Merahnya Cinta Birunya Rindu

Oleh Popon Saadah
Bagian VI
Kemudian dia mengajak Dzulfikar pulang. Terasa ada yang tidak beres dengan badannya. Kepalanya terasa berat. Padahal biasanya bila sudah minum kopi, kepenatannya hilang seketika.
“Bang, kenapa ya badanku tiba-tiba sakit semua?” Katanya setelah mereka tiba di rumah.
“Mungkin masuk angin. Muka kamu kelihatan pucat, Nis.” Laki-laki itu menempelkan punggung tangan kanannya di jidat Anis.
“Suhu badanmu tidak normal, anget. Pasti sekarang pusing ya?”
“Duh, pusing banget! Perutku mual lagi.”
“Yu, kita pergi ke dokter sekarang juga!” Ajak pria itu.
“Nggak ah, besok saja. Aku masih cape.”
“Kan biar cepat sembuh. Di mana baju anget-nya? Abang ambilkan.”
“Di lemari kecil, di samping tempat tidur.”
Setelah semuanya siap mereka keluar rumah lagi, menemui dokter umum yang biasa berpraktek pada sore hari. Menurut diagnosis dokter, dia kelelahan, perlu istirahat beberapa hari dan meminum obat sesuai resep yang diberikan.
Selama seminggu dia istirahat total di rumah. Berusaha melupakan semua tugas-tugasnya di sekolah. Tapi, berhari-hari kondisi badanya tidak juga pulih. Dia sering menderita pusing yang hebat. Badannya semakin hari semakin lemas, tak nafsu makan. Setiap malam tiba suhu tubuhnya meninggi, tapi dia menggigil kedinginan, meriang. Perutnya sakit, melilit-lilit. Tubuh bagian belakang juga. Terasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk di sekitar pinggul dan bokongnya.
Karena merasa tidak kuat menahan semuanya, dia menyuruh pembantunya untuk interlokal ke Jakarta. Dengan sangat terpaksa dia memberitahukan keadaannya pada ibunya, padahal sebenarnya dia tak ingin merepotkan ibunya atau siapa pun. (more…)

***