FENOMENA…

July 31, 2008

Surat untuk Tokoh Ceritaku

Filed under: Ungkapan Perasaan

Kepadamu di singgasana yang tak akan pernah bisa kurengkuh dengan tangan lahirku, selamanya.

Temanku,
Engkau akan selalu menjadi lukisan indah yang terpajang di dinding marmer berkilat, eksotik. Dirimu, jiwamu, keseluruhanmu selalu memberi beribu inspirasi untukku, setiap hari. Engkau adalah nyanyian merdu mendayu-dayu, yang selalu membawa imajinasiku ke lembah indah belantara citra.
Di dunia fiksi, penaku akan selalu tertuju padamu, Si Tokoh yang tak akan pernah tergantikan oleh orang lain karena keunikannya. Tinta penaku akan tiba-tiba menebal bila kutulis nama seorang tokoh perwujudan sosok dan jiwamu. Walau mungkin kau tak pernah tahu hal itu.
Dan engkau akan selalu begitu, hanya seorang tokoh yang hidup dalam impian-impianku, angan-anganku, dan cerita-cerita yang aku tulis dan sengaja kupersembahkan untukmu.
Sangat berlebihan bila anganku mendambakan lebih dari itu, sebab ternyata kita berdua diciptakan bukan untuk berpasangan, tapi sebagai mahluk-mahluk nyata yang hanya direstui dan diperbolehkan berteman.
Di dunia bukan fiksi engkau adalah sosok yang bersahaja. Aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kepribadianmu, karena pasti ada yang keliru. Walau pun telah beberapa tahun tak henti-hentinya aku selalu menerka-nerka semuanya tentangmu, tak akan pernah cukup untuk mengenalmu. Semakin banyak aku tahu sifatmu, semakin banyak pula yang tak aku mengerti engkau, temanku.
Bila aku rindu padamu, rindu pada tokoh cerita yang aku ciptakan sendiri, aku tulis coretan-coretan seperti ini, di mana saja, di buku harian, di buku catatan rapat dinas, di buku agenda kerja harianku, dan di webblog, sebagai ungkapan rasa rindu itu padamu seorang diri.
Aku sangat berharap, pertemanan kita, di dunia fiksiku, di dunia mimpiku, di dunia citraku, dan di dunia nyata itu, menjelma menjadi sebuah ”keabadian”, keabadian menurut ukuran manusia biasa. Keabadian yang hanya sampai pada akhir hayat dikandung badan.

Aku yang tak pernah bosan menjadikanmu sebagai tokoh ceritaku,

:)

July 27, 2008

Mengenal Lebih Dekat Seorang Penjilat

Filed under: Opini Pribadi

Oleh Popon Saadah

Jilat, menjilat artinya menjulurkan lidah untuk merasai. Menjilat dalam arti kiasan, berbuat sesuatu supaya mendapat pujian (KBBI: 1995). Sedangkan kata penjilat berdasarkan makna di atas bisa kita definisikan: orang yang senang menjilat, mencuri perhatian atasannya supaya mendapat pangkat, jabatan, atau apapun yang bisa membuatnya senang.
Mahluk yang bernama penjilat itu tentu saja manusia biasa. Bahkan bisa saja mereka dekat sekali dengan kita. Mereka hidup berkeliaran di antara kita sebagai temannya dengan atasan kita sebagai sasaran yang akan dia jilati dengan lidahnya.
Bisa dipastikan mahluk-mahluk jenis ini selalu hadir di setiap komunitas dan di sebuah organisasi, terutama organisasi yang di dalamnya banyak menjanjikan kenikmatan uang dan jabatan. Uniknya, mahluk tersebut bisa berwujud wanita bisa juga pria. Mereka mudah dikenali, karena biasanya seorang penjilat bukanlah orang yang berkepribadian luwes (lantip), tapi individu yang bertingkah laku vulgar sampai kepada demonstratif memproklamirkan diri sebagai orang terdekat atasannya, tak peduli pada image negatif dia di mata orang lain. (more…)

July 16, 2008

Multatuli

Filed under: Profil Tokoh

Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker (1820-1887), tak pernah sirna dari kenangan kolektif orang Indonesia. Pada tahun 1838 ia datang ke Hindia Belanda (Indonesia kini) sebagai pegawai pemerintah kolonial, dan berpindah-pindah dari kantor yang satu ke kantor lainnya. Tapi pada tahun 1856, sebagai Asisten Residen Lebak, Jawa Barat, ia mengundurkan diri dengan hati yang gundah dan pikiran yang gelisah. Ia tak tega menyaksikan rakyat bumiputera diperas dan dianiaya oleh penguasa lokal, dan ia tak setuju dengan sikap pemerintah kolonial Belanda yang mendiamkan kezaliman di tanah jajahan.
Ia lalu menghunus pena, mengerahkan kata, mencoba menggugah kesadaran orang banyak. Ditulisnya sebuah roman berjudul Max Havelaar yang pertama kali terbit pada tahun 1860. Untuk sebagian, roman ini bersifat autobigorafis. Melalui karya sastera yang luar biasa ini ia membongkar praktek eksploitasi penguasa kolonial atas rakyat bumiputera, menguliti mentalitas kelas menengah Belanda, dan menyerukan keadilan. Inilah roman yang jauh melampaui tabiat medioker dan puas diri sastera Belanda pada masanya, dan segera terkenal di lingkungan Internasional. Di Indonesia sendiri, roman itu kemudian diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia dan dibaca oleh begitu banyak orang.

Dari Multatuli, Karya Moechtar

July 14, 2008

Tan Malaka

Filed under: Profil Tokoh

Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatra Barat pada tahun 1897. Setelah tamat sekolah, ia melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada tahun 1913. Enam tahun kemudian ia kembali ke Indonesia untuk menjadi guru bagi anak-anak kaum buruh perkebunan di Sumatra.
Pada rahun 1921, ia mulai dekat dengan kehidupan politik. Kedekatannya dengan Sarekat Islam dan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) membuatnya percaya pentingnya persatuan Islam dan komunis untuk menghalau politik devide et impera dari kolonial Belanda. Sejak saat itu ia terlibat aktif dalam aksi-aksi mogok atau pun perlawanan buruh di beberapa tempat. Akibatnya ia sempat dibuang ke Kupang di tahun 1922. Selain itu, ia sempat meloloskan diri ke Filipina dan Singapura.
Perjuangan Tan Malaka tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik. Semasa hidupnya ia telah menghasilkan banyak karya tulis yang berisi tentang pemikiran-pemikirannya. Kebanyakan dari karyanya itu merupakan manifestasi cita-citanya mewujudkan kelahiran Republik Indonesia melalui revolusi. Hal ini pulalah yang membuatnya menolak segala bentuk kompromi dengan penjajah, termasuk menolak perjanjian Linggarjati tahun 1947 dan Renville tahun 1948. Kabarnya ia ditembak mati pada tanggal 19 Februari 1949 saat sedang memimpin aksi melawan agresi Belanda. Jenazahnya tak pernah ditemukan karena dihanyutkan di sungai Brantas, Jawa Timur.

Dari Aksi Massa, Karya Tan Malaka

July 7, 2008

Bumi Manusia

Filed under: focus

Instruktur Privatku

Filed under: Profil Sahabat

kabogoh

Oleh Popon Saadah

Sejak saya berencana dan memberanikan diri mengendarai sepeda motor bila pergi ke mana-mana, dia resmi menjadi instrukturku, ya instruktur dalam hal mengendarai sepeda motor itu.
Dari awal dia sudah memprediksi, saya akan lambat dalam menguasai seluk beluk berkendaraan roda dua ini, karena selama hayat dikandung badan saya pun belum pernah bersepeda. Tapi dia tetap memberi semangat bahwa saya pasti bisa dan lancar mengendarainya bila rajin berlatih.
Saya baru sadar, ternyata dia itu seorang instruktur yang baik, disiplin, tegas, dan tak kenal lelah. Dia adalah motivator saya nomor satu untuk selalu maju. Dia paham betul, dalam beberapa hal saya harus diberi spirit, diingatkan, diajak, atau bila perlu harus dipaksa. Begitu pun dalam berlatih mengendarai sepeda motor ini. Dia selalu mengingatkan dan mengajak saya, tak peduli saya sedang tidur nyenyak. Pada saat itu juga saya harus bangun dan bergegas duduk di atas sepeda motor. Katanya, berlatih apa pun itu harus dilaksanakan dengan kontinyu. Berhenti sehari saja, motorik kita akan terasa kembali kaku.
Latihannya dilakukan pada malam hari selepas Magrib atau selepas Isa, di jalan yang sepi dan jauh dari rumah biar tak ada yang mengenali kami berdua, karena bagaimana pun rasa malu saya itu ada, hari gini masih belajar sepeda motor!
Saya yang seumur hidup belum pernah tahu bagaimana caranya mengendalikan stang sepeda dan sepeda motor ini dipaksanya untuk berani. Ya, memang kata orang-orang modal dasarnya harus berani. Langkah awal dia menyuruh saya untuk memboncengnya. Stang sepeda motor dipegang berdua. Dia membimbing saya dengan penuh perlindungan. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer