FENOMENA…

July 7, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu II

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Bagian II

Oleh Popon Saadah

Dia masih enggan membuka folder YM-nya. Saat ini dia hanya ingin membaca tulisan-tulisan karya blogger lain di weblog, sebagai bahan perbandingan untuk blog kepunyaannya. Bila sambil chatting, pikirannya sukar untuk berkonsentrasi penuh. Apalagi jika teman chat-nya itu Fauzi! Oh ya, hari ini dia juga berniat membuka blog Fauzi yang address-nya tercantum di link blog miliknya. Dengan dua kali klik, blog Fauzi sudah tampil di hadapannya.
Setiap membaca blog pria misterius itu, dia seolah-olah sedang membaca buku harian seorang pria kesepian. Tulisan-tulisan yang di-posting pada blog itu rata-rata bernada sendu. Hei, ada puisi baru juga, tentang apa? Lalu dia baca puisi itu larik demi larik.

Kemarau

Padang ilalangku kering kerontang
masih seperti itu
dulu, kemarin, dan hari ini
rumput-rumput pirang
tanah retak kekeringan
dengan harap-harap cemas
menunggu dan menunggu datangnya peri itu
dari negeri antah berantah
yang berkenan merubah
tanahku tak kering lagi
ilalang tak pirang lagi

Buat siapa ya puisi ini? Siapa peri yang ditunggu-tunggu dengan cemasnya dalam puisi tadi? Dan di mana negeri antah berantah itu? Puisi adalah puisi, tidak bisa ditafsirkan begitu saja, sebab karya sastra itu multitafsir. Semuanya bisa berupa ungkapan perasaan penulisnya, bisa juga menggambarkan suasana hati orang lain yang ditulis melalui tangan penyair itu.
Diam-diam hatinya tergelitik ingin tertawa. Jika dipikir-pikir, kelakuan mereka berdua tak ubahnya sepasang remaja yang baru mengenal apa yang dinamakan “asmara.” Blog dia dan blog lelaki itu berisi tulisan-tulisan yang temanya dominan tentang cinta. Seperti itukah setiap blogger yang sedang jatuh cinta? Rasanya manusiawi pula bila memang mereka seperti itu, karena asmara dan rasa cinta itu bersifat universal, milik siapa saja, dari etnis apa pun, dan tanpa batasan usia. Mereka berdua pun masih berhak merasakannya, di usia yang tak muda lagi, dengan umur mulai menapaki hitungan kepala empat. Malah di usia tersebut lah dia merasakan kematangan dalam me-manage semua perasaannya itu.
Tiba-tiba di dadanya timbul lagi rasa itu, rasa yang selalu muncul bila dia sedang menyendiri, rasa yang lebih tepatnya bernama “rindu”. Dia klik ikon YM, bulatan kuning menyala menggambarkan wajah manusia yang lucu itu meloncat-loncat dengan mata terbuka dan mulut tersenyum lebar, seperti sedang menertawakan dirinya yang tengah gundah gulana, kangen pada seseorang yang bermukim di sebuah kota yang bernama Sydney.
Terbukalah folder YM-nya, folder yang dia anggap jendela, jendela untuk bisa berinteraksi dengan sesama dalam bentuk aksara. Tapi kali ini id-nya sengaja dibuat invisible, agar teman-teman yang sedang online tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia available. Sebab kali ini, dia hanya ingin menemui satu orang saja, agar lebih berkonsentrasi ngobrolnya. Kebetulan id orang yang dituju sedang menyala. Lalu dia memberanikan diri menyapanya lebih dulu.
“Assalamualaikum,” seperti biasa hatinya mendadak berdebar-debar.
Kemudian terlihat di bawah folder PM (Privacy Message) itu kalimat: Fauzi2003 is typing message.
“Waalaikumsalam”, pesan balasan itu disertai ikon yang gerakan kedua tangannya seperti gerakan memeluk.
Dia balas dengan ikon itu juga. Pada waktu bersamaan, dalam imajinasinya pun terbayang, bahwa pada detik-detik ini mereka berdua tengah berpelukan di…alam maya.
“Apa kabar, Uzi?” Uzi adalah panggilan sayang dia pada pria itu, sejak hatinya terasa jadi lebih dekat dengan sosok keseluruhan pria ini, meskipun wajah si pria tetap bertopeng hitam pekat.
“Seperti kemarin, baik-baik saja, tapi masih tetap sendirian. Dan kamu Nice gimana kabarnya?” Nice, juga panggilan sayang si pria untuk dirinya, setelah si pria merasa yakin bahwa profil si wanita beserta kepribadiannya secara utuh adalah seleranya.
“Masih seperti kemarin, sendirian juga.”
“Sudah makan siang?” Tanya laki-laki itu.
“Sudah, Uzi juga sudah makan?”
“Ah, Si Neng mah hobby-nya teh ngopas omongan orang aja.”
Setiap orang yang baru mengenal chatter pria ini akan terheran-heran dan bertanya-tanya, masa seorang warga negara Australia bicaranya berlogat Sunda? Ada kata “mah” dan “teh”-nya segala. Si pria memang orang Sunda, lahir di Priangan sekian puluh tahun yang lalu, hijrah ke negeri kangguru karena suatu hal yang hanya dia sendiri yang tahu. Jadi dia bukan bule beneran, tapi bule bohong-bohongan.
“Jangan ngopy paste atuh, pengulangan kalimat itu bikin orang bosan!” Kata pria itu lagi.
“Kan biar praktis, nggak usah cape-cape mikir, heheh…”
“Tahu nggak Nice, hari ini kamu terlihat lebih cantik,” pria itu mengalihkan topik pembicaraan, entah dalam rangka menyanjung, entah berniat merayu, atau mungkin sekedar ingin menghibur.
“Mmm…sok tau ah! Sekarang aku kan nggak pake webcam, nggak pasang pic lagi,” balasnya.
“Eh, tapi tebakannya kok bisa tepat ya, tahu dari mana hari ini aku semakin cantik?” dia mencoba bergurau juga.
“Lho, belum tahu ya, aku punya mata batin, yang bisa melihat lebih tajam dari mata yang sebenarnya.” Pria itu mulai menggodanya.
“Terima kasih kalau begitu. Uzi juga terlihat keren hari ini!”
“Nice juga sok tahu ternyata.” Bantah si pria.
“Emang Uzi aja yang punya mata batin?” Dia berusaha membalas canda laki-laki itu.
“Salah kalau Nice bilang aku keren hari ini.”
“Kenapa salah?” Tanyanya.
“Orang aku cuma pake kaos oblong yang kumal dan kain sarung sekarang, mana belum mandi lagi, hahahah….., mata batin Nice lagi merem ya…hehehe…”
Ah biasa, Uzi selalu begitu, tidak mau kalah, pikirnya. Lalu dia ngetik lagi.
“Iya, dalam keaadaan begitu saja sudah terlihat keren, apalagi bila sedang memakai stelan jas dan dasinya, alamak….mana tahan…!” Pujinya.
“Ah, nggak mungkin lah aku pake baju seperti itu, aku kan bukan politikus, tapi kadang-kadang suka juga sih ngejar-ngejar tikus.”
Dia diam. Kalau diladeni terus, canda pria itu suka tambah ngelantur plus menjengkelkan.
“Kenapa diam? Bingung dengan kegantenganku ya Neng?”
“Lagi sedih, ternyata pacarku ini cuma seorang tukang berburu tikus!”
“Gak masalah, yang penting setia kan?” laki-laki itu melemparkan ikon yang matanya berkedip-kedip kegenitan.
“Mana ada lelaki setia di dunia ini? I don’t believe it!” Giliran dia melempar ikon, ikon yang sedang menjulurkan lidah, yang artinya mengejek.
“Jadi Si Neng ini meragukan aku? Suatu saat akan kubuktikan kesetiaanku padamu!”
“Cara pembuktiannya?” Sebenarnya dia cuma asal tanya, tidak serius menanggapi. Dia sudah terlanjur tak percaya pada kaum bapaknya.
“Aku ingin bikin surprise, special for you, sebagai bukti bahwa aku pria setia dan pria sejati.” Jawaban pria itu masih samar, dia tak mengerti.
Surprise apaan?”
“Namanya juga surprise. Kalau dibilangin dari sekarang bukan kejutan lagi atuh namanya.” Jawab lelaki itu.
“Pokoknya tunggu tanggal mainnya!”
“OK, aku tunggu deh surprise-nya!” masih sebuah jawaban asal-asalan.
“Eh, sebenarnya aku masih kangen padamu, sayangku. Tapi sekarang aku harus off. Dengan berat hati aku mau undur diri. Boleh ya Darling…..?” Di sela-sela bercandanya, kadang suka keluar juga romantisnya pria ini.
“Kok gitu sih, tega ya sama aku!” Lalu dia memilih ikon yang lagi menangis menjerit-jerit.
Please, don’t cry Honey, don’t be sad today!” Pria itu kembali memberi ikon yang gerakan kedua tangannya seperti gerakan memeluk.
“Hari ini ada kegiatan di Islamic Centre. Sorry, aku nggak bisa lama. Besok-besok kan kita bisa chat lagi ya Sayang?”
“Iya deh, aku rela melepas kepergianmu. Jaga diri baik-baik. Dan jangan lupa ya oleh-olehnya!” Aneh, kali ini hatinya benar-benar sedih, seperti seorang kekasih yang akan ditinggal jauh oleh pasangannya di dunia nyata.
“Iya, Sayang.” Tak lama kemudian Ikon YM yang berlambang “love” berhamburan di PM-nya.
“Kalau aku sudah off, Nice boleh chatting sama yang lain ya, biar nggak kesepian, gitu…” Itulah Fauzi, dia selalu berusaha membuat hatinya senang, tak pernah melarangnya chatting dengan orang-orang.
“Nggak ah, aku juga mau off. Persiapan buat chatting sama Uzi lagi besok,” jawabnya.
“Kok pake persiapan segala, kaya chatting sama orang penting aja.”
“Buat aku, Uzi adalah orang penting.” Kali ini dia berani berterus terang, karena sudah tak tahan, dadanya telah penuh sesak oleh luapan perasan rindu pada seorang bule bohongan itu, dan akhirnya meluber juga kerinduan itu dalam bentuk keterusterangan. Keterusterangan yang masih dalam batas sopan tentang gejolak hatinya. Tapi juga bukan pengakuan yang terlalu terbuka ibarat wanita yang berbusana seronok. Di cyber, dia ingin bersikap normal, apa adanya, atau bahkan bilang to the point bahwa dia masih membutuhkan teman sharing, teman yang lebih dari sekedar teman. Ya…seperti fauzi itu, yang selalu memberi perhatian lebih padanya, yang selalu bersikap hangat, yang tak lupa memberinya kata-kata mesra, yang selalu membuat hatinya gembira, dan semacamnya.
“Ya udah, aku off dulu ya Sayang. CU….”
Sebelum dia membalas message itu, pria di seberang sana sudah lebih dulu off. Dia pun ikut-ikutan sign out. Hari menjelang sore. Dia harus tiba di rumah sebelum magrib.
Ternyata ibunya sudah menunggu di rumahnya. Pembantunya bilang ibunya sudah tiba di rumahnya sejak tadi siang. Ada rasa sesal, kenapa dia tidak diberi tahu dari awal tentang kedatangan tamu istimewanya ini. Pasti tadi dia tak akan berlama-lama di sekolah.
Kira-kira setengah tahun dia tak bertemu ibunya. Jarak Bandung-Jakarta memang tak begitu jauh, tapi kesibukanlah yang membuat jarak mereka seolah-olah sangat jauh. Ibunya adalah pengurus salah satu panti jompo di bilangan Kemayoran Jakarta. Untuk urusan yang tidak terlalu penting, ibunya tak pernah sengaja datang ke Bandung. Dia yang biasanya datang ke Jakarta saat libur panjang. Oleh karenanya dia merasa heran, kali ini Si Mama ada urusan apa gerangan? Yang membuatnya lebih heran lagi, ibunya tidak memberi kabar terlebih dahulu tentang kunjungannya ini, melalui SMS sekali pun. Seperti orang jaman dulu saja, di mana alat komunikasinya hanya berupa surat yang dititipkan melalui jasa pos yang penyampaiannya perlu waktu berhari-hari.
“Mamaaahhh….kok nggak ngasih kabar mau datang?” Dari garasi di samping rumahnya dia sudah berteriak, protes pada perempuan paruh baya yang sedang menunggunya sejak tadi siang itu.
“Takut mengganggu. Nanti pekerjaanmu nggak kelar-kelar,” kata ibunya setelah berhadapan dengan putri semata wayangnya itu.
“Minimal kasih tahu pake SMS, kek. Atau nyuruh Si Juju telepon ke sekolah!” Dia masih bernada protes.
“Sudah lah, Mama nggak mau bikin repot kamu.” Lalu ibunya melepas rasa kangen dengan mendekap buah hatinya erat-erat.
“Sudah makan? Instirahatnya sudah cukup? Pakai travel ya tadi?” Tanyanya sambil duduk di pinggir ibunya.
“Makan…sudah, istirahat…sudah, nyampe di rumah ini berkat jasa travel…terus mau tanya apa lagi?” Kata ibunya sambil tertawa.
“Nanya kok borongan gitu!”
Dia cuma tersenyum. Habis, hatinya sudah tak sabar, ingin mengetahui tujuan yang sebenarnya dari kunjungan ibunya ke Bandung ini.
Setiap dia berada di sisi ibunya, setiap itu pula hatinya merasa tentram. Seakan-akan dia kembali menjadi anak kecil yang ketika tidur harus dikelonin, ketika tiba waktunya makan harus disuapi. Tiba-tiba dirinya merasa sedang berada kembali di dunia anak-anak, di masa-masa di mana dia bebas bermain dan bertindak, terlepas dari persoalan orang dewasa yang rumit dan berat.
Obrolan akrab antara ibu dan anak berlanjut hingga ke tempat tidur, sambil bernostalgia mengenang hari-hari yang membahagiakan yang pernah dilaluinya berdua, dan berusaha melupakan hari-hari yang berisi pahit getirnya kehidupan yang pernah dijalaninya bersama-sama juga.
“Apa obsesi kamu yang sampai saat ini merasa belum tercapai?” Pertanyaan ibunya yang satu ini membuatnya heran. Selama ini ibunya lah yang selalu menganjurkan untuk belajar menerima apa adanya dalam segala hal, baik itu nasib, rejeki, dan keaadaanya yang seperti ini. Dan sekarang ibunya bertanya tentang obsesi? Obsesi pada hal apa?
“Nggak ada, Ma. Aku sudah merasa cukup senang dengan apa yang ada!” Jawabnya.
“Apa tidak ingin seperti orang lain?”
“Maksud Mama?” Dia menatap ibunya lekat-lekat, ingin segera tahu, rahasia apa yang ada di balik pertanyaan ibunya itu. Feelingnya menangkap isyarat, bahwa ada sesuatu yang sedang dipendam di hati ibunya. Dia bangkit dari posisi badannya yang tidur terlentang. Lalu duduk bersila sambil memeluk guling menghadap ibunya yang masih terlentang menatap langit-langit kamar yang putih bersih.
“Kamu nggak bisa terus menerus hidup sendiri seperti ini. Wanita harus punya pendamping, untuk kemudian mendapat keturunan. Lalu hidup berbahagia besama keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar, yaitu keluarga yang terdiri dari saudara-saudara dari pihak ibumu dan suamimu. Bicara masalah anak, meskipun terbilang beresiko tinggi untuk melahirkan pada usiamu sekarang ini, tapi banyak yang mampu dan masih bisa mendapat keturunan. Makanya harus secepatnya berumah tangga lagi. Jangan cepat berputus asa. Kita hanya wajib berusaha, tercapai tidaknya semua keinginan kita adalah urusan Yang Maha Kuasa. Tolong, jangan sia-siakan hidupmu ini, Nak!” Giliran ibunya yang menatap wajahnya lekat-lekat.
Sejenak dia terdiam. Dia merasa tak yakin pada ucapan ibunya. Bahkan dia meragukan daya simak telinganya sendiri. Jangan-jangan telinganya sudah berkurang kepekaannya sehingga terdapat kesalahan dalam menyimak. Lalu bila ternyata kupingnya tak salah dengar, sejak kapan ibunya mempunyai gagasan seperti ini? Kemarin-kemarin beliau tenang-tenang saja tak pernah usul yang aneh-aneh. Kenapa tiba-tiba malam ini menyuruhnya merubah gaya hidup menyendiri yang sudah lumayan lama ia jalani.
Ibunya berkata lagi, “Sebenarnya masalah pendamping nggak usah susah-susah dicari, tinggal kamu bilang mau, besok pun dia bisa datang jika diundang ke sini. Orang nya baik, supel, intelek, pekerja yang ulet, dan lumayan ganteng.”
Omongan ibunya yang ini juga tak kalah mengagetkannya. Semudah itukah ibunya ingin merubah hidup dirinya? Dan begitu beraninya menawarkan seorang calon pendamping yang belum tentu cocok dengan seleranya? Masalah si cowok yang katanya baik, supel, intelek, pekerja yang ulet, dan lumayan ganteng, itu masalah selera ibunya. Rasanya dia tidak pernah dan tak ingin berpikir tentang semua karakter laki-laki yang hidup di dunia nyata. Dia merasa tak berkepentingan dengan semua itu.
Ada apa dengan ibunya? Ada motif apa dibalik semua usul ibunya yang terasa mendadak ini? Tak merasa khawatirkah anaknya kelak disia-siakan untuk kedua kalinya oleh menantunya, seperti bapaknya dulu yang mengecewakan dua orang wanita sekaligus, menyia-nyiakan dia dan ibunya? Tak takutkah pengalaman buruk beliau berulang menimpa anaknya?
Melihat dia diam seribu bahasa, ibunya berkata lagi. “Kalau memang kamu merasa malu untuk menjawab setuju, lalu menyerahkan semuanya pada Mama, pasti urusannya akan beres. Calonmu itu sudah lama lho menunggu saat yang tepat untuk berkenalan denganmu. Mama juga sudah kepingin banget gendong cucu, cucu yang cantik kaya Mamanya.”
Ketika dia berusaha untuk menjelaskan terlebih dahulu keaadaan hatinya pada saat ini yang masih jauh untuk diajak ke arah itu, ibunya sudah menyela lagi, “Ingat Nak, Mama, juga kamu itu perempuan, mahluk lemah, suatu saat butuh bantuan pria sebagai penanggung jawab kehidupan kita. Mama sudah bosan hidup seperti ini, melakukan apa-apa sendirian, capek, lelah!”

To be continued

Copyright: Popon Saadah 2007

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/07/07/merahnya-cinta-birunya-rindu-2/trackback/

  1. Gimana ceritanya kok hanya segini?…….Ada sambungannya nggak? Ah nggak happy ending…kok nggak ada kata bersambung………….

    Comment by fz — July 7, 2007 @ 6:35 am

  2. Ceritanya masih panjang, tokoh utamanya yaitu Nice dan Fauzi masih akan menemui jalan hidup dan cinta yang berliku. Pokoknya bakalan seru. Makanya ikuti terus lanjutannya ya!

    Comment by poponsaadah — July 9, 2007 @ 2:28 am

  3. Of course dear………. I will always watch what is going on with this story…..and I will be patience to wait for the contiuning story…just be hurry sweety…..

    Comment by fz — July 9, 2007 @ 6:41 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer