FENOMENA…

August 3, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu VII

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Diposting ulang

Oleh Popon Saadah

Bagian VII

Terpikir olehnya, sampai kapan hatinya akan terus menerus tenggelam dalam kebimbangan? Bila tak ada keberanian memutuskan satu persoalan, sampai kapan pun tak akan pernah bertemu kebahagiaan. Bila ingin ada perubahan ke arah depan, dia memang harus berani melangkah. Tapi bila ternyata kegagalan masih berpihak padanya, harus rela juga menerimanya. Setiap pilihan yang diambil ada resikonya, dan sesungguhnya, hidup adalah resiko itu sendiri.
Secepat gerakan jarum jam penunjuk detik, Dzulfikar sudah kembali berada di hadapannya, menunggu jawaban yang suatu saat harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di menit-menit terakhir, dia masih menimbang-nimbang. Bila dia bersedia menerima Zul sebagai suami, sederet kewajiban harus segera dilaksanakan. Bila dia rela menerima kedua anak Zul sebagai anaknya juga, segudang tugas sebagai seorang ibu, harus segera ditunaikan. Tapi tentu saja semua itu ada imbalannya. Sudah menjadi sunnatullah, amal kebaikan sebesar dzarrah pun akan ada pahalanya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk sebesar dzarrah pun akan mendapat balasan. Pahala atas ketaatan seorang istri pada suami sudah menantinya. Pahala atas kerelaannya mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga tengah menunggunya. Bismillaahirrahmaanirrohiim, ya Allah semoga pilihanku kali ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupku. Dan aku memilihnya semata-mata untuk mencari ridho-Mu ya Allah. Semua kata hatinya itu mendorongnya untuk memberikan jawaban dengan mantap.
“Malam ini adalah malam yang bersejarah bagiku, karena pada malam ini aku masih berkenan dipilih. Dengan begitu aku bukan lagi seorang pecundang.” Jawabnya.
“Abang mohon, cari kalimat yang jernih, biar Abang bisa langsung paham maksudmu!” Pinta Dzulfikar.
“Aku menerima ajakanmu!” Tiga kata yang sangat jernih menurutnya. Tapi si pria masih menuntutnya agar memperjelas dan mempertegas jawaban itu.
“Ajakan yang mana? Ajakan makan malam atau….??”
“Aku besedia menjadi istrimu dan menjadi ibu anak-anakmu!”
Mendengar itu terlihat senyum Dzulfikar mengembang, pertanda hatinya senang, puas dan tentu saja bahagia.
“Terima kasih, Anis.”
“Tapi ada satu permintaanku yang mesti dicatat dalam hati Abang!” Katanya lagi.
“Apa itu?”
“Aku adalah wanita yang tidak bisa berkompetisi. Selalu menjadi perempuan yang dikalahkan. Oleh karena itu, tolong jangan sekali-kali menyuruhku bersaing dengan wanita lain. Jangan pernah memunculkan perempuan lain sebagai pesaingku, itu saja!” Katanya lagi kemudian.
“Oh itu. Jangan khawatir. Abang ditinggalkan oleh ibunya anak-anak sudah begitu lama. Jika Abang mau, mungkin dari dulu sudah meminang orang. Tujuh tahun Abang hidup sebagai widower. Tidak pernah terpikir untuk mencari pasangan secepatnya. Apalagi berganti-ganti. Menurut Abang, mencari calon istri itu ternyata jauh lebih sulit dari pada mencari jarum di dasar lautan. Masalahnya Abang punya anak. Bila salah memilih, sudah pasti anak-anaklah yang menjadi korban pertama kesalahan itu.” Keterangan Dzulfikar panjang lebar.
“Semoga aku bisa memegang amanah baru ini dengan teguh dan sabar,” jawabnya.
“Mudah-mudahan,” Jawab laki-laki itu pula sambil memegang kedua tangannya. Dan jari-jari tangan mereka bertaut dengan eratnya, seakan tak ingin lepas selamanya.

***

Hari ini dia seolah-olah terlahir kembali ke dunia. Semuanya seperti baru dalam pandangannya. Tirai kelabu yang selama ini terpasang di jendela hatinya, menghilang dengan sendirinya. Dia menyongsong hari-hari indah dengan segudang gairah. Langkahnya tak bimbang lagi.
Minggu depan Dzulfikar berencana mempertemukan dia dengan anak-anaknya. Satu babak dalam kehidupannya yang cukup mendebarkan. Dia khawatir anak-anak Zul tak berkenan dengan kehadirannya, meskipun Dzulfikar pernah bilang, semua itu bisa diatur asal mereka berdua bisa memilih pendekatan yang tepat.
Dan kekhawatiran itu terbawa juga ke tempat kerjanya. Pikirannya tak bisa lepas dari persoalan bagaimana cara melaksanakan pendekatan yang jitu agar anak-anak Zul rela menerima dia menjadi bagian dari hidup mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun dia menjadi guru, yang setiap hari bercampur baur dengan anak-anak remaja, dan selalu berhasil menyelami hati dan perasaan mereka, tapi tetap saja rencana pendekatan pada anak-anak Zul nanti adalah sebuah tantangan tersendiri, dan belum tentu dia mampu dan sukses melaksanakannya.
Dia berusaha melupakan sejenak kekhawatirannya itu dengan melakukan kegiatan bersih-bersih ruangan. Sambil menunggu kedatangan orang tua murid yang memang hari ini dipanggil untuk menemuinya, dia membersihkan dan merapikan lab komputer. Setelah menyapu debu-debu yang banyak menempel pada komputer dan mejanya dengan lap, diteruskan dengan menyusun buku-buku yang bertumpuk tak beraturan menjadi susunan yang rapi di dalam lemari.
Dalam surat panggilan orang tua kemarin yang dititipkan pada salah seorang siswa kelas 3 H, dia mengundang orang tua Lewi untuk datang pada jam 9 pagi. Sekarang sudah lewat tiga puluh menit. Sayangnya orang tua anak itu tidak memiliki handphone maupun pesawat telepon di rumahnya, sehingga sulit dihubungi secara langsung. Sudah satu minggu ini anak itu tidak masuk sekolah, tapi teman-temannya sering memergokinya setiap hari berangkat pagi-pagi dari rumah dengan memakai pakaian seragam.
Terdengar suara orang mengetuk pintu lab. Dia segera membukanya. Mang Dadan (pesuruh sekolah) memberitahukan bahwa ada seseorang yang mau bertemu dengannya.
“Suruh dia menemui saya di sini, tolong ya, Mang!”
“Mangga, Bu,” kata pesuruh itu sambil segera berlalu.
Ketika dia sedang mengeluarkan buku absensi anak kelas 3 H, orang itu sudah berada di ambang pintu. Seperti biasa, dia menyambut ramah setiap orang tua siswa yang telah sudi memenuhi undangannya.
“Silahkan masuk, Pak!.” Katanya. Sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Bapak ini orang tua kandung Lewi?” Tanyanya setelah tamu itu duduk berhadapan dengannya.
Laki-laki itu tak segera menjawab. Malah kelihatannya kikuk. Ada apa dengan tamu ini? Pikirnya.
“Putra Bapak sudah seminggu ini tidak masuk sekolah tanpa berita. Apakah dia dari rumah berangkat setiap hari?” Tanyanya lagi.
“Jadi ini yang bernama Ibu Rengganis itu?” Laki-laki itu malah balik bertanya.
“Betul, saya wali kelas 3 H. Silahkan, Bapak jangan sungkan-sungkan. Saya mengundang Bapak untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah “anak” kita.
“Maaf, saya bukan orang tuanya..siapa tadi?” Kata laki-laki itu.
“Oh? Bukan orang tua kandung maksudnya?”
Sesaat lelaki itu terdiam. Matanya memancarkan sinar yang aneh, seaneh sikapnya pada detik-detik ini.
“Tak masalah, siapa pun yang hadir, yang penting bisa mewakili orang tua kandungnya,” katanya lagi.
“Aku datang dari tempat yang sangat jauh, menyebrangi lautan luas untuk sampai di tempat ini. Website SMP 4 banyak membantuku, sampai akhirnya aku bisa menemukanmu di sini.” Sinar mata yang aneh itu kembali menyergapnya. Dia baru tersadar, bahwa orang ini tak ada hubungannya sama sekali dengan muridnya yang bernama Lewi Nofemena. Dia berpikir sesaat, siapa gerangan orang ini?
Di ruangan ini sepi…hening…Di luar terdengar riuh rendah suara gelak tawa dan teriakan anak-anak sekolah yang sedang menikmati jam istirahatnya.
“Sungguh sebuah keajaiban, aku bisa menemuimu saat ini. Akhirnya terlaksana juga aku berbincang-bincang denganmu secara langsung. Apa kabar, Nice?” Kata orang itu lagi.
Nice?…Nice, kata pria ini? Apa dia tak salah dengar?…Panggilan yang baru saja diberikan laki-laki ini untuknya mengingatkan dia pada seseorang. Jadi…yang ada di hadapannya ini adalah….Fauzi?….Akh! Tidak mungkin!! Dia merasa tak yakin, tapi mendadak hatinya berdebar juga. Dan dia sadar betul bahwa sekarang dia tidak dalam keadaan tertidur. Jadi semua ini bukanlah mimpi.
Tak ada pria yang selalu memanggilnya “Nice”, kecuali Fauzi. Dia menatap pria di hadapannya dengan sinar menelisik. Seandainya benar orang ini adalah Fauzi yang dulu selalu ia rindukan siang dan malam, sosoknya sangat berbeda dengan Uzi yang hidup dalam imajinasi dan mimpi-mimpinya selama ini. Uzi yang ada dalam citranya dan pernah hadir dalam mimpinya adalah Uzi yang umurnya tak beda jauh dengannya, Uzi yang penampilannya bersahaja, seadanya, dan terkesan asal-asalan.
Tapi Uzi yang sekarang sudah berwujud nyata di hadapannya adalah seorang pria yang berpenampilan kebapakan. Menurut perkiraannya, umur pria itu sekitar sepuluh tahun lebih tua darinya. Postur badannya sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek menurut ukuran orang Indonesia. Mengenakan busana casual, jeans dan T-shirt yang tersembunyi di balik jacket berwarna gelap. Tubuhnya yang termasuk dalam kategori gemuk tersamarkan oleh jacket coklat tua, membuat laki-laki ini terlihat berwibawa. Kulitnya putih bersih. Rambutnya agak ikal, dibiarkan tumbuh sebatas tengkuk. Dan dia masih ingat, bahwa tempurung lutut Fauzi terbuat dari metal, tapi ketika Fauzi berdiri dan berjalan menghampirinya tadi terlihat normal-normal saja.
Tapi perbedaan persepsinya tentang Fauzi di dunia nyata dan dunia imajinasinya sama sekali tidak mengubah perasaan rindu dendam yang sudah terlanjur terpendam dalam hatinya.
“Apakah kamu masih mengenaliku, Nice sayang?” Kata pria itu lagi.
“Siapa sebenarnya anda ini?” Dia masih tak percaya pada tebakannya sendiri.
“Dulu aku pernah berjanji akan membuat surprise. Hari ini janji itu kupenuhi. Aku datang dari jauh dengan cinta, cinta yang akan tetap membara dan tak akan pernah kita padamkan.” Ya Allah, dia benar-benar Fauzi. Gaya pengungkapan perasaannya sangat khas, romantis dan puitis.
“Jadi….?” Dalam debaran jantungnya yang semakin kencang, dia masih memerlukan penjelasan.
“I’m Fauzi2003.” Penjelasan singkat yang justru membuatnya semakin terkaget-kaget. Lalu, gembirakah dia? terharukah? Atau malah bingung? Dia sendiri tak tahu, perasaan apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya sekarang ini.
Sebagai seorang yang sudah seharusnya mapan dalam menyikapi setiap persoalan, sudah selayaknya dia bersikap tenang. Juga sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru, rasanya tidak sedap dipandang mata bila dia menampakkan diri terkejut-kejut di depan tamu istimewanya ini. Dengan begitu dia berjuang sekuat tenaga untuk bisa menguasai keadaan.
“Sebuah kejutan yang dahsyat, Uzi. Tapi alangkah lebih baiknya bila sebelumnya beritahu aku tentang kedatanganmu, biar aku bisa mempersiapkan diri, dan menjamu tamu dengan sepantasnya.” Perkataannya ini dalam rangka mencairkan suasana. Fauzi berwujud nyata hanya tersenyum, kemudian berkata lagi.
“Bolehkah aku memelukmu, Sayang?” Tiba-tiba sinar mata Fauzi menembus jantungnya. Rupanya lelaki itu sejak tadi sudah tak sabar ingin mendekapnya. Bak terkena hipnotis dirinya segera bangkit dari posisi duduk, untuk kemudian menyambut pelukan mesra pria yang sudah tidak misterius lagi.
Keadaan lab komputer yang sepi dan berada di lantai dua serta jauh dari ruang guru, sangat mendukung peristiwa ini. Adegan pertemuan dua orang kekasih yang sudah lama bertaut jiwa tak seorang pun sempat menyaksikannya. Hanya benda-benda yang ada di sekeliling ruanganlah yang menjadi saksi bisu peristiwa itu.
Fauzi mendekapnya lebih hangat dari dekapannya dulu ketika pertama kali bertemu di alam mimpi. Ternyata sosok Fauzi adalah sosok yang begitu perkasa di matanya. Dalam dekapan hangatnya itu dia merasa tentram dan terlindungi. Sudut hatinya yang sejak kecil kedinginan karena tak pernah tersentuh kasih sayang seorang ayah, untuk pertama kalinya terhangatkan.
“Nice, kamu mirip betul dengan pic-pic yang terpasang berjejer di blogmu. Dan kamu mirip betul dengan Nice yang selalu hadir dalam benakku sepanjang waktu.” Dalam debaran jantungnya yang cukup kuat, pria itu berusaha mengungkapkan sedikit demi sedikit kata-kata hatinya.
“Pastilah mirip, itu kan poto-poto narsis-ku sendiri, bukan pinjem punya orang.” Katanya, kedua tangannya masih melingkari tubuh gemuk pria itu. Terasa olehnya sekujur tubuh pria itu begitu hangat, entah pengaruh suhu udara hari ini yang memang sedang memasuki musim kemarau, entah pengaruh lain yang datang dari lubuk hati masing-masing yang tak terselami kedalamanya. Pria itu mengecup ubun-ubunya beberapa kali, satu hal yang tak pernah dilakukan oleh Dzulfikar terhadapnya. Dia tersentak secara tiba-tiba ketika mengingat nama Dzulfikar. Lalu secara perlahan dia melepaskan pelukannya dan juga pelukan mesra pria itu, dengan alasan ingin segera menghidangkan minuman.
“Sebentar ya Uzi, aku buatkan minuman dulu. Di sini hanya tersedia air putih, teh manis, dan kopi. Mau minum apa?” Katanya, sambil menghampiri meja tempat menyimpan termos air, ceret, berikut gelasnya, di sudut ruangan.
“Cukup air putih saja!” Tatapan mata pria itu tak pernah lepas mengamatinya. Dia sadari hal itu, dengan begitu dia jadi tidak bebas bersikap.
“Maaf, untuk sementara saya belum bisa menjamu tamu dari negeri antah berantah ini dengan sepantasnya. Habis, kedatanganmu mendadak sekali sih!” Katanya dengan nada malu.
“Oh, it’s OK.” Jawaban yang masih disertai senyuman.
Dia menghidangkan dua gelas air putih di meja dengan tangan sedikit gemetar. Sesungguhnya dia masih belum bisa menguasai keadaan.
“Aku sangat ingin kita bisa lebih bebas lagi berkencan di tempat lain, Nice. Aku menginap di hotel Harmony, jalan Talagabodas. Kalau bersedia, sekarang juga kita ke tempat menginapku itu. Sepertinya kita akan lebih leluasa ngobrol di sana. Atau kita jalan-jalan dulu keliling kota Bandung. Please, beri pelayanan yang memuaskan untuk turismu ini!”
Mendengar ajakan itu dia terdiam. Dia teramat bingung dengan semua pengalaman hidupnya pada hari ini: pertemuan yang tiba-tiba, permintaan tamu yang tiba-tiba pula.
“Ingat Nice, aku datang dari jauh, tak selayaknya kamu tolak semua keinginanku!” Kembali sinar mata Fauzi menusuk tepat di bilik jantungnya. Dan aneh, sekelebatan wajah Dzulfikar hinggap pula di pelupuk matanya, lalu pergi lagi.
“Aku berharap Uzi berkenan mengunjungi rumahku, sekarang juga!” Dia sengaja mengundang Fauzi ke rumahnya sebagai tanda bahwa sekarang di antara mereka berdua sudah tak ada lagi hal-hal yang bersifat misteri. Andai pun suatu saat nanti ia dengan Fauzi tak kesampaian hidup bersama dalam satu ikatan perkawinan, yang ia inginkan Fauzi tetap bisa mengunjungi rumahnya, betapa pun jauhnya jarak yang terbentang antara Australia dan Indonesia, atas nama pesaudaraan.
“Wow, undangannya boleh juga. Tentu saja aku tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Jam berapa kamu diperbolehkan meninggalkan tempat ini?” Kata laki-laki itu dengan semangatnya.
“Sebenarnya hari ini tak ada jadwal mengajar, kosong. Aku sekarang ada di sini karena berniat memanggil orang tua siswa, dan ternyata dia tak memenuhi undanganku.” Jawabnya.
“Dan yang datang malah orang asing, ya?” Kata laki-laki itu.
“Iya, yang datang malah seorang bule yang sedikit gosong.” Jawabnya. Keduanya tertawa. Dia masih bisa bercanda, tapi belum bisa mengusir semua kegalauan dalam hatinya. Kemudian dia bangkit dari kursi menuju tempat yang telindung dari pandangan dan pendengaran Fauzi, masuk ke ruangan sebelah yang berfungsi sebagai gudang kecil. Melalui handphone-nya dia menyuruh pembantunya memesan hidangan lengkap dari catering langganan untuk menjamu tamunya itu.
“Bila semua sudah siap, beri tahu Ibu secepatnya ya, Ju!” Pesannya lagi pada pembantu setianya.
Setelah ada bel pemberitahuan bahwa hidangan telah siap disantap di rumah, mereka pun bergegas meninggalkan sekolah.
“Bersembunyi di mana selama ini, Uzi?” Tanyanya sesaat setelah mereka berdua berada di dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya.
Ternyata Uzi adalah seorang pria romantis di mana-mana, di cyber, di dunia nyata seperti sekarang ini, juga dalam mimpi-mimpinya. Saat ini pun posisi duduk Fauzi begitu dekat dengannya yang tengah berkonsentrasi pada setir dan jalanan. Sesekali tangan kanan Fauzi melingkar di bahunya.
“Waktu itu aku sakit, Nice sayang. Diabetes dan hipertensi sangat mengganggu hidupku. Aku sempat terpuruk, kesehatanku memburuk, dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Waktu itu tekadku sangat kuat untuk bisa sembuh. Aku sangat berharap rencanaku untuk menemuimu bisa terlaksana di alam nyata. Oleh karenanya aku turuti semua petunjuk dokter yang menyarankan aku berdiet ketat dan bersitirahat secara total. Usahaku ternyata tak sia-sia kan, Nice Sayang?”
Selama Fauzi berbicara panjang lebar itu, dia berpikir keras, bagaimana caranya menjelaskan pada laki-laki ini tentang kehadiran Dzulfikar di antara mereka berdua. Dan bagaimana caranya menjelaskan pada Dzulfikar tentang siapa sebenarnya Fauzi. Sejujurnya, dia tak mau menyakiti hati kedua pria yang di matanya sama-sama penting, sama-sama bermakna. Dulu dan kemarin-kemarin dia tak menyangka sama sakali, bahwa di kemudian hari akan dihadapkan pada masalah rumit seperti ini.
“Uzi…, Uzi percaya takdir kan?” Dia mencoba mengajukan pertanyaan yang dulu pernah Fauzi ajukan juga kepadanya.”
“Kenapa bertanya begitu, Sayang? What’s the matter? Adakah sesuatu yang buruk telah menghalangi hubungan kita?” Raut muka Fauzi tiba-tiba berubah. Wajah cerahnya meredup seketika.

To be continued
Copyright Popon Saadah 2007

8 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/08/03/merahnya-cinta-birunya-rindu-5/trackback/

  1. Ceuk uwa mah coba jadikeun carita iyeu kana novelkeun, da aya alo chater uwa, nu ngikutin cerita ini, manehna nanya ka uwa. kiyeu: uwa naha leres carios eta teh?, tuh nya sigana geus ngajiwai para pembacana carita teh. Mudah2an wae nama Popon Saadah iyeu sanggeus nganovelkeun carita iyeu sarua kasohorna jeung pujangga2 nu uwa nyaho saperti: Pramudya Anantatur, Achdiyat Karta Mihardja, HAMKA, Sutan Takdir Alisyahbana, Roesli …..dlsb, eta pujangga2 baheula anu uwa nyaho, da nu enggal mah uwa teu terang. keep writing….Semoga success……semoga jadi pengarang canggih jeung …kasohor….

    Comment by Uwa — August 5, 2007 @ 7:17 am

  2. Benar tidaknya cerita ini, tanyakan saja pada Fz. Dia lebih berhak
    dan berwenang untuk menjawabnya. Dan dia lebih tahu semuanya.

    Comment by pop_ice — August 5, 2007 @ 11:48 pm

  3. Har geuning kalah ka kudu naroskeun ka sim kuring….Ah sim kuring mah sanes pengarang, da teu terang kumaha kalanjutan nana eta cerita. Nya pangarang nu terang mah. Abdi mah ngan saukur penonton, lamun rame keprok. lamun sedih ceurik, lamun kesel nya paling oge meureupkeun dampal leungeun. he he he….

    Comment by Fz — August 6, 2007 @ 10:13 pm

  4. Bagi saya, Fz adalah sumber inspirasi. Bila diibaratkan cerita ini sebuah film, Fz adalah produsernya,
    sedangkan saya hanya sutradara. Dan para aktor dan aktrisnya adalah tokoh-tokoh imajiner yang hidup
    dalam dunia imajinasi kita berdua.

    Comment by pop_ice — August 7, 2007 @ 7:39 am

  5. assalamualaikum ibu Popon… tepangkeun abdi uli ( alo na uwa…. alo ketemu gede… he.he.he. ) hoyong ngiringan masihan comment.
    Uli ngikutin terus cerberna bu Popon. Dikasih tau uwa klo ada cerber yang bagus. Dan ternyata memang seru juga bu. Tapi uli pengen usul neh, gimana klo ceritanya jangan di buat happy ending, karna cerita yang happy ending mah dah terlalu banyak dan biasa.. Biar yang baca nya jadi gemes,,, kan lebih asik tu….
    Soalnya dari sekian banyak novel / cerita yang uli baca, pasti dan selalu berkahir happy ending, yang akhirnya itu tadi tiap kali ada cerita yang mau di baca lagi, sebelum di baca pun dah bisa ketebak akhirnya…..

    hatur nuhun….

    salam baktos kanggo ibu Popon

    Comment by Anonymous — August 7, 2007 @ 6:11 pm

  6. assalamualaikum ibu Popon… tepangkeun abdi uli ( alo na uwa…. alo ketemu gede… he.he.he. ) hoyong ngiringan masihan comment.
    Uli ngikutin terus cerberna bu Popon. Dikasih tau uwa klo ada cerber yang bagus. Dan ternyata memang seru juga bu. Tapi uli pengen usul neh, gimana klo ceritanya jangan di buat happy ending, karna cerita yang happy ending mah dah terlalu banyak dan biasa.. Biar yang baca nya jadi gemes,,, kan lebih asik tu….
    Soalnya dari sekian banyak novel / cerita yang uli baca, pasti dan selalu berkahir happy ending, yang akhirnya itu tadi tiap kali ada cerita yang mau di baca lagi, sebelum di baca pun dah bisa ketebak akhirnya…..

    hatur nuhun….

    salam baktos kanggo ibu Popon

    Comment by ulie — August 7, 2007 @ 6:14 pm

  7. Waalaikumsalam. Hatur nuhun parantos kersa rurumpaheun ka blog sim kuring. Bingah pisan tiasa diwanohkeun sareng Neng Uli. Sareng hatur nuhun deuih kana usul sareng saranna. Insya Allah ku abdi eta usul teh di emutan sareng diperhatoskeun. Tapi da ieu mah carios lulumayanan, namina oge hasil karya pangarang amatir. Tebih pisan tina disebat sae teh. Diantos saran sareng kritik salajengna.

    Comment by pop_ice — August 8, 2007 @ 4:22 am

  8. Tah geuning ahirna amprok kapialo jeung kapi uwa teh, Uwa jadi atoh, sok neng Uli bere semangat tah .uwa istri ameh jadi pangarang kasohor…..he he he…….

    Comment by Uwa — August 8, 2007 @ 10:28 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer