Pendapat Saya Tentang Dia
Oleh Nani Marlaeni
Tiba-tiba saya merasa perlu menuliskan semua ini, untuk kemudian diberikan kepada teman karib saya, Téh Popon. Tulisan saya ini berupa penilaian mengenai dirinya ditinjau dari kacamata saya sebagai sahabat dekatnya, sejak kami sama-sama kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah IKIP, Bandung. Harapan saya, setelah dia selesai membaca tulisan ini, dia jadi lebih paham akan semua peristiwa yang terjadi selama ini, peristiwa yang sangat pribadi yang pernah dan sedang dia alami. Harapan saya pula, semoga dia bisa menghadapinya dengan kepala dingin, dan hati yang tenang.
Saya juga termasuk pembaca setia setiap goresan tangannya, setiap gagasan yang ia wujudkan dalam tulisan. Ternyata antara gayanya dalam menulis dan gayanya di kehidupan sehari-hari ada kontradiksi. Menurut saya, tulisan-tulisannya cukup heboh. Bila ingin menceritakan rasa terkesannya pada seseorang, dia tuliskan rasa itu begitu menukik ke dasar perasaan. Bila dia kagum pada seseorang, dia ekspresikan semua rasa itu menjadi kalimat-kalimat bersayap yang beterbangan jauh ke angkasa. Bila dia ingin mengkritik seseorang atau sesuatu, dia tulis kritikan-kritikan tajam yang cukup membikin orang yang dikritiknya kebat-kebit dan kegerahan.
Tapi kalau saya boleh jujur, perilakunya tidak seheboh tulisannya. Malah gerak-geriknya terkesan lembut, terlalu lembut untuk seorang pengarang cerita-cerita cinta. Bila dia duduk di mana pun, sepertinya betah berjam-jam berada dalam posisi dan sikap tubuh yang sama. Motoriknya lamban, pelan, tenang, setenang air yang tak mengalir.
Orang-orang yang hanya kenal dia lewat tulisan, akan terkejut ketika bertemu dia di kehidupan nyata (bukan di fiksi-fiksinya). Sebab kontradiksi itu jelas nyata. Hebohnya dia hanya dalam alam pikirannya. Karena sesungguhnya setiap gerak dan sikapnya tak ada yang istimewa.
Oleh karena itu saya tidak merasa aneh, ketika pada suatu hari dia mengeluh kepada saya tentang pertikaiannya dengan seseorang yang bertemu muka dengannya pun belum pernah, tapi perseteruan itu begitu parah. Saya katakan pada dia, “Itulah kamu di dunia fiksimu. Dengan penamu atau ketikanmu kamu bisa mempengaruhi dan merubah perasaan orang lain menjadi merah atau menjadi biru. Kamu harus menerima konsekwensi itu. Dan hal itu bisa dikatakan sebuah kekuranganmu, bisa juga dikatakan sebuah kelebihanmu, tergantung dari sisi mana orang lain menilainya.”
Saya katakan pula padanya, “Tak usah risau dengan segala yang ada dalam dirimu, ubahlah semuanya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Sebenarnya kita semua sekarang sedang berproses, berproses menuju ke kehidupan yang lebih baik dan menuju kehidupan terakhir nanti di alam sana. Dan pengalaman yang dia alami itu juga merupakan sebuah proses, yang tidak boleh tidak harus dilaluinya untuk menuju ke pengalaman-pengalaman yang lebih seru lagi, dalam rangka memperkaya batin.
Semoga tulisan saya ini bisa sedikit meredakan kegelisahannya saat ini.***
***
