Sekedar promosi, bolehlah!

Oleh Popon Saadah
Sebuah cerita apakah itu cerita pendek, cerita bersambung, atau novel yang dipublikasikan akan mengundang tanggapan baik atau buruk dari para pembacanya. Dan hal itu dianggap biasa oleh para pengarang. Komentar dari para pembaca, baik berupa kritikan maupun sanjungan yang proporsional tentunya sama pentingnya bagi para pengarang. Sebab pada hakikatnya, sebuah cerita tak akan pernah disebut cerita tanpa pembaca. Sebuah cerpen atau novel akan menjadi benda yang tak berarti dan mati bila tak seorang pun sempat membacanya. Sebuah cerita disebut bermakna bila dibaca dan memunculkan respon dari pembacanya, meskipun respon tersebut hanya dari seorang pembaca saja, tidak lebih, misalnya. Dan cerita yang mendapat respon adalah satu kebahagian untuk penulisnya.
Begitu pun dengan saya. Saya merasa bahagia ketika tahu cerita bersambung saya dalam bahasa Sunda di blog yang lain ada yang mengomentari. Terlepas dari bermutu tidaknya cerber saya, yang pasti cerita yang saya buat dengan susah payah itu ada yang membacanya. Judul cerita itu adalah “Prasasti nu Ngancik na Ati”, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Prasasti yang Bersemayam di Dalam Hati”. Kata prasasti dalam judul tersebut bukan nama orang, tapi prasasti dalam arti yang sebenarnya, benda purbakala yang mengandung tulisan-tulisan kuno dan bermakna. Arti kiasannya adalah cinta. Cinta dalam cerita itu saya samakan maknanya dengan prasasti (benda kuno dan abadi serta bernilai tinggi yang tersimpan di dalam hati).
Pelaku utama cerita itu bernama Rinega dan Prasasti. Kedua insan ini sudah bersahabat sejak kecil hingga dewasa. Ketika menginjak dewasa itulah pada keduanya bersemai benih-benih cinta. Semakin lama semakin bergelora. Tapi keberadaan cinta masing-masing tidak muncul ke permukaan, karena keduanya sama-sama hidup dalam keragu-raguan. Ragu-ragu dalam menyatakan segenap perasaannya karena dihantui oleh rasa takut. Mereka berdua takut mencintai sahabat dekatnya itu secara sepihak atau bertepuk sebelah tangan.
Bagaimana seutuhnya kisah itu? Bagi orang yang paham betul bahasa Sunda, silahkan baca cerbernya dalam blog http://pop.blogsome.com.
Yang menjadi bahan pemikiran saya sebagai pengarangnya adalah permintaan seorang sahabat lama yang tinggal jauh di negeri orang. Dia berharap, cerita itu happy ending. Dia berpendapat bahwa hak pembacalah mendapat kebahagiaan ketika selesai membaca sebuah karya. Dia akan sangat gembira bila tokoh Rinega dalam cerita itu mendapatkan kebahagiaan hidup dengan pria pilihannya.
Saya sebagai pengarang cerber ini belum bisa menentukan apakah cerita yang saya tulis ini akan happy ending atau sad ending, sebab cerita masih dalam proses penulisan. Saya kira saya masih akan menulis beberapa episode lagi, dan tergantung mood dan ilham yang kadang-kadang berubah-rubah tak menentu. Malah bila tangan dan imajinasi saya sudah mentok dan mentok, itu artinya cerita harus segera berakhir.
Saya berpendapat, sebuah cerita itu berakhir bahagia atau berakhir sedih tidaklah terlalu penting. Yang selalu saya cari ketika membaca karya orang lain bukan bagaimana akhir cerita itu, tapi hikmah apa saja yang bisa saya dapatkan dari rangkaian peristiwa dalam sebuah cerita. Tapi setiap orang berhak punya pendapat yang berbeda. Dan saya sangat menghargai pendapat-pendapat yang tidak sejalan dengan pendapat saya sendiri.
Yang menarik untuk diperbincangkan adalah mengenai tokoh utama. Sebagian pembaca selalu mengindentikkan tokoh utama dengan pribadi penulisnya. Seperti dalam cerber di atas, tokoh utamanya bernama Rinega, tentu akan ada yang mengidentikannya dengan diri saya. Rinega adalah Popon Saadah. Padahal Rinega sama sekali bukan saya. Dia anak bungsu dengan dua orang kakak dan sangat dekat dengan pria berdarah Sunda-Batak. Sedangkan saya anak kedua yang mempunyai lima orang adik, serta belum pernah dekat dengan pria berdarah Sunda-Batak. Orang terdekat saya (suami) asli orang Sumedang.
Hanya saja seorang pengarang harus bisa mengelabui pembaca. Harus bisa meyakinkan pembaca bahwa cerita yang ditulisnya itu benar-benar terjadi. Harus bisa meyakinkan pembaca bahwa para tokohnya benar-benar hidup. Semua itu sudah menjadi tugas utama pengarang cerita.
Meskipun cerita ini bisa dikatagorikan cerita ringan, saya sebagai penulisnya tak mau ceroboh. Saya ingin menuliskannya dengan segenap kemampuan dan perasaan saya. Oleh karena itu sebelumnya saya sempat observasi dulu, bertemu dan bercakap-cakap terlebih dahulu dengan seseorang yang dipinjam karakternya untuk dijadikan tokoh utama, sempat bertanya dulu pada narasumber yang bisa digali informasinya, dan sebagainya. Ternyata menjadi pengarang juga perlu modal. Modalnya adalah keberanian. Keberanian untuk berkelana baik fisik maupun imajinasi, juga keberanian untuk menuliskannya.
Dalam proses kreatif saya, saya banyak melibatkan orang-orang terdekat. Mereka selalu saya jadikan korban petama untuk dijadikan seorang tokoh cerita sebelum mencari orang lain. Dengan begitu jangan heran bila dalam cerita-cerita saya muncul nama-nama orang yang ada di sekeliling saya. Nama Rinega dan Prasasti saya ambil dari nama murid-murid saya. Menurut saya nama keduanya terkesan unik dan enak didengar. Kadang-kadang karakter-karakter teman-teman saya juga saya pinjam. Tapi sepertinya mereka sudah tak aneh lagi dengan semuanya dan tak pernah protes, sebab mereka sudah tahu, mau komplain juga percuma, toh cerita sudah terlanjur ditulis dan dipublish oleh saya
***

Oh kitunya cara pengarang menulis. da emang meni hidup…. pelaku2 na teh. kadang2 membuat pembaca ikut hanyut dalam cerita nya …..wah hebat. itu yang saya kadang2 rasakan…..bener lo……
Comment by urang ozi — April 16, 2008 @ 4:31 am
Jangan sampai pembaca terus menerus mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa yang kita tulis.
Comment by Roban — April 17, 2008 @ 8:51 am
Yup `s. yang paling sulit adalah keberanian memulai baik itu menulis atau pun mempublikasikannya karena kadang kita tidak yakin dengan kemampuan kita.
Comment by nia — April 22, 2008 @ 2:47 am
Membaca “Prasasti nu Ngancik na Ati”, sebuah Cerita yang Hidup, membuat hidup saya jadi Penuh Cerita…
Hatur nuhun
Comment by gajah_kurus — April 29, 2008 @ 8:22 am
Aduh, anda jangan terlalu menyanjung begitu. Sebenarnya saya butuh kritikan juga, untuk perbaikan. Jika hidup adik penuh cerita, saya rasa bukan karena cerita saya itu, tapi karena dihiasi oleh pengaruh orang-orang terdekatmu, anak-anak dan istrimu. itu pasti!
Comment by pop_ice — April 29, 2008 @ 11:49 pm