Interupsi

Sudah lama juga ya kita menjalin persahabatan ini, Kakak. Tapi rasanya kok seperti baru kemarin sore. Banyak kesan yang kita goreskan pada lembaran hari-hari yang pernah kita lewati. Jika lembaran itu kita kumpulkan, lalu kita bundel menjadi sebuah novel, mungkin akan tampak tebal.
Bedanya, novel beneran isinya penuh konflik serta jalan ceritanya kompleks, kisah kita mah damai-damai aja. Bener nggak? Coba ingat-ingat, pernahkah Kakak ngambek sama aku? Asa belum pernah ya? Padahal aku merasa, aku téh banyak salahnya, banyak bikin jengkel, banyak tuntutan, banyak permintaan dll.
Tapi Kakak tetap saja Kakak. Tak berubah jadi ayam atau kodok, misalnya. Pembawaan Kakak terlalu tenang, setenang musik klasik yang mengalun mengiringi sepasang mempelai yang tengah melantai. Akhirnya, aku yang pada mulanya mau ngambek suka malu sendiri. Dan setiap kali ada riak emosi, melihat sikap kakak yang bijaksana dan menyejukkan hati, aku selalu kalah telak.
Sepertinya kakak tahu betul sifatku, melebihi tahunya aku tentang diriku sendiri. Kakak paham betul bahwa dalam beberapa hal aku tak bisa dicegah. Kalau ada maunya, pengennya disetujui melulu. Jadinya Kakak tak pernah melarang. Juga hebatnya Kakak tak pernah menggurui. Padahal sudah sepantasnya Kakak memberi arahan dan nasehat padaku, karena dari segi pengalaman dan pengetahuan, Kakak sangat jauh di atasku.

Sebenarnya pertemuan kita di alam nyata jarang-jarang saja kan. Dan berlaku secara periodik, bukan secara rutin. Bila satu hari kita bertemu, itu hanyalah sebuah kebetulan yang memang direncanakan. Kebetulan di sini artinya rencana pertemuan itu mendadak, karena sama-sama ingin menghadiri sebuah acara, bukan dirancang jauh-jauh hari. Dan sepertinya kita sudah sepakat, bahwa yang penting dari pertemuan itu bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya. Apalah artinya sering bertemu bila tak menghasilkan apa-apa. Tapi begitu berartinya sebuah pertemuan, bila di dalamnya ada perubahan pada pribadi masing-masing secara tak kasat mata, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak banyak kenalan menjadi bertambah relasi, dari tidak faham akan sebuah komunitas menjadi mengerti, dsb.
Aku semakin menyadari, rupanya kita mempunyai banyak kesamaan, terutama dalam hal sifat dan prinsip hidup, di samping perbedaannya. Ternyata kita sama-sama senang berada di tempat ramai dengan situasi formal serta berbau seremonial. Kita sama-sama senang berkonsentrasi pada suguhan acara yang ada di hadapan kita. Kita sama-sama senang menghayati dan menikmati kehadiran sahabat kita yang jarang bertemu ini dengan banyak diam dari pada banyak berkata-kata. Kita sama-sama berpendapat bahwa: selama sepak terjang kita tidak merugikan orang lain, kenapa harus pusing? Jalani saja apa adanya. Kita tak pernah takut akan citra orang tentang pertemanan kita berdua. Meskipun tak jarang ada anggapan yang aneh pada pertemanan kita ini. Pengalaman lucu yang pernah aku alami saat bersamamu, aku disangka sebagai partnermu (teman spesialmu) ketika tengah berada di sisimu. Busyeeett!! Tapi setelah tahu posisi kita, kayanya mereka mengerti dan menghargai sikap kita, terlihat dari cara santun mereka ketika merespon penjelasan aku atau keterangan Kakak.
Hanya seorang pengangguran nun jauh di sanalah yang hobby-nya usil dan usil akibat cemburu padamu. Berbicara tentang dia, suatu hari bisa saja dia usil dengan memakai topeng atas nama si anu, besoknya atas nama si ini, besoknya entah memakai nama apa lagi menyusup ke dalam blog-blogku. Siapapun namanya dan seburuk apa pun bentuk topengnya, sangat mudah dikenali, sebab pikiran dan karakternya sejahat virus komputer, Merajalela! Kata temen aku, cemburunya dia itu sudah sampai pada level: berpotensi untuk membunuh! Heh! Siapa takut??
Alhamdulilah, sahabat-sahabatku, rekan-rekan kerjaku, para kolegaku, apalagi murid-muridku tak ada yang sejahil itu. Ya Allah, semoga kami semua dijauhkan dari penyakit kejiwaan berjenis apa pun, termasuk penyakit skizoprenia itu!
Sekian dulu ya interupsiku, Kakak. Salam hangat selalu untukmu.
***

Kalau dia ngambek…kereta api juga pasti berhenti tuh….di stasiunnya
Comment by Debu Jalanan — March 17, 2008 @ 2:59 am
Mau ngambek, mau lebih dari ngambek, mau berenti ngambeknya, emang gue pikirin, Kakak!
Comment by Si Adik — March 17, 2008 @ 8:55 am
pacantel nya
Comment by nety — June 24, 2008 @ 6:18 am