FENOMENA…

September 17, 2006

Wine dan Masyarakat Indonesia

Filed under: Opini Pribadi

khamar

Oleh Popon Saadah

Suatu hari, 16 September 2006, sebuah surat kabar harian yang terbit di Bandung memuat artikel yang membahas panjang lebar tentang Wine, minuman beralkohol yang terbuat dari anggur dan bisa membuat kita mabuk itu. Artikel itu diawali dengan paragrap sebagai berikut.
“Meminum anggur memang belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Meski begitu, karena semakin banyak restoran, pub, serta kafe yang menjual wine atau minuman anggur, kegiatan mencoba-coba minum anggur pun semakin banyak dilakukan.”
Kalau memang minum anggur belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia, apakah akan tiba saatnya kebiasaan tersebut menjadi kebiasaan masyarakat kita? Saya kira tidak akan pernah terjadi! Dan saya sangat berharap memang tidak akan pernah tejadi! Alasannya sangat jelas, masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Sedangkan wine atau arak adalah minuman yang diharamkan dalam Islam.
Perhatikan ayat al Qur’an di bawah ini:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman yang memabukkan) dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ’Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Q.S Al Baqarah: 219).
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S Al Maa-idah: 90).

Bila aturannya sudah begitu gamblang tertera dalam Al Qur’an, tentu kita tidak berharap wine masuk, menyusup secara perlahan, menjadi bagian dari minuman yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Apapun alasannya. Apalagi bila si peminumnya berdalih hanya sekedar mengikuti trend atau demi prestise, sungguh sangat disesalkan.
Ironisnya penulis artikel tersebut seperti tidak mengenal atau mungkin pura-pura tidak mengenal kultur dan karakter masyarakat Indonesia. Jika dia seorang yang berwawasan luas tentang Indonesia dari segala sisinya, dia tidak akan mengutif kalimat yang bernada promosi yang diucapkan oleh salahseorang Executive Assistant Manager Malya yang mengatakan bahwa minum wine bisa meningkatkan prestise. Jika si penulis seorang yang tahu seluk beluk masyarakat Indonesia, dia tidak akan menulis kalimat yang bernada persuasif seperti ini, “ Wine jenis Burgundy redwine ini berasal dari Perancis dengan rasa yang lebih tajam dibandingkan yang lain. Harga wine jenis ini mencapai 15000 dolar AS. Silakan Anda mencoba atau mengoleksi jenis-jenis wine tersebut”.
Tentu hak dan kebebasan dia sepenuhnya untuk menulis apa pun. Tapi bila tulisan tersebut isinya bertolak belakang dengan ajaran yang dianut selama ini oleh sebagian besar masyarakat pembacanya, rasanya sangat ironis. Untuk kami, pembaca yang sudah berumur, tentu tidak berpengaruh sama sekali. Tapi bagaimana dengan pembaca muda dan awam dalam hal haram tidaknya sebuah minuman, tidak menutup kemungkinan tulisan tersebut dapat menjerumuskan mereka.
Memang sisi bisnis bisa melunturkan segalanya, baik etika maupun idealisme. Padahal bahan tulisan yang lebih baik dan lebih bermoral masih berlimpah, menunggu ditulis dan dipublikasikan oleh para penulis idealis, dari pada membuat tulisan yang hanya akan berefek negatif pada generasi muda. Sekali lagi, bahan tulisan tentang yang baik-baik masing sangat berlimpah, seperti berlimpahnya minuman sehat yang bisa dibuat dan dikonsumsi setiap saat oleh masyarakat kita. Mulai dari minuman tradisional seperti bandrek, bajigur, cendol, goyobod, cingcau, air asem, air tebu, kopi, sampai kepada minuman jenis softdrink buatan pabrik. Selama minuman segar menyehatkan dan halal masih beredar, kenapa mesti mencari minuman haram?

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://poponsaadah.blogsome.com/2006/09/17/wine-dan-masyarakat-indonesia-2/trackback/

  1. Jangan kau dekati apa yang sudah dilarang Tuhan mu dengan alasan apapun

    Comment by poponsaadah — November 17, 2006 @ 2:37 am

  2. Jangan kau dekati apa yang sudah dilarang Tuhan mu dengan alasan apapun

    Comment by poponsaadah — November 17, 2006 @ 2:37 am

  3. Jangan kau dekati apa yang sudah dilarang Tuhan mu dengan alasan apapun

    Comment by poponsaadah — November 17, 2006 @ 2:37 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer