Sudah Saatnya Kita Lebih Selektif Memilih Bacaan
Oleh Popon Saadah
Berlimpahnya bacaan dewasa ini baik pada media cetak maupun internet sangat menggembirakan setiap orang yang biasa dijuluki “kutu buku”. Karena dengan beragamnya bacaan baik dalam segi format maupun isinya, hasrat membaca mereka akan lebih tersalurkan.
Namun demikian bukan berarti kita bebas mengambil setiap bacaan yang ditawarkan penulis dan penerbitnya begitu saja. Memilih secara selektif adalah keharusan konsumen atau pembaca, demi terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena ditengarai saat ini banyak beredar bacaan yang mengandung faham yang bisa menyesatkan pembacanya.
Barangkali bila bacaan tersebut mengandung fornografi dan kekerasan masih bisa terlihat secara kasatmata. Tulisan-tulisan sejenis itu akan mudah terdeteksi melalui bahasa atau gambar yang vulgar. Yang bisa menimbulkan keresahan adalah bacaan-bacaan yang mengandung faham-faham yang mengacaukan ajaran Islam yang tidak langsung bisa dideteksi, karena si penulis secara sengaja memasukkan fahamnya menggunakan bahasa artikel atau bahasa buku sehalus mungkin. Sehingga dengan begitu para pembaca bisa terkecoh atau termakan oleh argumennya, terutama pembaca yang tidak jeli pada makna yang dikandung oleh tulisan tersebut dan yang masih rapuh pemahamannya tentang Islam. Dan inilah yang biasa disebut bahaya laten itu.
Sangat berbahaya bila sebuah tulisan sepertinya sedang mengulas tentang keagamaan, padahal isinya jelas-jelas sedang membelokkan akidah pembacanya. Saya kira sekarang ini berseliweran buku-buku dan artikel semacam itu. Sebagai contoh, tulisan-tulisan tentang Islam yang pengarangnya berfaham Islam Liberal. Dengan gencarnya mereka menerbitkan tulisan-tulisan karya mereka sendiri bahkan tulisan-tulisan senior mereka yang sudah meninggal, dengan harapan setelah membaca tulisannya para pembaca akan menjadi kader-kader seperti dirinya.
Sebagai muslim yang teguh berpijak pada Qur’an dan Sunnah, sama sekali kita jangan terkecoh oleh label Islam-nya pada setiap tulisan. Sebab Islam yang mereka perbincangkan, Islam yang sedang gencar-gencarnya mereka iklankan adalah Islam yang lain, kalau boleh saya menyebutnya Islam yang sudah dimodifikasi dengan faham Barat.
Selintas dan tampak dari luar tulisan mereka seperti kemasan yang wah, menggiurkan, bergengsi. Apalagi menggunakan stempel Liberalisme. Tapi bila kita kaji isinya lebih dalam, kita renungkan, kita analisis dengan seksama, isinya jelas-jelas melenceng dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
Dan jangan berharap kita bisa adu argumen atau berdebat dengan mereka, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mereka akan besikukuh pada pandangannya seperti juga kita bersikukuh pada keyakinan kita. Jadi, cara memerangi tindakan agresif dan represif mereka adalah dengan mengabaikan tulisan-tulisan mereka. Memperbanyak menggali buku-buku yang sesuai dengan syariat Islam yang sesungguhnya. Banyak mencari tahu isi kepala para tokoh dan para penulis ke-Islaman. Mencari tahu tentang kapabilitas mereka sebagai pendakwah, untuk kemudian bila kita sudah yakin akan keabsahannya kita baca buah karyanya. Sampai kepada usaha kita membuat tulisan-tulisan yang bermutu tentang Islam. Ini penting dilakukan demi keselamatan akidah kita dan akidah anak cucu kita. Dan sudah sepantasnyalah para pembaca yang sudah sampai pada tingkat “kutu buku” melakukan hal ini.
Waspadalah dengan buku baru karya Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “ Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam”. Dengan bangganya dia berpendapat bahwa Islam harus dikritik! Apanya yang perlu dikritik? Saya kira bukan Islamnya yang perlu dikritik, tapi orang-orang yang sudah salah tafsir dan orang-orang yang sudah terpengaruh oleh faham di luar ke-Islamanlah yang wajib dikritik!
Percuma juga kita menelaah isinya, karena melihat pribadi penulisnya saja sudah sangat jelas, dia dan fahamnya akan menyerang kemurnian Al Qur’an dan Sunnah.
Kita harus waspada pula pada buku baru yang berupa ensiklopedia Nurcholis Majid. Sebab isinya tidak lebih dari pemikiran-pemikiran orientalis yang mentah-mentah diadopsi pada buku tersebut. Isinya tidak lebih dari ensiklopedi tentang Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme), baca majalah Sabili, edisi 22 Maret 2007, No. 18).
Bagaimana caranya agar kaum muda kita tak terjangkit virus-virus yang berbahaya itu? Lagi-lagi kita sebagai orang tua harus bertanggung jawab pada keselamatan akidah mereka. Lingkungan keluarga adalah lahan yang cocok untuk menyuburkan keimanan mereka sesuai ajaran Qur’an dan Sunnah, demi menangkal ajaran-ajaran yang nyeleneh. Perbanyaklah koleksi buku-buku Islam yang bermutu, anjurkan anak-anak kita untuk menelaahnya.
Saya jadi teringat pada pengalaman seorang wartawan senior Pikiran Rakyat, H. Usep Romli HM. Beliau menulis sebuah artikel yang dimuat pada Pikiran Rakyat edisi Sabtu, 14 April 2007. Pada artikel tersebut diceritakan, semasa beliau berusia remaja senang membaca buku-buku yang berisi paham PKI. Ketika ayah beliau mengetahui hal itu, dengan segera ayahnya menganjurkan untuk membaca buku-buku karya tokoh Masyumi seperti M. Nastsir, M. Isa Anshari, dan memberi buku-buku tentang Islam sebagai penyeimbang buku-buku yang dibaca beliau, seperti “Hikmah dan Filsafat Islam” karya Fuad Fachrudin. Tindakan ayahnya adalah tindakan yang sangat bijaksana, dan sangat memperhatikan keselamatan akidah generasi penerusnya. Barangkali bila pada waktu itu ayah beliau tidak peduli pada apa yang dibaca oleh anaknya, bisa jadi ceritanya akan lain, boleh jadi pula jalan hidup beliau pun akan berbeda dengan sekarang. Dan salah satu tindakan orang tua dalam mengantisipasi bacaan-bacaan buruk para putranya, seyogyanya seperti yang dicontohkan oleh ayahanda H. Usep Romli HM itu.
Yang jadi petanyaan sekarang, masih adakah orang tua-orang tua seperti itu di jaman seperti sekarang ini?
***

Kenyataan seperti itu sekarang ini terjadi…banyak ortu yang senang karena anak-anaknya suka baca buku…tapi seleksi atas isi buku banyak yang mengabaikannya. Akibatnya memang banyak anak muda…yang dikatakan oleh seorang yang dianggap “wali” sebagai tokoh muda pembaharu islam di masa yad.
Jadi … ya harapan semua sebaiknya pihak yang “lebih mengerti” isi satu buku dengan baik harap selalu memberikan “warning” mana yang layak dibaca dan mana yang tidak layak untuk dijadikan bahan bacaan kita.
Comment by Tibelat — April 18, 2007 @ 8:17 am
thank’s for your comment. I always wait your opinion about my essay.
Comment by Me — April 19, 2007 @ 7:22 am