FENOMENA…

July 7, 2008

Instruktur Privatku

Filed under: Profil Sahabat

kabogoh

Oleh Popon Saadah

Sejak saya berencana dan memberanikan diri mengendarai sepeda motor bila pergi ke mana-mana, dia resmi menjadi instrukturku, ya instruktur dalam hal mengendarai sepeda motor itu.
Dari awal dia sudah memprediksi, saya akan lambat dalam menguasai seluk beluk berkendaraan roda dua ini, karena selama hayat dikandung badan saya pun belum pernah bersepeda. Tapi dia tetap memberi semangat bahwa saya pasti bisa dan lancar mengendarainya bila rajin berlatih.
Saya baru sadar, ternyata dia itu seorang instruktur yang baik, disiplin, tegas, dan tak kenal lelah. Dia adalah motivator saya nomor satu untuk selalu maju. Dia paham betul, dalam beberapa hal saya harus diberi spirit, diingatkan, diajak, atau bila perlu harus dipaksa. Begitu pun dalam berlatih mengendarai sepeda motor ini. Dia selalu mengingatkan dan mengajak saya, tak peduli saya sedang tidur nyenyak. Pada saat itu juga saya harus bangun dan bergegas duduk di atas sepeda motor. Katanya, berlatih apa pun itu harus dilaksanakan dengan kontinyu. Berhenti sehari saja, motorik kita akan terasa kembali kaku.
Latihannya dilakukan pada malam hari selepas Magrib atau selepas Isa, di jalan yang sepi dan jauh dari rumah biar tak ada yang mengenali kami berdua, karena bagaimana pun rasa malu saya itu ada, hari gini masih belajar sepeda motor!
Saya yang seumur hidup belum pernah tahu bagaimana caranya mengendalikan stang sepeda dan sepeda motor ini dipaksanya untuk berani. Ya, memang kata orang-orang modal dasarnya harus berani. Langkah awal dia menyuruh saya untuk memboncengnya. Stang sepeda motor dipegang berdua. Dia membimbing saya dengan penuh perlindungan.
Pelajaran kesatu adalah mengenal teknik mengatur gas dan mengerem. Saya ikuti dan patuhi saja perintahnya. Karena masih dalam lindungan badannya yang besar itu, saya merasa ringan-ringan saja melaju dengan sepeda motor itu di jalan aspal yang ada juga polisi tidurnya. Saya kira mudah juga belajar mengendarai sepeda motor ini, malah terkesan menyenangkan. Bolak-balik di jalan yang sepi sepanjang kira-kira 500 meter.
Tak terasa seminggu sudah saya berlatih di tempat ini. Saya jadi hapal dengan kehidupan malam di sepanjang jalan ini, seperti: orang gila yang badannya tinggi kurus berambut gimbal sebahu yang selalu lewat dengan tak acuhnya. Tukang bubur kacang yang selalu lewat tepat waktu pada jam 19. Tukang mie goreng yang keluar dari sebuah gang pada setiap jam 21. Studio musik yang selalu ramai dikunjungi oleh para ABG. Para satpam yang sukanya nangkring di depan SMKN 4 Cimahi dan cukup ditemani oleh lampu yang sinarnya remang-remang.
Pada saat saya terlihat sudah paham dengan rem dan gas, Pak Instruktur mengajak saya ke jalan yang sedikit ramai, jalan menuju gedung Pemkot Cimahi yang turun naik itu. Ternyata seru juga. Di tempat itu saya ikut berseliweran dengan kendaraan lain di jalan yang semarak oleh berpuluh lampu kendaraan dan lampu jalanan. Rasanya saya seperti orang yang sudah mahir bersepeda motor, bisa balapan dengan mereka yang kebetulan melaju satu arah. Padahal stang masih belum dilepas sepenuhnya, hanya sekali-sekali saja dilepas sedikit-sedikit.
Kadang-kadang istrukturku itu sedikit bawel, karena saya lupa pada sarannya, seperti mengatur gas yang tidak tetap, atau lupa mengerem, sehingga sepeda motor bablas ke tempat yang tak dikehendaki. Masalah yang sulit diatasi adalah rasa nervous saya setiap berhadapan dengan mobil, apalagi truk dan bus, juga ketika menghadapi pejalan kaki. Sontak saja sepeda motor saya oleng.
Hari keenam belas, di jalan yang sepi kami terperosok juga ke dalam parit, menabrak sebuah pohon bunga matahari. Alhamdulillah saya baik-baik saja, tak kurang suatu apa, tapi tidak dengan instrukturku itu. Kulit betisnya bagian bawah melepuh terkena knalpot sepeda motor yang entah berapa ribu derajat celcius panasnya. Tapi dia tidak mengeluh juga tak mempersoalkannya. Malah semakin bersemangat mengajak saya untuk berlatih di lapangan sepak bola.
Nah di lapangan sepak bola inilah baru terasa, bahwa mengendarai sepeda motor itu ternyata sangat sulit. Di lapangan terbuka ini, saya dilepas olehnya. Tidak dilindungi dan tidak dibimbing lagi. Tega benar dia! Di tempat inilah saya betul-betul berjuang mempertahankan keseimbangan yang sangat sulit saya dapatkan. Di lapangan terbuka inilah berkali-kali saya diomeli sang instruktur karena aturan yang selama ini dia terapkan saya langgar. Dengan dilepas begitu saja, saya jadi cepat panik. Boro-boro ingat pada aturan-aturan mengendarai sepeda motor yang baik. Di lapangan inilah berkali-kali saya jatuh bangun, sampai-sampai badan terasa remuk redam.
Saya teringat pada saran Gajahkurus waktu berbincang mengenai latihan mengendarai sepeda motor, bahwa bila sedang berlatih jangan lupa memakai helm dan sepatu untuk pengamanan diri. Sarannya sangat berguna pada saat ini. Paling tidak dengan dua buah alat pengaman itu saya terhindar dari cidera kepala dan telapak kaki.
Duh, tahap berlatih saya sudah sampai pada medan berat dan ujian yang tersulit. Tapi saya tak boleh menyerah, kata instruktur. Semua tahap latihan harus dilewati sampai tamat.
Ketika menulis artikel ini pun badan, tangan, dan jari-jari saya masih ngilu, karena beberapa kali terbanting atau terpelanting dari atas motor ke tanah lapang yang rumputnya jarang. Saya jadi berpikir, kenapa sepeda motor itu didesain seperti itu? Kenapa tidak diberi roda tiga saja di bagian belakangnya seperti sepeda anak balita? Tapi saya berpikir lagi, masa saya harus kalah oleh mereka yang sudah mahir berkendaraan roda dua yang umurnya jauh di bawah saya. Masa saya harus kalah oleh monyet-moyet yang ada di sirkus-sirkus yang begitu terampilnya menggunakan sepeda yang jelas-jelas rodanya dua juga. Bukankah kita bisa berdiri di atas kaki sendiri pun karena latihan?
Yang jelas, instruktur setiaku itu bukan sedang menghukum atau menyiksaku dengan teknik dan metode mengajarnya, tapi sedang menanamkan kemandirian, keberanian, dan keseimbangan.
Saya tahu itu, tapi…badan saya sakit semua Pak Istruktur!

8 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2008/07/07/instruktur-privatku/trackback/

  1. Selamat berlatih ya bu, jangan bosen, dan jangan kapok walaupun pernah jatuh. Balita yang sedang belajar jalan lelengkah halu pun mengalami hal serupa, gebut deui gebut deui jatuh, piraku kalah sama balita hehehe.
    Dan sekali lagi jangan lupa, helm, sepatu dan jaket! Jangan pake helm batok, itu mah tidak safety atau pake helm semata-mata agar nggak ditilang Polantas. Pakailah helm yang memenuhi standar keselamatan (full face), untuk keselamatan dan kenyamanan berkendara.

    Comment by gajah_kurus — July 7, 2008 @ 3:42 am

  2. Selamat deh yang sudah bisa naik motor, saya sendiri nggak bisa naik motor, habis disana motor itu di pakenya hanya musim panas doang. abis musim dingin mah wah boro2 naik motor. nyetir mobil juga kalau nggak ada alat pemanas di mobil nggak bakalan bisa di kendarai tuh mobilnya. yah lebih baik bisa nyetir mobil aja dr pada nyetir motor. Dan juga disana mah motor nggak banyak. Sekali lagi selamat yang sudah bisa nyetir motor, ayoh semangat,,,,,,,,,,masa dalam soal computer dan blogging pinter…..nyetir motor juga harus pinter dong…..GOOD LUCK.

    Comment by Fz — July 7, 2008 @ 5:19 am

  3. Terima kasih atas dorongan morilnya, Pak Usep. Saya akan ingat selalu saran-saran berharga itu.

    Comment by pop_ice — July 7, 2008 @ 6:03 am

  4. Lho Fz, blogging mah ga usah pake tenaga kuat atuh, ya pasti bisa lah. Tapi motor? Ala mak…beurat pisan :) tapi ma kasih banget deh atas ucapan selamatnya.

    Comment by pop_ice — July 7, 2008 @ 6:05 am

  5. weleh weleh…baru sadar punya instruktur yang sangat baik yah….jadi selama ini tidak sadar kitu?

    Comment by Debu Jalanan — July 8, 2008 @ 5:51 am

  6. Kadang sadar kadang pingsan :)

    Comment by pop_ice — July 8, 2008 @ 6:30 am

  7. Ah pop ice kamu ini ada2 saja…….masa ada kadangnya pingsan???? do u know u have the best instructure in ur life…please becareful …….. look after him……..

    Comment by URANG OZI — July 8, 2008 @ 11:23 pm

  8. Itu kan cuma berkelakar, Fz. Kita harus punya sense of humor yang tinggi lah, biar tak cepat tua :)

    Comment by pop_ice — July 9, 2008 @ 12:08 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer