Saat Proses Kreatifku Berhenti Sampai di Situ

Ada perasaan bingung ketika menghadapi teman-teman yang hobynya bertanya seperti ini, “Mana karya barunya?” Atau “Ditunggu cerpen barunya!” Atau “Kenapa tak pernah kelihatan lagi karyanya mejeng di majalah?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya bingung, karena tak tahu harus menjawab apa. Jangankan mereka, saya pun tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri, kapan ya saya bisa mengawinkan lagi alat tulis dan imajinasiku seperti dulu?
Sebenarnya bila mau jujur, banyak sekali faktor yang menjadi penghambat kreatifitasku itu. Di antaranya adalah konsentrasiku yang terlalu fokus pada kegiatan “main-mainku” di cyber di samping pekerjaan-pekerjaan yang lumayan menyita waktu. Tapi faktor penghambat yang lebih prinsip adalah pemikiranku yang sudah sampai pada level tidak puas dengan karya yang ada. Ini berkaitan erat dengan hobyku membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer serta karya-karya sastrawan Sunda yang bernama besar. “Menggauli” karya-karya mereka ternyata ada dampaknya juga, saya jadi merasa ciut dan rendah diri. Apalah artinya karya yang telah saya tulis dibandingkan dengan karya-karya masterpiece mereka. Setelah itu timbullah dalam diriku sifat tak percaya diri. Setiap draft tulisan yang kugoreskan akhir-akhir ini selalu kelihatan buruk di mataku, tak berbobot, dan serasa melihat makanan yang bernama kerupuk, ringan tanpa beban, sekali kunyah bisa pudar oleh air liur dan langsung tertelan. Sedangkan obsesiku adalah: tanganku sendiri harus menghasilkan tulisan-tulisan bertema besar dan berat, atau paling tidak bisa memberi pencerahan kepada setiap orang yang membacanya. (more…)







***