Tentang Lisan Manusia
Muhammad Rahibi berkata: ”Barang siapa memasukkan makanan lebih dari yang dibutuhkan, maka lisannya mengeluarkan bicara yang tidak dibutuhlan pula.”
Imam Syafi’i (ra) berkata: “kata-kata itu ibarat panah, bilamana keluar dari kamu maka ia menguasai kamu.”
Jabir bin Abdullah (ra) bertanya kepada Nabi SAW: “”Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan padaku?” Beliau menjawab: “Ini,” sambil menunjuk pada lisannya.
Ibrahim an Nakhi berkata: “Barang siapa merenung ia menemukan orang yang paling mulia dalam majelis dan paling berwibawa, yaitu orang yang paling banyak diam karena diam adalah hiasan orang alim dan kelambu bagi orang yang bodoh.”
Hasan Basri berkata: “Sungguh mengherankan anak Adam yang diberi lisan, justru berbicara hal-hal yang tidak penting baginya!”
Hasan bin Sinan pernah secara tidak sengaja berbicara hal-hal yang tidak bermakna, lalu ia menghukum dirinya dengan berpuasa selama satu tahun.
Malik bin Dinar berkata: “Perkataan tidak bermakna mengeraskan hati, melemahkan badan, dan menyulitkan rizki.”
Bila melihat seorang yang banyak bicara, Imam Malik berkata: “Tahanlah sebagian kata-katamu!”
Yunus bin Ubaid berkata: “Meninggalkan perkataan yang tidak penting lebih berat dari pada puasa seharian. Sebab seseorang mungkin tahan berpuasa di hari panas kering, tetapi tidak tahan meninggalkan kata-kata yang tidak berguna.
(Disarikan dari “Cahaya Sufi” edisi April 2006)
***

Imam Ali RA : Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.
Comment by gajahkurus — May 2, 2008 @ 12:40 pm