Nagreg, macet tak sempat menjebak kami. Kami memilih jalan alternatif, dari arah Bandung masuk ke Cijapati, lalu Kadungora dan Leles, yang akhirnya sampai juga di Limbangan, tepatnya di desa Cibitung kecamatan Limbangan kabupaten Garut. Dengan begitu perjalanan jadi bertambah jauh, memakan waktu sekitar empat jam, tapi terbebas dari kemacetan, dan sampai dengan selamat di tujuan.
Setelah berada di tengah-tengah sanak saudara, saya semakin menyadari, bahwa kampung halaman yang saya banggakan dan selalu saya rindukan ini sekarang sudah banyak berubah. Limbangan kini bukan Limbangan dulu lagi. Limbangan sekarang, sebuah desa yang sudah banyak kehilangan ciri khas ke-desa-annya. Udaranya yang dulu ketika saya masih SD terasa begitu sejuk, menjadi panas menyengat di siang hari. Hal ini mungkin disebabkan global warming yang menyeluruh ke berbagai pelosok dunia, atau bisa juga disebabkan begitu merajalelanya penebangan pohon-pohon di gunung-gunung sekitarnya.
Perubahan juga terjadi pada bentuk rumah para penduduknya. Dulu, kurang lebih lima belas tahun yang lalu, di desa ini masih banyak terdapat rumah panggung berdinding bilik berlantaikan papan dan palupuh, dilengkapi dengan saung lisung di belakang atau di pinggir (pipir) rumah masing-masing. Kini, saya hampir tidak menemukan rumah tradisional Sunda lagi. Kalaupun ada, rumah tersebut sudah tak berpenghuni. Rumah-rumah yang sekarang mereka tempati tak berbeda dengan perumahan di kota, malah barangkali ada yang tak mau kalah dengan rumah mewah di kota besar. Tak ada lagi saung lisung berikut peralatan dan kegiatan yang berkaitan dengan bangunan tersebut. Tak ada lagi rumah panggung berpagar bambu atau berpagar tanaman hidup seperti tanaman baluntas. Tak ada lagi orang yang duduk-duduk di golodog rumahnya sambil mencari kutu di kepala anak-anaknya atau tetangganya (sisiaran).
Berubah pula rumah nenekku, nenek dari pihak ayah yang tinggal satu-satunya ini. Angin Cibitung yang biasa berbertiup kencang, yang selalu masuk (moncor) melalui sela-sela bilik, kini tak lagi bisa memasuki rumahnya dengan leluasa karena terhalang tembok. Dan saya kehilangan kesejukan alami, angin ngagelebug.
Dengan berubahnya arsitektur rumah penduduknya, berubah pula kebiasaan-kebiasaan lainnya. Karena rumah gedong mereka sudah pasti dilengkapi dengan kamar mandi (jamban) di dalamnya, kini saya tak menemukan lagi jamban-jamban tradisional yang terbuat dari bambu (dadampar) dan berdiri kokoh di tengah kolam. Lenyap pula suara-suara gemuruh air yang mengalir deras menimpa kolam dari setiap pancuran tanpa penyumbatnya (cocok) di jamban-jamban itu. Dan kolam-kolam pun banyak yang berubah wujud menjadi bangunan rumah berarsitektur modern. Memang hamparan sawah masih ada, juga kebun-kebun, tapi tidak seluas hamparan sawah dan kebun pada jaman dulu dan tidak seeksotik ketika saya masih polos dan lugu.
Mesjid pun tak luput dari perubahan itu. Mesjid Jami Putrajawa sekarang adalah mesjid yang sudah direnovasi dan tanpa kulah (kolam kecil di depan mesjid yang sengaja dibuat untuk berwudu para jemaah), sebab tempat berwudu sudah dibuatkan oleh perancang mesjid ini sama dengan di mesjid-mesjid perkotaan, air mengalir melalui saluran pipa paralon dengan kran-kran yang berbaris di dinding bagian atas di tempat wudu. Padahal kulah itu menyimpan banyak kenangan. Pada masa lalu, ketika saya masih kanak-kanak, saya sering memasukinya (ancrub) bukan karena hendak berwudu, tapi karena rasa suka, seluruh kakiku hingga paha terasa dingin terendam air kulah yang warnanya agak coklat itu. Dan di kulah ini salah seorang adik perempuanku pernah tenggelam ketika masih balita, hanya terlihat rambutnya mengambang. Untung ada yang melihatnya sehingga masih sempat tertolong.
Dapur penduduk pun berubah. Tungku (hawu) sempat menghilang dari kehidupan mereka untuk beberapa tahun. Hal ini barangkali disebabkan oleh ketidak praktisan penggunaannya. Dengan rumah yang sudah bergaya modern, penghuninya lebih memilih dapur yang terbebas dari polusi asap tungku. Kompor minyak tanah dan kompor gaslah penggantinya. Sudah pasti wangi khas asap tungku hasil pembakaran kayu bakar yang menyebar keluar dan tercium oleh kita terutama di pagi hari, sempat lenyap pula dari atmosfir sebagian wilayah kampungku. Tapi belakangan, si tungku ini muncul kembali berikut tumpukan kayu bakar keringnya, ketika harga minyak tanah dan gas melambung tinggi. Dan alhamdulillah kali inipun saya bisa kembali menghirup wangi asap yang menyebar keluar dari hawu nenekku, yang mengantarkan imajinasiku ke masa lampau, saat-saat indah ketika nenek dan kakek dari pihak ibu masih hidup (jumeneng). Di rumah mereka (di Putrajawa, masih satu kecamatan dengan Cibitung) saya bisa nongkrong sepuasnya sambil jongkok (cingogo) atau duduk di atas jojodog (bangku mini terbuat dari kayu) menikmati hangatnya hingga panasnya udara di sekitar hawu. Di pagi hari, saat udara kampung masih berkabut dan badan menggigil kedinginan, saya duduk (sidéang) di depan tungku sambil diajari kakek memanggang (meuleum) opak menggunakan bambu agak panjang yang sengaja dibuat bercabang ujungnya, yang berfungsi sebagai penjepit opak. Ajaib, opak mentah menjadi matang dan lezat, hanya karena pengaruh panas dari api yang menyala-nyala di dalam tungku. Acara sidéang berakhir bila muka dan seluruh badanku sudah kepanasan.
Saya perhatikan pula sekarang ini hewan ternak seperti domba dan kambing jarang dipelihara penduduk, begitupun dengan ayam. Saya tidak melihat kandang-kandang binatang ternak (ingon-ingon) itu di pinggir rumah mereka seperti dulu. Hanya ada peternakan ayam milik seseorang yang tempatnya agak terpencil. Dengan begitu telingakupun tidak lagi mendengar suara-suara binatang ternak mengembik dan berkokok, yang kata orang bijak adalah perwujudan suara-suara tasbih, tahmid, dan takbir binatang-binatang itu memuji Yang Maha Pencipta.
Sekarang jalanan desa riuh rendah oleh kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor. Dari pagi hingga sore ada saja sepeda motor yang berlalu lalang melewati rumah nenekku. Warung-warung yang terletak di pinggir jalan pun tak kalah lengkapnya dengan warung di kota. Saat ini, warung di desa ini bukan lagi warung sederhana dengan bangunan alakadarnya serta barang dagangan apa adanya, tapi warung yang boleh dibilang serba ada dan penuh dengan barang-dagangan (pepek), mulai dari sembako sampai alat kecantikan.
Ah! Ternyata desa tercintaku sudah berubah hampir total. Bak seorang gadis desa yang terus menerus merubah penampilannya dan selalu berhias diri dari tampilan sederhana ala mojang priangan jaman baheula menjadi gadis modis ala metropolitan karena takut ketinggalan jaman.
Ada rasa sedih menyelinap dalam kalbu. Saya rindu pada semua yang telah hilang itu. Saya menyayangkan perubahan itu. Kini saya seperti tengah berada di satu tempat yang tak berciri khas lagi, yang tak menarik lagi, dan asing. Padahal bila dipikir-pikir, harusnya rasa banggaku pada kampung halaman tidak luntur, malah harus bertambah tebal, karena ternyata kampungku juga tak luput dari gerakan modernisasi. Saya sama sekali tak berhak menghalangi penduduknya yang notabene saudara-saudaraku juga untuk berubah dan maju. Dan mustahil bisa dihalangi, karena pada hakekatnya kehidupan itu berubah, dinamis, dan progresif.
Barangkali memang saya harus beriklas diri, menyaksikan kampung halaman menanggalkan ciri khasnya satu persatu demi modernisasi itu. Seperti penduduknya yang datang dan pergi silih berganti, yang lahir menggantikan yang mati, melaksanakan fitrahnya sebagai manusia, melaksanakan regenerasi.
Akankah anak cucuku kelak merasa memiliki kampung ini, kampung halaman para leluhurnya? Pertanyaan ini tak terjawab sampai saya dan keluarga kembali ke Cimahi pada sore hari. Kami memang tidak berniat menginap. Cukup berkunjung satu hari saja, pulang pergi. Apalagi pada kemarau kali ini Cibitung kesulitan air bersih. Bila mau mandi dan sebagainya harus mau berpayah-payah menimba air terlebih dahulu dari sumur yang sangat dalam dan airnya kurang jernih. Bisa dibayangkan, akan terjadi antrian panjang di depan pintu kamar mandi nenekku setiap memasuki waktu sembahyang dan waktunya mandi, bila kami sekeluarga jadi menginap di sini.
Selamat tinggal Limbangan. Semoga oleh Yang Maha Kuasa kami diberi umur panjang dan kesehatan, sehingga bisa mengunjugimu lagi tahun depan, menyaksikan perubahan demi perubahan.***

16 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2008/10/08/limbangan-dulu-dan-sekarang/trackback/

  1. Tak tahu harus berkata apa, tak yakin harus menulis dan berkomentar. Takut, takut komentar saya, tulisan saya justru merusak paparan yang sangat indah.
    Mengulang kembali membaca dari awal hingga akhir, serasa melayang ke masa silam. Ah! betapa damainya waktu lampau. Masih terasa dinginnya air pancuran menerpa tubuh, masih terdengar gemericik air sungai di antara sela bebatuan, masih terasa hangatnya tungku dengan bara api menyala. Indah!
    Biarlah jadi kenangan sepanjang masa, biarlah tersimpan dalam sanubari, biarlah hanya senandung masa lalu, dan jadi dongeng pengantar tidur anak cucu. Sebab segala sesuatu pasti akan berubah. Kecuali Wajah-Nya yang kekal.

    Comment by gajahkurus — October 8, 2008 @ 3:56 am

  2. Benar apa yang engkau katakan itu adikku. Di dunia ini tidak ada yang kekal abadi kecuali Dia.Jadi sedih seperti itu tak perlu ya?

    Comment by pop — October 10, 2008 @ 2:42 am

  3. asa waas Limbangan kanggo sim kuring bali geusan ngajadi,sanaos sim kuring lahir sareng
    ageung di Bandung tapi sepuh pituin Limbangan,ayeuna sim kuring ngumbara mancen tugas
    salaku PNS di Serang Banten teu karos parantos 10 thn sim kuring ngumbara,tapi
    manahmah angger aya di Limbangan,salam baktos kanggo batur salembur.

    Comment by yudi yuriansah — October 21, 2008 @ 2:18 am

  4. aduh teh abdi mah sok nineung katanah limbangan tos sataun teu acan mulih…meni tos sono yeuh kalimbangan teh…

    Upami uih mah sigana bade dicandak(dibungkus) wae ah limbangan teh dicandak ka surabaya,ambeh teu tebih…

    Comment by aang sura'ang — October 21, 2008 @ 4:22 am

  5. Waleran kanggo saderek Yudi Yuriansah:
    Wilujeng tepang sareng sim kuring atuh Ki Dulur. Mugi silaturahmi urang tiasa manjang sareng nganteng dina ieu media. Hatur nuhun kana kasumpinganana ka ieu blog.

    Waleran kanggo Aang:
    Nu tiasa dibungkus mah wajitna, ulenna, opakna, bugisna, sareng papaisna, Ang :)

    Comment by pop — October 22, 2008 @ 12:13 am

  6. ke dulur sim kuring bade tumaros,asa boa urang masih katalian wargi,ari sim kuring pituin
    wewengkon desa galih pakuon kampung sirnagalih,simkuring teu acan ngaos tuntas
    blog ibu ke ari putra Jawa teh beh manaeun Cirapuhan,margi di Serang seueur urang
    putra Jawa anu profesina pangkas rambut,seueur oge anu tos sukses.mangga ibu ku sim
    kuring di natos di yudiyuriansah@yahoo.co.id, sakantenan urang muka babarayaan sanaos
    tebih oge da kanggo etamah sanes mangrupi hahalang

    Comment by yudi yuriansah — October 22, 2008 @ 3:02 am

  7. Assalamu ‘alaikum wr.wb
    Kaget bercampur haru, itulah perasaan saya saat ini. Sudah 8thn saya bekerja online, dan Google adalah makanan tiap hari, tapi tak pernah sekalipun terpikir utk mengetik kata “Limbangan”.. padahal disanalah saya dilahirkan dan dibesarkan.
    Dan beberapa jam yg lalu, ketika merasa suntuk dgn pekerjaan, tiba-tiba tersirat di pikiran untuk mencoba keyword “limbangan”, sambil bertanya dlm hati…”ada apa aja dgn Limbangan..?”
    dan ternyata ada sekitar 109,000 hasil pencarian dgn kata “Limbangan”, sungguh mengagetkan..
    Hingga saya bisa bertamu ke blog Teh Popon ini..(Teh, hatur nuhun parantos ngadamel ieu blog).
    Terima kasih juga utk semua partisipan khususnya “Urang Limbangan” yg tak lupa pd tempat asal..

    Hatur Nuhun..
    Putra Limbangan

    Comment by Danny — October 31, 2008 @ 5:15 pm

  8. Waleran kanggo saderek Yudi:
    Cirapuhan mah caket ti lembur sim kuring, da kapungkur nuju sim kuring alit keneh kantos ngadon ngabaso di Pasar Cirapuhan. Upami teu lepat mah Cirapuhan teh wetaneun Limbangan. Mangga bilih panasaran mah ngobrolna diteraskeun kana email: popon_saadah@yahoo.com.

    Waleran kanggo saderek Dani:
    Sim kuring bingah pisan ditepangkeun sareng saderek anu pituin urang Limbangan. Sanaos mung ukur tepang di cyber. Mugi saderek Dani luntur galih sering sumping kana ieu blog, silaturahmi sareng sim kuring oge warga Limbangan sanesna.

    Comment by pop — November 3, 2008 @ 3:24 am

  9. Limbangan Indah sekali meski aku cuma membaca…..

    Comment by Rizky achmad Nugraha — November 19, 2008 @ 11:43 pm

  10. Terima kasih atas kalimat pemberi semangat padaku sebagai orang yang dilahirkan di tanah Limbangan, semangat untuk mempertahankan nama baik keluarga besar orang Limbangan.

    Comment by pop_ice — November 20, 2008 @ 4:32 am

  11. aduh waas..pisan.seandainya aku di sampingmu,,,aku akan ikut juga,
    sayang nak bisa ikut,,cedih…

    Comment by cintaku — December 3, 2008 @ 12:49 am

  12. wah, limbangan mah sudah bukan limbangan lagi , pasti lah berubah, walaupun Aki Eme masih suka keliatan di pasar balubur limbangan

    Comment by yonki damaianto — January 9, 2009 @ 11:49 am

  13. ki dulur sim kuring nagadamel seratan basa sunda,mugia dulur tiasa nyumpingan blog abdi di iwangyd.blogspot.com.
    Diantos kritik sareng sarana kanggo sampurnana seratan sim kuring..diantos

    Comment by yudiyuriansah — February 6, 2009 @ 2:49 am

  14. Insya Allah, manawi aya waktos sim kuring bade amengan ka blog saderek. Ngiring bingah kana karancageanana.

    Comment by pop — February 8, 2009 @ 1:03 pm

  15. Waas nyawang “Limbangan Tempo Doeloe”. Jaman sakola di SMP Negeri Limbangan, 25 tahun kapengker, naek ANGDES (angkutan pedesaan) Limbangan - Garela, naek diluhur mobil, atawa nangkel gugulantungan. komo sekitar 10 tahun saacanna jaman masih pra sakola, kandaraan nuaya teh ngan dokar/delman bari jalan galituk kubatu da teu diaspal. Kenangan 25-40 tahun lalu sebagai budak asli Selaawi Limbangan. Salam kenal.

    Comment by Aep SAR — April 23, 2009 @ 3:56 am

  16. harita mah, aki balekambang , ajengan tonjong, sareng man aceng nu di cipancar teh araya keneh.
    aki ismail alias aki sumarna teh di balubur keneh.

    ngusep di cimanuk teh da meni seuer laukna, sareng kancra ti cipancar teh da meni asa sohor.

    teu acan aya listrik haritamah, tapi da meni asa cara raang,
    teu jiga ayeuna, listrih teh tos aya tapi meni asa pararoek ku kebul.

    Comment by limbangan — June 15, 2009 @ 7:33 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer