FENOMENA…

August 5, 2008

Mioku Belum Jinak Juga

Filed under: Profil Sahabat

tijuralit (korosak gubrag)

Hari Senin, 4 Agustus 2008 saya meliburkan diri, tidak mengikuti upacara bendera di sekolah seperti biasa serta tidak hadir di kelas 9F dan 9G. Saya terpaksa mengambil cuti karena cedera kaki. Malam tadi saya terguling dari Mio yang begitu susah dijinakkan itu. Body-nya yang berat menimpa dan menindih kakiku hingga kaki kananku bengkak kesakitan. Padahal ketika saya akrabi dia di lapangan sepak bola, dia sudah mulai tunduk padaku, mau diajak berkeliling memutari lapangan beratus kali. Hingga instrukturku berani memindahkan tempat latihanku ke sekitar komplek di mana rumahku berada.
Rupanya saya masih harus belajar tentang karakter mahluk bermesin itu. Dia paling suka diperlakukan sedemikian rupa, si penunggangnya harus bersikap tenang tidak panik, serta selalu siaga dengan rem dan kaki yang kukuh. Ternyata pada diriku belum ada kesiagaan dan kekukuhan itu, selalu merasa kaku setiap menghadapi tikungan.
Saya masih harus bersabar mengakrabinya sampai dia menjadi jinak, seperti jinaknya Si Bawuk kuda kepunyaan Annelies pada novel ”Bumi Manusia” buah tangan Pramoedya. Saya harap ”kudaku” itu segera menyukaiku dan patuh padaku, seperti suka dan patuhnya Si Bawuk pada Annelies. Kata temanku, butuh waktu untuk menjinakkan kuda bermesinku. ”Suatu saat dia akan segera berada di bawah kendalimu, itu pasti!” Katanya memberi semangat, menghilangkan keragu-raguan dan keputusasaanku.
Untuk memulihkan kakiku yang terasa sangat sakit itu, terlebih-lebih bila digerakkan, saya memanggil tukang pijit, seorang ibu yang memang berprofesi sebagai tukang urut. Pada hari itu saya pasrah menyerahkan kaki dan segenap tubuhku padanya untuk di-massage, agar urat-urat yang tegang dan bengkak karena terkilir tadi malam kembali ke tempatnya semula. Bau minyak walikukun menyelimuti seluruh tubuhku, terasa hangat tapi baunya agak menyengat.
Ada yang saya suka dari pribadi si ibu tukang urut ini. Dia yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dariku, ketika tangannya sedang asyik bekerja pada tubuhku selalu mengajakku berbicara tentang kebaikan. Dia menasihatiku tentang berbagai hal yang berkaitan dengan seluk beluk kehidupan kita sebagai insan. Satu lagi yang saya suka darinya, ketika sedang melaksanakan tugasnya ini, dia tak henti-hentinya berkomat-kamit memanjatkan do’a pada Yang Maha Kuasa. Saya yang sangat percaya pada kekuatan do’a yang menurutku ikut menopang kehidupan manusia, merasa tentram ketika dia mendo’akanku dengan kalimat-kalimat Qur’an beserta terjemahan versi dia sendiri.
Alhamdulillah bagian kaki yang bengkak terasa berkurang rasa sakitnya setelah disentuh oleh tangannya. Badanku terasa ringan setelah diluruskan urat-uratnya. Untuk kemudian saya harus kembali berakrab-akrab dengan tungganganku yang masih liar itu nanti malam. Tidak boleh kapok, kata instruktur. Untuk mencapai sesuatu itu butuh perjuangan. Itu artinya, untuk bisa mengendarai ”kudaku” itu, saya harus mau jatuh bangun dan babak belur terlebih dahulu, serta harus berani menghadapi berbagai rintangan. Memang semangatku tak boleh redup, sebab harus seperti itulah barangkali hakikatnya kita menjalani hidup.

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2008/08/05/mioku-belum-jinak-juga/trackback/

  1. Ikut berduka dengan kejadian bu Popon yg jatuh dari motor, iyah bapak instruktur menasehati bu Popon memang benar, jangan putus asa, Yah mungkin ini seperti waktu bu Popon mulai menulis. Kalau tulisan itu tidak diterima penerbit untuk pertama kali kan bu Popon tidak putus asa terus nulis lagi dan nulis lagi, betul nggak? Yang ahirnya terwujud sebuah novel. Nah begitu dgn mengendarai motor. jatuh sekali belajar lagi belajar lagi sambil mempelajari apa kekurangan atau kesalahannya. InsyaAllah di kemudian hari bu Popon akan jadi pengendara motor yg jitu. Siapa tahu jadi pembalap juga….tapi balap nya hanya dengan bu Nia………..he he he….

    Comment by urang ozi — August 5, 2008 @ 2:50 am

  2. Terima kasih atas wejangannya yang panjang itu, semoga Fz tak akan bosan-bosannya memberi wejangan dan semangat padaku.

    Comment by poponsaadah — August 5, 2008 @ 7:58 am

  3. Kudu diajar ngajinakeun kudu na teh ka Winetou sigana mah yeuh supados langsung ngacirrrrrrr….. ;) )

    Comment by Debu Jalanan — August 8, 2008 @ 6:05 am

  4. Atuda di Cimahi mah teu aya suku Apache, Kang. Aya ge suku rorombeheun. Paling bade minangsraya teh ka nu kungsi touring ka Rajamandala :)

    Comment by poponsaadah — August 11, 2008 @ 5:29 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer