Cybercrime

Oleh Popon Saadah
Pemberitaan tentang kejahatan di cyber dewasa ini sudah bukan berita hangat lagi. Bila diibaratkan makanan, sudah basi dan kehilangan kelezatannya. Bila diibaratkan barang, sudah kehilangan daya tariknya atau sudah kadaluarsa. Apa sebab? Sebab masyarakat cyber sudah lebih cerdas menyikapinya dibanding para pelaku kejahatan itu sendiri. Apalagi untuk seseorang atau sebuah komunitas yang sehari-harinya bergelut dengan dunia teknologi ini, motif cybercrime adalah motif yang sudah tak laku dijual. Seperti perekayasaan poto seorang wanita yang berpose sopan menjadi bugil, misalnya. Semua orang sudah tahu bahwa dengan kemajuan teknologi animasi di era digital seperti sekarang ini, hal itu mudah saja dilakukan oleh manusia yang tak bermoral. Dan pemberitaan cybercrime yang overload hanyalah sebagai penegas, bahwa di jaman di mana generasi platinum dilahirkan, masih ada orang yang paranoid terhadap dunia cyber.
Modus operandi kejahatan di dunia online itu tidak banyak berbeda dengan kasus-kasus yang terjadi di dunia offline, seperti penipuan, pemerasan, dan pemerkosaan. Perbedaannya hanyalah terletak pada media yang digunakan. Dengan begitu masyarakat internet sepertinya mafhum, bahwa hidup di belahan dunia manapun, kita selalu akan menjumpai unsur oposisi binner, yaitu hal-hal yang serba berlawanan: baik-buruk, kebaikan-kejahatan, kaya-miskin, cinta-benci, laki-laki-perempuan, dan sebagainya. Kita tidak menafikan adanya manfaat dari pemberitaan itu. Semua pengguna aktif internet akan lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai hal mengenai seluk beluk dunia maya tersebut. Tapi jangan dikira tak akan pernah memunculkan sisi negatifnya. Pemberitaan yang gencar dan berlebihan tentang cybercrime juga akan menimbulkan keresahan pada pengguna internet yang tergolong pemula. Mereka akan serba takut untuk mencoba. Dan hal ini tentu saja menghambat perkembangannya dalam penguasaan teknologi komunikasi dan informasi. Untuk orang yang belum pernah merambah dunia cyber, akan timbul dalam dirinya pemikiran yang apriori, akan muncul dugaan-dugaan yang tak berdasar tentang pergaulan masyarakat di alam maya, yang tentu saja berdampak negatif pula terhadap pergaulannya sebagai anggota masyarakat dunia. Ketertinggalan dia sebagai anggota masyarakat global tak akan bisa dihindarkan.
Yang terpenting adalah, bukan membodohi mereka dengan cerita-cerita kriminal yang terkadang dilebih-lebihkan, tapi sajikanlah oleh kita berita-berita yang akurat, autentik, dan positif, serta yang kental unsur mendidiknya. Sebab untuk sebagian orang, pemberitaan cybercrime yang berlebihan apalagi berulang-ulang diceritakan, merupakan sebuah pemberitaan yang menggelikan sekaligus membosankan. Bosan, karena terlalu sering didaur ulang. Sedangkan orang lain sudah jauh menapaki jalan-jalan yang terbentang luas di cyber, sementara kita masih haben nagen, kukulibekan dan tak henti-hentinya membicarakan masalah cybercrime.
Akhirnya hati kita jadi menduga-duga, jangan-jangan si penyebar berita itu frustrasi karena pernah sakit hati dan kecewa berat oleh tindakan salah seorang mahluk cyber, atau mungkin juga dia trauma atas kejadian yang pernah dialaminya ketika kena tipu salah seorang mahluk cyber, sehingga penyakit paranoia differensia-nya kambuh lagi. Makanya, … hati-hati Men!
***
