FENOMENA…

August 10, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu VIII

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian VIII

Dia segera menyadari kekeliruannya, kenapa bertanya seperti itu? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang pada Fauzi tentang masalah rumit yang sedang dihadapinya itu. Biarlah Fauzi menikmati dulu kebersamaan ini sepuasnya. Biarlah tamu yang datang dari tempat yang sangat jauh ini berkesempatan menumpahkan segenap rindu dendam, yang pasti dalam hatinya sudah begitu lama terpendam.
“Aku bertanya seperti itu, karena ya…ingin saja. Sekedar bertanya, boleh kan?” Katanya sambil melirik dan mengajak tersenyum pria di sampingnya.
“Jangan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menimbulkan kepenasaranku!” Pinta pria itu.
“Hehe..kita sekarang berada di dunia realita, Uzi. Kita bukan sedang chatting di cyber. Nyantai aja lagi. Apa lagi sih yang membuat Uzi masih merasa penasaran terhadapku?” Tanya dia.
“Kamu banyak berubah!” Jawab Fauzi.
“Masa? Apanya yang berubah?”
“Banyaklah. Di dunia realita ternyata kamu tidak sehangat female_39, tidak semanja female_39, dan sepertinya di darat female_39 ini sengaja menjaga jarak. Sejak aku tiba di sekolahmu sampai detik ini, telingaku belum pernah sekalipun mendengar kamu memanggilku dengan kata “sayang”, seperti dulu waktu kita sering berkencan di YM.” Protes Fauzi.
“Apa yang telah terjadi, Nice?” Tanyanya lagi. Sesungguhnya pertanyaan ini menambah kacau balau pikirannya.
Beruntung, mobilnya segera tiba di halaman rumah yang pagarnya sudah terbuka lebar. Dengan begitu dia terhindar beberapa saat dari pertanyaan yang nadanya menodong itu.
“Selamat datang di rumahku!” Katanya sambil mengajak tamunya masuk lewat pintu depan menuju beranda. Sang tamu mengikutinya dari belakang, seolah-olah sudah terbiasa bertamu ke rumah itu, tanpa rasa canggung sedikit pun.
“Rumah yang sejuk. Pasti aku akan betah berlama-lama tinggal di sini.” Kata pria itu sambil merebahkan diri di sofa berwarna biru di ruang tamu.
“Silahkan, kenapa tidak. Beginilah rumahku, berantakan.”
“Rapi begini dibilang berantakan?” Tanya Fauzi keheranan.
“Aku akui, aku bukan wanita yang pandai menata rumah. Kalau pun sekarang rumah ini tampak bersih dan rapi, itu karena jasa pembantuku.”
Kemudian dia memeriksa meja makan. Di sana sudah terhidang masakan kesukaannya: ayam goreng, sayur asem, beberapa bungkus pepes jamur, sambal goreng lengkap dengan lalabnya, serta beberapa potong buah melon sebagai makanan pencuci mulut.
Ketika memasuki acara makan siang, hatinya kembali dilanda kebingungan. Yang ia takutkan adalah Fauzi mulai lagi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpojok. Oleh karena itu selama menikmati santap siang bersama, dia berusaha menghindari topik percakapan yang mengarah pada masalah pribadi. Dengan sengaja dia mengajak Fauzi berbicara mengenai tema-tema global, seperti tentang keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia akhir-akhir ini. Mengatur alur pembicaraan supaya sesuai dengan yang dia inginkan terasa sangat melelahkan.
Cepat atau lambat, dia harus terbuka juga, bahwa Fauzi jangan berharap banyak padanya, sebab di antara mereka berdua sekarang, telah hadir Dzulfikar. Yang membuatnya bingung, apakah laki-laki ini akan siap mendengar semuanya? Dan apakah perlu juga dia berterus terang pada Dzulfikar tentang kedatangan pria ini? Menurutnya, walau bagaimana pun, Zul harus dilibatkan dalam masalah ini, sebab dia sudah terlanjur menerima laki-laki itu sebagai calon pendamping hidupnya. Tapi untuk sementara, kepada siapa dia harus meminta advise atas masalahnya ini? Kepada ibunya? Ah, sudah tentu ibunya akan sangat keberatan dengan kedatangan pria asing ini, dan sudah bisa dipastikan ibunya akan berpihak pada calon menantu kesayangannya.
Tampaknya Fauzi sangat menikmati jamuannya. Melihat itu hatinya merasa senang, setidaknya dia sudah berusaha menjadi tuan rumah yang baik hari ini. Dan tak lupa dia berdo’a juga, semoga Fauzi lupa pada pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan padanya dan terlalu pribadi itu.
Tapi ketika mereka sudah kembali ke ruang depan, sebelum mereka duduk kembali di kursi tamu, Fauzi membuat surprise jilid kedua. Pria ini menghampirinya dan meraih tangan kirinya, lalu memasang sebentuk cincin bermodel cincin kawin bermata indah di jari manisnya. Bagaimana dia bisa menolak semua ini, adegan ini begitu tiba-tiba. Dan tak terbayangkan, bagaimana jadinya perasaan Fauzi jika dia menolaknya?
“Cincin ini mewakili segenap ungkapan yang telah lama terpendam dalam hati. Dengan cincin ini aku tak perlu lagi berpanjang-panjang menyampaikan semua isi hatiku dalam bentuk kalimat. Aku harap kamu bisa menerjemahkan semuanya, Nice.“ Kata Fauzi sambil menatapnya lekat-lekat, dan memegang erat jemari tangan kirinya.
“Uzi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa begitu hobby-nya Uzi membuat kejutan untukku?” Dia memperlihatkan ketidak setujuannya dengan menarik tangannya. Kemudian mereka berdua duduk berbarengan di kursi yang berseberangan. Dia amati dengan seksama cincin bermata indah itu. Mata cincin itu tampak berkilauan terkena sinar dari sekeliling ruangan. Mata cincin itu entah dari jenis apa, dia tak paham soal batu-batuan mulia. Yang dia tahu adalah bahwa ruby symbol cinta yang agung, zamrud melambangkan harapan, dan berlian melambangkan keabadian cinta. Tapi kenapa cincin itu Uzi berikan kepadanya? Sedangkan sampai hari ini cintanya belum pasti untuk siapa.
“Tampaknya kamu tak suka dengan pemberianku ini. Ada apa sih sebenarnya? berterus teranglah! Dari awal perjumpaanku denganmu perasaanku sudah tak enak. Feeling-ku mengatakan ada sesuatu yang tengah menghadangku untuk tak bisa dekat denganmu. Cepat katakan, ada apa?!” Nada bicara Fauzi meninggi, berarti hati pria ini betul-betul tersinggung atas sikapnya itu.
“Uzi,…Uzi jangan berharap banyak padaku!” Dia berkata begitu dengan suara lirih dan sedikit bergetar.
“Apa maksudmu?” Suara Fauzi masih meninggi.
“Di antara kita ada Dzulfikar!” Dengan sangat terpaksa dia mengungkapkannya, meskipun dia tahu kalimat yang baru saja diucapkannya adalah sebuah ungkapan yang berpotensi melukai hati Fauzi.
Fauzi tersenyum hambar. Lalu berkata lagi, “Sudah kuduga sebelumnya, pasti dialah penyebab berubahnya perlakuanmu terhadapku.” Mendengar Fauzi berkata seperti itu dirinya benar-benar pasrah. Terserahlah apa yang akan terjadi kemudian akibat dari keterusterangannya ini. Dia merasa lelah dan tak sanggup lagi terus menerus menyembunyikan kenyataan dan bergelut dalam kebingungan. Dia ingin segera keluar dari lingkaran masalah yang tak pernah selesai sejak dia mengenal Dzulfikar. Pada Dzulfikar pun dia akan bersikap sama. Dia akan berterus terang secepatnya, bahwa Fauzi yang sekarang sedang ada di Indonesia dan tengah mengunjungi rumahnya ini adalah kekasih cyber-nya, sebelum mereka berdua dipertemukan oleh ibunya. Jika dia serba takut untuk terbuka dan menyembunyikan semuanya, artinya dia membiarkan dirinya tersiksa dan terbelenggu masalah yang tak berkesudahan tentang laki-laki. Lagi-lagi masalah laki-laki yang membuat hidupnya menjadi seru itu.
“Tapi ingat, Nice, aku tak akan menyerah begitu saja. Kamu sendiri menyadari, bahwa sebelum bertemu dia, kamu lebih dulu dekat denganku. Laki-laki itu tak bisa seenaknya merampas semua yang pasti akan menjadi milikku!” Kata Fauzi, nada suaranya yang cukup tinggi itu tak pernah merendah.
Dia terkejut dengan pernyataan tamunya ini. Di cyber Uzi adalah pria yang bijaksana dan terkesan selalu mengalah, sering menasehatinya agar bersikap tenang, tak gampang terpancing emosi. Tapi di alam nyata sebaliknya, Fauzi terbukti sebagai seorang yang gigih memperjuangkan apa yang dia inginkan, apa pun yang akan terjadi.
“Dulu aku terkesan mengalah dan bergantung pada takdir karena jarak kita berjauhan dan aku sedang sakit waktu itu. Sekarang, aku bisa melakukan apa pun. Kesembuhanku dari beberapa penyakit membuat gairah hidupku kembali menggebu. Dan saat ini, posisiku bahkan lebih dekat denganmu dari pada orang Jakarta itu!”
Dia tak berniat membantah semua pernyataan tamunya ini. Dia membiarkan pria ini berpuas diri memuntahkan kata-kata sebagai perwujudan dari emosinya. Apa pun yang akan terjadi terjadilah, bukankah semua mahluk yang ada di bumi ini hanya menjalani hidup seperti apa yang telah digariskan dalam skenario kehidupan? Pikirnya.
Dengan perasaan yang sama-sama edang dilanda kegalauan, mereka berpisah untuk sementara. Fauzi kembali ke hotelnya menggunakan taksi. Pria ini menolak mentah-mentah tawaran Anis untuk mengantarnya sampai ke hotel tempatnya menginap. Rupanya pengakuan Anis membuat pria itu benar-benar gusar. Tapi Fauzi masih berkenan meninggalkan nomor telepon genggamnya, serta berjanji akan menemuinya lagi pada kesempatan lain. Dan cincin yang matanya berkilau-kilau itu masih melingkar di jari manis tangan kirinya.
Kejujuran yang telah dia sampaikan pada Fauzi membuat beban pikirannya berkurang. Dadanya sedikit lega, meskipun akibat dari keterusterangannya itu sudah bisa diprediksi akan memicu konflik dan ketegangan yang berkelanjutan antara Fauzi dan Dzulfikar. Untuk semakin mengurangi beban yang seakan-akan menghimpit dadanya itu, dia akan segera berterus terang pula pada Dzulfikar, lewat telepon. Sebab tidak mungkin menyuruh Dzulfikar datang menemuinya di Bandung pada hari kerja seperti sekarang ini. Tapi juga dia tak mau menunggu akhir pekan yang masih empat hari lagi. Kelamaan. Sedangkan dirinya sudah tak kuat lagi menggenggam masalah ini, ingin segera memecahkannya, apa pun resiko yang harus dia tanggung sendirian.
Malam ini, tepat jam 20.00 dia menghubungi Dzulfikar lewat telepon rumahnya. Dia menggeser kursi ke dekat meja telepon, karena sudah pasti pembicaraannya dengan Zul kali ini akan berlangsung lama.
Setelah berbasa-basi seperti biasa, dia segera mengutarakan maksud sebenarnya menghubungi Dzulfikar. Dia bercerita dari awal tentang perkenalannya dengan seorang pria bernama Fauzi, warga negara Australia itu, sampai kepada kunjungan Fauzi ke rumahnya tadi siang. Setelah puas bercerita, lalu dia berhenti berbicara, memberi kesempatan kepada Dzulfikar untuk menanggapi kejujurannya ini. Apakah Dzulfikar akan bersikap sama seperti Fauzi tadi siang terhadapnya, dia telah siap menerimanya.
“Kapan saya bisa bertemu Fauzi, Nis?” Suara tenang itu mengagetkannya, kaget karena Zul tak terdengar emosi.
“Kalau Abang sudah bertemu dia, mau apa?” Tanyanya penuh kekhawatiran.
“Abang mau bilang padanya, bahwa kamu adalah milikku. Meskipun kita belum resmi menikah, tapi paling tidak, pada minggu yang lalu kamu pernah mengucapkannya secara lisan bahwa kamu sudi menerima Abang beserta anak-anak untuk menjadi bagian dari hidupmu. Masa kamu lupa peristiwa bersejarah itu? Malah Anislah yang memohon agar Abang tidak memunculkan wanita lain sebagai sainganmu. Ternyata Anis sendiri yang memulai memunculkan pria lain sebagai sainganku! Tapi Abang tak gentar. Katakan pada kekasih cyber-mu itu, Abang ingin bertemu dia secepatnya. Abang ingin tahu seberapa besar cintanya padamu hingga bisa berubah wujud dari roh maya menjadi mahluk yang nyata!” Nada bicara Dzulfikar datar-datar saja, sama sekali tidak meninggi. Tapi mendengar isi pembicaraannya semua orang akan paham, bahwa dia sedang ingin menerjang, menerjang seseorang dengan kalimat-kalimat berbisanya. Dan hati Anis tersinggung.
“Akan aku usahakan kalian bisa bertemu secepatnya. Aku sudah cape menghadapi masalah-masalah seperti ini. Aku tak ingin terus menerus menjadi korban keegoisan laki-laki!” Sampai juga dia pada titik jenuh itu.
“Jangan mencoba mengingkari ucapanmu pada malam itu, Anis. Asal kamu tahu, anak-anak sudah kuberi penjelasan tentang profil calon mamanya. Jangan sampai rencana kamu untuk bertemu anak-anakku minggu depan gagal total gara-gara pria itu!” kata Dzulfikar lagi dari telepon di seberang sana.
“Abang boleh saja berkata seperti itu, jangan begini jangan begitu. Tapi jalan hidupku bukan Abang yang menentukan, tapi diriku sendiri!” Dia berani berkata begitu karena merasa heran, kenapa kedua laki-laki itu begitu egoisnya? Baik Fauzi maupun Dzulfikar sama-sama ingin memaksakan kehendaknya. Tak pernah terlontar dari mulut mereka kalimat penawaran untuk dirinya, memberi kebebasan padanya untuk menentukan pilihan. Tak pernah keluar dari mulut mereka pertanyaan seperti ini, “Di antara kita berdua, siapa yang akan kamu pilih sebagai teman hidupmu?” Bukankah kalimat itu lebih sejuk terdengar dari pada saling menantang dan saling melempar kata-kata tajam?
“Kencan kita pada malam minggu kemarin bukan akhir dari perjuanganmu mendekatiku. Kenyataan, di depan mata muncul persoalan baru yang tak bisa kita hindari, mau tak mau harus dihadapi. Dan selama Abang belum mengikatku dengan ijab kabul pernikahan, Abang belum berhak penuh mengatur hidupku!” Menghadapi sikap Zul seperti itu, hatinya yang sudah mantap dan sudah pasti memilih Dzulfikar, pada saat ini kembali goyah. Semua rencana hidupnya ke depan bersama Dzulfikar yang telah disusun dalam kepalanya, seketika buyar.
Dia harus segera mengakhiri percakapan ini dengan Dzulfikar. Bila tidak, perdebatan tentang hubungan mereka akan semakin memanas. Dia meminta Dzulfikar untuk menyempatkan diri datang ke Bandung besok pagi. Dia tak mau masalah ini berlaut-larut dan membuat hidupnya tak tenang. Dan Zul menyanggupinya. Lalu dia mengontak Fauzi melalui handphone di hotelnya.
“Selamat malam, Uzi.” Sapanya, setelah nomer HP-nya tersambung dengan nomor HP Fauzi.
Sesaat terdengar suara khas Fauzi yang agak serak dari seberang sana.
Good evening, Honey. Belum tidur?”
“Belum, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Tentang apa, Sayang?”
Hatinya sedikit lega, ternyata gusarnya Uzi tadi siang tak berkepanjangan. Laki-laki ini kembali mau beramah-ramah menyapanya.
“Maaf deh, aku mengganggu waktu istirahatmu.”
Nggak apa-apa. Malah dari tadi aku menantikan deringan telepon darimu. Ternyata tempat seramai apapun jadi sesepi kuburan, bila tak ada kamu di sampingku, Nice.” Suara yang agak serak itu kembali merayu-rayu.
“Besok mau kan Uzi datang lagi ke tempatku?”
“Oh, with pleasure. Jam berapa?”
“Pagi-pagi saja. Biar tidak terjebak macet dan tidak kegerahan.”
“OK, Honey. Besok dandan yang cantik ya!” jawab pria itu. Dia jadi sedih mendengarnya. Tampaknya Fauzi begitu yakin, angan-angan mereka berdua yang benihnya telah disemai sejak di dunia maya akan terwujud dengan segera.
“Dzulfikar ingin bertemu denganmu, Uzi.” Katanya lagi dengan suara pelan.
“Siapa pun yang ingin bertemu denganku, akan aku hadapi!” Nada lembut Fauzi yang merayu-rayu itu berubah menjadi naik.
“Kalau begitu terima kasih atas kesediaannya, see you tomorrow.” Katanya. Hening…tak ada jawaban dari pemilik suara agak serak di seberang sana, mungkin sedang tak berkenan menjawab semua yang baru saja dia ucapkan.

To be continued
Copyright Popon Saadah 2007

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/08/10/merahnya-cinta-birunya-rindu-6/trackback/

  1. Wah seru ceritanya……….kira2 ada perang baratayudha nggak yah?………..he he he……..
    Mudah2an Zul juga baca cerita ini……….ya Zul……….ha ha ha……….

    Comment by Fz — August 10, 2007 @ 10:57 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer