FENOMENA…

August 21, 2008

Kenapa Mesti Alergi dengan Kritik?

Filed under: Opini Pribadi

Oleh Popon Saadah

Sudah menjadi konsekwensi, bila lahir sebuah karya, baik itu karya sastra, karya seni, maupun karya-karya lainnya, pasti akan muncul pula kritik-kritik pada karya tersebut. Bila sebuah karya cipta manusia sepi dari kritik atau tak pernah ada yang mengkritiknya sama sekali, bisa berarti karya tersebut tidak pernah dikenal orang, atau bisa pula memang sudah sempurna, tak ada yang perlu dikritik. Tapi sesempurna-sempurnanya karya manusia tentu saja akan selalu ada kekurangannya. Oleh karena itu berbahagialah bila karya kita ada yang menanggapinya, sekalipun tanggapannya pada karya kita itu cukup pedas. Itu artinya masih ada orang yang mau peduli pada karya berikut diri kita.
Di sini saya ingin membahas sedikit tentang kritik sastra pada karya penulis pemula. Tapi sebelumnya saya kutip terlebih dahulu pendapat Gayley dan Scot (Drs. Liaw Yock Fang, 1970 pada Drs Atar Semi), kritik sastra adalah kegiatan:
1. Mencari kesalahan (fault-finding),
2. Memuji (to praise),
3. Menilai (to judge),
4. Membandingkan (to compare), dan
5. menikmati (to appreciate) sebuah karya sastra.
Pendapat seorang ahli tersebut di atas bila diuraikan satu persatu tentu saja akan sangat panjang. Untuk itu saya hanya akan membahasnya secara sekilas serta akan saya uraikan menurut interpretasi saya sendiri. Kritik jenis memuji, menilai, membandingkan, juga menikmati biasanya tidak terlalu merisaukan para penulis yang karyanya dikritik. Oleh karena itu bahasan selanjutnya difokuskan pada jenis kritik mencari kesalahan (fault-finding).
Para penulis yang bijaksana akan sangat berharap karya-karyanya ditengok orang dan dikritik (dicari kesalahan dan kekurangannya), sepedas apa pun kritik itu pada karyanya. Sebab kritik pedas bisa diibaratkan obat bagi orang yang sedang sakit. Bila obat tersebut ditelan, insya Allah akan menyembuhkan si sakit. Bila kritik itu diterima dengan lapang dada, insya Allah akan memperbaiki karya-karya seseorang selanjutnya. Tapi bagi pengarang yang berpikir picik, kritikan yang jujur dan to the point (termasuk kritik jenis fault-finding) akan dianggapnya sebagai cacian, makian dan upaya seseorang untuk mencoreng nama baiknya. Biasanya hal ini terjadi pada para penulis pemula yang tak mau maju dalam berkarya. (more…)

August 19, 2008

Kekasih yang tak Dianggap

Filed under: Melirik Tembang

By: Pingkan Mambo

Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu
Aku sang bulan tak menerangi malammu
Akulah bintang yang hilang ditelan kegelapan

Selalu itu yang kau ucapkan padaku

reff:
Sebagai kekasih yang tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba mengalah
Menahan setiap amarah

Aku sang bulan tak menerangi malammu
Aku lah bintang yang hilang ditelan kegelapan

Back to Reff:

Sebagai kekasih yang tak dianggap
Aku hanya bisa mencoba bersabar
Ku yakin kau kan berubah

Back to Reff:

August 16, 2008

Tentang Seorang Muridku

Filed under: Profil Sahabat

T\'nie

Waktu memang begitu cepat berlalu, seperti anak panah yang sengaja oleh seseorang dilepas dari busurnya. Bahkan mungkin kecepatan waktu yang kita lalui setiap hari bisa melebihi kecepatan gerak anak panah yang terlempar dari busurnya itu. Terasa baru kemarin sore saya menjalani hari-hari pertama duduk di bangku SMA, SMA Cimindi yang sekarang berubah nama menjadi SMA 13 Bandung. Terasa baru kemarin sore saya menjalani masa orientasi untuk diplonco terlebih dahulu oleh kakak-kakak kelas di sekolah tersebut. Yang masih saya ingat, pada waktu itu semua siswa baru diwajibkan tunduk pada semua perintah kakak-kakak kelas yang sok berwibawa itu. Saya masih ingat, waktu itu semua siswa yang masih tebal rasa takutnya pada yang lebih tua diwajibkan membawa gula merah dengan ketinggiannya harus pas berukuran 5 cm setiap hari selama MOS. Bila ukuran tingginya kurang atau lebih dari yang ditentukan, pasti para siswa baru itu kena hukuman, berdiri di depan teman-temannya untuk bernyanyi atau melakukan instruksi lain dari para seniornya. Untuk siswa perempuan diwajibkan pula menggunakan pita yang terbuat dari sumbu kompor di rambutnya –pada waktu itu busana jilbab (kerudung) belum memasyarakat di kotaku, mungkin juga di seluruh pelosok indonesia.
Sekarang, peristiwa itu dialami pula oleh anakku di tempat yang berbeda, di SMAN 1 Cimahi. Berbeda pula tata cara pelaksanaannya, tapi intinya sama, yaitu dalam rangka perpeloncoan! Barangkali tujuan yang sebenarnya dari kegiatan itu adalah melatih mental para siswa baru agar menjadi siswa-siswa yang tangguh dan bersemangat tinggi dalam menimba ilmu di sekolah tempatnya belajar. (more…)

August 8, 2008

Sepatah Kata Dariku

Filed under: Ungkapan Perasaan


KomenKu.com - Komen dari Aku untuk Kamu
Visit Komenku.com - Komen dari Aku untuk Kamu - Indonesia Comment Graphic Blog untuk teman-teman kamu!

August 6, 2008

Indahnya Kaligrafi

Filed under: Sejenak Merenung

www.geocities.com

August 5, 2008

Mioku Belum Jinak Juga

Filed under: Profil Sahabat

tijuralit (korosak gubrag)

Hari Senin, 4 Agustus 2008 saya meliburkan diri, tidak mengikuti upacara bendera di sekolah seperti biasa serta tidak hadir di kelas 9F dan 9G. Saya terpaksa mengambil cuti karena cedera kaki. Malam tadi saya terguling dari Mio yang begitu susah dijinakkan itu. Body-nya yang berat menimpa dan menindih kakiku hingga kaki kananku bengkak kesakitan. Padahal ketika saya akrabi dia di lapangan sepak bola, dia sudah mulai tunduk padaku, mau diajak berkeliling memutari lapangan beratus kali. Hingga instrukturku berani memindahkan tempat latihanku ke sekitar komplek di mana rumahku berada.
Rupanya saya masih harus belajar tentang karakter mahluk bermesin itu. Dia paling suka diperlakukan sedemikian rupa, si penunggangnya harus bersikap tenang tidak panik, serta selalu siaga dengan rem dan kaki yang kukuh. Ternyata pada diriku belum ada kesiagaan dan kekukuhan itu, selalu merasa kaku setiap menghadapi tikungan.
Saya masih harus bersabar mengakrabinya sampai dia menjadi jinak, seperti jinaknya Si Bawuk kuda kepunyaan Annelies pada novel ”Bumi Manusia” buah tangan Pramoedya. Saya harap ”kudaku” itu segera menyukaiku dan patuh padaku, seperti suka dan patuhnya Si Bawuk pada Annelies. Kata temanku, butuh waktu untuk menjinakkan kuda bermesinku. ”Suatu saat dia akan segera berada di bawah kendalimu, itu pasti!” Katanya memberi semangat, menghilangkan keragu-raguan dan keputusasaanku.
Untuk memulihkan kakiku yang terasa sangat sakit itu, terlebih-lebih bila digerakkan, saya memanggil tukang pijit, seorang ibu yang memang berprofesi sebagai tukang urut. Pada hari itu saya pasrah menyerahkan kaki dan segenap tubuhku padanya untuk di-massage, agar urat-urat yang tegang dan bengkak karena terkilir tadi malam kembali ke tempatnya semula. Bau minyak walikukun menyelimuti seluruh tubuhku, terasa hangat tapi baunya agak menyengat.
Ada yang saya suka dari pribadi si ibu tukang urut ini. Dia yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dariku, ketika tangannya sedang asyik bekerja pada tubuhku selalu mengajakku berbicara tentang kebaikan. Dia menasihatiku tentang berbagai hal yang berkaitan dengan seluk beluk kehidupan kita sebagai insan. Satu lagi yang saya suka darinya, ketika sedang melaksanakan tugasnya ini, dia tak henti-hentinya berkomat-kamit memanjatkan do’a pada Yang Maha Kuasa. Saya yang sangat percaya pada kekuatan do’a yang menurutku ikut menopang kehidupan manusia, merasa tentram ketika dia mendo’akanku dengan kalimat-kalimat Qur’an beserta terjemahan versi dia sendiri.
Alhamdulillah bagian kaki yang bengkak terasa berkurang rasa sakitnya setelah disentuh oleh tangannya. Badanku terasa ringan setelah diluruskan urat-uratnya. Untuk kemudian saya harus kembali berakrab-akrab dengan tungganganku yang masih liar itu nanti malam. Tidak boleh kapok, kata instruktur. Untuk mencapai sesuatu itu butuh perjuangan. Itu artinya, untuk bisa mengendarai ”kudaku” itu, saya harus mau jatuh bangun dan babak belur terlebih dahulu, serta harus berani menghadapi berbagai rintangan. Memang semangatku tak boleh redup, sebab harus seperti itulah barangkali hakikatnya kita menjalani hidup.

August 1, 2008

Matahariku

Filed under: Melirik Tembang

By: Agnes Monica

Tertutup sudah pintu
pintu hatiku
pernah dibuka waktu
Hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Ku harus relakanmu walau aku tak mau

Berjuta warna pelangi di dalam hati
Sejenak luluh bergeming menjauh pergi
Tak ada lagi cahaya suci
Semua nada beranjak
Aku terdiam sepi

Dengarlah Matahariku
Suara tangisan aku
Kubersedih karna panah cinta menusuk jantungku

Ucapkan Matahariku
Puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu
Menaklukkan waktu






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer