Merahnya Cinta Birunya Rindu IV

Oleh Popon Saadah
Bagian IV
Terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak kedatangan ibunya tempo hari. Perlahan dia bersedia memulai melangkahkan kaki menapaki jalan hidup yang selama ini dihindarinya, kehidupan baru dengan kehadiran seseorang. Seseorang yang tak cuma bisa hadir di alam imajinasinya, tidak cuma berwujud siluet yang tampil dalam avatar atau display image di folder PM (Privacy Message-nya), bukan pula seseorang yang sosoknya hanya diwakili oleh ikon dan aksara, tapi orang itu benar-benar nyata, senyata dirinya dan ibunya.
Dia bukan tak berdaya menolak semua obsesi ibunya itu. Dia rela menjalani semuanya semata-mata karena rasa kasih yang besar terhadap ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kepada siapa lagi dia harus tunduk dan patuh, selain kepada bunda yang sudah begitu tegar menjadi single parent, hingga dia bisa menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang ini. Dia pantang menjadi seorang anak yang membangkang.
Pada hari ini dia harus mau menunggu kedatangan seseorang itu, seseorang yang mungkin selanjutnya akan membuat harinya-harinya tak sepi lagi. Dan hal tersebut menjadi bagian dari tuntutan skenario kehidupan dia selanjutnya.
Hari ini juga dia terpaksa menghapus semua image buruk tentang pria dalam pikirannya. Mulai saat ini dia harus mengakui dan harus percaya, bahwa dari sekian banyak pria yang tak setia di dunia nyata, terdapat juga pria-pria setia. Oleh karena itu dia mulai berani membuka diri, dengan harapan, setiap pengorbanan yang ia lakukan, membuahkan kebahagiaan untuk bundanya seorang.
Ketika lelaki yang dinantikannya itu sudah berada di hadapannya, dia baru tersadar, bahwa momen ini tak setegang yang dibayangkan. Semuanya berjalan dengan santai, tanpa debaran jantung di dadanya, tiada luapan perasaan gembira layaknya bila dia bertemu Fauzi di alam maya. Sungguh sebuah awal pertemuan yang terlalu biasa.
“Seperti sudah kuduga sebelumnya, wanita yang saya kunjungi hari ini semanis namanya!” Kata lelaki itu, setelah keduanya berjabat tangan dan duduk berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat, hanya terhalang oleh meja tamu ukuran setengah meter, yang di atasnya sudah tersedia dua gelas softdrink beserta beberapa makanan cemilan.
“Terima kasih. Tapi saya tidak semanis yang anda kira. Biasa saja, alakadarnya, seperti yang anda lihat ini.” Dia menjawab dengan santainya.
“Panggil saya Zul. Nama lengkap saya Dzulfikar Malik. Kalau adik memanggil saya dengan kata ‘anda’, kesannya resmi sekali.“ Kata pria itu sambil tersenyum.
“Oh, begitu ya. Baiklah Bang Zul, selamat datang di rumahku. Saya senang bertemu denganmu.” Dia membalas senyum tamunya itu. Bagaimana pun enggannya dia menghadapinya, tapi menghormati tamu adalah sebuah keharusan. Terbayang pula dalam benaknya, ibunya yang sekarang sudah kembali ke Jakarta, akan tersenyum bahagia bila menyaksikan semua adegan permulaan ini.
“Ibumu memanggilmu dengan nama Anis. Nama lengkapnya?” Rupanya pria itu masih penasaran tentang namanya. Atau barangkali masih dalam rangka “mukadimah”, untuk menghilangkan sedikit nervous.
“Dewi Rengganis.” Jawabnya.
“Sebuah nama yang sangat bagus, seperti tokoh utama dalam cerita wawacan,” tamunya memujinya lagi. Pikirnya, ah, Si Abang ini pandai juga berbasa-basi demi menyenangkan hati tuan rumah.
“Tapi di cyber, saya dipanggil ‘Nice’.” Tiba-tiba dia jadi teringat pada seseorang yang barangkali sekarang sedang sabar menunggunya dan berharap dirinya segera online di Yahoo Messenger.
“Di cyber? Maksudnya?”
“Saya kan guru IT, sambil memanfaatkan sarana dan waktu, saya sering chatting di internet. Nah ada salah seorang teman chatting yang memanggil saya dengan sebuah nama, ‘Nice’.” Dia berkata begitu sambil tertawa kecil, merasa malu, hari gini, di saat umurnya sudah “dewasa banget” kata Fauzi, masih hobby chatting.
“Kalau begitu, saya harus memanggilmu Nice juga?”
“Oh, jangan, itu hanya namaku di cyber. Panggil Anis sajalah seperti teman-teman yang lainnya.” Entah kenapa dia merasa tidak rela bila panggilan sayang Fauzi untuknya ditiru lelaki lain.
“Baiklah. Ibumu tentu sudah banyak bercerita tentang saya kan? Jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri secara mendetail. Lambat laun Adik akan lebih banyak tahu tentang pribadi saya dari pada saya sendiri.”
“Boleh saya bertanya, Bang?”
“Silahkan.”
“Sudah lama Bang Zul mengenal ibuku?”
“Kira-kira setahun yang lalu. Waktu itu saya berkunjung ke Panti Wreda tempat ibu Dik Anis bertugas. Lalu…setelah beberapa kali berkunjung dalam rangka kegiatan amal yang diselenggarakan kampus saya, kami sempat berbincang-bincang banyak tentang keluarga masing-masing. Dari situlah saya mengetahui bahwa Ibu Pramanik mempunyai seorang anak yang sangat ia banggakan. Dan Alhamdulillah saya sudah berada di hadapannya sekarang,“ kata si pria sambil menatapnya. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika dia membalas tatapannya.
Sang tamu nampaknya berjuang keras untuk mencairkan suasana dengan mencari-cari tema obrolan yang tepat dan menarik. Sikapnya sedikit tidak tenang, sering merubah posisi duduknya.
Melihat semua ini dia maklum, sebab pertemuan ini direncanakan dan dirancang untuk mencapai satu tujuan, dia dan lelaki itu suatu saat harus menjadi pasangan hidup. Tapi dia sendiri tak terpengaruh oleh rencana atau tujuan itu. Dia menganggap bahwa tamu yang sedang dihadapinya ini bukan siapa-siapa, tak ada istimewanya, anggap saja laki-laki ini teman sejawat, seperti teman-teman prianya di sekolah.
Selanjutnya dia sendiri yang berinisiatif untuk mengubah-ngubah topik pembicaraan, agar ketegangan sang tamu mencair dan akhirnya merasa nyaman. Dari kesimpulannya sementara, lelaki itu baik, low profile, tapi sedikit serius, dan sepertinya tidak suka bercanda. Dia jadi teringat pada teman chatting-nya yang lain, Hassan Ismail dari negeri jiran, Malaysia. Karakter Hassan banyak kemiripannya dengan pria ini.
Performent lelaki yang baru dia kenal ini…baik juga. Busana yang dikenakan sangat pas dengan tubuhnya yang agak tinggi dan sedikit ramping. Kemeja biru muda bermotif kotak-kotak berlengan panjang dengan celana panjang biru tua, membuat matanya terasa sejuk. Rambutnya hitam pekat, sedikit ikal, disisir rapih kearah belakang. Dan satu hal yang membuat dia betah bercakap-cakap dengan tamunya ini adalah kegemaran yang hampir sama dengannya, sama-sama hobby membaca karya sastra, sama-sama pengagum Pramudya Ananta Toer dan Umar Khayam. Malah katanya pria ini seorang kolektor karya-karya Pram. Dengan begitu dia punya teman baru untuk sekedar bertukar pikiran tentang sastra.
Sebuah kesan pertama yang mulus. Tapi dia tak pernah berharap banyak. Tak pernah menginginkan hubungan ini menjadi hubungan serius dan spesial. Seandainya dia bukan figur wanita yang dicari lelaki itu juga tak masalah. Dia hanya ingin menjalani hidup ini seperti yang seharusnya dijalani, dengan tanpa beban.
Untuk pertemuan pertama, mereka menghabiskan waktu di rumah saja, dan tak begitu lama, hanya dua jam. Kedatangan Dzulfikar ke Bandung dalam rangka menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh universitas tempatnya bekerja pada siang hari ini di sebuah wisma di daerah Lembang. Dan laki-laki itu menyempatkan diri mampir ke rumah seorang Dewi Rengganis. Katanya malamnya Bang Zul ini akan segera kembali ke Jakarta.
Tugas pertamaku sudah kulaksanakan dengan baik, Mama. Katanya dalam hati.
Sepeninggal tamunya itu, dia bergegas menghampiri mobilnya, untuk kemudian meluncur menuju sebuah warnet yang sudah menjadi langgananya bila dia sedang tak ada jadwal mengajar. Dia sudah tak sabar ingin “bertemu” dengan pujaan hatinya. Entah kenapa, sejak malam tadi hati dan pikirannya tak bisa lepas dari bayangan pria yang pasti sekarang sedang menunggunya di YM.
Kebetulan siang ini tak begitu banyak pengunjung warnet, sehingga suasananya cukup tenang. Dia memilih kursi dan komputer nomer dua, karena sudah hapal betul, komputer itulah yang paling bisa diandalkan, tak pernah menimbulkan masalah selama digunakan. Dari komputer operator terdengar alunan lembut suara Ebiet G. Ade menyanyikan lagu yang liriknya seperti ini,
Mengapa dadaku mesti berguncang
bila kusebutkan namamu…
sedang kau diciptakan
bukanlah untukku
itu pasti
tapi aku tak mau peduli…
sebab cinta bukan mesti bersatu…
biar kucumbui bayangmu…
dan kusandarkan harapanku…
Lagu itu cukup mempengaruhi jiwanya. Suara khas Ebiet yang merdu mendayu-dayu membuat hatinya tak menentu, sendu dan pilu jadi satu.
Baru menyentuh komputer saja dadanya sudah lebih dulu berdebar. Begitu dahsyatkah pengaruh cintanya pada pria yang sampai detik ini belum juga memperlihatkan wajahnya? Dalam hal ini tepat sekali pepatah yang mengatakan, bahwa cinta itu buta. Sedangkan pepatah lain yang mengatakan bahwa cinta berawal dari mata turun ke hati, tidak berlaku untuk kasus dirinya ini. Perasaannya pada pria misterius itu sudah sampai pada level “siapa pun Fauzi, dia tak peduli”.
Pernah suatu hari laki-laki ini menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya. Waktu itu Fauzi memberi tahu bahwa dia punya masalah dengan kaki kirinya. Karena sebuah kecelakaan lalu lintas, tulang tempurung di lutut kirinya diganti dengan metal dan plastik. Mengetahui hal itu, sama sekali hatinya tak berubah, malah kasih sayangnya pada lelaki itu berlipat-lipat. Dan kiranya dia pun tak akan mempermasalahkan, apakah wajah Fauzi itu bulat, oval, kotak, atau berbentuk jajaran genjang. Bahkan andai tak berwujud pun, Fauzi untuknya tetap sangat berarti.
Dalam waktu singkat jendela mayanya sudah terbuka lebar. Seperti biasa PM-nya penuh dengan message offline dari seseorang. Seseorang yang tak kenal lelah merindukannya siang dan malam.
“Uzi sayang… apa kabar?” Dia mendahului menyapa pria itu.
“Hi, Nice. Kemana saja? Sudah baca message offline-ku semua? Seperti itulah keadaan hatiku saat ini. Dan aku…sedang kurang sehat.”
“Kenapa? Sakit apa, Sayang?”
“Biasa, penyakit yang dulu kambuh lagi.”
“Ya ampun Uzi, kalau rumah kita deketan, pasti sekarang aku ajak kamu berobat ke dokter.”
“Thanks, Honey, aku masih kuat berobat sendiri.”
“Emangnya sakit apa? Ada problem lagi dengan knee replacement?”
“Bukan. Kata dokter tekanan darahku naik lagi. Terus hasil diagnosis terakhir, katanya aku mengidap diabetes. Tapi don’t worry, sudah makan obat kok.”
“Aduh aku harus gimana dong? Kasihan banget Uzi sayang !” Ikon yang sedang menangis mewakili keadaan hatinya.
“Selama aku masih bisa chatting, jangan khawatir
.”
“Oh ya, gimana kabar tentang sang pangeran yang mau ketemu kamu itu?” Pertanyaan pria itu dengan tiba-tiba menodongnya.
“Mmm…nggak tahu, nggak ada kabarnya. Barangkali orang itu masih sibuk, belum sempat bertemu aku.” Dia nekad berbohong, demi orang yang disayanginya sepenuh hati. Bagaimana mungkin dia menceritakan semuanya ketika kondisi kesehatan Fauzi sedang melemah seperti sekarang ini. Meskipun di dalam e-mail Fauzi pernah berbicara panjang lebar bahwa dirinya pasrah menerima baik buruknya takdir, tapi hati kecilnya bisa jadi berkata lain.
“Aku do’akan, semoga kamu bahagia seandainya terlaksana hidup bersama laki-laki itu. Sungguh dia seorang pria yang sangat beruntung, bisa bertemu kamu atas izin dan keridhoan ibumu.”
“Uzi, lebih baik kita ngobrol masalah yang lain saja!” Pintanya.
“Kenapa? Aku kan harus memberimu spirit. Aku rasa pilihan ibumu itu sangat tepat. Jangan pernah menolak. Asal kamu tahu, Nice, bila kamu bahagia, aku pun ikut bahagia.”
“Lebih baik kita berbicara masalah kita saja yu. Aku ingin Uzi lebih memperhatikan kesehatan Uzi sendiri. Jangan melulu memikirkan aku. Percayalah, aku tetaplah aku, yang selalu setia menemuimu di YM. Tak akan ke mana-mana. Paling bolak-balik antara sekolah, rumah, dan kadang-kadang ke warnet seperti sekarang.” Hari ini dia benar-benar ingin menghibur kekasih cyber-nya. Dalam bayangannya, muka Fauzi kelihatan pucat, badannya lemas tak bergairah.
“Oh ya, hati-hati dengan makanannya dan juga jangan lupa minum obatnya.”
“Terima kasih atas perhatiannya, Neng. Tapi aku akan berterima kasih lagi bila kamu menuruti segala kehendak ibumu.” Jawab pria itu.
“Apa maksudmu Uzi? Kenapa omongannya muter lagi ke situ? Udah dibilangin aku nggak suka!!”
“Tapi kamu harus cepat mengambil keputusan, Sayang. Jangan sampai terlambat. Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti aku.”
Dari kalimat yang diketik Fauzi barusan, dia menangkap sesuatu yang buruk sedang berkecamuk dalam diri kekasihnya itu. Sepertinya Uzi sedang badmood. Nada bicaranya apatis. Apa semua itu gara-gara aku pernah curhat tentang calon yang diajukan Mama padaku? Atau karena memang kondisi badan Uzi sedang tidak baik? Hatinya begitu khawatir dengan keadaan ini. Lalu dia berniat mengakhiri percakapannya hari ini. Kalau tidak, seperti hari-hari sebelumnya, suka terjadi missunderstanding, dan ujung-ujungnya pasti berantem.
“Uzi, dengan berat hati aku off duluan ya. Ada sesuatu yang harus aku beli sekarang juga. Aku harap kamu tidak berpikir yang buruk-buruk tentang aku. Sampai hari ini, tidak ada yang berubah dalam diri dan jiwaku.” Tak ingin menunggu jawaban dari pria di seberang sana, dia langsung sign out. Dia berharap esok hari kondisi Fauzi sudah membaik dan fresh lagi, serta muncul lagi karakter aslinya: senang bercanda juga suka tertawa lepas.
To be continued
Copyright Popon Saadah 2007
***

nice sayang ceritanya bisa menghayati jiwa uzi. uzi merasa cemburu waktu nice dgn zul. uzi sedih waktu nice menceritakan penyakit uzi, aduh cerita yang hidup bagus sekali..keep writing darling…
Comment by Uzi — July 20, 2007 @ 11:22 am
Masa sih Fz? Padahal saya nulisnya tak begitu konsen, seueur tugas ti sisi ti gigir. Ma kasih atas support-nya, semoga tak bosan-bosan memberi semangat pada saya. Mangkaning panjang keneh ieu carios teh.
Comment by poponsaadah — July 21, 2007 @ 1:53 am