The Death of Kabayan
Karya Soni Farid Maulana
“bagaimana dokter, masih ada harapan?”
tanya nyi iteung malam itu. Cahaya bulan
sempurna ditelan kabut malam.
Detik demi detik jam bagai tetes air hujan
diserap bumi. Dan dokter menggelengkan
kepala. Dan kabayan terbaring lemah
di atas ranjang. Siit incuing ngear di batin.
“iteung, perpisahan tak bisa ditangguhkan,
akang ingin sebelum ajal tiba: melihat iteung
secantik dewi asri, dengan pakaian paling baru
yang disemprot wangi parfum pemberian wak haji
yang dibawanya dari arab saudi. Untuk itu
mandilah segera!” pinta si kabayan.
dengan langkah gontai nyi iteung melaksanakan
permintaan terakhir. “Kang” batin nyi iteung
di kamar yang lain. Salak anjing mengguncang
batu nisan. Mengguncang bulan. Sesaat kemudian.
“kang!” sapa nyi iteung yang kini tampak
menor, dengan pakaian paling baru, sewangi
melati. “Apa sebab akang minta iteung melakukan
semua ini?” tanya nyi iteung. Siit uncuing terdengar lagi.
“Kieu, iteung! Akang sudah melihat
malakal maut di depan mata. Siapa tahu, kalau
iteung sudah cantik, wangi, dan berdoa, yang dibawa
oleh malakal maut téh bukan akang tapi iteung!”
2006
(Dari Pikiran Rakyat, edisi Sabtu, 15 Desember 2007)
***

Lamun kuring mah nu datangna pasti mawa nyi iteung,keun wae si Kabayan mah da tinggal sahoshoseun rek paeh.
Comment by Roban — March 25, 2008 @ 3:43 pm