Menajamkan Akal dengan Menulis, Kenapa Tidak?

Oleh Popon Saadah
Manusia adalah makhluk yang kaya, sebab memiliki sesuatu yang sangat berharga yang tidak dimiliki oleh mahluk lain. Sesuatu yang berharga itu bernama akal. Dengan akalnya manusia dapat mencapai derajat paling mulia, sehingga ia layak dan mampu menjadi khalifah di muka bumi. Dengan akalnya pula manusia bisa survive, mempertahankan “spesiesnya” dengan beranak pinak, serta terus menerus melakukan pengembaraan di dunia sampai tiba saatnya memasuki gerbang kepastian: kematian.
Sangatlah disayangkan apabila akal kita, benda abstrak yang tak terhingga nilainya itu, yang terletak di bagian paling atas tubuh kita ini terabaikan, tidak digunakan untuk berpikir, serta tidak dimanfaatkan untuk kemaslahatan kita selama hidup di alam fana. Mengabaikan fungsi akal sama dengan menyia-nyiakan anugerah Allah. Meremehkan keberadaan akal tak ada bedanya dengan menyia-nyiakan sebuah keistimewaan.
Akal bersemayam di dalam otak. Dan diketahui bahwa otak adalah sebuah organ tubuh manusia yang mempunyai kemampuan kapasitas visual, audio, matematis, analitis, dan psikis yang mengagumkan. Dengan demikian otak diibaratkan mega komputer dalam kepala. Namun, sehebat apa pun keberadaan otak dan fungsi akal manusia, bila tidak digunakan secara optimal, bak pisau yang jarang digunakan dan lebih sering disimpan, sudah pasti akan tumpul bahkan mungkin berkarat. Jika akal kita sudah seperti pisau karatan keadaannya, tak ada hal yang istimewa lagi dalam diri kita. Oleh karena itu otak perlu diasah dan dilatih demi kecemerlangan akal. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menajamkannya. Tergantung kepada jenis intelegensia yang dimiliki oleh masing-masing individu. Untuk orang yang mempunyai intelegensia linguistik, metode menajamkan pikirannya bisa dengan cara menulis kreatif.
Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang itu memiliki intelegensia linguistik? Menurut prof. Howard Gardner (penemu delapan macam intelegensia pada diri manusia), pribadi-pribadi yang mempunyai intelegensia linguistik, memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
• Menyukai puisi dan cerita-cerita.
• Senang membaca dan menulis.
• Mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan.
• Menyukai permainan kata-kata, misalnya TTS.
• Menyukai pelajaran bahasa, sejarah, dan bidang sosial.
Menulis kreatif adalah kegiatan yang cocok dilakukan oleh orang-orang yang memiliki karakter dengan ciri-ciri seperti telah diuraikan di atas. Menulis kreatif adalah sebuah kegiatan mewujudkan gagasan yang tersimpan dalam benak kita yang ingin disampaikan kepada khalayak atau untuk diri sendiri dalam bentuk tulisan. Kegiatan ini akan merangsang otak kita untuk selalu aktif bekerja, karena ketika kita sedang menulis atau mengarang, artinya kita sedang merenungkan sesuatu, tengah menjalani proses berpikir, untuk kemudian dilanjutkan dengan proses berpikir logis, sistematis, dan kritis.
Hanya masalahnya, menuliskan gagasan itu tidak semudah mengeluarkan kata-kata dalam bentuk ucapan (lisan). Seseorang yang mampu berbicara berjam-jam membahas sebuah topik pembicaraan, belum tentu mampu juga menuliskan apa yang telah diucapkannya menjadi sebuah wacana. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat berkata-kata itu lebih mudah dari pada menulis. Alasan logisnya, untuk mengucapkan sebuah kalimat atau bahkan beribu-ribu kalimat, orang tidak usah mengenal baca tulis, seorang yang buta huruf pun bisa melakukannya, kecuali bila ia bisu. Bahkan tidak menutup kemungkinan seorang yang tuna aksara lebih terampil menciptakan obrolan hangat untuk temannya-temannya dari pada seorang yang melek huruf. Sedangkan untuk bisa menuliskan gagasan, paling tidak dia harus mengecap bangku sekolah dulu, lebih jauhnya lagi harus sering “melahap” buku-buku bacaan, serta berlatih berulang-ulang. Memang, untuk bisa mengungkapkan gagasan lewat tulisan, perlu dan harus latihan. Mulai dari tahap latihan paling sederhana, seperti menuliskan pengalaman sehari-hari di buku harian, menulis surat pribadi, sampai dengan tahap yang lebih rumit seperti mengarang fiksi dan menulis esay.
Jika sudah menjadi kebiasaan, pekerjaan menuliskan gagasan itu sangatlah mudah dan menyenangkan. Segala macam ungkapan perasaan yang terpendam dalam benak kita akan tersalurkan. Tulisan ibarat saluran air yang mengalirkan arus tenang maupun arus deras ide-ide, sehingga gagasan dan pesan kita sampai kepada orang yang menjadi target dan sasaran kita.
Bagi penulis sendiri, kegiatan menulis kreatif adalah sebuah terapi menghilangkan stres, kegiatan yang menghibur, hobby yang mendatangkan kepuasan tersendiri—apalagi bila karya kita dibaca oleh sejumlah orang di media massa atau pada jurnal online—, juga sebagai bentuk aktualisasi diri. Terealisasinya gagasan kita dalam bentuk tulisan dan wacana, menandakan keberadaan kita, serta menegaskan bahwa kita benar-benar hadir dan berpikir. Saya menulis karena saya ada!
Bila sudah menjadi tradisi dalam kehidupan kita, menuliskan gagasan pada akhirnya akan menjadi kebutuhan batin, akan menjadi sebuah rutinitas yang positif, serta tidak mustahil akan menjadi profesi yang menjanjikan. Segala sesuatu, bila dijalani dan ditekuni dengan serius akan membuahkan hasil, begitu juga dengan kegiatan menulis. Paling tidak, kebiasaan kita berkomunikasi dengan sesama lewat goresan pena dan rangkaian aksara, akan menjadikan kita arif dan bijaksana, serta membuat hidup kita lebih bermakna.
Mulai saat ini juga, mari kita wujudkan ide-ide yang berdesakkan di benak kita lewat tulisan, sebelum ide-ide berharga itu menghilang begitu saja disaput angin kemalasan kita sendiri. Mari merangkai kata-kata dan kalimat menjadi wacana, sebelum ide-ide cemerlang itu hinggap di benak orang lain dan diwujudkan oleh orang lain pula. Mari menulis kreatif, sebelum akal kita harus berhenti beroperasi karena lanjut usia atau karena sudah tiba waktunya kita menghadap Yang Maha Kuasa.
Referensi:
Sugiarto, Iwan. 2004. Mengoptimalkan Daya Kerja Otak dengan Berpikir Holistik dan Kreatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
***

Comment by deddyandria — May 29, 2009 @ 3:50 pm