Merahnya Cinta Birunya Rindu I

Bagian I
Oleh Popon Saadah
Bahwa wanita harus mandiri, dia setuju. Tapi apabila wanita wajib melahirkan anak dari rahimnya sendiri, dia pikir-pikir dulu untuk mengatakan setuju. Jika perempuan seperti dirinya tak kunjung dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan manusia walaupun hanya seorang, apa mau dikata? Satu-satunya yang bisa dia lakukan, berusaha menerima kenyataan. Biarlah tak sempat melahirkan, asal hidupku yang sebenarnya singkat ini bisa lebih bermakna tanpa keturunan, banyak yang harus kulakukan selain melulu memikirkan masalah yang satu ini, pikirnya menghibur diri.
Semula hatinya merasa yakin, dialah satu-satunya wanita yang paling beruntung, bisa bersanding dengan pria pujaan gadis-gadis pada masanya, serta pendamping hidupnya ini sangat sayang dan penuh perhatiaan terhadapnya. Rasanya lengkaplah sudah kebahagiaannya pada waktu itu. Tapi kemudian, setelah keduanya meniti tangga kehidupan asmara dan berhasil mencapai pelaminan, muncul tuntutan sang pujaan. Dia harus memberinya momongan. Setelah perkawinanya lewat beberapa tahun, dalam penantian yang menggelisahkan, dia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda kehamilan. Sebenar-benarnya dia tak berniat membuat kecewa suami kesayangan, karena masalah itu di luar kekuasaannya, tapi kenyataannya suaminya memang merasa dikecewakan.
Dia pernah berjuang keras mewujudkan impian suami untuk bisa mempersembahkan buah cinta, darah dagingnya. Dia banyak membaca berbagai referensi tentang kehamilan, melaksanakan tips-tips untuk bisa hamil, baik yang tradisional maupun yang boleh dibilang modern, terapi pijat pun pernah ia lakukan. Tapi impian suami sekaligus impiannya itu betul-betul hanya sebuah impian. Sejak itu bahtera rumah tangganya oleng. Perahu pun karam ke dasar lautan kehidupan bersama cinta yang telah lama dibina bersama. Suami berani memilih lagi, memilih perempuan yang bisa diharapkan mampu menghadirkan keturunan.
Hanya dengan alasan itu suaminya berpaling? Begitulah, hanya dengan alasan seperti itu. Sadarlah sekarang, dia bukanlah perempuan terpilih seperti anggapannya selama ini. Dia memang kalah, dikalahkan dalam hidup oleh rivalnya yang tentu saja sesama perempuan. (more…)
***
