FENOMENA…

February 14, 2007

Ada Apa dengan Masyarakat Kita?

Filed under: Opini Pribadi

chaos
Gambar: hasil download dari Google

Oleh Popon Saadah

Surat kabar Pikiran Rakyat edisi Senin, 12 Februari 2007 memberitakan bahwa dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, delapan kasus pembunuhan terjadi di wilayah hukum Poliwiltabes Bandung, Polresta Cimahi, dan Polres Bandung. Semua itu terjadi dengan berbagai motif dan modus operandi. Bahkan ada yang masih berupa peristiwa misteri, belum diketahui motif dibalik pembunuhan itu, serta entah siapa pelakunya.
Menyimak kejadian demi kejadian di dua daerah itu saja kita sudah bergidik, merasa khawatir dan prihatin. Khawatir peristiwa serupa akan terus bermunculan. Khawatir akan ada korban berikutnya yang berjatuhan.

Penyakit masyarakat moderen
Ada apa dengan masyarakat kita dewasa ini? Rupanya bangsa Indonesia sedang dilanda penyakit yang biasa diderita oleh masyarakat moderen. Lebih jelasnya menurut ahli kejiwaan Dr. Kartini Kartono, penyakit itu berupa kehilangan penguasaan terhadap konflik-konflik intrapsikis dan kekalutan batin sendiri, sehingga orang tidak tanggap terhadap keadaan lingkungan, dan lama kelamaan menjadi neurotis atau pun psikotis. Dan sebab musabab kemunculan gejala-gejala gangguan psikis itu adalah multikausal atau multifaktor.
Sedangkan dr. Teddy Hidayat, sp.K.J. seperti dikutip Pikiran Rakyat mengatakan, bahwa maraknya tindak kekerasan akhir-akhir ini salah satu pertanda makin tingginya tingkat agresivitas masyarakat saat ini, yang disebabkan oleh stres serta frustasi.
Memang senyatanya demikian. Bagi rakyat Indonesia pada umumnya, terutama masyarakat kalangan bawah, semakin hari beban dan tantangan hidup terasa semakin berat. Mereka resah gelisah menyongsong masalah-masalah hidup yang terbentang di depan mata dan tidak pernah ditemukan pemecahannya.
Masalah-masalah itu antara lain, kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin, jumlah pengangguran yang terus bertambah, persaingan hidup semakin ketat, harga-harga bahan pokok yang terus melambung, sedangkan di sisi lain kalangan high class mempertontonkan sifat hedonis dan materialistis yang berdampak pada timbulnya kecemburuan sosial, wabah penyakit yang menyerang silih berganti, sampai kepada datangnya bencana, baik yang muncul akibat ulah manusianya sendiri maupun yang jelas-jelas datang dari Sang Maha Pencipta. Sikap pemerintah yang lamban dalam penanganan korban bencana dan selalu kontoversial dalam membuat kebijakan-kebijakan, memperbesar sikap apatis bangsa ini.
Tak heran bila kemudian muncul pula berbagai macam patologi sosial dari yang teringan sampai yang terparah. Yang apabila tidak disadari kemunculannya, kita abaikan keberadaannya, atau kita tidak tanggap pada masalah yang awalnya seperti sepele itu, akan menjadi bencana yang paling mengerikan sepanjang sejarah manusia.
Perilaku kasar dan tindakan-tindakan sadis yang berlangsung setiap hari, baik yang terjadi di alam nyata maupun dalam tayangan berulang-ulang di beberapa stasiun televisi, serta kita saksikan sesering mungkin, merupakan pembiasaan perilaku yang tidak biasa. Sehingga hal-hal yang tadinya dianggap aneh, dinilai kejam, tanpa disadari sedikit demi sedikit akan berubah menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan tidak menutup kemungkinan lambat laun tayangan tentang kekejaman manusia terhadap sesamanya akan menjadi tontonan yang mengasyikkan.
Maraknya perilaku pembunuhan, bila tidak dilakukan penyidikan sesegera mungkin serta tindakan hukum yang tuntas serta jelas, akan menjadi sesuatu yang dimaklumi dalam hidup ini. Bila sudah demikian keadaannya, bagaimana nasib ke depannya anak cucu kita? Akankah mereka masih tergolong mahluk yang berakal budi? Masih pantaskah mereka menyandang gelar khalifah di muka bumi?

Perlu tindakan preventif
Walau kondisi masyarakat Indonesia digambarkan separah itu, sangat disayangkan bila kita putus asa menghadapinya. Barangkali masih ada sisa-sisa tenaga untuk sedikit demi sedikit merubah keadaan semampu kita. Saya kira langkah awal yang mesti diambil adalah menyelamatkan lingkungan terkecil kita dalam hal ini lingkungan keluarga, dari hal-hal yang bisa memicu timbulnya penyakit-penyakit sosial. Peran serta seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya di rumah sangatlah vital. Mempererat hubungan kasih sayang antar anggota keluarga adalah langkah yang tepat. Menghidupkan kembali suasana agamis juga merupakan sebuah solusi. Mengajak setiap anggota keluarga untuk mengisi rohani masing-masing dengan ajaran agama adalah sebuah jalan keluar.
Kita harus belajar kembali pada keluarga-keluarga tradisional jaman dulu, di mana kegiatan beribadah bukanlah sekedar menjalankan ritual dan seremonial belaka, tetapi merupakan kebutuhan primer mereka.
Ternyata kita perlu kembali berguru pada masyarakat masa lalu, dimana kesederhanaan dan kebersahajaan menjadi prnsip hidupnya, di mana gotong royong dan kebersamaan menjadi nafas sebuah komunitas.
Bila semua itu menjadi sebuah kemustahilan untuk diwujudkan pada era globalisasi ini, walau bukan pekerjaan yang mudah, bersikukuhlah untuk membentuk lingkungan terkecil kita menjadi lingkungan yang aman dari pengaruh penyakit masyarakat moderen itu, dengan bermodalkan keyakinan bahwa kita sebagai orang tua bisa dan mampu mewariskan kepada anak cucu kita, peradaban yang sesuai dengan ajaran Islam sampai akhir jaman. Amin.

Referensi:
Kartini Kartono. 1997. Patologi Sosial 3. Jakarta: Rajawali.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2007/02/14/ada-apa-dengan-masyarakat-kita/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer