FENOMENA…

May 7, 2008

Curahan Hati Seorang Nenek

Filed under: Sejenak Merenung

praying

Tulisan Kiriman Seorang Teman

Panggil saya Ipah (69). Saya tinggal di pinggiran Solo. Jujur saja, di usia setua ini, tak ada lagi hal duniawi yang saya harapkan. Semua hal yang indah sudah saya nikmati. Anak-anak sudah besar, cucu pun banyak, dan semua mencintai saya. Tapi, setelah kematian suami hampir 5 tahun lalu, kekosongan mulai terasa. Memang cucu dapat membuat saya lupa pada kesendirian. Tapi ketika cucu-cucu sudah pada tidur, dan saya di kamar sendirian, kadang hidup terasa begitu lamban. Sering saya tidak dapat tidur, dan terbangun tengah malam, dan tak dapat lagi tidur sampai pagi. Sepi sekali, tak ada siapa-siapa. Kadang saya ingin ada teman bicara, yang mengerti kehidupan orang-orang tua ini, tapi siapa? Kadang saya ingin bicara dengan tetangga yang seumuran, tapi dilarang menantu. Mereka takut saya tidak tahu jalan pulang. Saya memang kadang pelupa.
Oh ya, saya tinggal bersama menantu. Setelah suami meninggal, saya ikut anak tertua, Dirah. Tapi, tak lama, tiga tahun lalu dia pun menyusul ayahnya. Jadi, kini saya hanya tinggal bersama dua cucu dan menantu.
Menantu saya baik, meski orangnya keras. Barangkali karena pekerjaannya di Dinas Pasar. Kadang dia begitu terus-terang bicara, dan mengharapkan saya tekun beribadah dan tidak usah berpikir tentang lelaki. Saya tahu dia bermaksud baik. Tapi, kalau saya main ke tetangga, jujur bukan karena ingin mencari suami, tapi sekadar berbagi teman cerita. Saya sepi. Dan cucu-cucu itu hanya menerima limpahan kasih saya, bukan kesepian saya.
Kadang saya merasa terlalu merepotkan menantu. Dengan usia seperti ini, memang tak lagi yang bisa saya kerjakan di rumah. Karena memasak pun dilarang menantu. Mencuci apalagi. Menyapu halaman pun dimarahi. Mereka takut saya tidak mampu mengerjakan itu. Padahal saya butuh kesibukan. Tapi menantu hanya meminta saya mengaji, salat, daripada mengerjakan hal-hal itu. Saya merasa hanya jadi beban, merepotkan menantu saja, terutama setelah Dirah tak ada. Pernah menantu marah karena dia melihat saya mencuci pakaian. Menurutnya, saya tak pantas melakukan itu. “Eyang, kalau ada yang lihat, apa yang dikatakan orang? Saya akan dibilang menantu yang tidak peduli pada Eyang karena membiarkan Eyang mencuci. Jadi Eyang di rumah aja, sama anak-anak. Kan lebih enak.”
Saya tahu, pasti dia beralasan seperti itu karena takut cucian itu tidak bersih. Dia pasti merasa tenaga saya yang tua ini sudah tidak kuat lagi mencuci. Kadang saya merasa tak kuat di rumah ini. Semua melarang saya melakukan apa pun. Saya sepi.
Saya ingin pergi dari rumah itu setelah Dirah tidak ada. Tapi, dua anak saya yang lain ada di Jakarta dan Kalimantan. Yang di Jakarta tinggal bersama mertuanya. Saya merasa tidak nyaman kalau menambah beban mereka. Mereka pernah menyarangkan juga agar saya tinggal di sana, tapi saya tahu alangkah tidak nyamannya ada dua orang tua di dalam satu rumah. Sedangkan anak saya yang di Kalimantan juga berharap saya di sana. Tapi saya tahu penghidupan mereka. Saya tahu mereka pasti akan berat juga menjaga nenek tua seperti saya, harus menyerahkan satu kamar di rumah mereka yang tidak seberapa besar. Saya pasti akan membuat mereka rikuh dan merasa tidak nyaman.
Kadang saya berpikir umur yang berlebih ini justru jadi siksaan. Kenapa tidak saya duluan yang dipanggil Tuhan? Kenapa harus suami dan anakku? Padahal, saya juga lebih rajin beribadah. Katanya oang yang saleh akan cepat dipanggil menghadap-Nya? Tetapi kenapa saya tidak? Sungguh, saya sudah siap untuk meninggalkan dunia ini. Saya capek. Saya tidak tahan sepi. Saya tidak kuat hanya menghitung jam, tanpa harus mengerjakan apa pun. Saya ingin dihargai. Saya tidak mau dijadikan pajangan dan barang rongsokan. Saya tidak membebani karena saya masih punya pensiun dari suami, meski menantu tidak mau menerimanya tiap kali saya berikan.
Tuhan, aku ingin bersama suamiku yang mengerti aku. Aku bosan dalam umur panjang ini. Kapan takdir-Mu menjemputku.

Cerita Ny Saripah, mantan istri Lurah di Pinggiran Solo.

Pernahkah kita merenungkan apakah kita akan seperti Ibu Saripah ini? Itulah hidup, kadang ada yang ingin panjang umur, kadang ada juga yang ingin segera kembali ke pangkuan Nya. Yang penting, tetap syukuri hidup, barangkali ya?

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2008/05/07/curahan-hati-seorang-nenek-yang-sedang-bersedih/trackback/

  1. Memang kalau udah tua kadang suka sensitip.
    kadang anak serba salah…

    Comment by putri — June 17, 2008 @ 8:44 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer