Sepucuk Surat untuk Sahabat

Hai engkau yang selalu mengerti aku dan sabar, apa kabar? Semoga hari ini masih seperti kemarin, fit dan segar.
Pada saat membaca surat ini, bisa dipastikan Kakak tengah berada di ruangan nyaman, dekat jendela kaca, dengan kursi dan meja kerja yang tertata rapi, menghadapi komputer pribadimu yang setia itu.
Hai engkau yang tak pernah marah, kali ini seperti biasa aku ingin berbagi cerita denganmu tentang sesuatu. Sesuatu yang membuahkan kesimpulan-kesimpulan. Kesimpulan yang membuatku jadi banyak tahu, bahwa di dunia ini ada juga ya mahluk yang seperti itu.
+ Mahluk seperti apa?
- Mahluk berwujud manusia lucu! Tapi lucunya bukan karena dia badut, bukan pula tokoh wayang Si Cépot atau tokoh cerita Sunda Si Kabayan, dia bukan orang yang berprofesi sebagai joker, dia sama seperti kita juga, seorang chatter.
+ Kenapa dia lucu?
- karena kelakuannya bak anak kecil, suka uring-uringan teu puguh.
+ Mungkin karena faktor usianyalah dia jadi seperti itu?
- Aku tak tahu, mungkin juga begitu, yang jelas dia selalu ingin disanjung dan dinomorsatukan oleh siapa pun. Ingin dianggap pacar oleh setiap chatter perempuan. Padahal umurnya sama dengan usia bapak-bapak kita, lho.
Karena kurang kerjaan, hobbynya usil dan usil setiap hari. Kasihan kalau dipikir-pikir. Andai dia sadar dan introspeksi, justru semakin dia usil, semakin terbukalah karakter aslinya yang buruk itu. Dalam keusilannya dia tidak menggunakan nama aslinya, tapi memakai topeng bertuliskan Burujul, lucu ya? Nama itu sesuai banget dengan tingkah polahnya yang suka buru-buru tapi akhirnya ngajulaeu.
+ Kenapa dia tak memakai nama aslinya ketika sedang usil?
- Karena dia memang pengecut, he is a chicken, not a horse (binatang favoritku yang elok lagi gagah perkasa itu). Dia selalu menabuh genderang perang dengan keusilannya itu, tentu saja dia mengajak perang di alam maya. Seekor ayam mana berani berkelahi di dunia nyata! Yang akhirnya hatiku semakin tergelitik, ingin selalu tertawa.
Tahu tidak Kakak, E-mail dan blog-blogku pernah di-sweeping-nya, entah apa yang sedang dia cari, aku sendiri tak mengerti. Waktu itu aku sengaja memberikan semua “kunci”-ku padanya dengan maksud menguji sampai di mana keusilannya. Ternyata Kakak, dia itu rajanya usil!! Sekarang setelah aku tahu betul belangnya, aku gembok semua blog dan e-mailku. Tapi biarlah, lupakan semuanya, anggap saja dia tidak ada, karena kita berdua sangat tak berkepentingan dengannya.
Oh ya Kakak, aku sedang menulis cerita lagi, setelah sekian lama tertunda karena tak ada inspirasi. Pertemuan kita tempo hari itu, dan kesempatanku bisa duduk dan minum secangkir kopi panas di ruang kerja pribadimu, serta pengalamanku bertemu teman-temanmu itulah yang menyulut api semangatku untuk menulis lagi. Engkau memang sumber inspirasi.
Terima kasih ya atas semuanya. Salam hangat untuk keluarga Kakak di rumah.
***

Ruangannya sudah pindah tuh….yang terlihat bukan jalanan yang berdebu lagi, tapi cuma tembok dan suasana baru yang akan menuntut untuk siap bertempur
Comment by Debu Jalanan — March 17, 2008 @ 3:04 am
Selamat menjalankan tugas di ruangan yang baru. Semoga suasana tempat baru itu memberimu semangat dan gairah yang baru pula dalam bekerja
Comment by Si Adik — March 17, 2008 @ 9:01 am
Bade nguningakeun, pami dipercanten eta burujul teh sanes sim kuring…….
Comment by urang ozi — April 2, 2008 @ 2:17 am
Sasaduna ulah ka abdi, tapi ka Kang Budi Priatna.
Comment by pop_ice — April 2, 2008 @ 7:17 am
nu mana tea nya Budi Priatna teh?
Comment by Debu Jalanan — April 2, 2008 @ 8:39 am
Sigana Budi Priatna mah tos hilapeun ka sim kuring, nya pangnyaurkeun wae ka anjeuna, yen sim kuring sasadu…..
Comment by urang ozi deui — April 2, 2008 @ 9:13 am
Budi Priatna teh nu kasep tea geuning…nu kawas Arjuna Sasrabahu…..
Comment by pop_ice — April 3, 2008 @ 3:55 am