FENOMENA…

August 31, 2007

Really

Filed under: Ungkapan Perasaan

    Glitterfy.com *Glitter Graphics*

August 29, 2007

Desain Cover dan Sinopsis Novel MCBR

Filed under: Uncategorized

my rose

Design by: Fauzi2003

Sinopsis Novel “Merahnya Cinta Birunya Rindu”
Dewi Rengganis adalah seorang wanita yang memvonis dirinya mandul setelah beberapa tahun berumah tangga tak juga dikaruniai keturunan. Dia sempat tidak percaya pada kesetiaan setiap laki-laki, ketika suaminya berpaling pada wanita lain.
Untuk mengurangi kegelisahan hatinya dalam menjalani hari-harinya yang sepi, dia menyibukkan diri dan berkonsentrasi pada profesinya sebagai guru IT. Dalam pengembaraannya sebagai chatter di dunia cyber, dia bertemu dengan seseorang yang bisa memahami dan menerima keadaannya. Melalui media chatting mereka berkomunikasi secara intens, sehingga tumbuhlah benih-benih cinta di hati keduanya.
Ketika ibunya memperkenalkan seorang pria untuk menjadi calon pendampingnya, kekasih cyber-nya kemudian menghilang dari dunia maya, tak tentu rimbanya. Dengan begitu si wanita menjadi lebih akrab dengan pria pilihan ibunya.
Di saat si wanita terlanjur menerima lamaran pria pilihan ibunya itu, laki-laki yang menjadi kekasih cyber-nya dulu menjelma menjadi sosok nyata di hadapannya dan menagih kesetiaannya. Timbullah konflik batin dalam hatinya, yang berakhir dengan keberaniannya mengambil sebuah keputusan.

Tentang Pengarang
Popon Saadah dilahirkan di Limbangan Garut pada 13 Oktober 1966. Lulus dari program Diploma II Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah IKIP Bandung tahun 1988. Pada 1989 hingga sekarang mengajar mata pelajaran muatan lokal Bahasa Sunda di SMPN 4 Cimahi. Pada tahun 2001 melanjutkan studi program S1 di UPI Bandung. Mulai menulis kolom dan cerita pendek dalam Bahasa Sunda pada tahun itu juga, dimuat pada majalah Mangle. Kemudian karya-karyanya baik yang berbahasa Sunda maupun berbahasa Indonesia dipublikasikan pada jurnal online milik pribadi.

August 24, 2007

Catatan Kecil untuk MCBR

Filed under: Opini Pribadi

Reni Kusniati

Kisah cinta memang tak pernah bosan untuk dibaca, kisah ini akan abadi sepanjang masa. Demikian pula cerita cinta yang kita baca dalam novel yang berjudul “Merahnya Cinta Birunya Rindu” karya Popon Saadah.
Nama Popon Saadah sepertinya sudah tak asing lagi bagi para pecinta sastra Sunda, khususnya pembaca majalah Mangle, karena karyanya banyak dimuat di majalah itu. Kini penulis berbakat ini sepertinya ingin menapaki lembaran baru di blantika sastra Indonesia dengan melahirkan sebuah novel munggaran-nya.
Namun sepertinya sudah menjadi sebuah aksioma, kalau karya sastra bisa dikatakan baik bila memenuhi kriteria paling mendasar yaitu aktual, orsinil, logis, banyak hikmah yang bisa dipetik dan mampu menimbulkan kesan mendalam bagi para pembacanya.
Naah.. dapatkah MCBR dikategorikan sebagai sebuah karya yang memenuhi kriteria di atas? Mari kita kupas.
Tema yang diangkat dalam MCBR cukup aktual untuk saat ini. Di sini cinta dikemas dengan melibatkan teknologi informasi. Penulis memadukan alam maya dan alam nyata dalam suatu peristiwa yang menimpa tokoh utama. Ini jarang ada dan masih belum banyak disentuh oleh para penulis lain. Ya tentu saja keorsinilan karya ini bisa dipertanggung jawabkan.
Logiskah cerita ini? Di sinilah letak permasalahannya. Sefiktif apa pun sebuah karya dalam sastra, tetap saja unsur kelogisan harus diperhatikan. Ketidak logisan cerita ini terletak pada ending cerita yang terkesan dipaksakan. (more…)

August 22, 2007

Komentar Nia Anita tentang MCBR

Filed under: Opini Pribadi

my friend

Untuk pertama kalinya aku membaca cerber karya Popon Saadah dalam Bahasa Indonesia. Ceritanya bagus (karena tidak semua orang memiliki kemampuan menulis baik fiksi atau non fiksi, termasuk aku). Terus terang saja tulisan ini beda dengan cerita-cerita dalam bahasa Sunda. Dalam Bahasa Sunda seorang Popon Saadah begitu pandainya mendeskripsikan suasana dan tokoh. Tapi kali ini deskripsinya terasa mengambang terutama di awal-awal tulisan. Aku membacanya seperti sedang mendaki mendaki Gunung Jawa Wijaya (he..he..he.. lewat Sorong tentunya).
Dan lagi tulisan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang pernah singgah dan berkelana di dunia cyber terutama yang pernah berkecimpung di YM (Mang Yahoo).
Ada tulisan yang mengganjal buat saya:
“Karedok yang enak kan mesti pake oncom dan kencur,” halaman 43. Setahu saya karedok gak pake oncom (yang pake oncom ulukutek).
Comment cukup sekian aja yah…Teruslah berkarya…Bukankah menulis itu suatu keterampilan!

August 16, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu IX

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian IX

Malam ini adalah malam yang membuatnya begitu resah. Sebentar-sebentar dia terbangun dari tidurnya, terganggu oleh kegelisahannya sendiri. Dia jadi takut menghadapi hari-hari yang terbentang di hadapannya. Andai dia punya kuasa menghindari hari esok dan melompat ke masa depan, barangkali malam ini juga dia akan segera melakukannya.
Dia tak bisa memprediksi, apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan dilakukan Dzulfikar dan Fauzi dalam menyelesaikan persoalan mereka bertiga ini? Apakah keduanya akan bersikukuh pada prinsipnya masing-masing, mempertahankan apa yang menurut mereka berdua adalah haknya? Atau setelah terjadi perdebatan sengit akan ada salah seorang yang rela mengalah memberikan apa yang menjadi haknya pada rivalnya?
Bila dipikir-pikir, dia tak berbeda dengan sebuah benda, benda yang tak berdaya, layaknya sebuah mainan yang menjadi rebutan dan permainan pria yang ingin memainkannya. Ia benci pada dirinya sendiri, yang begitu bodohnya membiarkan dirinya menjadi pemicu perseteruan dua orang laki-laki. Dalam skenario kehidupan ini, kenapa harus dia yang menjalani peran sebagai sumber gara-gara bersitegangnya dua pria itu?
Pagi ini dia mencoba mengawali kegiatannya dengan berpikir positif, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Dia ingin pertemuannya dengan kedua orang yang telah berkenan memberi warna pada kehidupannya adalah pertemuan yang memberinya banyak hikmah. Dan dia ingin merayakan pertemuan ini dengan menghidangkan jamuan lezat pagi hari. Makanan apa ya yang menjadi menu favorit Zul dan Uzi? Dia ingin membuat jamuan yang simple, tapi bisa memuaskan kedua tamunya. Kemudian dia masih ingat, di sela-sela chatting-nya dulu, Fauzi suka bercerita tentang makanan kesukaannya. Dan makanan khas Sunda yang disukai dan dirindukan Uzi selama berada di Aussi adalah kupat tahu. Sedangkan Zul lebih suka lontong kari. Pagi ini dia akan menghidangkan keduanya. dia membeli ketupat yang sudah jadi dari penjual yang sudah terkenal akan kelezatan rasa ketupatnya, sedangkan sayur dan yang lain-lainnya dia masak sendiri.
Detik-detik yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Dia sudah siap dengan semuanya, dengan jamuan simple-nya, dan dengan penampilannya yang lain dari biasanya. Dia mengenakan gaun yang terbaik untuk menghormati kedua tamunya. Harapannya, sambutan yang dipersiapkannya sedemikian rupa ini bisa meredakan keegoisan kedua laki-laki itu. (more…)

August 11, 2007

Catatan dari Penulis MCBR

Filed under: Info Singkat

popon saadah

MCBR, sebuah cerita bersambung pada blog ini yang rencananya akan dijadikan novel. Cerita ini adalah cerita terpanjang saya yang pertama kali saya tulis dalam bahasa Indonesia. Tujuan saya menulis cerber ini awalnya sederhana saja, yaitu hanya untuk memenuhi pesanan seseorang yang sudah begitu lama ingin menjadi tokoh salah satu cerita yang saya buat.
Pada bagian pertama dan kedua cerber ini saya sebagai pengarangnya masih berada di luar garis cerita, artinya saya menyadari betul bahwa semua yang saya tulis itu hanyalah fiksi atau rekaan belaka. Tapi ketika saya melanjutkan menulisnya sampai pada bagian ke-8, terasa hati dan pikiran saya ikut hanyut di dalamnya. Semua itu terjadi barangkali dikarenakan saya terlalu konsentrasi pada suasana, atmosfir, serta karakter para pelakunya. Seperti misalnya ketika tokoh utama mengalami kesedihan yang dalam, saya pun mengalami perasaan yang sama ketika sedang menuliskannya. Mungkin bagi pembaca, hal itu bisa jadi sangat berlebihan, tapi seperti itulah sesungguhnya yang saya rasakan.
Pada saat ini pun saya sedang bingung, tokoh utama yang bernama Anis atau Nice itu harus memilih siapa untuk dijadikan pendamping hidupnya? Padahal Anis atau Nice itu bukanlah saya. Bagaimana tidak bingung, bila Nice memilih Fauzi, pasti Dzulfikar sakit hati. Dan bila Anis memilih Dzulfikar, jelas-jelas Fauzilah yang akan prustasi. Kok bisa? Bukankah tokoh-tokoh itu hanyalah tokoh-tokoh imajiner? Tidak. Mereka (Uzi dan Zul) bukan tokoh imajiner, tapi keduanya benar-benar ada dalam kehidupan nyata, bungkeuleukan kata orang Sunda. Jika Uzi dan Zul bungkeuleukan, apa Nice atau Anis juga nyata? Meskipun saya pengarangnya, saya tak bisa menjelaskannya. Masalah nyata tidaknya seorang Nice, baik tanyakan saja pada sosok bungkeuleukan Uzi atau Zul :) .

August 10, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu VIII

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian VIII

Dia segera menyadari kekeliruannya, kenapa bertanya seperti itu? Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang pada Fauzi tentang masalah rumit yang sedang dihadapinya itu. Biarlah Fauzi menikmati dulu kebersamaan ini sepuasnya. Biarlah tamu yang datang dari tempat yang sangat jauh ini berkesempatan menumpahkan segenap rindu dendam, yang pasti dalam hatinya sudah begitu lama terpendam.
“Aku bertanya seperti itu, karena ya…ingin saja. Sekedar bertanya, boleh kan?” Katanya sambil melirik dan mengajak tersenyum pria di sampingnya.
“Jangan membuat pertanyaan dan pernyataan yang menimbulkan kepenasaranku!” Pinta pria itu.
“Hehe..kita sekarang berada di dunia realita, Uzi. Kita bukan sedang chatting di cyber. Nyantai aja lagi. Apa lagi sih yang membuat Uzi masih merasa penasaran terhadapku?” Tanya dia.
“Kamu banyak berubah!” Jawab Fauzi.
“Masa? Apanya yang berubah?”
“Banyaklah. Di dunia realita ternyata kamu tidak sehangat female_39, tidak semanja female_39, dan sepertinya di darat female_39 ini sengaja menjaga jarak. Sejak aku tiba di sekolahmu sampai detik ini, telingaku belum pernah sekalipun mendengar kamu memanggilku dengan kata “sayang”, seperti dulu waktu kita sering berkencan di YM.” Protes Fauzi.
“Apa yang telah terjadi, Nice?” Tanyanya lagi. Sesungguhnya pertanyaan ini menambah kacau balau pikirannya. (more…)

August 3, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu VII

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Diposting ulang

Oleh Popon Saadah

Bagian VII

Terpikir olehnya, sampai kapan hatinya akan terus menerus tenggelam dalam kebimbangan? Bila tak ada keberanian memutuskan satu persoalan, sampai kapan pun tak akan pernah bertemu kebahagiaan. Bila ingin ada perubahan ke arah depan, dia memang harus berani melangkah. Tapi bila ternyata kegagalan masih berpihak padanya, harus rela juga menerimanya. Setiap pilihan yang diambil ada resikonya, dan sesungguhnya, hidup adalah resiko itu sendiri.
Secepat gerakan jarum jam penunjuk detik, Dzulfikar sudah kembali berada di hadapannya, menunggu jawaban yang suatu saat harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di menit-menit terakhir, dia masih menimbang-nimbang. Bila dia bersedia menerima Zul sebagai suami, sederet kewajiban harus segera dilaksanakan. Bila dia rela menerima kedua anak Zul sebagai anaknya juga, segudang tugas sebagai seorang ibu, harus segera ditunaikan. Tapi tentu saja semua itu ada imbalannya. Sudah menjadi sunnatullah, amal kebaikan sebesar dzarrah pun akan ada pahalanya. Dan sebaliknya, perbuatan buruk sebesar dzarrah pun akan mendapat balasan. Pahala atas ketaatan seorang istri pada suami sudah menantinya. Pahala atas kerelaannya mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga tengah menunggunya. Bismillaahirrahmaanirrohiim, ya Allah semoga pilihanku kali ini adalah pilihan yang terbaik dalam hidupku. Dan aku memilihnya semata-mata untuk mencari ridho-Mu ya Allah. Semua kata hatinya itu mendorongnya untuk memberikan jawaban dengan mantap. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer