FENOMENA…

July 23, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu V

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Akhirnya malam ini dia bertemu juga dengan Fauzi. Laki-laki ini datang menemuinya dengan seikat symbol cinta di tangannya. Dia menerima mawar-mawar merah itu dengan bahagia, lalu dirangkainya dalam jembangan berbentuk hati. Dalam pandangannya, wajah dan penampilan Fauzi biasa saja. Raut mukanya menggambarkan kebersahajaan pribadinya. Tak ada yang dipersoalkan, dia sudah terlanjur suka dengan semua yang ada pada pria itu.
Tanpa sungkan Fauzi memeluknya dengan penghayatan yang dalam. Dia pun tak berdaya menolak dekapan kekasih yang sudah begitu lama dinantikan kehadirannya.
“Wujud asli Nice itu ternyata seperti ini, toh…” Pria itu bebisik di telinganya. Wajah si wanita merona dikarenakan rasa malu dan rindu yang menggebu.
“Ternyata mukaku ancur ya, Uzi?” Dia membalas berbisik di telinga pria itu. Masih di dalam hangatnya pelukan pria pujaan, dia menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang semakin mendekati wajahnya.
“Ancur apanya? Ancur lipstick-nya kali.” Saat ini wajah dan tubuh mereka berpadu tak berjarak. Seperti jiwa mereka yang sudah sejak lama lekat. Suasana jadi hening…sepi… sebab mereka tengah menikmati gelora rasa dengan bertautnya dua bibir, begitu lama…dan…lama… Bibirnya benar-benar tak kuasa menghindari lumatan bibir nakal kekasihnya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya. Terasa ada yang mendesak di bawah perutnya, ingin segera dikeluarkan. Dengan segera dia bangkit lalu tergesa-gesa masuk ke kamar kecil. Ah, ternyata adegan hangat yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi.
Sekembalinya dari toilet dia masih merenung-renung. Kok bisa ya malam ini aku mimpi bertemu dan kemudian berkencan dengan Fauzi. Gumamnya. Mungkin karena sejak dua hari ini dia terlalu konsen memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu. Rasa sesal memenuhi rongga dadanya karena mimpinya tak sempat selesai. Lalu dia melirik jembangan bunga berbentuk hati yang ada di atas buffet, tak ada seikat mawar merah di situ. Sedih. Matanya melirik jam meja di samping vas bunga yang ternyata masih kosong itu, jarum pendeknya berada di posisi waktu tengah malam. Dia ingin meneruskan tidurnya dengan harapan mimpinya tadi bersambung ke episode atau jilid selanjutnya. Tapi selamat, sampai tiba pagi hari mimpi indahnya tak muncul lagi.
Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Sebuah pesan singkat khusus untuknya, dari pria yang baru beberapa hari dikenalnya, Dzulfikar.
“Selamat pagi, Anis. Apa kabar hari ini?”
“Alhamdulillah, saya sehat.”
“Belum berangkat ke sekolah, Bu Guru?”
“Sebentar lagi. Sekarang sedang sarapan.”
“OK. Kalau begitu, selamat menjalani aktifitas rutinnya. Good luck!”
Akh, basa-basi yang basi!!
Dia membalas kembali pesan itu dengan singkatnya, “Thanks.” Sebenarnya dia tak begitu suka basa-basi seperti itu, dirinya lebih suka kalimat yang sifatnya to the point, apalagi melalui SMS. Dia menyukai kalimat-kalimat yang singkat, padat, jelas, biar cepat tertangkap maksudnya dan cepat selesai urusannya, serta tidak akan menimbulkan salah tafsir. Kecuali bila ngobrol di cyber, itu lain lagi. Momen dan suasana di alam maya memang dikondisikan untuk berbasa-basi dalam rangka membuang waktu, mengusir sepi, dan membunuh rasa jenuh.
Andai bukan ibunya yang memperkenalkan dia pada pria itu, dari awal dia sudah terbirit-birit menjauh. Kehadiran seorang pria dengan sosok nyata tak dirasa penting untuknya. Tanpa pendamping pun, dia masih bisa makan, jajan, shopping, nge-net di warnet. Apa lagi?
Lalu bagaimana dengan masa tuanya jika dia panjang usia? Siapa yang akan mengurusnya jika bukan anak kandung dan saudara? Kan ada panti wreda. Semua tunjangan pensiunnya akan dia serahkan pada panti yang berbaik hati mengurusnya.
Tapi ternyata hidup ini tak sesederhana itu. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil satu keputusan. Sepertinya dia tidak boleh bersifat egois, harus patuh pada ibu, tunduk pada waktu, berbaik-baik sikap pada calon pendamping hidupnya nanti, dan sebagainya. Menjalani semuanya memang tampaknya melelahkan!
Untuk melupakan sejenak persoalan-persoalan yang akhir-akhir ini berdesakan memenuhi kepalanya, dia terjun lagi ke dunia cyber, menemui salah seorang chatter yang dalam mimpinya tadi malam telah sudi menyempatkan hadir. Tapi kemudian dia Kecewa berat. Id yang dituju tidak online. Kemana ya Uzi? Rasanya hari ini bukan hari kegiatannya di Islamic Centre. Atau ada acara mendadak? Hatinya tak berhenti bertanya-tanya. Anehnya lagi, tak seperti biasanya pria itu tak meninggalkan message offline di PM-nya. Hari ini YM-nya benar-benar sunyi dan membosankan. Ada sih beberapa teman yang OL yang sudah akrab juga dengannya, tapi semuanya cuma sekedar teman berbincang di kala senggang. Tak ada yang seistimewa pria itu. Di blog-nya pun tak ada postingan baru, artikel dan karya-karya yang ada basi semua.
Satu jam sudah berlalu. Dia memutuskan untuk tidak lagi menunggu, karena yang ditunggu tak kunjung muncul. Besoknya terjadi lagi seperti itu. Lusa dan hari-hari selanjutnya, sama. Tak ada lagi acara chatting mesra, tak ada lagi kegiatan berbalas e-mail, tak ada lagi diskusi di blog masing-masing secara bergantian. Dan dia enggan menulis e-mail walau hanya sekedar menanyakan keberadaan si pria saat ini, sebab bila e-malinya tak berbalas, malah akan membuat hatinyanya semakin kecewa. Sesungguhnya dia telah kehilangan jejak. Fauzi benar-benar tenggelam di lautan ketidakpastian.
Sebagai tanda bahwa dia masih setia, setiap hari tak bosan-bosannya mengecek keberadaan kekasihnya itu dengan membuka YM, e-mail dan blog. Id fauzi2003 tetap “tidur nyenyak”. Sempurnalah kemisteriusanmu, Fauzi! Katanya.
Yang dia khawatirkan adalah kondisi fisik Fauzi. Waktu chatting terakhir Fauzi sempat bercerita bahwa kesehatannya memburuk. Dia berdo’a untuk kesembuhan laki-laki itu, andai sekarang sedang dalam perawatan di rumah sakit.
Sejak menghilangnya orang terdekat setelah ibunya, jiwanya terasa hampa, merana. Hari-hari yang dilalui tak ubahnya seperi lembaran buku kosong yang warna kertasnya abu-abu. Kelam. Kegiatan chatting, surfing, maupun browsing sudah bukan kegiatan rutin lagi kali ini. Hanya sekali-sekali saja dia lakukan saat butuh referensi.
Mengajar anak-anak pun tidak sesemangat dulu. Bila tak terlalu penting, dia jarang menggunakan media internet dalam proses belajar mengajarnya. Baginya, internet bukan hal yang menarik lagi. Gelap terangnya dunia itu sudah ia pahami. Di cyber dia pernah tertawa bahagia, dan di cyber pula ia menangis karena kecewa.
Sekarang dia sedang belajar menapaki dunia realita, dunia di mana semua penghuninya bisa diraba, termasuk Dzulfikar, yang akhir-akhir ini sering mengunjunginya bila sedang bebas tugas. Memang skenario hidupnya harus seperti ini barangkali. Lambat laun dia menyadari semua ini dengan pasrah. Oleh karena itu dia tak pernah menolak bila Dzulfikar mengajaknya ke suatu tempat untuk tujuan refreshing, hitung-hitung terapi, pemulihan hatinya yang tengah merana kehilangan belahan jiwa secara tiba-tiba.
Kadang mereka berdua saja pergi ke café untuk sekedar nongkrong menikmati beberapa jenis makanan yang dipesan, diiringi pertunjukan musik liveshow. Bila awal bulan, Zul selalu mengajaknya ke toko buku, hunting buku-buku terbitan baru. Atau berjalan kaki menyusuri jalan yang rindang menikmati sejuknya udara sore kota Bandung sambil mencari jajanan yang enak di lidah tapi murah.
Kali ini pun seperti itu, mereka sudah cukup jauh berjalan menyusuri panjangnya Jalan Setia Budi. Ketika melihat bangku kosong yang permanen karena terbuat dari bata, Dzulfikar mengajaknya beristirahat dulu.
“Kenapa dari tadi diam saja, Nis? Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Nggak. Cuma sedikit cape.” Jawabnya.
“Cape? Ya sudah, kita duduk dulu di sini yu, sampai lelahnya hilang.”
“Atau barangkali ada sikapku yang kamu tidak suka?” Kata Dzulfikar lagi. Dia berpikir sejenak, rasanya tidak ada juga. Pada dasarnya Zul itu baik, malah baik banget. Hidupnya penuh vitalitas dan optimisme. Tapi ada satu hal yang tak ada padanya, yaitu sifat romantis. Kalau pun berbicara banyak, nada maupun isi pembicaraannya lurus-lurus saja. Sampai hari ini, dia belum pernah mendengar satu pun ungkapan Zul tentang ketertarikan laki-laki ini pada dirinya, apalagi kata-kata mesra seperti sayang, honey, darling, miss you, love you, dan sebagainya.
Dia jadi ingin mengajukan pertanyaan, hubungan yang sedang mereka jalini ini hubungan macam apa? Hubungan khusus atau cuma sekedar pertemanan? Bagi dia sih tak masalah mau condong ke arah mana kedekatan yang sudah berjalan tiga bulan ini. Yang terpenting harus ada kejelasan. Tapi dia tak berani terbuka tentang semua ini langsung pada orangnya. Jawaban yang keluar dari bibirnya bukan seperti apa yang sedang dipikirkannya.
“Nggak ada, Zul. Sikapmu selama ini baik-baik saja. Aku cuma pusing dikit.”
“Pusing? Kenapa tidak bilang dari tadi? Pasti kita tidak akan jalan sejauh ini. Anis…Anis…” Kata pria itu lagi. Dia bangkit dari duduknya, kemudian mengajak si wanita untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Entah kenapa, si wanita pikirannya jadi teringat kembali pada seseorang, seseorang yang sudah cukup lama berusaha dia lupakan. Lalu dia membandingkannya dengan laki-laki yang sedang berada di sampingnya ini. Jika yang sekarang sedang mendampinginya ini adalah Fauzi, mungkin dia akan merasa sedang dilindungi. Mungkin pula dari awal bertemu Fauzi sudah menghiburnya dengan kalimat-kalimat indah, lalu tangan Fauzi menggenggam tangannya, atau memeluk bahunya. Sinar matanya bergelora dan berbicara banyak tentang cinta. Tapi Dzulfikar? Menyentuh bahunya barang sebentar juga belum pernah. Saat menyebrang jalan raya saja dia tak mau menggandeng tangannya. Kata-katanya lugas tak bersayap. Pandangan matanya lurus ke depan, sekali-sekali meliriknya dan sinarnya terpancar tanpa makna. Andai Zul menganggap dia kekasihnya, Zul adalah seorang kekasih yang dingin. Untuk teman diskusi, OK lah, untuk teman jajan juga lumayan, pria tinggi ramping ini selalu bersedia menjadi donatur. Tapi untuk dijadikan pendamping hidup? Dia tidak bisa membayangkannya. Akan seperti apa atmosfir rumah tangganya bila sang kepala rumah tangga terlalu serius, tak suka humor, dan bersikap sedingin es?
“Mau terus pulang, atau mau mampir dulu ke rumah makan?” Kata pria itu setelah keduanya ada di dalam mobil yang sengaja diparkir agak jauh dari bangku permanen tadi.
“Ke Indah café aja, aku kangen pada secangkir kopi panas.”
“OK.” Kata pria itu sambil memutar mobilnya ke arah jalan menuju café yang dimaksud.
Suasana di dalam café cukup ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati akhir pekan. Dia dan laki-laki itu memilih duduk di kursi yang agak tersembunyi, terhalang oleh tanaman rindang yang tumbuh dalam pot besar.
Dari panggung, seniman-seniman penghibur para tamu sedang bersiap-siap akan menghadirkan lagu-lagu requaest para pengunjung. Tak lama kemudian terdengarlah suara merdu dua orang penyanyi membawakan lagu “Cintai”-nya Melly Guslow featuring Krisdayanti.
Suasana di sekitar mereka berdua cukup romantis. Tapi pria ini tak terpengaruh oleh keadaan, dia tengah khusu dengan buku barunya. Dan si wanita bengong sendiri, sambil sesekali menyeruput kopi panas kesukaannya.
Lagu yang tengah dibawakan penyanyi café itu sampai pada lirik:

Cinta tegarkan hatiku
tak mau sesuatu merenggut engkau
naluriku berkata tak ingin terulang lagi
kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa

Aku junjung petuahmu
cintai dia yang mencintaiku
hatinya dulu berlayar
kini telah menepi
bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia…

Hatinya kembali merindukan orang itu, orang yang tiba-tiba menghilang tak tentu rimbanya setelah mengunjunginya dalam mimpi. Fauzi, di mana engkau berada saat ini? Apa salahku hingga kamu tak mau memberitahuku tentang keberadaanmu sekarang? Batinnya.
“Kamu menyenangi lagu itu, Nis?”
“Iya, Uzi. Itu lagu favoritku.”
“Uzi? Siapa tuh Uzi?” Tanya laki-laki itu sambil memandang wajahnya keheranan.
“Eh, sorry. Tadi aku sedang berpikir tentang teman di sekolahku itu. Dia juga senang lagu ini.” Dia berusaha bersikap wajar dengan mencoba tersenyum.
“Teman, apa teman?” Kata pria itu lagi.
“Ya teman lah, kenapa memang kalau dia bukan teman?” Dia sedikit gusar pada laki-laki di hadapannya. Dia kurang suka dengan nada menyelidik pria itu. Akhirnya mereka terdiam. Si pria asyik sendiri dengan buku bacaannya, si wanita tak mau kalah, juga asyik sendiri dengan khayalannya tentang pria Australia pujaannya.

To be contonued
Copyright popon saadah 2007

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/07/23/merahnya-cinta-birunya-rindu-3/trackback/

  1. Ih jadi ge er maca bagian iyeu mah. Aduh etah meni bisaan euy. membuat imajinasina. bener2 membuat orang pada ge er………he he he……..keep writing darling…….

    Comment by Uwa — July 23, 2007 @ 10:10 pm

  2. yah namanya juga usaha :) , lamun teu kitu abdi moal emam heheh….

    Comment by pop_ice — July 24, 2007 @ 4:05 am

  3. saya suka bunga ini, kalau masih ada kirim ke saya punya alamat email ok.
    terimah kasih banyak.
    saya tunggu

    Comment by Albertina da costa ximenes — July 26, 2009 @ 5:22 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer