FENOMENA…

July 27, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian VI

Kemudian dia mengajak Dzulfikar pulang. Terasa ada yang tidak beres dengan badannya. Kepalanya terasa berat. Padahal biasanya bila sudah minum kopi, kepenatannya hilang seketika.
“Bang, kenapa ya badanku tiba-tiba sakit semua?” Katanya setelah mereka tiba di rumah.
“Mungkin masuk angin. Muka kamu kelihatan pucat, Nis.” Laki-laki itu menempelkan punggung tangan kanannya di jidat Anis.
“Suhu badanmu tidak normal, anget. Pasti sekarang pusing ya?”
“Duh, pusing banget! Perutku mual lagi.”
“Yu, kita pergi ke dokter sekarang juga!” Ajak pria itu.
Nggak ah, besok saja. Aku masih cape.”
“Kan biar cepat sembuh. Di mana baju anget-nya? Abang ambilkan.”
“Di lemari kecil, di samping tempat tidur.”
Setelah semuanya siap mereka keluar rumah lagi, menemui dokter umum yang biasa berpraktek pada sore hari. Menurut diagnosis dokter, dia kelelahan, perlu istirahat beberapa hari dan meminum obat sesuai resep yang diberikan.
Selama seminggu dia istirahat total di rumah. Berusaha melupakan semua tugas-tugasnya di sekolah. Tapi, berhari-hari kondisi badanya tidak juga pulih. Dia sering menderita pusing yang hebat. Badannya semakin hari semakin lemas, tak nafsu makan. Setiap malam tiba suhu tubuhnya meninggi, tapi dia menggigil kedinginan, meriang. Perutnya sakit, melilit-lilit. Tubuh bagian belakang juga. Terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di sekitar pinggul dan bokongnya.
Karena merasa tidak kuat menahan semuanya, dia menyuruh pembantunya untuk interlokal ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa dia memberitahukan keadaannya pada ibunya, padahal sebenarnya dia tak ingin merepotkan ibunya atau siapa pun. (more…)

July 26, 2007

Aku Punya Hati

Filed under: Kreasi Puisi

ceurik getih

Simpanlah kembali belatimu
di tempat yang tak terjangkau tangan
aku tak mau kita saling menikam
sekali saja sebagai peringatan
bahwa aku punya hati

July 23, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu V

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Akhirnya malam ini dia bertemu juga dengan Fauzi. Laki-laki ini datang menemuinya dengan seikat symbol cinta di tangannya. Dia menerima mawar-mawar merah itu dengan bahagia, lalu dirangkainya dalam jembangan berbentuk hati. Dalam pandangannya, wajah dan penampilan Fauzi biasa saja. Raut mukanya menggambarkan kebersahajaan pribadinya. Tak ada yang dipersoalkan, dia sudah terlanjur suka dengan semua yang ada pada pria itu.
Tanpa sungkan Fauzi memeluknya dengan penghayatan yang dalam. Dia pun tak berdaya menolak dekapan kekasih yang sudah begitu lama dinantikan kehadirannya.
“Wujud asli Nice itu ternyata seperti ini, toh…” Pria itu bebisik di telinganya. Wajah si wanita merona dikarenakan rasa malu dan rindu yang menggebu.
“Ternyata mukaku ancur ya, Uzi?” Dia membalas berbisik di telinga pria itu. Masih di dalam hangatnya pelukan pria pujaan, dia menatap lekat-lekat wajah kekasihnya yang semakin mendekati wajahnya.
“Ancur apanya? Ancur lipstick-nya kali.” Saat ini wajah dan tubuh mereka berpadu tak berjarak. Seperti jiwa mereka yang sudah sejak lama lekat. Suasana jadi hening…sepi… sebab mereka tengah menikmati gelora rasa dengan bertautnya dua bibir, begitu lama…dan…lama… Bibirnya benar-benar tak kuasa menghindari lumatan bibir nakal kekasihnya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya. Terasa ada yang mendesak di bawah perutnya, ingin segera dikeluarkan. Dengan segera dia bangkit lalu tergesa-gesa masuk ke kamar kecil. Ah, ternyata adegan hangat yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi. (more…)

July 21, 2007

Komentar Bu Dini Tentang Cerber MCBR

Filed under: Opini Pribadi

sobat abdi

To Lonely Lady (female_39)

Rada reuwas yeuh maca baris pertama setelah judul, …for someone in Aussi…hehehe…, naha henteu kanggo Bapak Syamsudin?? …Di Aussi saha deui selain Wa Haji Fz tea…Bahkan Fz dilebur dalam Fauzi … right?
Berbeda dengan cerpen Sunda yang sudah beberapa saya baca di Mangle dulu,…rasanya cerita kali ini (menurut abdi mah yang buka guru sastra) kurang greget …
Bukan karena tema cerita, tapi dalam pengungkapan dalam tulisan. Raraosan upami ku Sunda mah lebih “mendalam”. (mungkin karena vocabulary Indonesia tak sebanyak Sunda nya Bu) BTW, untuk edisi perdana? sae lah…
Kalau boleh usul… (teu dosa pan?) selama ini dalam hampir mayoritas cerpen fiksi, pemeran utama rata-rata adalah figur yang baik, alim, yang cerdas, yang cantik, dll. Nah bagaimana kisah Si Female ini sedikit “belok”!
…Female akhirnya melanjutkan hubungan pertemanan itu di alam nyata. Bisa saja Fauzi datang jauh-jauh dari Aussie ke Bandung, tujuan awal silaturahmi. Tapi karena mungkin sudah terbentuk rasa yang berbeda terhadap Female, maka diceritakan ketika pertemuan terjadi, terjadilah kekhilapan. Keduanya melakukan hubungan terlarang! Dan anehnya, Female yang mandul ternyata hamil…
Kinten-kinten berani tidak penulis menampilkan karakter seperti itu? Tentu saja tanpa mengesampingkan pesan moral, nilai edukasi, estetika, dan agama, semuanya harus tetap terjaga. Kumaha tah…
Hehehe…eta mah mung saran, saran garing! Bongan miwarang kasih comment ka guru Matematika, hehe… Wilujeng neraskeun hayalan, kade hilap masak!

July 20, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu IV

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian IV

Terjadi perubahan besar dalam dirinya, sejak kedatangan ibunya tempo hari. Perlahan dia bersedia memulai melangkahkan kaki menapaki jalan hidup yang selama ini dihindarinya, kehidupan baru dengan kehadiran seseorang. Seseorang yang tak cuma bisa hadir di alam imajinasinya, tidak cuma berwujud siluet yang tampil dalam avatar atau display image di folder PM (Privacy Message-nya), bukan pula seseorang yang sosoknya hanya diwakili oleh ikon dan aksara, tapi orang itu benar-benar nyata, senyata dirinya dan ibunya.
Dia bukan tak berdaya menolak semua obsesi ibunya itu. Dia rela menjalani semuanya semata-mata karena rasa kasih yang besar terhadap ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kepada siapa lagi dia harus tunduk dan patuh, selain kepada bunda yang sudah begitu tegar menjadi single parent, hingga dia bisa menjadi wanita yang mandiri seperti sekarang ini. Dia pantang menjadi seorang anak yang membangkang.
Pada hari ini dia harus mau menunggu kedatangan seseorang itu, seseorang yang mungkin selanjutnya akan membuat harinya-harinya tak sepi lagi. Dan hal tersebut menjadi bagian dari tuntutan skenario kehidupan dia selanjutnya.
Hari ini juga dia terpaksa menghapus semua image buruk tentang pria dalam pikirannya. Mulai saat ini dia harus mengakui dan harus percaya, bahwa dari sekian banyak pria yang tak setia di dunia nyata, terdapat juga pria-pria setia. Oleh karena itu dia mulai berani membuka diri, dengan harapan, setiap pengorbanan yang ia lakukan, membuahkan kebahagiaan untuk bundanya seorang.
Ketika lelaki yang dinantikannya itu sudah berada di hadapannya, dia baru tersadar, bahwa momen ini tak setegang yang dibayangkan. Semuanya berjalan dengan santai, tanpa debaran jantung di dadanya, tiada luapan perasaan gembira layaknya bila dia bertemu Fauzi di alam maya. Sungguh sebuah awal pertemuan yang terlalu biasa. (more…)

July 14, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu III

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Oleh Popon Saadah

Bagian III

Di hadapan Mama tersayang dia selalu ingin tersenyum, apa pun suasana hatinya pada saat ini. Dia membuang jauh-jauh semua rasa yang bisa merusak kemesraan dia dan ibunya malam ini. Dia berusaha tenang dan bijak menyikapi semuanya. Padahal di lubuk hatinya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar kecewa dengan gagasan ibunya yang terkesan memaksakan kehendak itu.
“Ya nantilah, Anis pikir-pikir dulu.” Dia kembali tidur terlentang, masih memeluk guling kesayangan.
“Sampai kapan pikir-pikirnya? Sekarang sudah saatnya bertindak, sudah lewat waktu untuk pikir-pikir!” Desak ibunya.
“Ya harus dipikir dulu Mama, ini masalah hidup, bukan perkara gampang!” Akhirnya terungkap juga kekesalan hatinya.
“Mikirnya kamu itu suka kelamaan!” Bentak ibunya.
Akhirnya di hadapan ibunya dia cemberut juga.
“Sekarang begini, usahakan kamu bisa bertemu dulu dengan calonmu. Mama yakin, setelah kalian ketemu, ke sananya akan lancar-lancar saja.”
Dia terdiam, tak berniat sama sekali meneruskan acara bincang-bincangnya itu. Malam ini dia benar-benar merasa kehilangan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Ibarat seekor burung dara yang sedang terbang lepas, tiba-tiba dipanggil tuannya untuk masuk kembali ke dalam sangkar.
Tapi dia sudah bisa menebak apa akibatnya jika menolak keinginan ibunya. Sesungguhnya, dia tak mau membuat orang yang paling istimewa dalam hatinya ini kecewa, sedih, dan marah padanya.
“Masalah ini kita tunda dulu, Anis sudah ngantuk banget nih Ma, besok kita lanjutkan lagi rapat pentingnya ya!” Suasana sedikit tegang, dia ingin mencairkannya dengan mencoba bercanda. (more…)

July 7, 2007

Merahnya Cinta Birunya Rindu II

Filed under: Cerita Bersambung

my heart

Bagian II

Oleh Popon Saadah

Dia masih enggan membuka folder YM-nya. Saat ini dia hanya ingin membaca tulisan-tulisan karya blogger lain di weblog, sebagai bahan perbandingan untuk blog kepunyaannya. Bila sambil chatting, pikirannya sukar untuk berkonsentrasi penuh. Apalagi jika teman chat-nya itu Fauzi! Oh ya, hari ini dia juga berniat membuka blog Fauzi yang address-nya tercantum di link blog miliknya. Dengan dua kali klik, blog Fauzi sudah tampil di hadapannya.
Setiap membaca blog pria misterius itu, dia seolah-olah sedang membaca buku harian seorang pria kesepian. Tulisan-tulisan yang di-posting pada blog itu rata-rata bernada sendu. Hei, ada puisi baru juga, tentang apa? Lalu dia baca puisi itu larik demi larik.

Kemarau

Padang ilalangku kering kerontang
masih seperti itu
dulu, kemarin, dan hari ini
rumput-rumput pirang
tanah retak kekeringan
dengan harap-harap cemas
menunggu dan menunggu datangnya peri itu
dari negeri antah berantah
yang berkenan merubah
tanahku tak kering lagi
ilalang tak pirang lagi

Buat siapa ya puisi ini? Siapa peri yang ditunggu-tunggu dengan cemasnya dalam puisi tadi? Dan di mana negeri antah berantah itu? Puisi adalah puisi, tidak bisa ditafsirkan begitu saja, sebab karya sastra itu multitafsir. Semuanya bisa berupa ungkapan perasaan penulisnya, bisa juga menggambarkan suasana hati orang lain yang ditulis melalui tangan penyair itu.
Diam-diam hatinya tergelitik ingin tertawa. Jika dipikir-pikir, kelakuan mereka berdua tak ubahnya sepasang remaja yang baru mengenal apa yang dinamakan “asmara.” Blog dia dan blog lelaki itu berisi tulisan-tulisan yang temanya dominan tentang cinta. Seperti itukah setiap blogger yang sedang jatuh cinta? Rasanya manusiawi pula bila memang mereka seperti itu, karena asmara dan rasa cinta itu bersifat universal, milik siapa saja, dari etnis apa pun, dan tanpa batasan usia. Mereka berdua pun masih berhak merasakannya, di usia yang tak muda lagi, dengan umur mulai menapaki hitungan kepala empat. Malah di usia tersebut lah dia merasakan kematangan dalam me-manage semua perasaannya itu.
Tiba-tiba di dadanya timbul lagi rasa itu, rasa yang selalu muncul bila dia sedang menyendiri, rasa yang lebih tepatnya bernama “rindu”. Dia klik ikon YM, bulatan kuning menyala menggambarkan wajah manusia yang lucu itu meloncat-loncat dengan mata terbuka dan mulut tersenyum lebar, seperti sedang menertawakan dirinya yang tengah gundah gulana, kangen pada seseorang yang bermukim di sebuah kota yang bernama Sydney. (more…)

July 4, 2007

Detik-detik Terakhir Kebersamaan Kita

Filed under: Ungkapan Perasaan

aku dan anak buah






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer