FENOMENA…

March 27, 2008

Anak Adalah Ujian

Filed under: Sejenak Merenung

janin janin baby

Oleh Popon Saadah

Suatu hari seorang teman berhalangan hadir pada kegiatan pertunjukan SUDONG (Sulap dan Dongeng) di Gedung Arhannud Sriwijaya Cimahi. Kabarnya dia terjatuh, tangan kirinya cedera ketika sedang berlatih mengendarai motor. Lalu kami (guru-guru Bahasa Sunda) menengoknya di rumah ibunya di Cijerah. Alhamdulillah, keadaan dia baik-baik saja, hanya cedera sedikit. Tangan kanannya masih diikat selendang (diais) karena terkilir.
Yang membuat kami terhenyak kemudian merasa sangat sedih yaitu pada saat menatap anaknya yang sedang diasuh oleh kakek si anak. Ternyata teman saya itu tengah diuji kesabarannya oleh Allah swt. Anak laki-laki semata wayangnya tidak tumbuh normal. Sebelumnya, ibunya (teman saya itu) pernah juga bercerita kepada kami tentang hal ini. Tapi kami tak mengira kelainan pada anaknya itu sebegitu parahnya. Kami kira hanya cacar-cacat sedikit saja.
Anak yang tampan, berkulit putih dan berambut tebal itu sudah berumur 4 tahun, tapi terlihat seperti berumur satu tahun. Gerakan motoriknya tak terarah dan tak pernah diam. Harus selalu dijaga dan dilindungi. Bila dibiarkan begitu saja tanpa ada yang memegangnya dikhawatirkan ada organ tubuh yang terlipat atau terkilir ketika bergerak. Bila diletakkan di atas kursi tanpa ada yang mengawasi, bisa jatuh terguling.
Matanya itu ya Allah, biji matanya tidak bisa terlihat utuh. Kelopak matanya tak bisa terbuka lebar. Jadi si kecil itu entah bisa melihat entah tidak. Kata dokter yang merawatnya, dia itu sudah terkena penyakit katarak sejak lahir. Ah, saya benar-benar tak tega menyaksikan semua ini. Anak yang seharusnya sekarang sedang bermain riang gembira dan lincah berlari ke sana kemari, masih harus terus menerus dijagai oleh orang tuanya dan tak boleh lengah.
Dia bisa dibilang cacat ganda, sebab hampir di semua organ tubuhnya terdapat gangguan. Di usianya yang empat tahun ini dia belum bisa berdiri tegak, apalagi berjalan, serta belum bisa berbicara. Jika sekarang dia bisa berdiri meskipun harus dipegangi, itu karena hasil terapi.
Makanan dan minumannya pun tidak boleh sembarangan. Harus menggunakan produk tertentu dengan harga yang mahal.
Kata ibunya, dia baru saja selesai menjalani operasi katarak. Setahun kemudian dia harus kembali menjalani operasi katarak pada matanya yang satu lagi. Selain itu, jantungnya pernah bocor. Tapi dengan pengobatan alternatif, penyakitnya itu bisa diatasi.
Pada mulanya orang tuanya tidak pernah menyangka akan menghadapi masalah besar seperti sekarang. Hari pertama dilahirkan, awal dari semua penderitaannya. Hari demi hari perkembangan fisik maupun mental si kecil sangat lambat. Berbulan-bulan pertumbuhan si bayi mungil itu tak ada kemajuan yang berarti. Setiap saat hanya terbaring dan terbaring di tempat tidurnya (ngalempréh). Ketika orang tuanya konsultasi dengan dokter, diketahuilah bahwa si anak menderita kelainan atau tidak normal.
Ada hipotesis, ketika di dalam kandungan sang janin terkena virus Toksoid atau Rubella. Si ibu masih ingat, waktu dia mengandung anaknya itu, dia sering mengunjungi tetangganya yang memelihara kucing. Dan di rumah tersebut teman saya sering melihat bulu-bulu kucing bertebaran di mana-mana. Bisa saja kelainan pada si anak disebabkan oleh serangan virus yang ditularkan lewat kucing. Tapi itu baru sebuah perkiraan atau kesimpulan. Argumen Si Ibu entah betul entah tidak, masih perlu dibuktikan oleh penelitian ilmiah.
Yang sangat mengganggu pikiran saya adalah, jika hal ini menimpa saya, apakah saya akan siap menghadapinya? Tak terbayangkan. Untuk meninggalkan buah hati barang sesaat dalam keadaan seperti itu rasanya tak tega. Mungkin saya tak akan pernah pergi ke mana-mana, ingin selalu berada di sisinya, ingin mendekapnya selamanya. Mungkin air mata saya tak akan pernah berhenti mengalir, dan itu artinya saya tidak sabar apalagi tabah. Baru menghadapi anak sakit demam saja hati ini rasanya seperti menghadapi kiamat.
Barangkali karena terpaksa oleh keadaanlah teman saya itu bisa sedikit tegar. Di sekolah dia masih bisa berkelakar. Tak terkesan ada sesuatu yang disimpan, dia masih bisa menapaki hari-harinya yang penuh cobaan itu dengan ringan.
Lalu bagaimanakah nasib dan masa depan si anak? Bisakah dia pulih dengan hanya mengandalkan metode pengobatan terapi seperti yang tengah dijalaninya sekarang ini? Bisakah dia hidup mandiri kelak di kemudian hari? Wallahu ‘alam. Semua itu di luar kekuasaan manusia. Dan hidup mesti terus berlanjut, tak bisa berhenti di satu waktu. Selama raga bersatu dengan sukma, kebahagiaan harus terus menerus diperjuangkan. Mau tak mau, suka atau tidak, musibah harus dihadapi dengan tabah.
Ketika tiba di rumah, saya lihat keempat anak saya baik-baik saja. Si Sulung, Si Tengah, Si Pangaisbungsu, dan Si Bungsu tengah menantikan kedatangan ibunya yang suka berlama-lama di luar rumah. Saya tatap mereka satu persatu, saya dekap Si Bungsu sambil bergumam, “Alhamdulillah ya Allah, saya telah diberi kenikmatan yang tiada taranya. Nikmat menjadi ibu dari empat orang anak yang sehat wal afiat. Maafkanlah hamba-Mu yang lalai dan menyia-nyiakan anugerah yang berlimpah ini. Dalam surat Ar- Rahman Engkau berkali-kali berfirman, “Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan.” (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2008/03/27/anak-adalah-ujian/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer