Tentang Seorang Muridku

Waktu memang begitu cepat berlalu, seperti anak panah yang sengaja oleh seseorang dilepas dari busurnya. Bahkan mungkin kecepatan waktu yang kita lalui setiap hari bisa melebihi kecepatan gerak anak panah yang terlempar dari busurnya itu. Terasa baru kemarin sore saya menjalani hari-hari pertama duduk di bangku SMA, SMA Cimindi yang sekarang berubah nama menjadi SMA 13 Bandung. Terasa baru kemarin sore saya menjalani masa orientasi untuk diplonco terlebih dahulu oleh kakak-kakak kelas di sekolah tersebut. Yang masih saya ingat, pada waktu itu semua siswa baru diwajibkan tunduk pada semua perintah kakak-kakak kelas yang sok berwibawa itu. Saya masih ingat, waktu itu semua siswa yang masih tebal rasa takutnya pada yang lebih tua diwajibkan membawa gula merah dengan ketinggiannya harus pas berukuran 5 cm setiap hari selama MOS. Bila ukuran tingginya kurang atau lebih dari yang ditentukan, pasti para siswa baru itu kena hukuman, berdiri di depan teman-temannya untuk bernyanyi atau melakukan instruksi lain dari para seniornya. Untuk siswa perempuan diwajibkan pula menggunakan pita yang terbuat dari sumbu kompor di rambutnya –pada waktu itu busana jilbab (kerudung) belum memasyarakat di kotaku, mungkin juga di seluruh pelosok indonesia.
Sekarang, peristiwa itu dialami pula oleh anakku di tempat yang berbeda, di SMAN 1 Cimahi. Berbeda pula tata cara pelaksanaannya, tapi intinya sama, yaitu dalam rangka perpeloncoan! Barangkali tujuan yang sebenarnya dari kegiatan itu adalah melatih mental para siswa baru agar menjadi siswa-siswa yang tangguh dan bersemangat tinggi dalam menimba ilmu di sekolah tempatnya belajar.

Tapi di sini saya tak hendak membahas lebih jauh tentang MOS (Masa Orientasi Siswa), saya ingin mengupas sisi lain dari kehidupan saya dan anakku yang terasa masa-masa hidup kami berjalan begitu cepatnya, seperti potongan-potongan adegan yang sengaja dibuat slide show di komputer kami, setelah sebuah adegan tampil dalam beberapa detik, segera diganti dengan adegan berikutnya. Hingga tak terasa, masa remajaku pun sudah beralih ke tangan anakku.
Kata orang, anak adalah cermin kita. Bila kita ingin melihat diri kita seutuhnya secara objektif, tengoklah anak kita, pandanglah keseluruhan kepribadiannya, di situ, di diri anak kita itu, apakah pada fisiknya atau pada karakternya ada diri kita. Tapi entah karena saya tak bisa membuat kesimpulan tentang anak sendiri, rasa-rasanya dia tak mencerminkan diri saya. Antara saya dengan dia banyak perbedaannya. Bila dirinci satu persatu dari segala segi, akan tampak lebih jelas lagi perbedaan-perbedaan itu.
Kata orang-orang terdekatku, sisi femininku lebih dominan. Saya tidak suka mengenakan baju berbau maskulin, gerak-gerik dan gaya bicara saya cewek banget. Tapi Anak saya yang satu ini tomboy dan tak suka mengenakan busana yang feminin, serta pola pikirnya praktis, enerjik, dan simpel. Saya lebih dominan menggunakan rasa, sedangkan dia cenderung lebih banyak menggunakan logika bila menghadapi segala permasalahan hidupnya. Perbedaan lainnya, saya lebih berminat ke bidang bahasa dan humaniora, dia lebih senang pada hal-hal yang bersifat logis dan eksak. Kesimpulan akhirnya, dia bukan cermin saya.
Ketika lulus SD, saya masukkan dia ke SMP 4 Cimahi. Alasan utamanya biar dia terbebas dari segala macam tektek bengek biaya sekolah. Dalam rangka penghematan. Aturan di sekolah ini, setiap anak guru boleh belajar dengan gratis. Hal yang logis menurutku. Bila orang tuanya banting tulang memeras keringat di tempat itu, layak saja anak-anaknya bebas biaya pendidikan di sekolah di mana orang tuanya bekerja.
Awalnya saya mengira satu sekolah dengan anak sendiri itu tak beresiko. Ternyata ada juga hal-hal yang perlu dipikirkan dan jadi bahan pertimbangan untuk menghindari resiko-resiko yang tidak mengenakan. Yang pertama jadi bahan pemikiranku adalah sikapku sebagai ibu kandungnya. Wibawaku di mata dia harus terjaga. Figurku di rumah harus beda dengan figurku di sekolah. Di sekolah saya harus lebih berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai membuat dia malu atau kehilangan muka karena perilakuku menjadi pergunjingan teman-temannya, misalnya. Bila saya betindak tegas pada anak orang lain, saya pun harus bertindak tegas pula pada anak sendiri. Bila saya mengoreksi kesalahan anak didik (anak orang lain) saya pun harus adil, harus lebih sering mengoreksi anak sendiri. Bila dipikir-pikir, satu sekolah dengan anak kandung itu selain beresiko ternyata berabe juga.
Pandanganku seperti itu muncul ketika dia masih duduk di kelas 7 dan kelas 8. Waktu dia menginjak kelas 9, bebanku sebagai ibu kandungnya dan sebagai gurunya lebih berat lagi. Sebab di kelas 9 lah saya masuk ke dalam kelasnya, berdiri di depan dia dan di depan teman-temannya. Dengan sendirinya dia bisa dengan leluasa menilai sampai di mana sepak terjangku dalam mengajar di dalam kelas. Awal-awal saya masuk ke kelasnya sempat merasa kurang enak hati. Ya itu tadi, khawatir tidak bisa memenuhi keinginannya, menjadi guru yang baik di mata dia dan teman-temannya.
Setelah dijalani dengan selalu bersikap hati-hati, memerankan tokoh ganda (sebagai ibu dan sebagai gurunya) akhirnya saya terbiasa juga. Di sekolah dia adalah murid saya yang tidak pintar-pintar amat, dan ketika kami bertemu kembali di rumah, dia anakku yang mandiri karena dia tak pernah merengek-rengek minta bantuan pada ibunya, memang wataknya seperti itu sejak dia masih kecil. Hal yang terasa lucu, bila di sekolah saya memberi pekerjaan rumah, dia mengerjakannya di rumah dengan semangat 45, seolah-olah yang memberi tugas itu adalah guru Bahasa Sunda yang tidak serumah, seolah-olah guru Bahasa Sundanya itu bukan ibu kandungnya. Pernah dia meminta dengan sangat agar buku LKS yang saya pinjam segera dikembalikan padanya karena dia mau mengerjakan PR Bahasa Sunda.
Pada pelajaran pidato dan drama dalam Bahasa Sunda pun dia mau tampil di depan teman-temannya dengan wajar, yang barangkali pada saat itu dia berusaha sekuat tenaga menganggapku betul-betul sebagai guru Bahasa Sundanya, serta dia butuh nilai mata pelajaran tersebut dari gurunya. saya pun berusaha bersikap objektif dalam menilai dia. Bila hasil pekerjaannya baik, sesuai harapan, ya saya beri dia nilai tinggi. Bila hasil pekerjaannya kurang dari harapanku sebagai ibu dan gurunya, saya beri dia nilai rendah. Dan dia tak pernah protes akan hal ini.
Sekarang muridku itu sudah duduk di bangku SMA. Perasaanku sedikit lega karena terbebas dari perhatiannya ketika sedang mengajar di dalam kelas. Paling tidak, tak akan ketahuan olehnya bila saya melakukan kesalahan. Bisa jadi dia pun merasa leluasa bertindak, terbebas dari monitoring ibunya. Tapi dia sempat mengeluh karena di SMA guru Bahasa Sundanya bukan saya. Dia sakit hati ketika dipanggil “manéh” oleh guru Bahasa Sundanya itu, yang menurutnya kata itu adalah kata kasar. Saya hanya tersenyum, biarlah dia merasakan “rasa bahasa” Sunda dari mulut orang lain.
Setiap pulang ke rumah dia selalu bersemangat bercerita tentang pengalaman-pengalaman hariannya padaku di sekolahnya yang sekarang yang berbeda dengan sekolah tempat ibunya mencari nafkah. Dia bercerita tentang sesuatu yang menurutnya lucu, yang menyenangkan, yang menyedihkan, serta yang menjengkelkan hingga membuat dia kesal.
Dia itu memang sahabatku juga, tempat berbagi rasa dan berbagi cerita. Tak segan-segan dia mengajukan protes bila ada sikapku yang tidak berkenan di hatinya. Dengan berbesar hati saya pun selalu mau menerima protes dan sarannya, karena di sinilah seninya bergaul dengan anak yang sudah menginjak remaja. Saya tidak boleh egois, tidak boleh bertindak semena-mena atau pun mendiktenya. Saya akan selalu memegang prinsip seperti dalam peribahasa Sunda, ”Landung kandungan laér aisan,” dengan harapan anak saya kelak akan menjadi insan yang faham betul akan hakikat manusia berikut permasalahannya. Setelah dia faham, harapan sayapun dia mampu mengatasinya sendiri dengan baik segala bentuk permasalahan yang mengahadangnya. Semoga.
***

memang betapa sulitnya menempatkan posisi kita,baik sebagai Guru, Orang tua, sekaligus sahabat bagi anak didik sekaligus anak kandung didalam lingkungan yang demikian itu, Ibu Popon sangat bijak didalam mencerdaskan murid sekaligus putri kandungnya menjadi manusia seutuhnya, semoga saya berharap guru-guru yang ada dimanapun tetap selalu bekerja dengan keras dan cerdas agar supaya generasi penerus anak-anak indonesia menjadi anak anak yang memiliki jatidiri yang seutuhnya yaitu anak anak indonesia yang sopan santun dan menghargai orang tua dan gurunya.
Comment by Rizky achmad Nugraha — November 5, 2008 @ 6:17 am
Terima kasih atas komentarnya. Sangat berlebihan bila anda mengatakan saya seorang guru dan ibu yang bijak. Saya hanyalah seorang guru SMP yang sama dengan kolega saya yang lain, setiap hari berjuang antara mempertahankan idealisme dan bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup untuk diri sendiri dan keluarga. Semoga harapan anda tentang anak-anak dan generasi muda Indonesia akan segera terwujud dan nyata.
Comment by pop — November 5, 2008 @ 7:57 am