FENOMENA…

August 24, 2007

Catatan Kecil untuk MCBR

Filed under: Opini Pribadi

Reni Kusniati

Kisah cinta memang tak pernah bosan untuk dibaca, kisah ini akan abadi sepanjang masa. Demikian pula cerita cinta yang kita baca dalam novel yang berjudul “Merahnya Cinta Birunya Rindu” karya Popon Saadah.
Nama Popon Saadah sepertinya sudah tak asing lagi bagi para pecinta sastra Sunda, khususnya pembaca majalah Mangle, karena karyanya banyak dimuat di majalah itu. Kini penulis berbakat ini sepertinya ingin menapaki lembaran baru di blantika sastra Indonesia dengan melahirkan sebuah novel munggaran-nya.
Namun sepertinya sudah menjadi sebuah aksioma, kalau karya sastra bisa dikatakan baik bila memenuhi kriteria paling mendasar yaitu aktual, orsinil, logis, banyak hikmah yang bisa dipetik dan mampu menimbulkan kesan mendalam bagi para pembacanya.
Naah.. dapatkah MCBR dikategorikan sebagai sebuah karya yang memenuhi kriteria di atas? Mari kita kupas.
Tema yang diangkat dalam MCBR cukup aktual untuk saat ini. Di sini cinta dikemas dengan melibatkan teknologi informasi. Penulis memadukan alam maya dan alam nyata dalam suatu peristiwa yang menimpa tokoh utama. Ini jarang ada dan masih belum banyak disentuh oleh para penulis lain. Ya tentu saja keorsinilan karya ini bisa dipertanggung jawabkan.
Logiskah cerita ini? Di sinilah letak permasalahannya. Sefiktif apa pun sebuah karya dalam sastra, tetap saja unsur kelogisan harus diperhatikan. Ketidak logisan cerita ini terletak pada ending cerita yang terkesan dipaksakan.
Pembaca yang seharusnya bersimpati pada tokoh Anis, justru malah sebaliknya. Di akhir cerita Anis menjelma menjadi tokoh yang skeptis, lemah dan tidak punya kepribadian. Ini bertolak belakang dengan sikap dan profesi Anis yang dipaparkan penulis di awal cerita, Anis seorang guru. Seorang guru di masa kini, apalgi guru IT, harus lebih berpikir logis. Di sini tak ada alasan yang bisa dipertanggung jawabkan dalam keputusan Anis. Masa hanya karena seorang Fauzi yang baru satu hari bertemu di alam nyata, bisa menggoyahkan keputusannya pada Dzulfikar.
Karakter yang kuat yang berhasil dibangun penulis, justru terdapat pada tokoh Dzulfikar. Penulis bisa mempertanggung jawabkan keegoisan Dzulfikar berjuang untuk dua cinta, cinta pada Anis dan dua anaknya yang butuh ibu.
Amanat yang bisa kita ambil dari cerita ini pun terkesan umum dan klise. Ya seperti wanita tak ingin berbagi cinta, wanita cenderung menjadi mahluk yang teraniaya, wanita sulit dimengerti. Padahal seandainya saja penulis sedikit memoles karakter tokoh Anis dengan menonjolkan sikap religiusnya, maka resolusi konfliks akan jauh lebih menarik dan tentu saja akan sangat berkesan untuk pembaca. Pembaca akan mendapat pengalaman berharga dari bacaan ini.
Jadi kesimpulannya, kekuatan novel ini hanya terletak pada tema, keorsinilan, kepiawaian penulis dalam merangkai alur dan kemahiran penulis dalam penggunaan diksi untuk mengkomunikasikannya.
Terlepas dari semua itu, novel ini enak untuk dibaca dan perlu! Tak salah bila kita acungkan dua jempol untuk penulis novel pemula ini. Satu hal lagi, ini hanya sebuah catatan kecil dari seorang sahabat yang sama sekali bukan ahli sastra. Akhirnya sukses selalu buat Popon Saadah, teruslah berkarya.

Your the best friend

Reni K. Asmara

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/08/24/catatan-kecil-untuk-mcbr/trackback/

  1. Dari uraian di atas, kita bisa menebak siapa gerangan Ibu Reni itu? Dia adalah pendidik yang
    ahli di bidangnya. Pernah ikut berkompetisi dalam ajang guru teladan se-Kota Cimahi, dan dia
    seorang MC yang handal. Sebenarnya saya merasa malu dengan semua sanjungannya ter-
    hadap saya, karena apalah artinya saya dibandingkan dengannya. Tapi saya begitu senangnya ketika dia mau memberitahukan beberapa kelemahan yang terdapat dalam novel MCBR itu. Dan
    sesungguhnya, kritik dan saran yang membangunlah yang saya perlukan. Terima kasih Bu
    Reni atas kesediaannya membaca dan berkomentar tentang karya yang tak ada apa-apanya
    ini. Semoga tidak bosan-bosannya memberi masukan di setiap karya yang saya hasilkan,

    Comment by poponsaadah — August 24, 2007 @ 4:32 am

  2. Waduh hebat betul ibu2 yang berilmu..Cara berkomentarnya, juga bisa dilihat keilmuannya.
    Tidak seperti saya kalau ngasih comment teh ngan saukur ngaheurinan blog sigana mah yang
    tidak ada artinya. Yah beginilah orang yg tdk berilmu mah.. Nya hapunten wae atuh sim kuring
    Da tara kaliwat sok ngomntaraan mah tapi yg tdk berarti. ….

    Comment by Fz — August 24, 2007 @ 10:34 am

  3. Fz, salah sekali bila Fz beranggapan demikian. Ada yang Fz tidak ketahui selama ini. Saya
    dan teman-teman sangat menunggu-nunggu komentar Fz pada blog kami. Karakter tulisan
    Fz itu jujur, iklas, dan tidak berbelit-belit. Setiap orang punya gaya tersendiri dalam mengung-
    kapkan setiap gagasannya. Nah Fz juga punya gaya khas yang tidak dimiliki oleh orang lain,
    yaitu to the point-nya itu serta lugas, mudah dimengerti oleh pembaca.

    Comment by poponsaadah — August 27, 2007 @ 12:44 am

  4. Nya nuhun atuh ari pendapat ibu Popon kitu mah. jadi moal liren ngomenan blog2 insyaAllah.

    Comment by Fz — August 27, 2007 @ 4:05 am

  5. Ahhh geus teu aneh Si Kunyang mah, ari geus ngalaip-laip diri teh. Olo-olo pisan, tong
    diogo teuing Nice, padahal mah manehna oge sarua we pinter nya?

    Comment by indung si Kay — August 28, 2007 @ 1:07 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer