FENOMENA…

February 19, 2007

Obrolan Kita di Cyber di-publish orang? Siapa takut!

Filed under: Opini Pribadi

aku
Gambar: Hasil download dari Google

Oleh Popon Saadah

Setiap pengguna internet aktif di seluruh dunia pasti mengerti benar, bahwa dunia cyber (online) adalah dunia di mana semua pengunjungnya berasal dari dunia nyata (offline). Namun meskipun demikian dunia cyber tidak sama dengan dunia nyata. Dunia cyber merupakan dunia yang berbeda, unik dan menarik untuk dikaji. Salah satu contoh perbedaan dua dunia ini yaitu dalam hal berkomunikasi secara langsung dengan sesama. Di dunia offline lawan bicara kita hadir secara nyata di hadapan kita, sedangkan di dunia online, lawan bicara kita tak kasat mata meskipun ada. Yang menghadirkan sosok lawan bicara ke hadapan kita di alam maya adalah imajinasi kita sendiri. Adapun perlengkapan chatting seperti pic, cam, dan voice, hanyalah alat untuk membantu daya kerja otak kita dalam berimajinasi pada saat itu. Unik bukan?

Perlindungan server terhadap custumer
Keunikan lainnya, dunia cyber banyak menawarkan hal-hal yang sifatnya privacy. Keharusan menuliskan username dan password terlebih dahulu untuk setiap kegiatan registrasi pada setiap server yang menyediakan fasilitas untuk chatting, e-mail, maupun website, salah satu bukti perlindungan server tersebut terhadap privacy penggunanya.
Di dunia chatting misalnya, server-server yang sedang kita gunakan sangat protect atau sangat melindungi customer-nya. Sebagai contoh, ketika orang lain akan meng-add atau mengambil ID (nickname) kita untuk disimpan di list messenger-nya, ada penawaran dulu dari server terkait kepada kita sebagai teman chatting orang tersebut, apakah setuju atau tidak ID kita di-add oleh orang itu? Bila setuju, kita tinggal meng-klik kotak yang bertuliskan allow, jika tidak klik saja kotak yang bertuliskan deny. Bila kebetulan kita menggunakan webcam ketika chatting, juga tidak bisa sembarang orang bisa membuka (meng-accept) cam kita. Proses permintaan ijinnya sama seperti ketika seseorang ingin menambah list ID orang lain di list-nya. Contoh lain, ketika kita tidak ingin diketahui sedang online oleh orang yang telah terlanjur meng-add ID kita, mudah saja, gunakan teknik invisible, sehingga semua sahabat cyber kita mengira kita sedang off. Kemudian kita tinggal memilih, ID yang mana yang ingin kita sapa. Satu contoh lagi, jika kita merasa terganggu oleh sikap salah seorang teman maya kita yang sudah terlanjur sering chatting dengan kita menggunakan PM (private message), bisa disiasati dengan teknik permanent offline, sehingga teman yang menyebalkan itu mengira kita sedang tidak online alias sedang off pada setiap kita online. Seandainya teman chatting kita yang menyebalkan itu sudah sangat mengganggu kenyamanan kita dalam bersosialisasi di cyber, mudah pula penyelesaiannya, “tendang” saja dia dari list kita. Caranya, tinggal klik ikon yang bertuliskan ignore di PM yang sedang digumakan oleh kita dan dia. Tapi bila ID dia sudah tedaftar di list messenger kita, delete dulu ID-nya, lalu jangan segan-segan ignore-lah PM-nya atau blocking ID-nya.
Tapi jangan terlena dengan fasilitas-fasilitas yang fungsinya melindungi pengguna internet, kehati-hatian dan kewaspadaan seorang netter tetap diperlukan. Dan bila kita mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya password kita diketahui orang lain, atau tanpa kita sadari ada orang yang sudah tahu banyak tentang hal-hal pribadi kita, itu semua bukan salah lawan bicara kita, juga bukan salah komputer apalagi server. Semua itu diakibatkan oleh kecerobohan kita sendiri, yang barangkali pada suatu saat kurang tanggap pada situasi dan kondisi lingkungan yang sedang kita masuki pada saat itu, sehingga tanpa disadari kita dijebak orang untuk memperlonggar privacy kita.

Tentang teks percakapan yang di-publish
Salah siapa bila obrolan kita ketika chatting dengan seseorang menggunakan private message (PM) di-publish di webblog-nya tanpa permisi dulu kepada kita sebagai lawan chatting-nya? Jawabannya akan beragam, tergantung siapa yang menjawabnya. Bila yang ditanya adalah pelaku copy paste obrolan itu, akan menjawab seperti ini, “Apa salahnya? Dia yang lebih dulu masuk ke PM aku. Blognya juga punya aku. Selama obrolan itu tidak mengandung konflik SARA dan wajar-wajar saja sebagai sebuah obrolan, kenapa sewot?”
Tapi jika kita bertanya pada orang yang protes keras pada perkataannya yang di-publish tanpa permisi itu, akan terlontar kata-kata yang mencerminkan ketakutannya, ketakutan kalimat-kalimatnya di blog seseorang itu dibaca oleh masyarakat umum.
Tapi….kenapa mesti takut? Bila kita merasa diri kita tidak punya kesalahan apa-apa pada publik, bebas saja. Yang penting perkataan kita perkataan orang terpelajar, omongan-omongan orang yang sudah dewasa pemikirannya, kalimat-kalimat yang sesuai dengan norma sosial maupun agama. Jika orang yang bersangkutan merasa takut tanpa alasan yang jelas, kita semua jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan dibalik pernyataan-pernyataannya itu? Apakah dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak jujur? Sehingga takut ketahuan bohongnya? Apakah dia merasa khawatir akan ada orang yang cemburu pada teks percakapan yang sudah terlanjur terpampang di blog orang?
Si mpunya blog juga tidak akan sembarang mem-posting sebuah percakapan. Pasti dia melakukan seleksi yang ketat, dari mulai memilah-milah teks percakapan yang pantas untuk di-publish sampai kepada mengeditnya. Sekali lagi pelaku posting teks percakapan tersebut tidak asal mem-publish. Di balik kegiatan itu semua, dia punya maksud-maksud yang positif. Mau tahu? Silahkan simak keterangan-keterangan di bawah ini.
1. Bila teks percakapan tersebut menggunakan bahasa Indonesia, si publisher ingin mengumumkan bahwa orang Indonesia pun eksis di cyber dan melek teknologi. Bila bahasa percakapan itu menggunakan bahasa Sunda, si publisher ingin memberitahukan bahwa di dunia ini ada sebuah etnis yang bernama urang Sunda, dan mereka sudah pula merambah internet, serta mengenal teknologi komunikasi dan informasi.
2. Menepis anggapan orang awam terhadap kegiatan chatting. Mereka yang belum tahu banyak tentang chatting selalu apriori, memvonis kegiatan tersebut sebagai ajang berpacaran di alam maya, ajang berselingkuh serta ber-cybersex. Dengan terpampangnya teks-teks percakapan yang isinya sangat bertolak belakang dengan anggapan mereka tadi, paling tidak sedikit membuka mata mereka, bahwa tidak semua chatter seperti yang dikira selama ini. Banyak chatter yang menjunjung tinggi persahabatan dengan obrolan-obrolan yang terbuka, netral, jujur, tanpa motif-motif tertentu, dan menambah wawasan pembaca percakapan itu.
3. Bila niatnya positif, media chatting bisa digunakan untuk media berdiskusi, berbisnis, dan memperluas pergaulan.
Orang yang berpolemik di media massa saja berani di-ekspose, padahal sering tulisan-tulisan mereka nadanya saling menghujat. Orang ini cuma ngobrol basa-basi ngaler ngidul saja kok takut? Makanya, bertindak yang lurus-lurus sajalah dalam segala hal, positive thinking-lah, biar tidak banyak kekhawatiran dalam hidup ini.
Karena sampai tulisan ini ditulis belum ada undang-undang yang dibuat pemerintah tentang boleh tidaknya melakukan copy paste percakapan di PM seseorang, jadi saya kira syah-syah saja mem-publish percakapan itu, asal percakapan yang di-publish itu sifatnya mendidik dan menghibur.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan, bahwa bagaimanapun ketatnya perlindungan sebuah server terhadap custumer, yang lebih protect pada diri kita ternyata diri kita sendiri.
Saran penulis, jika percakapan anda dengan seseorang tidak ingin di-copy lalu di-publish di website orang, keluarlah dari komunitas para chatter, jauhi komputer, cuci kaki lalu bobo yang nyenyak sambil dikelonin ibunya atau pembantunya!!

Comments

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/02/19/obrolan-kita-di-cyber-di-publish-orang-siapa-takut/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Sorry, the comment form is closed at this time.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer