Anak-anakku Tak Menyukai Warnet

Ada dua tempat yang merupakan area favorit saya bila saya sedang mempunyai waktu luang. Tempat tersebut adalah toko buku dan warnet. Toko bukunya yang lengkap tentunya. Apalagi bila toko buku itu menyediakan bangku untuk sekedar duduk-duduk sambil membaca, sebab tak selamanya saya datang ke tempat itu untuk membeli buku. Kadang-kadang bila dompet saya sudah kering tapi hasrat membaca begitu menggebu, saya terpaksa hanya numpang baca atau cuma survey, buku baru apa yang nanti harus saya beli jika tiba tanggal muda.
Kedua tempat ini rasanya mempunyai daya tarik tersendiri buat saya, seperti magnet yang begitu kuatnya menarik benda-benda yang mengandung unsur besi. Daya tarik kedua tempat ini mengalahkan café, bioskop, kolam renang, tempat rekreasi, bahkan mal.
Daya tarik warnet buat saya sangatlah banyak, terlalu panjang untuk bisa diuraikan di sini. Dan untuk orang yang kebetulan mempunyai kegemaran yang sama dengan saya barangkali hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Banyak yang bisa kita lakukan bila sedang berselancar di internet, dunia yang kata orang tanpa batas itu, dunia yang mempunyai fungsi perpustakaan raksasa itu. Bila saya sudah berada di dalamnya, suka lupa waktu, lupa berdiri, dan lupa pulang. Tapi alhamdulillah sampai hari ini belum pernah kejadian saya disusul oleh orang-orang serumah akibat mereka kehilangan saya semalaman. Itu berarti kecanduan saya pada cyber masih dalam taraf normal, meskipun sudah mencapai level cybermaniak
.
Tapi keasyikan saya menyelam sampai ke dasar cyber akan terusik bila saya mengajak anak-anak. Mereka tidak betah berlama-lama di depan komputer. Barangkali sampai hari ini kedua anak saya belum menemukan apa dan di mana menariknya dunia cyber. Bila saya sedang berselancar, mereka enggan menggunakan komputer yang lain, keduanya lebih senang memelototi ibunya yang tengah sibuk klik sana klik sini. Baru beberapa saat saja mereka sudah mengajak ibunya pulang. Terang saja program saya jadi kacau, hilang konsentrasi, dan pekerjaan saya jadi berantakan. Ada beberapa e-mail yang tak sempat dibalas, seperti e-mail dari sahabat dekat di Aussi. Bagaimana mau membalas surat-surat yang masuk ke email saya, kedua anak saya merengek supaya saya berhenti mengetik dan cepat-cepat beranjak dari tempat itu. Beberapa artikel yang mau dipublish pun tertunda diposting. Apalagi bila saya chatting, anak-anak saya selalu mengganggu konsentrasi dengan memberikan macam-macam komentar maupun pertanyaan mengenai lawan chatting saya.
Padahal awalnya saya mengajak mereka ke tempat itu tujuannya baik, biar mereka mengetahui kegiatan apa saja yang saya lakukan di warnet, apa fungsi cyber itu, bagaimana kita menggunakan media itu, situs apa saja yang bagus untuk diakses oleh mereka, dsb. Ternyata mereka lebih tertarik diajak ke tempat yang menyediakan aneka makanan dan mainan. Mereka berdua bilang, “Kami mau aja diajak ke warnet, tapi sewaktu-waktu aja lah, jangan lama-lama dan jangan keseringan!”
***
