FENOMENA…

February 28, 2008

Ratma Budi Priatna

Filed under: Profil Sahabat

Arjuna

Ratma Budi Priatna lahir di Bandung 31 Desember 1965. Bapak dua anak ini tidak banyak bicara untuk hal-hal yang dianggapnya tidak terlalu penting atau sekedar ngobrol ngaler ngidul tanpa ujung. Mungkin karena pengaruh dari kegiatan yang pernah disukainya semasa belum bergabung pada sebuah perguruan tinggi, yaitu kegiatan mountaineering, kegiatan yang menuntut kesabaran dengan perhitungan dan persiapan yang harus dilakukan dengan cermat, serta keselamatan diri dan kelompok harus terjamin saat melakukan aktivitas tersebut.
Cucu dari seorang ahli fisika yang namanya sekarang diabadikan sebagai nama lab. Fisika di ITB ini memiliki kenangan masa kecil yang tidak akan pernah terlupakan, yaitu masa ketika sebelum berangkat ke sekolah harus berjualan pisang goreng dan sejenisnya, agar dapat memiliki uang jajan atau sekedar menabung untuk dibelikan buku atau majalah bekas yang dijual di pinggir jalan.
Dalam rangka menyelesaikan kulias S1-nya di IKIP Bandung program Pendidikan Akutansi, dia juga harus bekerja menjadi penjaga malam di sebuah gudang perusahaan obat yang terletak di Jalan Kepatihan, kemudian pada siang harinya mengajar di beberapa SMU/SMK.
Saat teman-teman seangkatannya sibuk menulis skripsi, penikmat lagu-lagu Bimbo ini malah sibuk dengan kegiatan di Kelompok Pencinta Lingkungan Hidup Avisamba dan Diklatsar Menwa di kampusnya. Tapi kegiatan yang sekarang dinikmatinya paling-paling cross country, hiking, atau pun tracking. Kegiatan lain yang pernah juga diikuti adalah Pramuka dan volunteer pada KSR PMI Cabang Bandung.
Setelah menyelesaikan S1, sambil mengajar di beberapa lembaga pendidikan swasta, Si Bapak yang gemar memakai topi ini juga bekerja pada perusahaan transportasi bagian akunting. Sejak bergabung dengan sebuah lembaga pendidikan tinggi di Bandung tahun 1996, penyuka warna biru langit ini mengajar mata kuliah yang menyangkut masalah perhitungan dan pencatatan uang; yaitu akutansi keuangan, Lab, Akutansi Keuangan, Hitung Keuangan, dan perpajakan.

February 25, 2008

Cybercrime

Filed under: Opini Pribadi

seorang paranoid

Oleh Popon Saadah

Pemberitaan tentang kejahatan di cyber dewasa ini sudah bukan berita hangat lagi. Bila diibaratkan makanan, sudah basi dan kehilangan kelezatannya. Bila diibaratkan barang, sudah kehilangan daya tariknya atau sudah kadaluarsa. Apa sebab? Sebab masyarakat cyber sudah lebih cerdas menyikapinya dibanding para pelaku kejahatan itu sendiri. Apalagi untuk seseorang atau sebuah komunitas yang sehari-harinya bergelut dengan dunia teknologi ini, motif cybercrime adalah motif yang sudah tak laku dijual. Seperti perekayasaan poto seorang wanita yang berpose sopan menjadi bugil, misalnya. Semua orang sudah tahu bahwa dengan kemajuan teknologi animasi di era digital seperti sekarang ini, hal itu mudah saja dilakukan oleh manusia yang tak bermoral. Dan pemberitaan cybercrime yang overload hanyalah sebagai penegas, bahwa di jaman di mana generasi platinum dilahirkan, masih ada orang yang paranoid terhadap dunia cyber.
Modus operandi kejahatan di dunia online itu tidak banyak berbeda dengan kasus-kasus yang terjadi di dunia offline, seperti penipuan, pemerasan, dan pemerkosaan. Perbedaannya hanyalah terletak pada media yang digunakan. Dengan begitu masyarakat internet sepertinya mafhum, bahwa hidup di belahan dunia manapun, kita selalu akan menjumpai unsur oposisi binner, yaitu hal-hal yang serba berlawanan: baik-buruk, kebaikan-kejahatan, kaya-miskin, cinta-benci, laki-laki-perempuan, dan sebagainya. Kita tidak menafikan adanya manfaat dari pemberitaan itu. Semua pengguna aktif internet akan lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai hal mengenai seluk beluk dunia maya tersebut. Tapi jangan dikira tak akan pernah memunculkan sisi negatifnya. Pemberitaan yang gencar dan berlebihan tentang cybercrime juga akan menimbulkan keresahan pada pengguna internet yang tergolong pemula. Mereka akan serba takut untuk mencoba. Dan hal ini tentu saja menghambat perkembangannya dalam penguasaan teknologi komunikasi dan informasi. Untuk orang yang belum pernah merambah dunia cyber, akan timbul dalam dirinya pemikiran yang apriori, akan muncul dugaan-dugaan yang tak berdasar tentang pergaulan masyarakat di alam maya, yang tentu saja berdampak negatif pula terhadap pergaulannya sebagai anggota masyarakat dunia. Ketertinggalan dia sebagai anggota masyarakat global tak akan bisa dihindarkan.
Yang terpenting adalah, bukan membodohi mereka dengan cerita-cerita kriminal yang terkadang dilebih-lebihkan, tapi sajikanlah oleh kita berita-berita yang akurat, autentik, dan positif, serta yang kental unsur mendidiknya. Sebab untuk sebagian orang, pemberitaan cybercrime yang berlebihan apalagi berulang-ulang diceritakan, merupakan sebuah pemberitaan yang menggelikan sekaligus membosankan. Bosan, karena terlalu sering didaur ulang. Sedangkan orang lain sudah jauh menapaki jalan-jalan yang terbentang luas di cyber, sementara kita masih haben nagen, kukulibekan dan tak henti-hentinya membicarakan masalah cybercrime.
Akhirnya hati kita jadi menduga-duga, jangan-jangan si penyebar berita itu frustrasi karena pernah sakit hati dan kecewa berat oleh tindakan salah seorang mahluk cyber, atau mungkin juga dia trauma atas kejadian yang pernah dialaminya ketika kena tipu salah seorang mahluk cyber, sehingga penyakit paranoia differensia-nya kambuh lagi. Makanya, … hati-hati Men!

February 20, 2008

Tukang Kue

Filed under: Sejenak Merenung

anak

Tulisan Kiriman Seorang Teman

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya. “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.
“Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Tidak sampai 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.
“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu..” Halus budi bahasanya, pikir saya. Sambil memperhatikan., terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya. Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup
pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela dan membalas senyumannya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.
“Ambil ini Dik! Abang sedekah… tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu.

“Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya. “Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya. “Bang, saya tak bisa ambil duit itu.. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak Emak pasti marah. Kata Emak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya. Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.. …..

February 17, 2008

Antara Dunia Nyata dan Dunia Maya

Filed under: Opini Pribadi

dunia

Sebuah tulisan untuk seorang yang possessif

Oleh Popon Saadah

Buatku, dunia maya adalah dunia lain dari dunia nyata. Tapi dunia maya bukan dunia mimpi yang dihuni oleh mahluk yang hanya berfungsi sebagai penghias citra manusia. Dunia maya adalah sebuah tempat di mana orang-orang yang bergerak di dalamnya berwujud manusia biasa yang berunsur jiwa dan raga, serta dilengkapi pancaindra seutuhnya. Oleh karena itu sesuatu yang disebut baik di dunia nyata, baik pula di dunia maya. Hal yang disebut jelek di dunia nyata, jelek pula di dunia maya.
Bila ada yang beranggapan, segala perbuatan yang dilakukan di dunia maya itu serba sah dan tak ada konsekwensinya, menurut saya anggapan tersebut salah besar, sebab yang melakukan perbuatan itu adalah manusia juga, bukan sebuah gambar kartun. Bila seseorang mempunyai hobby mengajak kencan dan merayu-rayu seorang perempuan yang bukan muhrimnya di dunia maya, saya kira dia tak akan lepas dari resiko dan konsekwensinya sebagai manusia. Apa yang dilarang di dunia nyata, saya kira di dunia maya pun demikian. Apa yang disebut salah di dunia maya, salah pula di dunia nyata. Dan dunia maya bukan tempat melarikan diri dari perhitungan dosa dan kesalahan. Jika salah, ya tetap saja salah!
Yang sering menjadi salah kaprah adalah adanya anggapan bahwa melakukan perbuatan salah di dunia maya itu tak masalah. Merayu dan mengajak pacaran istri-istri orang itu tak apa-apa, toh hanya di dunia maya, asal jangan dilanjutkan di dunia nyata. Lho, tak apa-apa bagaimana? Bukankah yang sedang merayu dengan mengetik kalimat-kalimat berbisa di keyboard dan memainkan mouse plus cursornya itu mahluk berjiwa, bernafas, dan berakal pikiran?
Salah ya salah saja, jangan sok moralis, sok nasihat pada orang lain, sedangkan dirinya sendiri belum tentu baik, bahkan bisa jadi dia lebih parah dan lebih dalam tenggelam dalam lautan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya di dunia cyber. Bisa saja dia bilang pada kita jangan begini jangan begitu, sementara dia sendiri sering mengajak, dan memaksa istri-istri orang untuk suka dan cinta padanya!
Saya lebih menghargai penghuni tetap alam maya yang tidak munafik, jujur, dan tidak merasa benar sendiri alias sok suci. Dan lebih-lebih, saya sangat menghargai penghuni tetap alam maya yang bersikap lurus-lurus saja dalam bergaul, tidak agresif maupun possessif.
Dan tulisan ini bukan hendak berbicara bahwa kita harus selalu benar, bukan! Yang saya ingin sampaikan adalah jangan dulu menuduh orang lain berbuat sesuatu yang lebih buruk dari dirinya, sementara dia sendiri setiap hari, dari pagi sampai sore menjalankan hal-hal yang dilarang oleh norma dan agama, seperti memacari/ mengencani istri-istri orang itu tadi di cyber, misalnya!
Untuk lebih pastinya, siapa-siapa saja yang lebih banyak kebaikan dan kesalahannya, biarlah malaikat Roqib dan Atid yang menilainya, ok?

February 13, 2008

Postingan Iseng Tentang Pertemuanku dengan Keluarga Kang Budi

Filed under: Ungkapan Perasaan

senyum ceria

female 39: minta poto yg lagi di panggung kemaren
female 39: secepatnya bisi basi
Budi Priatna: ke teu acan di ka komputerkeun
Budi Priatna: enjing panginten
Budi Priatna: nembe dikintun
female 39: oic
female 39: nuhun sateuacanna
Budi Priatna: oks deh
Budi Priatna: dugi tabuh sabaraha kamari ka bumi?
female 39: ternyata tos aya nu ngajemput di tagog
female 39: dugi teh jam 7
Budi Priatna: oooo…lumayan wengi atuh
female 39: cape deuih
female 39: tapi ….berkesan
Budi Priatna: benten 30 menitan ka katapang
Budi Priatna: kesanna naon?
female 39: mmm…..apa ya…..
Budi Priatna: ya gitu deh
Budi Priatna: jadi srikandi
female 39: semuanya ramah
Budi Priatna: :)
female 39: srikandi kebingungan kaleeee
Budi Priatna: windu (Bu Ratma) itu orangnya cuek aje
female 39: iya tuh
female 39: pokona sifat kami opposite
Budi Priatna: didongengkeun kamari teh…ceu popon asa teu raos hate cenah
female 39: teu raos hate kumaha kang?
Budi Priatna: windu cuma ketawa aja
Budi Priatna: iya…aku deketin terus dikau tu
female 39: naha atuh? itu yg bikin abdi bingung teh
Budi Priatna: ya da kitu memang biasanya (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer