Ada yang tak mampu kulupa…

Engkau berada di detak jantungku
menggelora membahana dalam dada
engkau hadir di aliran darahku
menyebar cinta menebar hasrat
engkau diam di relung hati terdalamku
memendam rindu dendam
tak pernah padam…

Terdampar di pulau kegalauan
risau
semakin merindukanmu jiwaku semakin terlempar
Ke kedalaman gelisah
terkapar…

Ada perasaan bingung ketika menghadapi teman-teman yang hobynya bertanya seperti ini, “Mana karya barunya?” Atau “Ditunggu cerpen barunya!” Atau “Kenapa tak pernah kelihatan lagi karyanya mejeng di majalah?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya bingung, karena tak tahu harus menjawab apa. Jangankan mereka, saya pun tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri, kapan ya saya bisa mengawinkan lagi alat tulis dan imajinasiku seperti dulu?
Sebenarnya bila mau jujur, banyak sekali faktor yang menjadi penghambat kreatifitasku itu. Di antaranya adalah konsentrasiku yang terlalu fokus pada kegiatan “main-mainku” di cyber di samping pekerjaan-pekerjaan yang lumayan menyita waktu. Tapi faktor penghambat yang lebih prinsip adalah pemikiranku yang sudah sampai pada level tidak puas dengan karya yang ada. Ini berkaitan erat dengan hobyku membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer serta karya-karya sastrawan Sunda yang bernama besar. “Menggauli” karya-karya mereka ternyata ada dampaknya juga, saya jadi merasa ciut dan rendah diri. Apalah artinya karya yang telah saya tulis dibandingkan dengan karya-karya masterpiece mereka. Setelah itu timbullah dalam diriku sifat tak percaya diri. Setiap draft tulisan yang kugoreskan akhir-akhir ini selalu kelihatan buruk di mataku, tak berbobot, dan serasa melihat makanan yang bernama kerupuk, ringan tanpa beban, sekali kunyah bisa pudar oleh air liur dan langsung tertelan. Sedangkan obsesiku adalah: tanganku sendiri harus menghasilkan tulisan-tulisan bertema besar dan berat, atau paling tidak bisa memberi pencerahan kepada setiap orang yang membacanya. (more…)
Oleh Popon Saadah
Ketika mengunjungi pasar kaget Pemkot Cimahi pada hari Minggu, saya tertarik dengan satu kendaraan unik yaitu delman domba. Sungguh di luar kebiasaan. “Profesi” yang biasanya dijalani oleh binatang yang bernama kuda, kali ini dilakukan oleh seekor domba. Tapi bukan berarti para kuda pensiun dari tugasnya, sebab delman yang ditarik kuda pun di pasar ini masih cukup banyak. Ternyata delman domba di pasar kaget ini hanya ada satu, yaitu delman domba milik Pak Junaedi (60), penduduk Jalan Ciawi Tali, Citeureup, Cimahi Utara. Lalu saya mengajaknya berbincang-bincang di saat dia sedang beristirahat sambil menunggu muatan.
Oleh Popon Saadah
Menata Olahan
Seandainya kita menganggap R.A Kartini adalah sosok yang tetap hidup dalam benak wanita Indonesia, dan seolah-olah selalu hadir terutama pada setiap peringatan hari kelahirannya, beliau boleh berbangga, di era globalisasi ini banyak sudah generasi penerusnya yang meraih sukses di segala bidang. Semua profesi yang menjanjikan sudah bisa diduduki kaum perempuan. Di negeri ini, seorang wanita pernah menjabat sebagai presiden, sebagai mentri, menjadi anggota legislatif, insinyur, dokter, wanita pengusaha, serta profesi yang membanggakan lainnya.
Tapi R.A Kartini juga dipastikan merasa prihatin, sebab harapannya mengangkat derajat kaum perempuan dari keterpurukan hidup akibat kebodohan, tidak sepenuhnya berhasil. Tengok saja para wanita yang sampai saat ini masih belum dapat mengenyam pendidikan yang layak karena terbentur masalah biaya. Masalah lain, begitu banyak kaum perempuan yang belum merdeka secara pribadi. Masih sering terdengar oleh kita perihnya nasib perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, diceraikan secara sepihak oleh suaminya, dilecehkan, diintimidasi, dan sebagainya. (more…)

Selasa, 3 Maret 2009. Bisa dipastikan keadaan hati dan pikiranku sangat mirip dengan keadaan hati dan pikiran suamiku. Gejolak rasa gelisah sangat mengganggu jiwa kami pada saat ini. Sebab nanti, beberapa jam lagi suami akan menjalani operasi, operasi batu di dalam empedu.
Dalam suasana ketidak tenangan kalbu itu kulirik dia yang berada di sebelahku. Wajahnya terlihat tegang. Mulutnya sudah sejak tadi pagi mengunyah do’a. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak atau menengok ke arah pintu keluar, menunggu dengan harap-harap cemas seorang perawat menjemputnya. Ternyata kegelisahan cukup lama juga menyiksa batin kami berdua. Dengan begitu aku dan suami mencoba keluar dari kamar untuk sekedar menghirup udara segar, mengurangi kecepatan tidak normal irama jantung kami yang selalu berdebar-debar. (more…)
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer